Home / Ensiklopedia / Analisis / Umat Islam Harus Berpolitik

Umat Islam Harus Berpolitik

“Karena agama sebagai basis moral seorang pemimpin, maka seorang pemimpin yang cakap dalam agamanya adalah keniscayaan dalam politik umat Islam.”

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Politik Moral atau Politik Identitas?

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul istilah dalam dunia politik yang mulai dipandang oleh segelintir orang sebagai “bahaya laten”. Istilah itu adalah “politik identitas”.

Oleh beberapa aktivis parpol, politik identitas itu dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya, fasis, ortodok, dan dianggap sebagai fenomena kemunduran berpikir.

Apa sih pengertian politik identitas itu?

Menurut beberapa sumber tulisan, politik identitas secara umum dikaitkan dengan aktivitas dan gerakan sosial-politik, baik yang dilakukan secara individu maupun kelompok untuk mendapatkan pengakuan (legitimasi) yang lebih luas dari publik.

Pengertian mengenai politik identitas tidak lepas dari makna identitas itu sendiri. Dalam buku Sejarah Sosial Pendidikan Islam dengan penerbit Guepedia (2022) disebutkan bahwa identitas atau jati diri adalah pengakuan terhadap seorang individu atau suatu kelompok tertentu yang menjadi satu kesatuan menyeluruh yang ditandai dengan masuk atau terlibat dalam satu kelompok atau golongan tertentu.

Penggabungan ke dalam kelompok tersebut tidak terlepas dari adanya rasa persamaan yang didasari oleh sebuah identitas. Umumnya, identitas terdapat dalam berbagai bentuk dan jenis, seperti identitas gender, agama, suku, profesi, dan lain sebagainya.

Politik identitas lahir dari sebuah kelompok sosial yang merasa diintimidasi hingga didiskriminasi oleh negara dan pemerintah dalam menyelenggarakan sistem pemerintahan. Politik identitas biasa digunakan sebagai satu cara di mana anggota masyarakat berjuang dengan tujuan untuk memperoleh pengakuan publik atas unsur budaya atau identitas mereka.

Jika secara intelektualitas, seorang politisi mengeksploitasi identitas sebuah kelompok dianggap sebagai sebuah kemunduran berpikir, lalu bagaimana jika sisi agama bukan dijadikan sebagai identitas, tapi dijadikan basis untuk mengeksploitasi nilai-nilai moral dan digunakan sebagai pondasi dalam berpolitik? Bukankah ini tidak menjadikan para insan politik lebih berkepribadian, lebih beradab dan lebih bernilai?

So, jangan memlintir seorang aktivis politik yang menjadikan agama sebagai basis moral sebagai seseorang yang berpikiran mundur. Bahaya laten “politik identitas” hanya berada pada menjadikan agama untuk kepentingan pribadi atau golongan tertentu. Bahasa singkatnya, kapitalisasi agama. Pada sisi ini, politik identitas akan sangat beda tipis dengan politik moral, jika kemudian orientasi politik akar rumput melihat itu sebagai standar untuk menilai seseorang yang lebih pantas memimpin sebuah negara. Toh, itupun fakta yang tidak bisa dipungkiri.

Politik identitas agak mirip dengan kapitalisasi agama yang dalam perspektif ekonomi sering digunakan untuk mendulang keuntungan para pemilik modal. Agama hanya dijadikan slogan untuk menarik pasar dari kalangan orang-orang beragama. Mirisnya, akar rumput umat Islam banyak tidak sadar bahwa dirinya adalah pangsa pasar yang digiring melalui slogan-slogan agamis.

Alangkah bijaknya, jika identitas agama tidak dijadikan alat untuk mengambil suatu kesamaan pandangan dalam berpolitik, tapi justru seharusnya para aktivis politik mengambil dan mengeksploitasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Visi dan misi seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya tidaklah menjadi mundur hanya karena menjadikan agama sebagai basis nilai-nilai moral. Hal itu justru akan memberikan nuansa yang lebih futuristik.

Peran Orang-orang Sholeh dalam Politik

Meskipun ada fakta sejarah yang menunjukkan sebuah fenomena eksploitasi agama sebagai “ladang” untuk melegitimasi orientasi politik untuk tujuan-tujuan komersil, kekuasaan an sich, dan tindakan-tindakan fasis lainnya tanpa mengindahkan nilai-nilai moral yang dipondasikan dalam ajaran agama, namun agama sebagai basis nilai-nilai moral tak bisa ditinggalkan atau diabaikan begitu saja. Alih-alih menghindari istilah yang dicap buruk, yakni “politik identitas”.

Mari sama-sama kita renungkan, bahwa bagaimanapun, negara kita Indonesia tercinta ini dibangun atas landasan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan hal itu dipegang teguh dalam ajaran agama. Para founding fathers pun tanpa risih menyatakan itu dalam teks Pembukaan UUD 1945 alinea ketiga: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya“. Atas dasar itu, menjadikan nilai-nilai moral (akhlaq) yang menjadi pondasi dan nilai-nilai dalam agama, tidak bisa tidak, harus dijadikan sebagai parameter untuk memilih seorang pemimpin.

