Home / Agama / Kajian / Taqwa dalam Perspektif Kaum Sufi

Taqwa dalam Perspektif Kaum Sufi

“Ungkapan “ittaqullah” (bertakwalah kepada Allah), sering diterjemahkan menjadi “takutlah kepada Allah”. Padahal, para ahli bahasa mengatakan bahwa arti “takwa” adalah “menjaga” dan “memelihara”. Jadi arti yang lebih tepat dari ungkapan itu ialah “peliharalah dirimu dari pembalasan Allah”.

Oleh: MK

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillãhirrahmãnirrahîm
Wash-shalãtu was-salãmu ‘alã Muhammadin wa ãlihî ma’at taslîmi wa bihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘ãmmati wal-hidãyatit tãmmah, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn”.

Salah satu istilah yang lazim dipakai oleh para sufi dan ulama akhlak adalah kata taqwa (selanjutnya ditulis, takwa) . Dalam Al-Qur’an dan teks-teks hadis, baik sebagai kata kerja (fi’il) ataupun kata benda (ism), kata takwa telah disebut kira-kira sebanding dengan kata iman dan lebih banyak dari penyebutan kata shaum dan hajj, misalnya. Hal itu menunjukkan tinggi dan pentingnya kedudukan takwa dalam pandangan Islam.

Di dalam kitab Nahj Al-Balaghah terdapat satu khutbah panjang yang bernama Khuthbah Al-Muttaqin. Khutbah ini disampikan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib sebagai jawaban atas permintaan seseorang yang menginginkan penjelasan tentang sifat-sifat seorang yang bertakwa. Pada mulanya Imam menghindar untuk memberi jawaban dan hanya memberi tiga atau empat kalimat jawaban. Namun, orang yang bernama Hammam bin Syarih itu tidak merasa puas dengan jawaban singkat beliau dan berkeras meminta keterangan selanjutnya. Maka, berbicaralah Amirul Mukminin menyangkut karakterisitk spiritual, intelektual, moral dan tindak tanduk orang-orang yang bertakwa sampai lebih dari seratus sifat. Para sejarawan menulis bahwa khutbah Amirul Mukminin berakhir bersamaan dengan jatuh pingsannya Hammam.

Secara bahasa, kata takwa berasal dari akar kata waqa, yang berarti “menjaga” dan “memelihara”. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, belum terlihat ada orang yang menerjemahkan takwa dengan arti “memelihara” atau “menjaga”. Pada umumnya, orang Indonesia memadankan “ketakwaan” dengan “sikap menjauhi larangan Allah”. Bila kata ini digunakan dalam bentuk kata kerja perintah, maka orang cenderung menerjemahkannya menjadi “takut”. Ungkapan ittaqullah, umpamanya, sering diterjemahkan menjadi “takutlah kepada Allah”. Padahal, para ahli bahasa mengatakan bahwa arti “takwa” adalah menjaga dan memelihara.

Penjagaan dan pemeliharaan diri dari satu hal boleh jadi memang erat kaitannya dengan rasa takut terhadap atau upaya menjauhi hal yang dapat merusak. Jadi, dapatlah dipahami mengapa pada beberapa tempat kata takwa secara implikatif diartikan “menjauhi” atau “takut”. Tetapi, kita harus sadar bahwa maksud pokok dari kata itu adalah “memelihara” dan “menjaga”. Apa yang membuat kita membatasi arti ittaqullah pada “takutlah kepada Allah”?! Arti yang lebih tepat dari ungkapan itu ialah “peliharalah dirimu dari pembalasan Allah”. Oleh karena itu, terjemahan yang tepat dari kata “takwa” bukan “menjauhi” atau “takut”, melainkan “menjaga dan memelihara diri”.

Raghib Al-Isfahani dalam kitabnya yang termasyhur, Al-Mufradat li Alfadz Al-Quran mengatakan, “Kata wiqayah berarti menjaga sesuatu dari hal-hal yang menyakitkan. Adapun takwa berarti menempatkan diri di dalam penjagaan dari sesuatu yang menakutkan. Kata takwa dalam pandangan syariat berarti menjaga diri dari hal-hal yang akan menyeret manusia kepada perbuatan dosa dan meninggalkan hal-hal yang dilarang dan diharamkan olehnya.” Bahkan, secara gamblang Raghib mengatakan bahwa arti “takwa” ialah menjaga dan memelihara diri, sementara penggunaan kata “takwa” dalam arti “takut” adalah penggunaan majazi atau metaforis.[1]Lihat, Raghib Al-Ishfahani, Mufradat li Alfadz Al-Quran, Dar Al-Fikr, 1409 H., entri takwa.

