Wednesday , December 1 2021
Home / Ensiklopedia / Analisis / Prokes Bathiniyah Covid-19

Prokes Bathiniyah Covid-19

Oleh: Ahmad Baihaqi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku yang terkasih, di zaman pandemi covid-19 ini telah dipermaklumkan bahwa perubahan kehidupan sosial yang hanya berorientasi pada fokus protokol kesehatan (prokes) untuk mencegah paparan covid-19 seringkali hanya dititik-beratkan pada body oriented, jasadiyah saja.

Dalam pandangan hukum, fokus pencegahan secara jasadiyah tersebut bahkan sudah diformalisasi yang tidak hanya bersifat fakultatif (himbauan yang sifatnya mengatur) tapi hampir mengalami penekanan menyeluruh yang bersifat imperatif (memaksa).

Penekanan untuk mengatur pola hidup baru secara jasadiyah tersebut bukanlah tidak penting, tapi ada hal lain yang lebih penting dari sekedar pola hidup baru secara jasadiyah, yakni pola hidup baru secara bathiniyah. Dalam hal ini, kita sebut saja sebagai “Protokol Kesehatan (Prokes) Bathiniyah Covid-19”. Berhubung prokes yang sudah diformalisasi tersebut justru dapat mengeringkan sentuhan-sentuhan bathiniyah yang berakibat pada hilangnya keyakinan hidup seseorang.

Fenomena Hilangnya Imunitas Spiritual

Terjadinya pergeseran nilai spiritual yang terbangun dari budaya yang hidup dan tumbuh di kalangan masyarakat melalui tradisi-tradisi keagamaan semakin menghilangkan keyakinan hidup seseorang. Telah kita ketahui bersama bahwa pembatasan sosial (social distancing) telah meruntuhkan nilai spiritual silaturahmi yang justru di dalamnya terdapat banyak kedigdayaan-kedigdayaan sosial.

Bagaimana mungkin silaturahmi yang sudah digariskan oleh Rasulullah SAW sebagai sebuah pola hidup yang bisa membuat seseorang berumur panjang lalu disimpulkan sebagai dapat menyebabkan umur pendek karena sebuah kekhawatiran akan penularan virus, lalu kemudian dibuatlah prinsip pola hidup dengan penjagaan jarak (social distancing). Sungguh kontradiktif. Pada sisi ini, nilai spiritual dari silaturahmi menjadi runtuh.

Rasulullah SAW bersabda:

صَنَائِعُ الْمَعْرُوْفِ تَقَي مَصَارِعَ السُّوْءِ وَصَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضْبَ الرَّبِّ وَصِلَةُ الرَّحْمِ تَزِيْدُ فِي الْعُمْرِ

”Perbuatan-perbuatan baik dapat menghindarkan penyebab-penyebab kesialan, sedekah secara sembunyi-sembunyi dapat meredam kemurkaan Tuhan dam silaturahim dapat menambah umur”. (HR. Al Thabrani).

Kemudian, sesuatu keputusan yang membuat manusia semakin jauh dari nilai spiritual adalah penutupan tempat-tempat ibadah. Seharusnya, ibadah dipandang sebagai sebuah aktifitas yang bisa membangkitkan nilai imunitas tubuh. Karena itu mesti dijadikan sebagai opsi utama yang ditekankan. Berhubung sandaran kuat seseorang pada Tuhannya adalah sebuah bentuk peningkatan pola keyakinan hidup. Tapi apa yang terjadi? Justru sektor itu yang disorot sebagai “tertuduh” salah satu penyebab meningkatnya angka terpaparnya virus.

Fenomena lain yang bisa dikategorikan sebagai “pukulan telak” bagi bangunan spiritual adalah “rusaknya ketulusan” seseorang dalam pergaulan dengan selalu bermasker dan mencuci tangan. Situasi ini menimbulkan mental saling curiga dan lama-kelamaan dapat menyebabkan penyakit mental tersendiri.

Meningkatnya pandangan yang hanya tertuju pada prilaku fisik hingga dibuatnya peraturan-peraturan yang disebut sebagai pola hidup baru atau kenormalan gaya hidup baru (new normal) justru menjadikan manusia telah tergeser dari fitrah-fitrah sosialnya. Padahal fitrah dasar sosial manusia adalah sebuah kedigdayaan yang justru dapat menciptakan pola hidup sehat.

