Home / Ensiklopedia / Analisis / Misteri Pasukan X; Satuan Komando Rahasia Yahudi pada Perang Dunia II (Bagian 1)
Pasukan Inggris mengambil posisi di pantai Sword selama D-Day 06 Juni 1944 setelah pasukan Sekutu menyerbu pantai Normandia. D-Day, 06 Juni 1944 masih merupakan salah satu pertempuran paling memilukan dan konsekuensial di dunia, karena pendaratan Sekutu di Normandia menyebabkan pembebasan Prancis yang menandai titik balik di teater Barat Perang Dunia II. (AFP PHOTO/STR)

Misteri Pasukan X; Satuan Komando Rahasia Yahudi pada Perang Dunia II (Bagian 1)

Tahun lalu, dunia telah memperingati 80 tahun masuknya Amerika Serikat (AS) ke dalam Perang Dunia II.

Sebagai salah satu konflik yang paling banyak dipelajari, seolah-olah semua cerita tentang peristiwa itu sekarang telah diceritakan.

Tapi asumsi ini bisa jadi meremehkan ruang lingkup dan kompleksitas salah satu episode paling merusak dalam sejarah manusia.

Detail baru muncul setiap saat, terutama saat dokumen baru yang sebelumnya dirahasiakan terungkap, atau para penyintas yang tersisa buka suara membagikan kenangan hingga rahasia yang mereka sembunyikan.

Melansir Time pada Selasa (22/6/2021), salah satu kisah terbesar yang belum banyak diungkap berkaitan dengan kisah heroik orang-orang Yahudi, yang jumlahnya tak terhitung selama perang dunia II.

Mereka nyatanya banyak bertugas baik di dalam militer AS, Inggris, maupun Rusia.

Kontribusi vital para prajurit ini untuk upaya perang Sekutu tetap banyak yang terkubur.

Alasannya mulai dari mitos yang diterima secara umum, bahwa banyak orang Yahudi menjadi korban selama Holocaust. Ada juga pandangan bahwa orang Yahudi yang tangguh dan kuat dalam berperang hanya ada di Israel saja.

Di luar alasan itu, ternyata ada alasan yang lebih keji, soal mengapa kisah-kisah ini belum terungkap. Salah satu contohnya adalah kisah unit luar biasa yang kurang dikenal yang disebut sebagai Pasukan X atau “X Troop.”

Untuk mengetahui alasannya, mari kita kembali ke masa ke Juni 1942, ketika Jerman tampaknya tak terbendung di Eropa.

Pembentukan “Penjahat Bajingan”

Putus asa untuk mengubah arah perang, Winston Churchill dan Kepala Operasi Gabungan memutuskan untuk membuat unit komando dari pengungsi Yahudi.

Banyak dari mereka berada di kamp konsentrasi sebelum melarikan diri ke Inggris. Sebagian besar dari mereka telah kehilangan keluarganya karena Nazi.

Mereka datang dari Jerman dan Austria sebagai remaja. Ketika perang pecah mereka tertawan sebagai musuh asing, seringkali dalam kondisi yang mengerikan di Australia dan Kanada.

Bagi mereka, perang itu bersifat pribadi, dan mereka tidak akan berhenti untuk mengalahkan ancaman Nazi.

Mereka bertarung melawan musuh dengan kontra-intelijen dan keterampilan bertarung yang mumpuni, kombinasi langka untuk prajurit modern.

Unit komando dari pengungsi Yahudi itu adalah X Troop, yang disebut sebagai “Penjahat Bajingan” yang sebenarnya.

Tugas sangat berbahaya

Setelah orang-orang tersebut dipilih atau menjadi sukarelawan untuk tugas baru yang berbahaya, mereka dibawa ke London dan diwawancarai oleh MI5.

Sejak awal mereka diberitahu akan melakukan perlawanan langsung ke Nazi. Pekerjaan itu akan sangat berbahaya. Mereka pun memahami risikonya, tetapi merasa tidak ada ruginya lagi.