Berkenaan dengan rasa takut kepada Allah SWT, mungkin sebagian kita bertanya-tanya, apa maksud takut kepada Allah? Apakah Allah adalah Dzat yang menakutkan? Bukankah Allah adalah Dzat Mahasempurna dan layak dicintai? Dan mengapa mengapa manusia harus takut kepada Allah SWT? Dalam memberikan jawaban terhadap pertanyaan ini, kita mengatakan bahwa memang Allah adalah Dzat yang mempunyai sifat-sifat baik yang tidak menyebabkan atau mendatangkan rasa takut. Takut kepada Allah SWT maksudnya ialah takut kepada hukum keadilan Allah. Di dalam suatu doa disebutkan:

Wahai Dzat yang tidak diharapkan dari-Nya kecuali karunia-Nya, dan juga tidak ditakuti dari-Nya kecuali keadilan-Nya.

Demikian juga dalam doa lain disebutkan:

Mahasuci Engkau yang tidak perlu ditakuti kecuali keadilan-Mu, dan tidak diharapkan kecuali karunai dan kebaikan-Mu.”

Keadilan itu sendiri pada hakikatnya bukanlah sesuatu yang menakutkan. Manusia merasa takut kepada hukum keadilan karena ia sadar telah berbuat kesalahan atau melanggar hak-hak orang lain. Oleh karena itu, para sufi mengajarkan bahwa seorang pelancong spiritual harus mempunyai keseimbangan dalam merasa cemas dan berharap (khawf dan raja’). Ia mesti senantiasa berharap dan cemas, berpikir positif sekaligus negatif secara seimbang. Maksudnya, seorang Muslim harus senantiasa takut dan khawatir terhadap pembangkangan hawa nafsu dan kecenderungan jahat dalam dirinya, supaya kendali urusan tidak terlepas dari genggaman akal dan keimanan. Tetapi, pada saat yang bersamaan, dia harus tetap merasa yakin dan berharap akan kebaikan dan ampunan Allah SWT dengan memohon perlindungan dari-Nya.

Imam Ali Zainal Abidin dalam doa yang diriwayatkan oleh Abu Hamzah Ats-Tsumali mengatakan:

Tuhanku, aku berdoa pada-Mu dengan penuh rasa gentar, cinta, harapan dan kecemasan. Tuhanku, aku takut bila melihat dosa-dosaku, Namun, jika aku melihat kedermawanan-Mu, aku menjadi penuh harapan.[2]Lihat, Doa Puncak Pengampunan dan Penghambaan, Yayasan Fatimah, 2001, hal. 16. lorful;

Di kalangan sufi, ada setidaknya dua jenis takwa. Pertama, “takwa negatif” yang bersumber pada upaya menjauhkan diri dari noda-noda maksiat. Persis seperti upaya seseorang memelihara kesehatan fisiknya dengan menjauh dari lingkungan yang diduga terserang penyakit atau wabah tertentu. Kedua, “takwa positif” yang bersumber pada kekuatan dalam jiwa. Layaknya orang yang telah menjalani vaksinasi, takwa jenis kedua ini membuatnya kebal terhadap pengaruh-pengaruh penyakit.

Ada dua hal yang sangat khas pada manusia: kehendak-bebas dan akal. Kehendak-bebas berarti bahwa manusia dapat bertindak sesuai dengan keinginan dan pilihannya. Tidak ada kekuatan yang sanggup memaksa manusia untuk melakukan sesuatu secara permanen dan total kecuali bila yang bersangkutan menghendaki terjadinya pemaksaan tersebut.

Jadi, mungkin saja ada orang atau kekuatan yang dapat memaksa manusia untuk melakukan suatu tindakan tertentu di waktu tertentu. Tetapi, tanpa kehendak untuk tunduk terhadapnya. Maka pemaksaan itu tak akan lama bertahan. Orang yang dipaksa melakukan sesuatu pasti akan punya kesempatan untuk melawan dan memberontak dengan cara-cara yang beragam. Bahkan, suatu saat, bukan mustahil dia akan bisa mematahkan kekuatan pemaksa once and for all.