Waspada Propaganda Berbahaya

Satu hal yang paling terbentuk dari propaganda “di rumah saja” akibat wabah covid-19 adalah kekhawatiran munculnya penyakit-penyakit mental. Penanganan berlebihan secara fisik dalam menanggulangi paparan covid-19 adalah ketidak-adilan dan ketidak-mengertian para pihak yang bertanggung jawab dalam menanganinya.

Bentuk penanganannya justru cenderung kapitalistik dan individualistik. Apa itu? Pertama, merenggangnya kehidupan guyub atau budaya ngumpul. Padahal pada budaya itu terdapat nilai-nilai kebersamaan yang di dalamnya mentalitas seseorang dilatih untuk saling mengerti, saling berbagi kasih sayang, saling menguatkan dan saling memberikan dorongan. Dampak yang muncul dari pola hidup tersebut adalah tumbuhnya nilai-nilai negatif individualistis.

Kedua, covid-19 yang notabene tidak memenuhi syarat sebagai pandemi telah dipaksakan untuk ditangani secara fisik melalui vaksin. Padahal tingginya angka kematian justru bukan disebabkan dari virus secara langsung, tapi disebabkan oleh penyakit bawaan yang diderita oleh seseorang (komorbid).

Siti Fadilah Supari, mantan Menteri Kesehatan mengatakan bahwa Covid-19 ini belum bisa dikatakan sebagai pandemi. Menurutnya, ada satu syarat yang belum bisa dibuktikan bahwa Covid-19 adalah pandemi, yaitu penularan dari hewan ke manusia.

“Berarti belum ditemukan asalnya pertama kali, belum ditemukan asal dari hewan ke manusia, ini kan pincang nih, kenapa sudah dibilang pandemik,” ujarnya.

Associated Press, 29 Maret 2021, melaporkan, hasil studi gabungan WHO dan Cina tentang investigasi yang dilakukan WHO sejak bulan Januari 2021. Investigasi tentang asal-usul virus corona mengatakan penularan virus dari kelelawar ke manusia melalui hewan lain adalah skenario yang paling mungkin terjadi dan kebocoran laboratorium sangat tidak mungkin.

Namun menurut Siti, saat ini sudah terlambat untuk mencari asal usul virus ini. Sekarang yang perlu dilakukan adalah mencari cara penanggulangan soal virus ini.  Ia menyatakan tidak akan  menutup diri, jika diminta membantu pemerintahan. “Tergantung mereka membutuhkan atau tidak, saya sudah tua barangkali hanya memberikan nasihat,” ujarnya.

Pemaksaan istilah pandemi yang muncul dari propaganda media mainstream yang berasal dari “para penjahat” global berdampak pada perubahan-perubahan sosial yang cukup signifikan. Akhirnya, pemakaian vaksin untuk mencegah covid-19 cenderung kapitalistik. Berapa banyak keuntungan yang didapat dari penjualan vaksin? Silahkan hitung sendiri, niscaya anda pasti tercengang.

Ketiga, propaganda global untuk menekan persebaran aktifitas sosial telah membuat banyak orang untuk memilih pasif dan cukup di rumah saja. Bekerja dari rumah (Work from Home -WFH), belanja dari rumah (Shopping from Home), belajar dan rapat dari rumah (Learning and meeting from Home), berobat dari rumah (treatment from home), dst.

Berapa banyak aktifitas sosial yang berubah menjadi “dari rumah saja”. Segala sesuatu serba dari rumah. Penggunaan media online seperti Zoom, Whatsapp, dll meningkat tajam. Penggunaan aplikasi belanja online semacam Shopee, Tokopedia, dll mengalami peningkatan yang luar biasa. Siapa yang diuntungkan dengan kondisi ini? Silahkan dicek dan dihitung sektornya dan berapa banyak keuntungannya? Niscaya anda akan terpukau, karena begitu fantastis.

