Home / Budaya / Asal Usul / Menguak Komunitas Yahudi di Indonesia
Sinagoga Beth Hashem di Jalan Kayoon, Surabaya, berdiri sejak tahun 1940-an. Saat ini, lokasi itu sudah dijual dan berganti jadi bangunan hotel.

Menguak Komunitas Yahudi di Indonesia

Apapun yang berhubungan dengan kata “Yahudi” sudah hampir pasti akan menimbulkan perdebatan di Indonesia –mulai dari persoalan identitas agama hingga Zionisme yang menjadi salah satu arahan politik Israel. Namun, bagaimana sebenarnya sejarah kelompok Yahudi di Indonesia?

Oleh: Admin

Sejarah orang Yahudi di Indonesia kemungkinan dimulai dengan kedatangan para penjelajah Yahudi pada abad ke-7 melalui Jalur Sutra Maritim dan terus berlanjut seperti penjelajah dan pemukim Eropa awal, hingga masa modern di wilayah Indonesia.

Siapa sangka bahwa ternyata terdapat sebagian masyarakat Indonesia yang mengidentifikasi diri mereka sebagai Yahudi. Namun, bila mengacu pada Rabi Yaakov Baruch yang tinggal di Manado, Sulawesi Utara, banyak warga Yahudi di Indonesia yang menyembunyikan identitasnya akibat trauma masa lalu.

Rabi Yaakov sendiri sebenarnya merupakan bagian dari simpul keturunan Yahudi di Indonesia. Rabi Yaakov dan kehadiran kelompok ini mungkin menunjukkan bahwa terdapat pertalian sejarah di antara orang-orang keturunan Yahudi sejarah yang panjang di republik ini.

Konteksnya makin menarik untuk dibahas karena tumpang tindihnya pemahaman antara keturunan Yahudi, agama Yahudi, dan Zionisme yang banyak kali menguatkan gerakan antisemitisme alias anti-Yahudi. Padahal, istilah-istilah itu punya arti yang berbeda.

Lantas, apa sebenarnya perbedaan dari tiga identifikasi tersebut? Kemudian, seperti apa sejarah orang-orang Yahudi yang lahir dan besar di Indonesia ini?

Komunitas Yahudi di Surabaya menggelar acara Bar Mitzvah di kediaman keluarga Mussry sekitar tahun 1930-an. (Foto: Twitter/@potretlawas)

Pengakuan Negara Terhadap Agama Yahudi

Agama Yahudi tidak diakui sebagai salah satu dari enam agama resmi negara Indonesia, dan anggota komunitas Yahudi setempat dapat memilih untuk dikosongkan atau mendaftar sebagai “Kepercayaan kepada Tuhan YME (Yang Maha Esa)” atau agama lain yang diakui pada kartu identitas resmi mereka.

Walau tidak mendapat pengakuan resmi sebagai agama mayoritas, Kementerian Agama Republik Indonesia tetap memperbolehkan komunitas Yahudi untuk mempraktikkan agamanya, seperti komunitas Zoroastrianisme, Shinto, Taoisme, dan lain-lain berdasarkan Penetapan Presiden Nomor 1 Tahun 1965 dan pasal 29 ayat 2 UUD 1945.

Pada masa Orde Lama, agama Yahudi sempat diakui di KTP dengan nama Hebrani, walau sejak UU No. 1 PNPS/1965 oleh pemerintah Orde Baru, para keturunan Yahudi diminta untuk berasimilasi dengan penduduk lokal dan dikategorikan dalam sensus dengan agama lain. Sejak lengsernya Orde Baru dan mulainya era Reformasi, beberapa keturunan Yahudi mulai mengidentifikasi diri mereka dan mulai mempraktikan agama Yahudi kembali, terutama pada komunitas di Sulawesi Utara.