Selain kehendak-bebas, manusia juga mempunyai akal. Salah satu fungsi akal adalah mengarahkan kehendak-bebas manusia ke jalan yang benar. Akal bisa memahami prinsip-prinsip umum tentang jalan yang benar. Akan halnya rumusan rinci dan spesifik tentang jalan yang benar akal tidak mampu menjabarkannya. Tidak ada kesanggupan padanya untuk merinci soal demi soal atau praktik demi praktik yang dapat membawa manusia pada jalan yang benar.

Sebagai contoh, akal bisa memahami penyembahan kepada Sang Maha Pencipta sebagai prinsip umum dalam jalan yang benar. Namun, akal tidak bisa menjelaskan cara-cara untuk menyembah Sang Maha Pencipta secara rinci dan spesifik. Untuk itulah syariat Ilahi diturunkan dalam rangka menjabarkan aturan-aturan khusus menyangkut prinsip umum “penyembahan”yang telah ditetapkan dan dibenarkan oleh akal.

Masalahnya kemudian adalah bahwa syariat sebagai kumpulan aturan dan tuntunan spesifik tidak akan efektif tanpa kesadaran dalam diri manusia untuk melaksanakan, menjaga dan memeliharanya. Semua aturan dan undang-undang, baik yang datang dari manusia maupun yang datang dari Sang Maha Pencipta, tidak akan berguna tanpa adanya kesadaran yang sedemikian. Kesadaran semacam itu adalah prasyarat bagi keberhasilan dan efektifitas suatu aturan, baik di tingkat individual maupun sosial.

Dalam kaitan itu, “bertakwa kepada Allah” bermakna bahwa seluruh aturan dan tuntunan Ilahi tidak akan berguna tanpa lahirnya ketakwaan dalam diri manusia. Hanya takwa yang bisa memunculkan swakarsa dan self-enforcement untuk melaksanakan semua aturan dan tuntutan syariat. Kekuatan atau kesadaran takwa dapat menghindarkan orang dari segala bentuk pelanggaran, baik pada tataran kehidupan pribadi maupun masyarakat.

Dalam kaitan dengan takwa, setidaknya ada dua pembacaan di kalangan sufi. Pertama, takwa negatif yang bersumber pada upaya menjauhkan diri dari noda-noda maksiat. Pada tingkat ini, takwa hanya menjauhkan manusia dari hal-hal yang menjurus pada kemaksiatan; persis seperti upaya seseorang memelihara kesehatan fisiknya dengan menjauh dari lingkungan yang diduga terserang penyakit atau wabah tertentu. Yang demikian tak pelak akan membawa sikap reaktif terhadap segala kemungkinan adanya penularan. Mendekati suatu tempat atau bergaul dengan suatu kelompok yang diduga tertular, dengan alasan apapun, jelas-jelas merupakan pantangan.

Kedua, takwa positif yang bersumber pada kekuatan dalam jiwa. Pada tingkat ini, takwa bukan hanya menjauhkan orang dari lingkungan maksiat, melainkan menjaga dan membentenginya, terlepas apakah noda-noda itu berada di tempat yang jauh ataupun dekat. Sekiranya orang seperti ini tinggal di lingkungan yang penuh dengan berbagai fasilitas maksiat, maka kekuatan takwa yang ada di dalam dirinya akan menjaga dan mencegahnya dari pencemaran lingkungan sekitarnya. Dan ini tak ubahnya seperti orang yang telah menjalani vaksinasi sehingga menjadi kebal terhadap pengaruh-pengaruh penyakit.

Kekebalan yang datang dari takwa ini sudah terang tidak bersumber pada faktor-faktor fisikal-eksternal, melainkan bersumber pada aktifasi potensi-potensi spiritual-internal untuk menolak segala macam keburukan yang dapat mengancam kesehatan aspek ruhani manusia. Dan salah satu potensi itu tak lain adalah akal dan perenungan. Fitrah, kalbu yang bersih, kesabaran, tawakal, keistiqamahan, dan lain sebagainya juga dapat memperkuat posisi akal dalam membentengi manusia.

