Home / Budaya / Asal Usul / Kisah Syeikh Magelung Sakti Dalam Babad Cirebon
Gerbang Kompleks Pemakaman Syeikh Magelung Sakti di Karangkendal, Kec. Kapetakan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat

Kisah Syeikh Magelung Sakti Dalam Babad Cirebon

“Syeikh Magelung Sakti, alias Syarif Syam, alias Pangeran Soka, alias Pangeran Karangkendal adalah seorang ulama berpenampilan khas, yakni memiliki rambut yang sangat panjang hingga (konon) menyentuh tanah.”

Oleh: Admin

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Dikisahkan dari sumber “Babad Cirebon”, bahwa Syeikh Magelung Sakti adalah seorang murid Sunan Gunung Jati yang berpenampilan unik yakni memiliki rambut panjang hingga menyentuh tanah.

Selain ada yang mengatakan asal muasalnya dari Yaman, dikatakan juga bahwa Syaikh Magelung Sakti berasal dari tanah Syam (Suriah), karena itu ia dijuluki juga dengan sebutan Syarif Syam. Beliau juga dijuluki dengan Syeikh Magelung, dikarenakan rambutnya yang panjang itu sering diikat melingkar (digelung).

Mengapa ia memiliki rambut yang sangat panjang adalah karena rambutnya tidak dapat dipotong dengan apapun atau oleh siapapun. Itulah sebabnya, dia berjalan dari satu tempat ke tempat lain untuk menemukan siapa yang sanggup memotong rambutnya yang panjang. Jika ada orang yang berhasil memotong rambutnya, maka orang tersebut akan ditunjuk sebagai gurunya.

Masa Anak-anak Hingga Menjadi Panglima Perang

Saat masih anak-anak, Syarif Syam tergolong bocah yang sangat jenius. Pada usia 7 tahun, di kalangan guru dan para pendidiknya, dia telah menyandang panggilan sebagai sufi cilik. Karena itulah, kemudian ia menjadi anak yang diperebutkan di kalangan guru besar di seluruh negara bagian Timur Tengah.

Bahkan di usia 11 tahun, dia telah mampu menempatkan posisinya sebagai pengajar termuda di berbagai tempat ternama, misalnya Madinah, Makkah, istana raja Mesir, Masjidil Aqsha, Palestina, dan berbagai tempat ternama lainnya.

Karena keunikan dan penampilan nyentriknya, Syarif Syam banyak dihujat oleh ulama Timur Tengah. Rambutnya yang kian hari semakin memanjang dan tak terurus dipandang oleh mereka tidak mencerminkan sebagai seorang terpelajar, apalagi mencerminkan sebagai ulama pengajar religius yang selalu mengedepankan tatakrama.

Pandangan para ulama terhadapnya dianggap oleh Syarif Syam sebagai penghinaan dan pelecehan. Karena itu, ia mengasingkan diri selama beberapa tahun di salah satu goa di daerah Haram, Mekkah. Ternyata, rambutnya yang panjang bukanlah kemauannya sendiri. Dia telah ratusan kali berikhtiar untuk mencukur rambutnya, tapi tak pernah berhasil. Tak seorangpun mampu memotong rambut panjangnya itu. Konon, sejak dilahirkan ke alam dunia, rambut Syarif Syam memang sudah tidak bisa dipotong oleh sejenis benda tajam apapun.

Singkat cerita, sampailah ia di usia 30 tahun. Syarif Syam diambil oleh Istana Mesir untuk menjadi panglima perang dalam mengalahkan pasukan Romawi dan Tartar. Dari sinilah namanya mulai masyhur di kalangan masyarakat luas sebagai panglima perang sakti di antara para prajurit perang yang ada sebelumnya.

Betapa tidak, jika kala itu kepiawaian seorang panglima perang bisa terlihat pada saat mengatur strategi perang dan keandalannya memainkan pedang, tombak serta ketepatan dalam memanah, namun, berbeda dengan Syarif Syam, keahlian perangnya justru terletak pada rambutnya yang ia jadikan sebagai senjata cemeti. Dia mengibaskan rambutnya yang panjang dan keras, mirip kawat baja ke arah musuh-musuhnya. Kesaktian inilah, yang di kemudian hari, membuat ia dikenal dengan sebutan “Panglima Mohammad Syam Magelung Sakti”.

Akibatnya sudah dapat diduga, para musuh tak ada yang berani mendekat, dan lari pontang-panting karenanya. Sampai di usia 32 tahun, selama 12 tahun kemasyhurannya sebagai sosok panglima perang berambut sakti itu benar-benar tak tertandingi.

Pengembaraan Mencari Guru

Ketika Syarif Syam menginjak usianya yang ke-34 tahun, dia mendapatkan petunjuk untuk mengembara mencari guru sebagai pembimbingnya sekaligus mampu memotong rambutnya. Tanpa banyak pertimbangan, dia langsung meninggalkan istana raja Mesir yang saat itu benar-benar amat membutuhkan tenaganya.

