Home / Downloads / Tanda-Tanda Sakaratul Maut dalam Kitab Al-Maut fil Fikril Islami

Tanda-Tanda Sakaratul Maut dalam Kitab Al-Maut fil Fikril Islami

Oleh: Admin

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Sakarãtul maut berasal dari bahasa Arab, yakni: as-sakrah (السكرة), yang artinya mabuk, dan maut, yang artinya mati. Secara umum, as-sakrah atau mabuk digunakan untuk mabuknya peminum arak, perindu cinta, sakit parah dan mengantuk.

Kondisi sekarat saat menghadapi kematian hampir mirip dengan orang mabuk karena sempoyongan, tidak mengetahui arah berdirinya secara pasti akibat keterkejutan, kemendadakan, hilangnya akal, atau mengalami sakit yang tidak pernah dirasakan tubuh sebelumnya.

Al-Qur’an menggunakan kalimat sakarãtul maut untuk orang yang sedang menghadapi payahnya kematian. Simak misalnya, ayat di bawah ini:

وَجَآءَتْ سَكْرَةُ ٱلْمَوْتِ بِٱلْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ ۞

“Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya”. (QS. Qãf [50]: 19)

Menurut Syaikh Abdul Hayyi Al-Farmawi dalam Kitab Al-Maut fil-Fikril Islami, datangnya sekarat biasanya tidak lebih dari 10 detik. Tapi, suasananya sangat menegangkan, memberatkan, maha dahsyat dan tidak bisa dibayangkan. Saking menegangkannya, jelang wafat, Rasulullah SAW memohon pertolongan Allah SWT dengan berdoa:

اَللّٰهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى غَمَرَاتِ الْمَوْتِ ( أَوْ ) سَكَرَاتِ الْمَوْتِ

“Ya Allah, tolonglah aku dalam menghadapi payahnya kematian”.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata, “bagiku, tusukan 1000 kali pedang lebih ringan daripada mati di atas ranjang”,

لِأَلْفِ ضَرْبَةٍ بِالسَّيْفِ أَهْوَنُ عَلَيَّ مِنْ مَوْتٍ عَلَى فِرَاشٍ .

Hal ini beliau katakan karena kabar payahnya menghadapi mati melebihi sakitnya tubuh digergaji, atau dikuliti.

Adapun tanda-tanda sakarãtul maut, antara lain:

  1. Dinginnya jasad. Daya panasnya turun dalam rentang waktu satu jam,
  2. Berat tubuh menjadi ringan disebabkan cairan yang terus menurun,
  3. Sinar wajah menghilang dan mata menjadi lebih lebar karena melihat nyawanya melayang ke atas, (sebagaimana hadits riwayat Abi Hurairah).
  4. Warna kulit merah tubuh menghilang,
  5. Organ dalam tubuh berhenti karena berhentinya denyut jantung,
  6. Hilangnya nafas yang ditandai dengan dada dan perut yang tidak bergerak. Untuk mendeteknya dengan mudah adalah dengan kaca yang didekatkan ke hidung atau mulut mayit,
  7. Kedua kaki melemas,
  8. Melebarnya kedua telapak tangan,
  9. Miringnya hidung,
  10. Merenggangnya kulit wajah,
  11. Melorotnya bagian pelipis.

Tanda-tanda itu perlu dikenali mengingat adanya orang yang mati suri (sementara), pingsan lama karena luka senjata, terbakar, ketakutan dalam perang atau lainnya, yang belum memenuhi syarat seperti tanda-tanda di atas. Jangan sampai ada orang yang masih hidup tapi sudah dikuburkan, seperti kejadian langka di beberapa tempat. Tanda-tanda kematian itu penting dijadikan pegangan oleh orang-orang yang biasa tajhîzul mayyit (mulosoro orang meninggal), seperti modin desa atau perawat kamar jenazah rumah sakit.

Bagi mereka yang sering berdusta atas nama Allah SWT dan sering melakukan kedzaliman, Allah SWT menggambarkan bagaimana sakarãtul maut akan menerpanya;

وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا اَوْ قَالَ اُوْحِيَ اِلَيَّ وَلَمْ يُوْحَ اِلَيْهِ شَيْءٌ وَّمَنْ قَالَ سَاُنْزِلُ مِثْلَ مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ ۗوَلَوْ تَرٰٓى اِذِ الظّٰلِمُوْنَ فِيْ غَمَرٰتِ الْمَوْتِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ بَاسِطُوْٓا اَيْدِيْهِمْۚ اَخْرِجُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ اَلْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُوْنِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ اٰيٰتِهٖ تَسْتَكْبِرُوْنَ ۞

“Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau yang berkata, “Telah diwahyukan kepadaku,” padahal tidak diwahyukan sesuatu pun kepadanya dan orang yang berkata, “Aku akan mendatangkan seperti yang diturunkan Allah.” Seandainya saja engkau melihat pada waktu orang-orang zalim itu (berada) dalam kesakitan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sembari berkata), “Keluarkanlah nyawamu!” Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang sangat menghinakan karena kamu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”. (QS. Al-An’ãm [6]: 93)

Bagaimana proses kematian itu berlangsung, Allah SWT menggambarkannya sebagai berikut;

 قُلْ يَتَوَفّٰىكُمْ مَّلَكُ الْمَوْتِ الَّذِيْ وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ تُرْجَعُوْنَ ࣖ ۞

“Katakanlah, “Malaikat maut yang diserahi (tugas) untuk (mencabut nyawa)-mu akan mematikanmu, kemudian kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (QS. As-Sajadah [32]: 11)

Beratnya kematian juga tergambar dari perbincangan singkat antara Sayidina ‘Umar ibn Al-Khathab dengan Ka‘b. Pria yang tengah menjabat sebagai khalifah kedua itu bertanya, “Wahai Ka‘b, sampaikanlah kepadaku tentang maut.” Ia menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, maut itu bagaikan sebuah pohon yang banyak durinya dimasukkan ke dalam perut ibnu Adam. Setiap duri memegang satu urat darinya. Kemudian ditarik sekaligus oleh seorang laki-laki yang sangat kuat. Maka terputuslah semua urat yang menyangkut pada duri. Tertinggallah urat-urat yang tersisa.”

Kemudian, saat menghadapi sakarãtul maut ‘Amr ibn Al-‘Ash pernah ditanya oleh putranya tentang gambaran kematian. Ia menjawab, “Demi Allah, dua sisi tubuhku seakan-akan berada dalam himpitan. Napasku seakan-akan keluar dari lubang jarum. Dan sebuah dahan berduri ditarik sekaligus dari ujung telapak kaki hingga ujung kepalaku.”

Bahkan, beratnya kematian juga dirasakan oleh para nabi. Hanya saja menurut Al-Qurthubi, bagi mereka beratnya kematian memiliki dua keuntungan. Keuntungan pertama adalah menyempurnakan keutamaan mereka dan mengangkat derajat mereka. Dan beratnya kematian mereka bukan berarti sebuah kekurangan atau celaan. Sebab, manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang di bawah mereka. Keuntungan kedua adalah memberi tahu makhluk atau umat akan beratnya kematian. Mereka mungkin mengira bahwa kematian itu ringan. Namun, jika beratnya kematian disampaikan oleh para nabi, mereka sendiri merasakannya, padahal mereka adalah orang-orang mulia di sisi Allah, barulah umat akan memahaminya. Hanya saja kematian para nabi dan umatnya ada perbedaan. Kematian para nabi tidak terjadi sebelum diberikan tawaran atau pilihan. (Lihat: Jami‘ al-‘Ulum wal-Hikam, jilid 38, hal. 32).

Konon, pada zaman dahulu ada sekelompok bani Israil yang mendatangi komplek pemakaman. Karena ingin mengetahui bagaimana rasanya kematian, mereka kemudian shalat dua rakaat dan berdoa kepada Allah agar ada seorang meninggal yang dihidupkan di tengah mereka, sehingga mereka bisa bertanya-tanya tentang kematian. Allah pun mengabulkan doa mereka. Tak lama muncul seorang laki-laki dari sebuah kuburan. Namun yang keluar hanya kepalanya. Di antara kedua kepalanya terdapat bekas sujud. Pertanda laki-laki itu seorang ahli ibadah. Ia pun bertanya, “Wahai orang-orang, apa yang kalian inginkan dariku? Sungguh, aku telah meninggal seratus tahun yang lalu. Dan hingga kini panasnya kematian masih saja terasa dan belum hilang.” Demikian sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdu ibn Humaid dari Jabir ibn ‘Abdullah.

Wallãhu A’lamu bish-Shawãb

Berikut Kitab al-Maut fil-fikril Islãmiy karya Syaikh Abdul Hayyi al-Farmawi, Ulama Tafsir dari al-Azhar dalam bentuk e-book berformat pdf.


___________

Source: Duta Islam

About admin

Check Also

Pilihlah Agama dengan Teks atau Tanpa Teks

“Beragama tidaklah sempurna tanpa menggabungkan agama tekstual dengan agama ritual spiritual” Oleh: H. Derajat بِسْمِ ...