Sayangnya, di kalangan para sufi, pembacaan negatif lebih umum berkembang ketimbang pembacaan positif. Akibatnya, berbondong-bondonglah orang menjauhi ruang-ruang kehidupan dan menyendiri di pedesaan. Padahal, semua itu hanya mengacu pada makna takwa yang negatif, lemah dan temporer. Karena, coba kita bayangkan, kalau asumsinya memang takwa itu berarti hidup dalam kesendirian, maka orang yang “bertakwa” akan cepat (atau bahkan lebih cepat) terpengaruh oleh berbagai godaan yang muncul dalam keramaian daripada kebanyakan orang yang tidak bertakwa. Lebih dari itu, bagaimana bila “keramaian” itu berlangsung dalam imajinasi dan fantasi, yang tidak bisa dihindari dengan lari dan menyendiri secara fisik? Karena itu, takwa negatif itu sebenarnya lebih merupakan ketakutan, kecemasan, kegelisahan, dan bukan takwa yang sejati.

Barangkali, pembacaan negatif itu muncul lantaran sejak awal takwa telah dimaknai sebagai “menjauhkan diri dari dosa”. Lalu, secara bertahap, makna “menjauhkan diri dari dosa” terasosiasi dengan “menjauhkan diri dari lingkungan dan hal-hal yang mengakibatkan dosa”. Selanjutnya, “takwa” identik dengan pengucilan dan kehidupan asosial. Selanjutnya, takwa berbanding lurus dengan keterkucilan, keterasingan, dan keterpisahan dari lingkungan; makin terkucil dan terpencil kehidupan, makin besar pula peluang orang untuk bertakwa. Perbandingan semacam menjadi tidak relevan dalam pembacaan yang positif. Sebab, orang yang benar-benar bertakwa akan tetap bersikap sejalan dengan syariat, bagaimanapun situasi dan kondisi di sekelilingnya. (MK)

Selama ada takwa, ketenangan dan keheningan dalam jiwa dapat terpelihara. Dan dalam suasana yang hening itulah seruan akal bisa bergema dengan jelas. Sebaliknya, jiwa yang gaduh oleh bentakan hawa nafsu yang telah terjerat rayuan setan tidak akan bisa mendengarkan ajakan akal ke jalan yang benar.

Setelah secukupnya kita membahas makna takwa, kaitannya dengan kehendak dan akal sebagai dua dasar kemanusiaan serta sisi negatif dan positifnya, marilah sekarang kita membincangkan nilai dan pengaruh takwa terhadap kehidupan manusia, secara individual maupun sosial, di dunia maupun akhirat. Guna mendapatkan gambaran umum mengenai berbagai nilai, pengaruh dan hasil takwa bagi kehiduapan manusia, saya akan menjelaskannya butir demi butir.

Pertama, dalam Al-Quran surah 8 (Al-Anfal) ayat 29, Allah mengungkapkan tiga pengaruh takwa pada manusia: timbulnya furqan; tertutupnya kejelekan; dan pengampunan (maghfirah). Allah berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian furqan dan menghapuskan segala kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa) kalian. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

Dalam menafsirkan ayat ini, para ahli makrifat mengemukakan bahwa furqan adalah kemampuan akal untuk membedakan kebenaran dan kebatilan; ketajaman akal dalam memilah kebenaran dari kebatilan. Mengutip Abdul Razzaq Al-Qasyani: “Al-furqan adalah pengetahuan terperinci yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan.”[3]Lihat, Abdul Razzaq Al-Qasyani, Ishthilahat Al-Shufiyyah, suntingan Dr. Muhammad Kamal Ibrahim Ja’far, Intisyarat Bidar, Qom, 1370 H., cet. kedua, entri fa. Dengan demikian, furqan berkaitan dengan kemampuan akal dan pikiran manusia.

Untuk menguraikan korelasi takwa dan ketajaman akal, mula-mula kita perlu membagi akal menjadi dua: teoretis (nazhari) dan praktis (‘amali). Akal teoretis berfungsi menjawab pertanyaan apa hakikat dan esensi sesuatu, sementara akal praktis berfungsi menjawab apa yang seharusnya dilakukan. Akal teoretis menghasilkan filsafat, logika, matematika, fisika dan sebagainya, sementara akal praktis menghasilkan ilmu akhlak, etika, ilmu hukum, estetika dan kesenian.

Wilayah akal teoretis adalah penalaran dan pemikiran, sementara wilayah akal praktis adalah kecenderungan, perasaan dan perbuatan. Akal praktis menguraikan soal-soal yang berkenaan dengan kebaikan dan keburukan, kebajikan dan kemungkaran, keuntungan dan kerugian, kewajiban dan hak, keharusan dan larangan dan lain sebagainya.