Sebagian besar orang Yahudi Indonesia berasal dari Eropa Selatan, Inggris, Belanda, Belgia, Jerman, Prancis, Timur Tengah, Afrika Utara, India, Cina, dan Amerika Latin. Yahudi di Indonesia saat ini membentuk komunitas Yahudi yang kecil sekitar 100–550 orang. Kebanyakan Yahudi Sephardi dan Yahudi Mizrahi (berasal dari Semenanjung Iberia dan Timur Tengah).

Sedangkan jumlah orang Indonesia keturunan Yahudi bisa mencapai ribuan yang kebanyakan tidak mempraktikkan agama Yahudi. Saat ini, salah satu komunitas orang Yahudi ortodoks yang terbuka di Indonesia tinggal di Sulawesi Utara di pulau Sulawesi.

Karakteristik sosial dan budaya Indonesia berkontribusi pada asimilasi. Kebanyakan orang Yahudi Indonesia mengubah nama mereka menjadi nama Indonesia. Orang Yahudi diwajibkan untuk mengubah nama dan kepercayaan mereka. Walau sejak Era Reformasi, beberapa keturunan Yahudi mengubah namanya kembali dan mulai mempraktikan agama Yahudi terutama bagi komunitas di Sulawesi Utara.

Agama di Indonesia diatur oleh pemerintah. Orang Yahudi Indonesia menghadapi tantangan untuk mendeklarasikan agama di KTP (Kartu Tanda Penduduk). Setiap warga negara yang berusia di atas 17 tahun wajib membawa KTP yang mencantumkan agama pemegangnya dan Indonesia hanya mengakui enam agama atau kepercayaan kepada Tuhan YME. Kabarnya, banyak orang Yahudi yang mendaftar sebagai orang Kristen, walau ada pula yang mengosongkan kolom agama pada KTP.

Diperkirakan 20.000 keturunan Yahudi masih tinggal di Indonesia, meski banyak yang kehilangan identitas sejarahnya. Karena sebagian besar orang Yahudi Indonesia sebenarnya juga merupakan keturunan dari Belanda, Eropa Selatan dan Timur Tengah. Bahasa yang digunakan oleh mereka termasuk bahasa Indonesia, Melayu, Arab, Ibrani, Portugis, dan Spanyol.

Elisheva Wiriaatmadja kembali menganut agama nenek moyangnya, setelah bertahun-tahun menjalani pencarian spiritualitas.(Foto: BBC Indonesia)

Komunitas Yahudi Indonesia sangat kecil, dengan sebagian besar anggotanya tinggal di Sulawesi Utara dan sebagian kecil di ibu kota Jakarta dan di Surabaya. Banyak pemakaman Yahudi masih ada di seluruh negeri seperti di Pemakaman Kerkhof di Aceh, Semarang dan Surabaya di Jawa, di Pangkalpinang Pulau Bangka, di Palembang Sumatera Selatan, di Pineleng dan Matungkas di Sulawesi Utara.

Berdasarkan penelitian Zainal Abidin, komunitas Yahudi di Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu aliran Ortodoks dan Reformasi (atau disebut juga liberal). Kelompok Ortodoks berpusat di Tondano di bawah pimpinan rabi Yaakov Baruch. Sedangkan kelompok kedua terbagi menjadi Konservatif, Reformasi, dan Rekonstruksionis yang bergabung dalam satu organisasi United Indonesia Jewish Community (UIJC), seperti rabi Benjamin Meijer Verbrugge, yang membawahi 6 ‘para-rabi’ untuk komunitas kecil seperti di Ambon, Jakarta, Jayapura, Timika, dan Manado.

Jalur Migrasi Orang Yahudi

Terdiasporanya orang-orang Yahudi punya sejarah panjang. Sejak abad ke-7 SM, orang-orang Yahudi sudah mengalami pengasingan (exile), yaitu ketika Sargon II dari Kerajaan Assyria menduduki wilayah Kerajaan Israel. Ini kemudian berlanjut ketika Nebukadnezar II menjadi penguasai Babylonia.

Namun, diaspora orang Yahudi ke berbagai penjuru dunia punya tonggak yang lebih besar ketika Kota Yerusalem dihancurkan oleh Titus yang kemudian menjadi Kaisar Romawi – dengan pasukannya yang dipimpin oleh Tiberius Julius Alexander pada tahun 70 M.