Dengan perbekalan secukupnya dan berteman ratusan kitab, Syarif Syam pun mulai mengarungi belahan dunia dengan menggunakan jukung (sejenis perahu kecil bercadik).

Dalam perjalanan ini, dia pun mulai singgah dan bahkan mendatangi beberapa ulama terkenal untuk menerimanya sebagai murid, di antaranya Syeikh Dzatul Ulum di Libanon, Syeikh Attijani di Yaman bagian Selatan, Syeikh Qowi bin Subhan bin Arsy di Beirut, Syeikh Assamarqandi bin Zubair bin Hasan India, Syeikh Muawiyyah As-Salam, Malaita, Syeikh Mahmud, Yarussalem, Syeikh Zakariyya bin Salam bin Zaab Tunisia, Syeikh Marwan bin Sofyan Siddrul Muta’alim, Campa, dan masih banyak yang lainnya.

Dari sekian banyak para waliyyullah yang didatangi, tak satupun di antara mereka yang sanggup memotong rambutnya. Hingga suatu hari, dia bertemu dengan seorang pertapa sakti Resi Purba Sanghyang Dursasana Prabu Kala Sengkala, diperbatasan Selat Malaka.

Dari pertemuan dengan sang resi inilah, Syarif Syam mendapat kabar jika rambutnya dapat dipotong oleh salah seorang wali di tanah Jawa. Mendengar itu, Syarif Syam sangat senang dan seketika minta diri untuk langsung melanjutkan perjalanannya menuju ke tanah Jawa.

Dan setibanya di pesisir Pulau Jawa, Syarif Syam pun singgah di suatu pedesaan sambil tiada hentinya bertafakkur memohon kepada Allah SWT agar dirinya dapat dipertemukan dengan wali yang selama ini diimpi-impikannya.

Tepat pada malam Jum’at Kliwon, di tengah keheningan malam Syarif Syam mendapat petunjuk jika wali yang ditemuinya berada di Cirebon yaitu Sunan Gunung Jati. Hingga akhirnya Syarif Syam tiba di Cirebon. Dan benar saja, ketika di Cirebon inilah Syarif bertemu dengan seorang tua yang dengan mudahnya memotong rambutnya.

Tempat di mana rambut Syarif Syam berhasil dipotong kemudian diberi nama Karanggetas. Orang tua itu yang kemudian belakang diketahui bernama Sunan Gunung Jati pun sesuai dengan nazarnya akhirnya menjadi guru dari Syekh Magelung Sakti dan berganti nama menjadi Pangeran Soka.

Selepas menjadi murid Sunan Gunung Djati, Syekh Magelung Sakti atau Pangeran Soka kemudian ditugaskan oleh gurunya tersebut untuk menyebarkan agama Islam di Cirebon bagian Utara.

Selain nama Syekh Magelung Sakti dan Pangeran Soka, Syarif Syam juga memiliki gelar Pangeran Karangkendal. Nama Pangeran Karangkendal sendiri dia dapat karena ketika sekitar abad XV saat ditugaskan untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Utara pulau Jawa.

Dia tinggal di Desa Karangkendal, Kapetakan (kurang lebih 19 kilometer sebelah Utara Cirebon). Di desa ini pun Syekh Magelung Sakti kemudian diangkat anak oleh penguasa Karangkendal yang bernama Ki Tarsiman yang mempunyai nama lain Ki Krayunan atau Ki Gede Karangkendal, bahkan disebut pula dengan julukan Buyut Selawe, karena mempunyai 25 anak dari istrinya yang bernama Nyi Sekar.

Mendapatkan Istri Karena Sayembara

Syekh Magelung Sakti mempunyai seorang istri yang juga memiliki nama besar di wilayah Cirebon yakni Nyi Mas Gandasari.

Menurut Babad Cirebon, sebelum menikahi wanita sakti tersebut, Syekh Magelung Sakti mendengar sayembara bahwa ada bangsawan cantik bernama Nyi Mas Gandasari yang sedang mencari pasangan hidupnya.

Berita mengenai sayembara tersebut didapatnya saat Syekh Magelung Sakti ditugaskan oleh Sunan Gunung Jati untuk berkeliling ke arah barat Cirebon.

Sayembara tersebut menyebutkan barang siapa yang mampu mengalahkan Nyi Mas Gandasari maka dia akan bersedia menjadi istri dari orang yang berhasil mengalahkannya dalam adu kesaktian tersebut.

Pertemuan terjadi ketika Syekh Magelung Sakti atau Pangeran Soka, ditugaskan untuk melakukan perjalanan ke barat Cirebon. Saat itu ia baru saja selesai belajar tasawuf dari Sunan Gunung Jati dan mendengar berita tentang kompetisi Nyi Mas Gandasari yang sedang mencari pasangan hidupnya.

