Tuesday , September 28 2021
Home / Ensiklopedia / Analisis / The New Climate War dan Nasib Generasi Mendatang Indonesia
Iraqi Soldiers (by Bonesaw: hijauku.com)

The New Climate War dan Nasib Generasi Mendatang Indonesia

Oleh: Jalal

“… our planet has now warmed into the danger zone, and we are not yet taking the measure necessary to avert the largest global crisis we have ever faced.

We are in a war—but before we engage we must first understand the mind of the enemy.”

Michael Mann

Seandainya peperangan dalam memerjuangkan sains perubahan iklim benar-benar meninggalkan bekas luka pada tubuh mereka yang menjalaninya, pastilah tubuh Michael Mann penuh parutan. Mungkin yang paling mengerikan di antara tubuh para ilmuwan yang berada di garda depan peperangan itu. Kesadisan para pendusta perubahan iklim kepada dia lantaran sebuah grafik penambahan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer dan kaitannya dengan peningkatan suhu, yang dikenal sebagai hockey stick, sudah banyak ditulis. Mann keluar sebagai pemenangnya, dan kini para pendusta sudah tak bisa lagi menyatakan bahwa perubahan iklim tidak eksis dan manusia bukan penyebabnya.

Tetapi itu tidak berarti bahwa mereka berhenti bergerilya. Ketika perang terbuka tak bisa lagi mereka andalkan, mereka berganti taktik. Buku Mann yang mutakhir, The New Climate War: The Fight to Take Back the Planet menguraikan tentang moda peperangan baru yang sekarang sedang terjadi di seluruh dunia itu.

Dari Misinformasi hingga Menyalahkan Individu

Mann membagi buku barunya itu ke dalam sembilan bab. Dua bab pertama, The Architects of Misinformation and Misdirection dan The Climate Wars, menguraikan sejarah penyangkalan ilmu iklim selama bertahun-tahun. Walaupun bagian ini sudah banyak pengarang yang menuliskannya, membaca dari sudut pandang Mann yang mengalami itu semua secara personal memberikan sensasi tersendiri. Mungkin seperti berada dalam gim video Fortnite atau Call of Duty, dengan musuh-musuh yang disebutkan dengan jelas—baik dari industri bahan bakar fosil, para politisi dan ahli strategi komunikasi yang bertindak sebagai tentara bayaran.

Bab ketiga, The Crying Indian and the Birth of the Deflection Campaign merinci bagaimana kepentingan perusahaan-perusahaan energi fosil menggunakan kampanye pengalihan untuk mengalahkan kebijakan yang tidak mereka sukai. Contoh klasiknya adalah iklan The Crying Indian dari tahun 1970-an, yang mengingatkan agar pemirsa mau menumpuk botol kaca dan dapat membuang sampah di tempatnya. Iklan tersebut sesungguhnya adalah bagian dari kampanye pembelokan yang berhasil oleh industri minuman, untuk menyalahkan masyarakat sebagai konsumen daripada meminta tanggung jawab perusahaan. Menekankan tanggung jawab individu sekaligus mencegah munculnya peraturan yang akan meminta akuntabilitas perusahaan yang membuatnya.

It’s YOUR Fault, bab keempat, mendeskripsikan lebih jauh lagi bagaimana kepentingan industri bahan bakar fosil, menggunakan kampanye pengalihan itu. Dengan terus-menerus menekankan pada tanggung jawab individu, wacana menjadi terbentuk sedemikian hingga tuntutan atas perubahan sistemik dalam regulasi dan akuntabilitas perusahaan menjadi tidak popular. Taktik yang sama terus berkembang dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi, dan secara sengaja memilih politisi dan kebijakan yang akan menguntungkan industri energi fosil. Rusia, salah satu raksasa minyak dunia, dideskripsikan Mann berada di belakang bot dan troll yang menyebabkan kekalahan Hillary Clinton di tahun 2016 juga membantu memicu pembangkangan massal di tahun 2018 yang melemahkan upaya pemerintah Prancis untuk memberlakukan pajak karbon.