Sejak saat itu, orang-orang Yahudi tersebar ke daratan Eropa Barat, Asia, hingga ke negara-negara Arab. Tak sedikit dari orang-orang Yahudi ini yang kemudian berprofesi sebagai pedagang dan menjelajah ke berbagai negara di dunia, termasuk ke kepulauan Nusantara.

Adapun jejak tertua orang Yahudi di Indonesia diperkirakan ada sejak abad ke-10 M sebagai akibat kemunculan jaringan perdagangan antara Timur Tengah, India, Asia Tenggara, dan Tiongkok. Romi Zarman dalam bukunya Di Bawah Kuasa Antisemitisme menyebutkan bahwa kehadiran orang Yahudi ke Indonesia bisa dilihat dalam tiga gelombang.

Gelombang awal adalah orang-orang Yahudi yang datang pada awal abad ke-10 yang berasal dari Yaman, Maroko, dan Irak dengan tujuan untuk berdagang. Ini dibuktikan dari kisah Ishaaq Yehuda, seorang Yahudi Oman yang berdagang di Sumatera dan tewas dirampok di wilayah kerajaan Sriwijaya. Tiga abad kemudian, lewat dokumen Geniza, diketahui bahwa seorang Yahudi Mesir berlabuh dan berdagang di Barus, Pesisir Barat Sumatra.

Gelombang kedua adalah yang punya tujuan politik ketika terusir dari Spanyol dan Portugal akibat politik inkuisisi dari Gereja Katolik Roma yang membuka pengadilan untuk ajaran-ajaran yang dianggap sebagai bidah atau sesat pada abad ke-16.

Sementara, gelombang ketiga terjadi pada saat masuknya Belanda ke Indonesia. Sebagian besar mereka merupakan Yahudi Separdi alias Sephardic Jews yang memiliki kemampuan berbahasa Arab dan menjadi penerjemah bagi perusahaan dagang Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) milik Belanda dan East India Company (EIC) milik Britania Raya.

Sementara, orang-orang Yahudi Askenazi dari Eropa Timur kebanyakan bekerja sebagai administrator dan ada yang tergabung dalam barisan serdadu VOC. Sementara, Yahudi Mizrahi yang umumnya dari Timur Tengah bergiat dalam bisnis dan perdagangan kala itu.

Rabi Benjamin Meijer Verbrugge –salah satu pemimpin komunitas Yahudi di Indonesia– dalam salah satu wawancara bahkan menyebut VOC berisi 80 persen orang-orang berdarah Yahudi. Orang Yahudi yang datang ke Indonesia bukan hanya penganut agama Yahudi alias Yudaisme saja, melainkan juga terdiri dari Yahudi Arab beragama Islam yang bermigrasi bersama-sama dengan rombongan Arab. Bahkan, Romi Zarman menyebut dirinya bertemu dengan salah seorang keturunan Yahudi Arab dan menemukan mereka berkontribusi dalam penyebaran agama Islam di Nusantara.

Dalam catatan Romi, pada awal tahun 1920-an, orang-orang Yahudi ini antara lain tersebar di Kutaraja, Padang, Medan, Deli, Batavia, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya. Jejak peninggalan mereka saat ini masih dapat dilihat dari makam beraksara Ibrani seperti di Peucut Aceh, TPU Pertamburan Jakarta, Kembang Kuning Surabaya, dan Manado.

Makam Orang Yahudi di TPU Petamburan, Jakarta

Hingga kini, komunitas Yahudi masih tersebar di beberapa daerah. Tantangan terbesar mereka adalah menghadapi sentimen anti-Yahudi di Indonesia – terutama akibat konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina.

