Monday , December 10 2018
Home / Deep Secret / Provokasi AS di Balik Meruncingnya Perselisihan Cina-Jepang

Provokasi AS di Balik Meruncingnya Perselisihan Cina-Jepang

capture-20130514-094919Sumber-sumber resmi Jepang Kamis (25/4) mengumumkan bahwa seribu tentara Jepang akan ikut ambil bagian dalam latihan perang bersama Amerika yang akan diselenggarakan bulan Juni mendatang. Para tentara Jepang ini akan pergi ke California untuk ikut serta dalam manuver militer menduduki sebuah pulau.

Menurut sejumlah analis politik Amerika, mendisain latihan perang seperti ini justru memprovokasi perselisihan kepemilikan pulau antara Cina dan Jepang semakin meluas. Mereka menegaskan bahwa Amerika tengah berusaha memanas-manasi perselisihan soal kepemilikan pulau antara Cina dan negara-negara tetangganya agar tercipta krisis dengan tujuan mengontrol militer Cina.

Jenderal Martin E. Dempsey, Kepala Staf Militer Amerika dalam pekan ini juga melawat Cina dan negara ini akan memanfaatkan kunjungan itu untuk menyampaikan protes dan kekhawatirannya atas langkah-langkah yang dilakukan Amerika. Karena Cina melihat apa yang dilakukan Amerika bertentangan dengan stabilitas dan mengancam perdamaian. Sebagian pengamat mengatakan bahwa Amerika dengan mengambil kebijakan menekan keamanan Cina dengan menggunakan negara-negara tetangganya, guna menutupi masalah yang sebenarnya. Yakni, perselisihan Washington-Beijing ingin dialihkan menjadi perselisihan antara Cina dan negara-negara tetangganya.

Ketegangan dan perselisihan yang terjadi antara Cina dan Amerika telah meluas mencakup politik, ekonomi dan militer. Sekalipun demikian, dapat dikatakan bahwa perselisihan utama antara kedua negara kembali pada ancaman terhadap keberadaan Partai Komunis Cina dan menurut Cina, aksi ini tidak dapat dibiarkan begitu saja dan tidak ada kata damai untuk masalah ini.

Washington meminta Cina agar menjadi partner Amerika yang bertanggung jawab di bidang ekonomi. Berdasarkan ide ini, Amerika berharap Cina ikut bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah dunia seperti krisis finansial dunia, pemanasan global dan memastikan Korea Utara menghentikan aktivitas nuklirnya. Sementara Cina tidak punya pikiran seperti itu dan meyakini bahwa sikap tanggung jawab mereka tidak bergantung pada pandangan Amerika.

Beijing mengatakan bahwa menjadi partner bertanggung jawab dengan berpartisipasi aktif di organisasi-organisasi multi lateral seperti kelompok G20 yang berusaha mencegah kemajuan Cina sama artinya dengan kemunduran politik dan jatuhnya ekonomi Cina. Di bidang ekonomi, ketika Barack Obama, Presiden Amerika memunculkan isu pengurangan emisi rumah kaca, itu hanya triknya untuk meningkatkan popularitasnya di tengah masyarakat Amerika. Obama juga berusaha mendapat kesepakatan dari Cina untuk mengurangi emisi rumah kaca itu, tapi Cina melihat masalah ini dari sudut pandang lain. Pengurangan emisi rumah kaca dari sudut pandang Cina sama artinya dengan mengorbankan ekonomi Cina.

Tibet, Xinjiang dan Taiwan termasuk kasus lain yang menjadikan Cina dan Amerika berselisih. Amerika berkali-kali menegaskan soal kebebasan beragama, hak sipil, kebebasan berpendapat warga Tibet, dan kebebasan umat Islam untuk melaksanakan kewajiban agamanya. Cina melihat politik Amerika sebagai bentuk campur tangan urusan dalam negeri Cina dan meyakini bahwa AS tidak berhak melakukan itu.

Dari sisi lain, Cina melihat aksi-aksi Amerika sebagai bentuk penghinaan terhadap pemerintahnya karena dianggap tidak mampu mengelola negara. Hal inilah yang membuat Beijing melihat Amerika dan sekutunya sebagai musuh yang berusaha membagi-bagi Cina menjadi beberapa bagian dan menjadi lemah.

Dengan melihat sejumlah kasus yang menjadi sumber perselisihan Cina can Amerika, apakah masih ada yang meragukan niat Amerika memprovokasi perselisihan yang terjadi antara antara Cina dan Jepang dan negara-negara tetangga lainnya? (TGR/IRIB Indonesia)

About admin

Check Also

40 Teknik Illuminati dalam Mencapai Tujuannya

The Inner Circle, the Elitists, the Powers –atau apapun mereka namanya– merencanakan dan mengorganisir dengan ...