Pajak Karbon, Solusi Palsu, dan Keputusasaan

Dalam bab kelima, Put a Price on It. Or Not, Mann menunjukkan bahwa industri bahan bakar fosil telah diberikan subsidi pasar terbesar yang pernah tercatat sepanjang sejarah, plus hak istimewa untuk membuang produk limbahnya ke atmosfer tanpa dikenakan biaya sama sekali. Kalau subsidi implisit—seperti biaya kesehatan dan kerusakan akibat pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh perubahan iklim—juga dimasukkan, IMF memperkirakan sejumlah lebih dari USD5 triliun diberikan kepada industri ini pada tahun 2015 saja. Mann sangat jelas pendiriannya: subsidi ini harus diakhiri, dan emisi karbon harus dibayar untuk memaksa pencemar menanggung biaya pemulihan kerusakan iklim yang disebabkan oleh produk mereka, bahan bakar fosil. Ini juga akan memberikan keuntungan bagi pengembangan bentuk energi bersih dan terbarukan. Mann juga mendiskusikan beragam upaya lain yang sejalan dan menguatkan pajak pemberlakuan pajak karbon.

Dalam Sinking the Competition, bab keenam, Mann menyatakan dukungan sepenuhnya pada insentif yang eksplisit untuk energi terbarukan dan mengulangi pesan penghapusan insentif apapun untuk bahan bakar fosil. Ia kemudian menjelaskan dengan detail bahwa kepentingan bahan bakar fosil dan pendukungnya telah secara besar-besaran menunjukkan berbagai ‘kebaikan’ energi fosil, sambil menyabotase program yang mendorong energi terbarukan, termasuk melalui kampanye propaganda untuk mendiskreditkan energi terbarukan sebagai alternatif yang layak untuk bahan bakar fosil. Kalau beberapa waktu yang lalu film dokumenter The Planet of the Humans besutan Jeff Gibbs ‘menunjukkan’ bahwa energi terbarukan tidaklah reliabel, bab ini memberikan contoh-contoh lain dari upaya sabotase itu.

Bab ketujuh, The Non-Solution Solution, menampilkan dengan jelas keprihatinan Mann bahwa mereka yang ada banyak pihak yang mempromosikan beberapa jenis ‘solusi’ yang sesungguhnya bukanlah merupakan solusi yang tepat. Tiga hal yang dinyatakan Mann masuk ke dalam solusi palsu ini adalah pemanfaatan gas alam, teknologi penangkapan karbon, dan geo-engineering. Bagian dari strategi pihak-pihak tersebut adalah menggunakan kata-kata dan istilah yang cenderung menenangkan publik, seperti ‘bahan bakar jembatan’ dan ‘batubara bersih’, yang memberikan kesan bahwa itu adalah hal yang perlu dilakukan, setidaknya untuk sementara waktu. Mann sendiri tampak yakin bahwa kombinasi efisiensi energi, elektrifikasi, dan dekarbonisasi jaringan melalui serangkaian sumber energi terbarukan yang saling melengkapi adalah solusi yang sesungguhnya, dan itu bisa dilakukan.

Senjata pamungkas kaum pendusta iklim adalah membuat pesimisme atas keefektifan tindakan yang bisa dilakukan sekarang. Ini dibahas pada bab kedelapan, The Truth is Bad. Mann mengungkapkan bahwa pesimisme obsesif dan keyakinan bahwa manusia tak lagi bisa menghindari malapetaka iklim adalah berbahaya bagi upaya mengatasi krisis iklim. Krisis iklim jelas merupakan ancaman eksistensial yang nyata bagi seluruh umat manusia, tetapi membesar-besarkan ancaman itu hingga proporsi yang membuat orang yakin tak ada lagi tindakan yang bisa dilakukan jelas akan menghasilkan inaktivitas. Orang akan memilih untuk pasrah apabila memang tak ada lagi yang bisa dilakukan. Kalau ini terjadi, maka kepentingan industri fosil bisa terus berjalan tanpa kendala berarti.