Melalui tulisan musafir Abû Zayd Hasan al-Sîrafî tentang Pembantaian Guangzhou dalam Pemberontakan An Shi di abad ke-7, menandakan sudah adanya komunitas Yahudi di Cina, setidaknya di Guangzhou pelabuhan yang menghubungkan Cina dan India. Kapal perdagangan untuk pelabuhan tersebut diperkirakan akan melalui wilayah Indonesia. Dengan iklim setempat berupa angin Monsun memerlukan kapal untuk berlabuh berbulan-bulan di berbagai pelabuhan diantara kedua lokasi tersebut, seperti di Semenanjung Malaya dan perairan Sumatera. Gambaran lebih pasti berasal dari penulis Persia Buzurg bin Shahriyar di Kitab Aja’ib Al-Hind Barrihi wa Bahrihi wa Jaza’irihi (“Hal-hal menakjubkan mengenai daratan, lautan, dan kepulauan Al-Hind”) yang ditulis pada abad ke-10.

Buzurg menulis seorang Yahudi dari Oman bernama Ish’âq bin al-Yahûdî yang melakukan perjalanan ke Cina dan sempat singgah di Sarîra (Serboza atau Sribuza: mungkin Kerajaan Sriwijaya?). Bukti lain bisa dilihat berdasarkan catatan dari Ibrâhîm bin Mûsâ bin Maymûn (Avraham ben ha-Rambam, Abraham Maimonides) seorang pemimpin Yahudi Kairo (abad ke-13) yang mengeluarkan fatwa (t’shuva) bagi seorang istri yang dalam posisi aguna (terikat), karena ditinggal suaminya yang merupakan pedagang dari Aden ke bilâd al-Hind (India) yang kemudian meninggal dalam perjalanan kembali. Yang menarik adalah ia merupakan pedagang kapur barus (kâfur) dari Fans’ûr, di Sumatra (sekarang Barus). Bukti-bukti tersebut menandakan adanya kaum Yahudi yang terlibat dalam perdagangan dengan wilayah Indonesia di masa lampau.

Pada tahun 1850-an, musafir Yahudi, Jacob Saphir adalah orang pertama yang menulis tentang komunitas Yahudi di Hindia Belanda setelah mengunjungi Batavia, Hindia Belanda. Dia telah berbicara dengan seorang Yahudi lokal yang memberitahunya tentang sekitar 20 keluarga Yahudi di kota itu dan beberapa lagi di Surabaya dan Semarang. Sebagian besar orang Yahudi yang tinggal di Hindia Belanda pada abad ke-19 adalah Yahudi Belanda yang bekerja sebagai pedagang atau berafiliasi dengan rezim kolonial. Anggota komunitas Yahudi lainnya adalah imigran dari Irak atau Aden.

Pada tahun 1930, sensus oleh pemerintah Hindia Belanda mencatat 1.095 orang Yahudi. Pada akhir tahun 1930-an, jumlahnya meningkat hingga 2.500 orang di Pulau Jawa, Pulau Sumatera, dan wilayah lainnya. Tetapi pada saat Perang Dunia 2, jumlah Yahudi di Hindia Belanda diperkirakan sekitar 2.000 jiwa. Umumnya, orang Yahudi Indonesia (terutama yang keturunan Belanda dan Eropa) sangat menderita di bawah Pendudukan Jepang di Indonesia, diasingkan dan mereka dipaksa untuk bekerja di kamp penampungan, walau dalam Pertempuran Surabaya, Charles Mussry (yang merupakan keturunan Irak) ikut berjuang bersama laskar-laskar rakyat untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia.

Setelah perang, orang Yahudi yang dilepas banyak menemui berbagai masalah dan berubahnya situasi politik di Indonesia. Pada tahun 1950-an proses nasionalisasi beberapa perusahaan asing oleh Sukarno, selain itu situasi politik mancanegara seperti Perang Israel-Palestina, menyebabkan banyaknya migrasi orang Yahudi dari Indonesia. Alih-alih kembali ke Belanda, kebanyakan memilih bermigrasi ke California Selatan di Amerika Serikat, sedangkan kebanyakan keturunan Irak bermigrasi ke Melbourne, Australia.