Masalahnya, Hitler harus dihentikan dengan segala cara. Jadi setiap orang rela menjadi sukarelawan.

Peter Terry, salah satu komando pasukan itu pernah berkata: “Kami semua menantikan pembunuhan itu (Nazi).”

Maka dimulailah kisah luar biasa Komando No. 10 (antar-sekutu), Pasukan 3 atau yang lebih dikenal sebagai Pasukan X (X Troop).

Nama itu diberikan oleh Churchill sendiri. Alasannya karena mereka akan menjadi pejuang yang tidak dikenal.

“Mereka harus dianggap sebagai jumlah yang tidak diketahui. Karena simbol aljabar untuk yang tidak diketahui adalah X, mari kita sebut mereka Pasukan X,” ujarnya yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris.

Orang-orang dari X Troop melakukan beberapa misi perang yang paling berani, seperti mendarat di D-Day dan bertempur sampai ke jantung kota Jerman.

Mereka semua dalam misi pribadi untuk menggulingkan Nazi yang telah membunuh keluarga mereka dan menghancurkan Eropa.

Meski sering terluka, mereka memilih keluar begitu saja dari rumah sakit lapangan lalu kembali ke unit mereka untuk melanjutkan perjuangan.

Bahkan ketika perang usai, X Troopers akan sangat penting dalam memburu dan menghukum Nazi atas kejahatan perang.

Dalam Penyamaran

Semua X Troopers harus menjalani transformasi luar biasa, untuk beroperasi langsung di belakang garis musuh.

Itu juga yang menjelaskan mengapa kisah mereka sebagian besar tidak terungkap sampai sekarang.

Mereka harus melepaskan kehidupan mereka sebelumnya sebagai pengungsi Yahudi, dan berpura-pura bahwa mereka adalah orang Inggris terus menerus.

Hal itu perlu, karena sebagai orang Yahudi mereka akan langsung dibunuh jika ditangkap.

Setelah diterima di X Troop, setiap orang diberi waktu beberapa menit untuk memilih nama baru yang terdengar seperti Inggris.

Selanjutnya, mereka harus menghancurkan hubungan apapun dengan diri mereka yang lama. Antara lain dengan membakar setiap surat dari rumah, membuang apapun yang berkaitan dengan nama asli mereka yang tertera di atasnya, bahkan harus mengarang cerita palsu tentang asal-usul Inggris mereka.

Bagi mereka yang tewas dalam pertempuran, perubahan ini seringkali tetap permanen. Pasalnya, para pengungsi Yahudi ini mengukir nama Inggris palsu mereka di kalung militer, yang menunjukkan Gereja Inggris. Banyak dari mereka akhirnya dikubur di bawah salib.

Begitu mereka memiliki nama dan identitas baru, X Troopers harus menjalani pelatihan brutal di Wales dan Skotlandia.

Siang dan malam mereka mendaki gunung di dataran tinggi dengan peralatan lengkap dan senjata. Ada juga pelatihan amunisi aktif, penskalaan tebing, pekerjaan penghancuran, dan terjun payung.

Dengan pelatihan itu, Orang-orang yang sebelumnya dihina sebagai pengungsi tanpa kewarganegaraan, setelahnya muncul sebagai pasukan komando yang keras.

Merekalah yang akan terus memainkan peran penting dalam kekalahan Nazi.

Kisah yang terungkap

Sebelum perang, George Lane (nama lahir Lanyi Gyorgi), dijuluki “Pria Hongaria” karena telah menjadi pengganti tim polo air Olimpiade Hongaria.

Sebagai X Trooper, dia dikirim dalam misi rahasia ke Perancis pada minggu-minggu sebelum D-Day. Di sana, dia mengumpulkan intelijen yang memungkinkan kepemimpinan Sekutu melanjutkan pendaratan sesuai rencana.