Menurut masyarakat sekitar kompleks pemakaman Nyi Mas Gandasari di Panguragan, diyakini bahwa Nyi Mas Gandasari berasal dari Aceh, adik dari Tubagus Pasei atau Fatahillah, putri Mahdar Ibrahim bin Abdul Ghafur bin Barkah Zainal Alim. Dia diundang sejak kecil oleh Ki Ageng Selapandan dan dinobatkan sebagai anak sekembalinya setelah naik haji ke Mekah.

Versi lain menyatakan bahwa Nyi Mas Gandasari, yang sebenarnya adalah putri Sultan Hud dari Kesultanan Basem Paseh (sebuah daerah di Timur Tengah), adalah salah satu siswa pondok pesantren Islam yang didirikan oleh Ki Ageng Selapandan.

Dikatakan bahwa karena keindahan dan kecerdasannya dalam seni bela diri, dia telah berhasil menipu pangeran Rajagaluh, negara bagian bawahan kerajaan Hindu Galuh-Pajajaran (yang kemudian menjadi raja dan dipanggil Prabu Cakraningrat).

Saat itu, Cakraningrat tertarik menjadikannya istrinya. Dia tidak ragu bahwa dia diundang untuk melakukan perjalanan melalui seluruh penjuru kerajaan, bahkan ke tempat-tempat yang sangat rahasia. Ini kemudian digunakan oleh Pangeran Cakrabuana, orang tua asuh Nyi Mas Gandasari, dan untuk kemudian menyerang Rajagaluh.

Ki Ageng Selapandan, yang juga Ki Kuwu Cirebon pada waktu itu, juga dikenal sebagai Pangeran Cakrabuana (masih keturunan Raja Siliwangi dari kerajaan Hindu Pajajaran), yang berharap putri angkatnya, Nyi Mas Gandasari, untuk segera menikah. Setelah meminta saran dari Sunan Gunung Jati, gurunya, keinginan ayahnya disetujui oleh Putri Selapandan dengan syarat bahwa calon suaminya harus seorang pria yang lebih berpengetahuan daripada dirinya sendiri.

Meskipun banyak yang meminangnya, dia tidak bisa menerimanya karena berbagai alasan dan pertimbangan. Karena itulah ia kemudian mengadakan kompetisi (sayembara).

Untuk tujuan ini, sejumlah pangeran, prajurit, dan orang-orang biasa diundang untuk mencoba kemampuan magis sang putri. Siapa yang mampu mengalahkannya dalam pertandingan seni bela diri, maka ia akan menjadi suaminya. Banyak dari mereka adalah pangeran dan ksatria yang mencoba mengikutinya, tetapi tidak ada yang berhasil. Seperti Ki Pekik, Ki Gede Pekandangan, Ki Gede Kapringan dan imigran dari Tiongkok, Ki Dampu Awang atau Kyai Anchor berhasil dikalahkan.

Hingga akhirnya Pangeran Soka atau Syeikh Magelung Sakti terjun ke arena sayembara. Meski keduanya tampak seimbang, namun karena kelelahan, Nyi Mas Gandasari akhirnya menyerah dan mencari perlindungan di belakang Sunan Gunung Jati.

Akan tetapi, Pangeran Soka terus menyerangnya dan mencoba menyerang Nyi Mas Gandasari dan hampir mengenai kepala Sunan Gunung Jati. Tetapi sebelum tangan Pangeran Soka mengenai Sunan Gunung Jati, Pangeran Soka lemas.

Sunan Gunung Jati kemudian membantunya dan menyatakan bahwa tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Meskipun begitu, Sunan Gunung Jati tetap menikahkan keduanya dan mereka pun akhirnya resmi menjadi suami istri.

Berdakwah Hingga Akhir Hayatnya

Setelah menikah dengan Nyi Mas Gandasari, Syekh Syarif Syam alias Syeikh Magelung Sakti diberi tugas oleh gurunya, Sunan Gunung Jati, untuk mengembangkan ajaran Islam di utara Cirebon. Dia kemudian tinggal di Karangkendal, Kapetak, sekitar 19 km utara Cirebon, sampai dia meninggal dan dimakamkan di sana sampai kemudian dia menjadi lebih dikenal sebagai Pangeran Karangkendal.

Selain melayani dan menjadi pendakwah Islam di Cirebon dan sekitarnya, Syarif Syam dikenal sebagai sarjana dengan pengetahuan ilmiah tertinggi pada masanya. Dia membangun pesantren atau semacam pasulukan yang menjadi tempat di mana dia bersuluk dan mempraktekkan ajaran Islam hingga ia memiliki banyak pengikut.

Jauh dari makam suaminya Syekh Magelung Sakti, makam Nyi Mas Gandasari terletak di Panguragan, sehingga ia kemudian dikenal sebagai Nyi Mas Panguragan.

____________

* Dari berbagai sumber

About admin

Check Also

Bashîrah; Alat Melihat Hakikat Allah Ta’ala

“Bila masih banyak kebingungan menghadapi berbagai masalah di dunia ini, apakah sebagai pertanda bahwa bashîrah ...