Dalam sabda Nabi dan ucapan orang-orang suci terdapat perbandingan terbalik antara sifat-sifat buruk seperti cinta dunia, kesombongan, ketamakan, keras kepala, dan fanatisme (taashshub). Demikian pula sebaliknya: kemampuan akal berbanding lurus dengan kukuhnya sifat-sifat baik dalam jiwa manusia. Dengan demikian, semakin kukuh takwa dalam diri manusia, semakin tajam kemampuan akal praktis membedakan kebenaran dari kebatilan dan kebaikan dari kejelekan.

Kenyataan itu secara sederhana bisa dijelaskan dengan mengutip prinsip akal-sehat yang dikemukakan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib: “Ada tiga jenis teman dan ada tiga jenis musuh. Temanmu sendiri, sahabat temanmu dan lawan musuhmu. Adapun musuhmu ialah musuhmu, musuh temanmu dan teman musuhmu.” Teman musuh disebut musuh karena ia membantu musuh melancarkan serangannya, sementara lawan musuh disebut teman karena ia melemahkan pengaruh dan kekuatan musuh.[4]Lihat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Mutiara Nahjul Balaghah, (Bandung, Mizan, 1993). hal. 133.

Selain tentunya berlaku dalam konteks hubungan-hubungan sosial, prinsip ini juga berlaku dalam konteks pertarungan batin yang abadi antara kekuatan baik dan buruk dalam jiwa dan ruh manusia. Pertarungan batin antara kekuatan jahat dan baik dalam jiwa ini disebut dengan jihad an-nafs (jihad melawan hawa nafsu) dan menjadi tema utama dalam khazanah tasawuf Islam selama berabad-abad. Oleh sebab itu, dapatlah dikatakan bahwa manusia mempunyai tiga kawan dan tiga musuh dalam pertarungan batin yang terjadi di dalam jiwanya. Teman pertama manusia adalah akal yang mengantar manusia menuju kebenaran. Teman keduanya ialah kawan-kawan akal seperti Syariat, Sunnah Nabi dan ajaran para manusia suci. Dan teman terakhir manusia ialah semua sifat baik dan sikap terpuji seperti takwa, kesabaran, kerendahan hati, tawakal, azam, keberanian, kehormatan dan sebagainya.

Pada sisi lain, musuh pertama manusia (seperti kata Al-Quran) adalah setan. Musuh lainnya ialah teman setan, yaitu hawa nafsu. Hawa nafsu menjadi musuh manusia secara aksidental, mengingat ia kerap diperbudak oleh setan untuk menyimpangkan manusia ke jalan kesesatan melalui ketundukan pada dunia dan segala tipu-dayanya. Musuh manusia yang ketiga ialah teman-teman dari kedua musuh besar tersebut. Teman-teman kedua musuh tersebut tidak lain dari semua sifat buruk seperti cinta dunia, ketamakan, kekikiran, keras kepala, pengingkaran, was-was, taashshub (sikap membuta) dan sebagainya.

Dalam konteks ini, takwa adalah musuh setan dan hawa nafsu, dan karenanya menjadi teman akal. Seperti telah kita jelaskan, hakikat takwa ialah pemeliharan dan penjagaan. Selama ada takwa, ketenangan dan keheningan dalam jiwa dapat terpelihara. Dan dalam suasana yang hening itulah seruan akal bisa bergema dengan jelas. Sebaliknya, jiwa yang gaduh oleh bentakan hawa nafsu yang telah terjerat rayuan setan tidak akan bisa mendengarkan ajakan akal ke jalan yang benar.

Nah, di lain pihak, setan senantiasa memaksa hawa nafsu untuk membuat kegaduhan dan kesamaran. Dalam suasana gaduh dan samar-samar, jiwa bakal susah mendengarkan suara akal dan melihat sinaran cahayanya. Kekuatan penjagaan dan pemeliharaan takwa bisa menyelamatkan jiwa dari kegaduhan dan kesamaran yang ditimbulkan oleh hawa nafsu, sedemikian sehingga kemampuan akal untuk membedakan kebenaran dan kebatilan (yang dalam ayat di atas disebut dengan furqan) bisa menjadi efektif dan optimal. Bahkan, makin kuat ketakwaan seseorang, makin kukuh pula fungsi furqan itu dalam jiwa. Penyair-sufi Iran, Sa’adi, mengisyaratkan korelasi tersebut dalam syairnya yang berbunyi:

Hakikat kebahagiaan adalah keteraturan,
hawa nafsu adalah debu yang berhamburan.
Tidakkah engkau mengerti bahwa bila debu beterbangan,
engkau takkan bisa melihat meskipun engkau tidak buta.