Lane tertangkap pada misi berikutnya. Dia diinterogasi oleh Field Marshal Rommel, yang tidak pernah menduga bahwa tentara Inggris ini sebenarnya adalah seorang Yahudi dari Budapest.

Salah satu rekan X Troopers Lane adalah Ian Harris (Hans Ludwig Hajos), seorang Yahudi Jerman diasingkan. Dia pernah seorang diri menangkap seluruh resimen Jerman hanya dengan
“Tommy Gun”.

Dia senang melawan Nazi dan menerima Medali Militer Angkatan Darat Inggris, karena membunuh sejumlah SS Pemuda Hitler yang fanatik selama penyeberangan Rhine.

Peter Masters (Peter Arany) adalah seorang anak laki-laki artistik dari Wina. DIa terpilih untuk mendarat di D-Day sebagai bagian dari ‘Pasukan Sepeda’.

Setelah “digunakan” untuk menarik keluar sarang senapan mesin Jerman, Masters adalah salah satu tentara Sekutu pertama, yang berhasil mencapai Jembatan Pegasus, tujuan utama dalam kampanye awal Normandia.

Tapi mungkin salah satu yang paling luar biasa dari semuanya adalah kisah Manfred Gans, seorang Yahudi ortodoks dari Borken, Jerman.

Gans berada di garis depan pendaratan D-Day. Dia membunuh, menangkap serta menginterogasi Nazi yang tak terhitung jumlahnya. Dia juga merebut pertahanan pantai Jerman yang penting.

Gans memiliki banyak luka yang mengancam nyawa di Normandia, namun berhasil bertahan hidup. Dia bertempur di Jerman, Belgia, dan Belanda.

Pada hari-hari memudarnya perang, ia memimpin sebuah jip dan melaju menerobos “neraka apokaliptik” Nazi Jerman di kamp konsentrasi Theresienstadt. Di sini, dia berhasil menyelamatkan orang tuanya sendiri.

Rahasia yang terkubur

Itu hanyalah beberapa dari kisah luar biasa dari pasukan komando rahasia X Troop.

Banyak lagi yang tidak akan pernah diketahui, karena dari delapan puluh tujuh orang yang berhasil dalam tugas, lebih dari setengahnya terbunuh, terluka, atau menghilang tanpa jejak.

Namun bahkan dengan tingkat eksploitasi yang luar biasa kepada pasukan ini, diketahui hingga kini mereka belum mendapatkan haknya.

Setelah perang, sebagian besar Pasukan X yang masih hidup mempertahankan “nom de guerre” (nama samaran).

Banyak yang tidak memberi tahu anak-anaknya tentang akar Yahudi mereka, atau membocorkan bahwa mereka telah kehilangan keluarga mereka dalam Holocaust.

Alasan keheningan ini beragam, dan menyoroti konflik status dari banyak Pasukan X.

Masalahnya, mereka mengangkat senjata untuk Inggris, tetapi tidak dinaturalisasi sampai bertahun-tahun setelah perang. Mereka sebagian besar berlatar belakang sekuler dan banyak yang memiliki satu orangtua non-Yahudi.

Beberapa orang tua mereka mengubah anak-anak mereka menjadi Kristen, untuk mencoba dan menjaga mereka tetap aman selama kebangkitan Nazisme.

Ada juga alasan lain yang sama tragisnya, terkait mengapa banyak veteran X Troop enggan mengungkapkan identitas mereka kepada publik.

Banyak pasukan komando bergulat dengan rasa tidak aman yang mendalam tentang apakah mereka bisa menjadi orang Inggris dan Yahudi.

Mereka merasakan tekanan untuk menjadi lebih Inggris daripada Inggris asli. Ada juga yang dimotivasi oleh rasa takut akan antisemitisme yang masih ada di masyarakat Inggris.

_________

Soure: Kompas.Com

About admin

Check Also

Wasiat Syaikh Samman

“Barangsiapa mengambil thariqah kepadaku, lalu mengamalkannya, niscaya ia akan mendapatkan rasa majdzub di dalam dunia ...