Saturday , June 12 2021
Home / Relaksasi / Renungan / Tiada Luka yang Tak Berbekas

Tiada Luka yang Tak Berbekas

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Allahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad.

Kisah ini pernah kuceritakan kepada istriku ketika dia sedang dilanda kemarahan.

“Istriku, kemarahan, caci maki, memang bisa saja dimaafkan oleh orang lain. Namun, tahukah kamu bahwa kamu tak kan pernah bisa menutup kembali sayatan luka dan bekasnya pada hati orang itu. Ketika hati mereka bersaksi di hadapan Tuhan, demikian juga luka hatinya bahwa itu akibat ulahmu, apa yang akan kamu pertanggungjawabkan pada Tuhanmu? Sebaiknya kamu dengarkan ceritaku ini”.

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah …

Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah … Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang. Dia mendapati bahwa: ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.

Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah.

Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. “Hmmmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi, lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini … di hati orang lain. Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu … Tetapi tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada … dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik …”.

Orang yang Kuat

The strong man is not one who is good at wrestling, but the strong man is one who controls himself in a fit of rage.

Orang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tapi orang kuat adalah yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah.

Lebih Baik Menangis

It’s better to cry than to be angry, because anger hurts others while tears flow silently through the soul and cleanses the heart.

Lebih baik menangis daripada marah, karena marah akan menyakiti orang lain, sementara air mata mengalir tanpa suara melalui jiwa dan membersihkan hati.

About admin

Check Also

Shalawat Kubra

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...