Protokol Kesehatan Bathiniyah

Saudaraku yang terkasih, mari kita merenung dengan perenungan yang agak panjang. Di hari-hari dan malam ketika sendiri. Betapa sendi-sendi bermasyarakat dan bernegara kita telah digerogoti dan dihancurkan secara perlahan. Maukah kita istiqamah (konsisten) berpegang teguh pada prinsip-prinsip spiritual yang justru dapat membangkitkan imunitas tubuh kita sehingga tidak mudah covid-19 merenggut nyawa kita? Maukah kita tidak menerima begitu saja propaganda-propaganda menyesatkan yang menghipnotis pikiran kita sehingga kita tergiring kepada sebuah pola hidup yang kapitalistik individualistis? Marilah kita bangkit dengan sepenuh jiwa kita.

Bahwa protokol kesehatan yang BENAR dan sangat AMPUH adalah membangkitkan nilai-nilai spiritual yang justru dipropagandakan untuk digeser dan dibungkam. Bahwa jual-beli yang dibenarkan adalah hand to hand (pasar riil yang konvensional), bukan melalui toko online. Bahwa belajar-mengajar yang dibenarkan adalah face to face (sekolah yang di dalamnya berkumpul secara bersama teman-teman dan bertatap muka langsung dengan si pengajar), bukan melalui Zoom, Whatsapp, dll. Bahwa musyawarah, rapat, diskusi dan pertemuan-pertemuan sosial melalui daring dan webinar tidaklah produktif, karena nilai persentuhan melalui gelombang otak yang positif hanya dapat dicapai secara langsung, face to face.

Bahwa meningkatkan spiritual melalui dzikir, shalat, pengajian, ta’lim dengan bermajelis dan berkumpul di tempat-tempat ibadah adalah justru meningkatkan imunitas dan kesehatan jiwa yang signifikan. Menjauhi aktifitas tersebut justru merusak nilai-nilai spiritual yang hidup dan berkembang di lingkungan sosial. Karena itu, propaganda social distancing dengan menutup akses-akses budaya perkumpulan masyarakat adalah wabah penyakit tersendiri. Hal ini akan merusak mental masyarakat, terutama di kalangan generasi muda, terlebih untuk anak-anak.

Nilai-nilai spiritual yang hidup, tumbuh subur dan menyehatkan masyarakat telah diberangus dengan propaganda kenormalan baru (new normal). New normal yang menyesatkan itu dimaksudkan agar tercerabutnya nilai-nilai kesehatan yang tertanam kuat-kuat pada jiwa masyarakat sejak dahulu kala.

Karena itu, saudaraku yang terkasih, bahwa protokol kesehatan yang paling signifikan adalah protokol kesehatan bathiniyah yang justru nilai-nilai sehatnya itu hendak dibasmi oleh pihak-pihak yang mendapatkan keuntungan fantastis. Protokol Kesehatan secara spiritual dengan fokus menjaga, melestarikan dan membangkitkan gairah kejiwaan melalui hubungan-hubungan sosial justru harus ditingkatkan. Nilai-nilai itu, jika ia hilang, maka justru akan menjadi pandemi tersendiri yang lebih mengerikan. Na’ûdzu billâhi min dzâlik.

Semoga Allah SWT menjaga kita semua dari hanya berpandangan yang hanya mengandalkan jasadiyah saja sehingga membutakan pandangan-pandangan bathiniyah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

Ya Allah, Ya Rabbana… Aku berlindung kepada-Mu dari golongan orang-orang sebagaimana yang telah Engkau firmankan: “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka apakah kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak beriman. Allah telah mengunci mati hati mereka, pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka adzab yang berat”. (Al-Baqarah : 6-7)

اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَآءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوْءِ الْقَضَآءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَآءِ

Allâhumma innî a’ûdzu bika min jahdil balâ’i wa darakisy syaqâ’i wa sû’il qadhâ’i wa syamâtatil a’dâ’i

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari susahnya bala’ (bencana), tertimpa kesengsaraan, keburukan qadha’ (takdir), dan kegembiraan para musuh.” âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

Wallâhu A’lamu bish-shawâb

 

About admin

Check Also

Mencermati Hubungan Iran dengan Taliban Pascapengambilalihan Kekuasaan di Afghanistan

Menyusul pengambilalihan kekuasaan di Afghanistan oleh Taliban, paramiliter Irak yang didukung Iran awal pekan ini ...