Tetapi komunitas Yahudi keturunan Iraq yang juga memiliki keturunan Indonesia menetap lebih lama di Surabaya, walau akhirnya kebanyakan bermigrasi ke Israel pada tahun 1958. Komunitas orang Yahudi di Israel yang berasal dari Hindia Belanda dan Indonesia, mendirikan organisasi Tempo Dulu di bawah Shoshanna Lehrer.

Sinagoge dan Para Tokoh Yahudi

Jemaat kecil yang dipimpin oleh Rabbi Tovia Singer, yang sebelumnya adalah satu-satunya rabbi di Indonesia saat ini. Sinagoge ini beroperasi bersama dengan Yayasan Eits Chaim Indonesia, satu-satunya organisasi Yahudi di Indonesia yang memiliki sanksi resmi, di bawah naungan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen di Kementerian Agama Republik Indonesia.

Sinagoga Shaar Hashamayim di Tondano Barat Sulawesi Utara

Sebuah jemaat kecil di Jayapura yang mendirikan sinagoge tahun 2014 di atas lahan seluas 120 meter milik rabi Aharon Sharon Melamdim, pemimpin komunitas Yahudi di Jayapura.

Di Surabaya, ibu kota provinsi Jawa Timur, juga terdapat sinagoge. Selama bertahun-tahun itu adalah satu-satunya sinagoge di daerah itu. Sinagoge ini menjadi tidak aktif mulai tahun 2009 dan tidak memiliki gulungan Taurat atau rabi. Itu terletak di Jalan Kayun 6, 2.000 m2 di atas tanah dekat Sungai Kali Mas, di rumah yang dibangun pada tahun 1939 selama pemerintahan Belanda.

Rumah itu dibeli oleh komunitas Yahudi setempat (asal Irak) dari seorang dokter Belanda pada tahun 1948 dan diubah menjadi sinagoge. Hanya mezuzah dan 2 Bintang Daud di pintu masuk yang menunjukkan keberadaan sinagoge. Komunitas di Surabaya tidak lagi cukup besar untuk mendukung minyan, yaitu kumpulan sepuluh orang yang dibutuhkan untuk melakukan ibadah umum. Gedung sinagoge yang merupakan cagar budaya, dijual oleh pemiliknya dan dihancurkan oleh pihak swasta pada tahun 2013 dan dijadikan hotel.

Sejak tahun 2003, Sinagoge Shaar Hasyamayim telah melayani komunitas Yahudi lokal sekitar 30-50 orang di kota Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Saat ini merupakan satu-satunya sinagoge terbuka di Indonesia yang menyediakan layanan, dan merupakan aliran Sefardi, tidak seperti aliran Hasidut seperti kebanyakan keturunan Belanda. Sebuah komunitas kecil Yahudi lokal tetap berada di daerah tersebut, sebagian besar merupakan keturunan Yahudi dan beralih kembali ke Yudaisme.

Tokoh-tokoh di Indonesia yang memiliki darah keturunan Yahudi diantaranya:

  1. Japto Soerjosoemarno, politikus terkemuka Indonesia yang memiliki ibu berdarah Belanda-Yahudi (Dolly Zegerius).
  2. Marini Soerjosoemarno, aktris dan penyanyi Indonesia yang memiliki ibu berdarah Belanda-Yahudi (Dolly Zegerius).
  3. Yaakov Baruch, rabi Indonesia keturunan Belanda-Yahudi.
  4. Charles Mussry, pengusaha Indonesia abad ke-20 dan aktivis kemerdekaan keturunan Irak-Yahudi.
  5. Irwan Mussry, pengusaha dan pengisi acara Juragan Jaman Now.
  6. David Abraham, pengacara Indonesia keturunan Irak-Yahudi.
  7. Monique Rijkers, aktivis Zionis Indonesia
Japto Soelistyo Soerjosoemarno, Ketua Umum Majelis Pimpinan Nasional (MPN) Pemuda Pancasila (PP), terlahir dari pasangan Mayor Jenderal (Purn) Ir KPH (Kanjeng Pangeran Haryo) Soetarjo Soerjosoemarno dan Dolly Zegerius. Sang ayah adalah keturunan ningrat dari Mangkunegara dan sang ibu adalah seorang Belanda yang pernah menjadi atlet nasional Indonesia dari cabang bridge. Ia merupakan adik kandung K.R.Ay (Kanjeng Raden Ayu) Marini Soerjosoemarno, aktris senior Indonesia.
Monique Rijkers adalah perempuan berdarah Yahudi kelahiran Makassar, yang tinggal di Jakarta. Ia merupakan seorang jurnalis dan aktivis pendukung Israel dalam konflik Israel – Palestina, sekaligus pendiri organisasi nirlaba Hadassah of Indonesia, organisasi yang ia dedikasikan untuk memberikan informasi kepada masyarakat Indonesia terkait Israel, orang-orang Yahudi, dan sejarah Holocaust melalui perjumpaan budaya dan perjalanan ke Israel.