Fokus pada Apa yang Perlu Dilakukan

Namun Mann adalah ksatria sejati dalam peperangan besar ini. Ia telah membantu pihak-pihak yang mendukung pencegahan bencana iklim memenangkan peperangan babak pertama. Sebagai ksatria sejati, ia tak bisa beristirahat ketika ia mendeteksi bahwa musuh-musuhnya telah menggunakan taktik peperangan yang baru. Meeting the Challenge, bab pamungkas buku ini meringkaskan apa yang perlu dilakukan untuk memenangkan perang baru ini. Pertama, Disregard the Doomsayers. Keyakinan yang salah arah bahwa umat manusia sudah terlambat untuk bertindak harus ditolak. Ini hanyalah cara lain untuk melegitimasi bisnis dan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Argumen bahwa kita tak bisa menghindari malapetaka dan ramalan yang suram harus diabaikan.

Kedua, A Child Shall Lead Them. Tentu, tak ada orang yang kini tak mengenal Greta Thunberg. Namun, sesungguhnya kaum muda berjuang untuk menyelamatkan planet yang mereka tinggali itu bukan hanya Thunberg. Mann menegaskan bahwa ada otoritas moral dan kejelasan dalam pesan mereka yang tak bisa diabaikan. Aktivisme kaum muda, dengan tindakan, metode, serta idealisme mereka, adalah teladan bagi semua aktivis iklim lintas-generasi. Ketiga, Educate, Educate, Educate. Mann menyatakan bahwa tak seharusnya membuang waktu dan tenaga untuk mencoba meyakinkan para pendusta iklim. Sebaliknya, bekerja dengan, dan membantu memberikan informasi yang benar kepada, para korban kampanye disinformasi perubahan iklim akan mendatangkan manfaat, dan mereka dapat bergabung dalam upaya untuk memerangi tantangan iklim.

Terakhir, pesan Mann dalam bab kesembilan, Changing the System Requires Systemic Change. Mereka yang bertanggung jawab atas penyebaran disinformasi pasti menggunakan beragam argumen untuk mencegah penanganan masalah secara sistemik, termasuk untuk mengubah sistem insentif. Tindakan-tindakan individu tentu saja sangat penting, namun itu tak bisa menggantikan kebijakan negara yang berlaku untuk seluruh pihak, termasuk perusahaan. Kebijakan di setiap negara perlu diarahkan untuk mendorong pergeseran dari pemanfaatan bahan bakar fosil menuju ekonomi global yang bersih dan hijau, dan, tentu saja, kebijakan tersebut memerlukan dukungan dari para pemimpin terpilih. Karenanya, memerjuangkan isu perubahan iklim di dalam politik kekuasaan sangatlah krusial.

Merenungi Perang Iklim dalam Konteks Indonesia

Membaca buku Mann dalam situasi Indonesia mutakhir benar-benar bisa membuat mata menjadi terbuka. Indonesia mungkin tak pernah mengalami peperangan pertama dengan pendusta perubahan iklim yang menyerang secara terang-terangan penelitian tentang perubahan iklim ataupun upaya menanganinya. Namun, mereka yang menyabotase beragam kebijakan untuk menekan emisi di sektor energi, kehutanan, dan transportasi sangatlah banyak. Para aktivis di Indonesia sudah berulang kali mengalami kekecewaan ketika mengawal kebijakan dan regulasi yang tampaknya akan memihak penanganan perubahan iklim secara komprehensif, lalu tetiba disalip di pengkolan oleh kelompok-kelompok kepentingan tertentu.

Kejadian yang mutakhir adalah tentang komitmen net zero emissions. Studi yang telah dilakukan di Indonesia jelas menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia terancam oleh perubahan iklim. Jalan keluarnya juga sudah diketahui, yaitu secepat mungkin masuk ke ekonomi rendah karbon dan mencapai net zero emissions lebih awal. Kepala Bappenas telah memaparkan empat skenario pencapaian net zero emissions di tahun 2045, 2050, 2060 dan 2070. Hasilnya jelas: mencapainya di tahun 2045 adalah yang terbaik untuk pertumbuhan ekonomi—selain tentu saja untuk masyarakat dan lingkungan. Menteri Keuangan Indonesia juga telah mengupayakan berbagai kebijakan dalam pembiayaan iklim, dan karenanya ia didapuk menjadi co-chair pada The Coalition of Finance Ministers for Climate Action. Sebuah posisi internasional yang sangat terhormat.