Sepanjang sejarah, dan ini sudah cukup menjadi rujukan bagi mereka yang seolah “kehilangan nilai” dengan plintiran “politik identitas”, Rasulullah SAW dalam dakwahnya -kita sebut saja dalam “politiknya”, justru mengajak kaum Quraisy saat itu untuk melawan tirani dan sekuat tenaga membangun sistem nilai dalam setiap lini kehidupan masyarakat sehingga lebih adil, makmur dan sejahtera. Dalam bahasa singkatnya, Rasulullah SAW membebaskan manusia dari belenggu sistem sosial yang fasis dan biadab menuju sistem sosial yang adil dan beradab. Dari sistem kehidupan yang kapitalistik menuju sistem kehidupan yang lebih futuristik.

Hal ini harus menjadi bahan renungan lebih mendalam bagi kita semua, bukan hanya sekedar bagi para politisi saja. Sebab kehidupan politik bukan hanya milik para politisi atau aktivis politik saja. So, judul dalam artikel ini tidaklah berlebihan jika narasi awal tulisan ini berujung pada kesimpulan; “Umat Islam Harus Berpolitik“.

Dalam sejarah Nusantara, para Wali Sanga telah memberikan contoh di mana mereka semua sangat mempengaruhi para Raja dan Sultan dalam membuat kebijakan, sehingga lini akar rumput dapat merasakan hidup dalam keadilan, kemakmuran, kesejahteraan dan berperadaban.

Di Thailand atau istilah dahulu negeri Campa, mayoritas Islam dan penganut ajaran Tasawuf yang sangat besar namun dikarenakan mereka terlalu menjiwai Tasawuf sehingga tidak berkeinginan menjadi pemimpin negara akhirnya negara itu direbut oleh agama lain dan umat Islam hanya menjadi yang dipimpin bukan pemimpin.

Gus Baha telah memaparkan politik Islam dalam kanal youtubenya:

Berpolitik Adalah Perintah Allah SWT

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الَّذِينَ اتَّخَذُواْ دِينَكُمْ هُزُواً وَلَعِباً مِّنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ۞

“Hai   orang-orang  yang  beriman,  janganlah  kamu  mengambil  orang-orang  yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik) sebagai WALI (pemimpinmu).  Dan  bertakwalah kepada Allah  jika  kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 57)

Ayat tersebut cukup menjadi dasar buat kita. Jika disimpulkan, dalam ayat tersebut terkandung sebuah makna yang berisi perintah Allah SWT agar umat Islam berpolitik. “Janganlah engkau jadikan pemimpin seseorang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan“. Memilih atau menjadikan seseorang sebagai pemimpin, bermakna “berpolitiklah”.

Ayat di atas juga memunculkan sebuah kriteria bagi seseorang yang layak untuk dijadikan pemimpin. Agama dalam terminologi ayat di atas adalah sebagai basis nilai untuk menentukan pemimpin yang bermoral. Lalu bagaimana seorang calon pemimpin yang mengolok-olok agama bisa memiliki akhlak untuk menjalankan kepemimpinannya, lha wong basis nilainya saja ia olok-olok.

Alih-alih memunculkan teori fairness dalam politik, narasi “politik identitas” seringkali dijadikan sebagai alat untuk memlintir dan memberikan stigma buruk untuk lawan-lawan politik yang lebih memiliki moral dengan basis agama. Karena itu, umat Islam mutlak dituntut cerdas dalam politik sehingga tetap menjadikan agama sebagai parameter nilai bagi calon pemimpin.

Karena agama sebagai basis moral seorang pemimpin, maka seorang pemimpin yang cakap dalam agamanya adalah keniscayaan dalam politik umat Islam. Kita harus memilih pemimpin yang memiliki aqidah yang kuat dalam agamanya. Soal bagaimana gaya kepemimpinan, itu bisa bermakna seribu satu macam. Artinya, kecerdasan spiritual yang berbasis agama akan mengiringi gaya kepemimpinan ketika ia menjadi pemimpin.

Seorang pemimpin yang memiliki mindset bahwa jabatan adalah amanah yang dititipkan Allah dan RasulNya, maka kepemimpinan yang didasarkan atas kesadaran ini akan menentukan kepemimpinan yang adil sejahtera, tidak menjadikan agama sebagai bahan ejekan, dan akan menjadikan bangsa ini menjadi negara maju tapi tetap beradab.

Kita tidak mengharapkan semata-mata sebuah negara dengan visi negara dan bangsa yang maju namun kering akan nilai agama. Negara maju yang kering nilai hanya akan menggiring bangsanya menuju lubang kehancuran dan kebinasaan. Pada sisi ini, sosok pemimpin yang berpikiran maju adalah pemimpin yang cakap akan nilai-nilai yang terkandung dalam agamanya. Itulah kriteria pemimpin bagi umat Islam.

Wahai Kaum Tasawuf, semoga engkau semua menjadi pemimpin dengan tetap menjaga keikhlasan, ketauhidan, keimanan dengan terus mengajak orang yang engkau pimpin kepada akhlak yang mulia sesuai amanah Allah SWT dan wasiat Rasulullah SAW.

Berpolitiklah dengan santun dan tunjukkanlah akhlak yang mulia dan banggalah apabila engkau masih bisa berteriak dalam dadamu:

وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ۞ ﴿فصلت : ۳۳﴾

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?” (QS. Fushshilat [41]: 33)

Wallãhu A’lamu bish-Shawaãb

About admin

Check Also

Mengabdi Pada Tuhan Dengan Cara yang Simpel

“Apapun peranmu, apapun jabatanmu, dan apapun rutinitas hidupmu, bila dilakukan dengan baik serta disempurnakan agar ...