Nasib Yahudi di Indonesia

Konflik Israel-Palestina dianggap menjadi salah satu yang menumbuhkan sentimen anti-Yahudi di Indonesia. Pada tahun 2009, Sinagoge Beith Shalom di Surabaya yang dibangun sekitar tahun 1948 sempat menjadi sasaran protes keras menyusul perang di Gaza. Sinagoge ini telah dirobohkan pada tahun 2013 lalu.

Dalam survei nasional Tren Toleransi Sosial-Keagamaan di Kalangan Perempuan Muslimin Indonesia, yang dilakukan Wahid Institute pada 2017, kelompok Yahudi berada di urutan ketiga sebagai kelompok yang paling tidak disukai, setelah komunis dan LBGT (lesbian, biseksual, gay, dan transgender).

Meski begitu, saat Abdurahman Wahid alias Gus Dur menjabat sebagai presiden, situasi politik dan sosial lebih terbuka. Keturunan Yahudi pun mulai terbuka mengenai jati dirinya.

Besarnya anti semitisme di Indonesia tidak lepas dari tumpang tindihnya pemahaman tentang keturunan Yahudi, Zionisme, Yudaisme, Israel, dan, bahkan, Freemason. Padahal, kelimanya berbeda.

Media asing asal Israel soroti kehidupan penganut Yahudi di Indonesia, salah satunya Yaakov Baruch dari Minahasa Sulawesi Utara

Antropolog asal Belanda, Martin van Bruinessen dalam bukunya Yahudi Sebagai Simbol dalam Wacana Islam Indonesia Masa Kini menyebutkan bahwa lahirnya gerakan Zionisme yang identik dengan berdirinya negara Israel tidak ada sangkut pautnya dengan agama Yahudi. Menurutnya, seseorang bisa mendukung atau menolak Zionisme tanpa harus dia punya hubungan sebagai penganut Yahudi atau tidak.

Selain itu, seseorang yang tidak berdarah Yahudi bisa memeluk agama ini. Sementara, Freemason merupakan organisasi rahasia dengan penekanan lebih pada nilai kemanusiaan universal ketimbang nilai religius tradisional.

Disebutkan saat ini ada sekitar 200 orang Yahudi yang menganut Yudaisme secara terbuka, dari ribuan orang keturunan yang tersebar di Indonesia.

Orang-orang Yahudi di Indonesia sendiri mendapatkan perlindungan hukum sama seperti warga negara Indonesia pada umumnya. Banyak dari mereka yang menganut agama resmi seperti Kristen, Islam, maupun Katolik.

Namun, tidak sedikit juga yang memeluk agama Yahudi, agama leluhur mereka. Sekalipun bukan bagian dari 6 agama resmi yang diakui di Indonesia, mereka juga dilindungi untuk menjalankan aktivitas keagamaannya.

_________

Source: dari berbagai sumber

About admin

Check Also

Regionalisme Saudi Setelah Gaza; Mengubah Rencana?

“Perang Israel di Gaza telah membuat Arab Saudi enggan mengambil risiko di panggung internasional dan ...