Tetapi, kementerian yang sepantasnya paling progresif dalam penanganan perubahan iklim malah mengajukan tenggat waktu yang paling lama untuk pencapaian net zero emissions, yaitu di tahun 2070. Sebuah keputusan yang seakan tak peduli pada nasib generasi muda dan generasi mendatang. Celakanya, target yang membuat Indonesia menjadi negara paling belakang di antara negara manapun yang sudah mengungkap komitmen itu juga tidak (belum?) direvisi ketika Presiden Joko Widodo tampil pada Leaders Summit on Climate yang difasilitasi Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, pada tanggal 22 April 2021 lalu. Jokowi hanya menyatakan menyambut baik ajakan negara-negara lain untuk mencapai net zero emissions pada tahun 2050, sesuai Persetujuan Paris, namun tidak menyatakan komitmen yang sama pada kesempatan tersebut.

Perbedaan-perbedaan di antara sikap kementerian/lembaga jelas menunjukkan bahwa melihat pemerintah sebagai kesatuan monolitik jelas merupakan bentuk kenaifan. Pengaruh-pengaruh kepentingan untuk memertahankan dominasi bahan bakar fosil, pembukaan hutan untuk beragam kepentingan industri, dan transportasi pribadi berbasis internal combustion engine jelas terus mencoba masuk lewat beragam jalur hingga pengambil keputusan tertinggi di Indonesia. Sebagai akibatnya, kementerian/lembaga yang satu dengan yang lain bisa menghasilkan kebijakan yang berbeda untuk satu hal yang sama.

Dalam situasi seperti itu, membaca buku setebal 351 halaman yang ditulis oleh salah seorang yang paling berjasa dalam bidang sains iklim ini akan membuat kita paham atas beragam taktik yang dipergunakan untuk melancarkan pengaruh buruk itu. Dan, beragam taktik itu banyak kemiripannya dengan situasi di Indonesia. Kalau Mann bisa menunjuk hidung musuh-musuhnya, berbincang dengan para aktivis iklim—baik yang berada di pemerintah, bisnisn dan organisasi masyarakat sipil—juga akan menghasilkan pengetahuan benderang siapa saja aktornya di Indonesia. Karenanya, siapapun yang benar-benar peduli pada nasib generasi muda dan generasi mendatang akan bisa memetik manfaat dari analisis dan rekomendasi yang dipaparkan Mann di buku mutakhirnya. Buat para aktivis, bersatu di belakang sains, bersatu dengan kaum muda, adalah keniscayaan dalam peperangan yang menentukan nasib Bumi dan seluruh penghuninya kelak.

________________

* Jalal menulis esai-esai tentang keberlanjutan, tanggung jawab sosial perusahaan, dan bisnis sosial. Ia memegang sejumlah posisi dalam bidang-bidang tersebut, di antaranya sebagai reader dalam bidang tata kelola perusahaan dan ekologi politik di Thamrin School of Climate Change and Sustainability; pimpinan dewan penasihat Social Investment Indonesia; pimpinan dewan pakar Social Value Indonesia; strategic partner CCPHI Partnership for Sustainable Community; anggota dewan pengurus Komnas Pengendalian Tembakau; dan pendiri sekaligus komisaris di perusahaan sosial WISESA dan ESG Indonesia.

Source: Hijauku.Com

 

About admin

Check Also

Cola dan Tiongkok Bawahan Sriwijaya

PEDAGANG dari Sriwijaya, Cola, dan Arab beramai-ramai mendatangi pelabuhan milik Dinasti Song di Tiongkok. Banyaknya ...