Akan halnya hubungan antara tumbuhnya takwa dan tertutupnya kejelekan serta pengampunan Allah sebagaimana dikatakan ayat di atas (QS Al-Anfal: 29), saya kira sudah sangat jelas. Seperti sudah dijelaskan pada artikel-artikel sebelumnya, takwa ibarat vaksin atau antibiotik yang menjaga manusia dari segenap kejelekan. Makin tinggi dosis takwa dalam diri kita, makin terhindar kita dari kejelakan sehingga kemampuan berbuat jelek itu sendiri seolah-olah mati. Konsekuensi logisnya kemudian tiada lain kecuali pengampunan Allah atas segala kekurangan dan kesalahan kita. (MK)

Jiwa ibarat mata manusia dalam melihat realitas, dan takwa adalah selaput yang menjaganya dari segala debu dan polusi. Tanpa selaput itu, kotoran dan debu akan mengenai mata dan mata akan menampilkan gambar-gambar yang buram dan kabur. Dari gambar-gambar itu kemudian kita melihat dunia yang, tak pelak lagi, penuh dengan kekacauan dan kesulitan.

Pengaruh takwa yang kedua ialah terbukanya jalan keluar dan terbentangnya kemudahan dalam menghadapi berbagai urusan dan kesulitan. Pada surah Ath-Thalaq (65) ayat kedua, Allah berfirman:

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan membukakan jalan keluar baginya.

Memperkuat maksud ayat di atas, pada dua ayat setelahnya Allah berfirman: “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan memudahkan urusannya.

Kedua ayat tersebut secara gamblang menegaskan terbukanya jalan keluar dan kemudahan menghadapi kesulitan sebagai pengaruh lain dari ketakwaan manusia kepada Allah.

Lantas, apa sesungguhnya hubungan takwa yang merupakan keistimewaan jiwa dan kebajikan moral dengan kemudahan menghadapi berbagai urusan dan kesulitan? Apa peran jiwa dalam menyelesaikan urusan dan memudahkan kesulitan manusia? Apa saja jenis urusan dan kesulitan manusia? Dan apa jenis urusan dan kesulitan jiwa berbeda dengan jenis urusan dan kesulitan lainnya?

Untuk menjawabnya, pertama sekali perlulah kiranya kita mengetahui adanya dua jenis urusan dan kesulitan yang umumnya dihadapi manusia: (a) urusan dan kesulitan yang tidak langsung berkaitan dengan kehendak dan keinginan manusia seperti bencana-bencana alam; serta (b) urusan dan kesulitan yang secara langsung berkaitan dengan dan ditimbulkan oleh keinginan dan kehendak manusia seperti lazimnya masalah-masalah personal, sosial dan moral.

Pembagian di atas sesungguhnya tidaklah hakiki, lantaran segala macam kesulitan dan keburukan pada hakikatnya juga berasal dari ulah manusia. Dan ketidaktahuan manusia akan sebab-musabab kesulitan bukanlah bukti bahwa ia tidak melakukan sesuatu yang membuatnya terperosok dalam kesulitan. Buktinya, untuk puluhan dekade lamanya, efek rumah kaca tidak diketahui atau setidaknya tidak disadari sebagai penyebab timbulnya begitu banyak bencana alam.

Selain itu, pada sisi lain, fenomena bencana alam yang kita anggap sebagai kesulitan, dari perspektif tata surya, sebetulnya justru merupakan fenomena berjalannya sistem. Keluarnya lahar dari gunung berapi ialah fungsi “pembuangan panas bumi” yang berjalan secara otomatis. Sebaliknya, kegagalan fungsi pembuangan itu akan berakibat pada kehancuran bumi yang menyeluruh. Oleh karena itu, bencana-bencana alam sebenarnya tidak lebih dari berjalannya berbagai fungsi sistem tata surya.

Dengan demikian, masalah sebenarnya terletak pada urusan dan kesulitan yang secara langsung berkaitan dengan keinginan dan tindakan manusia. Karena, seperti yang sudah umum diketahui, pokok kesulitan dan musibah yang datang menghantam manusia dan membuat hidupnya menjadi susah dan sengsara, adalah jenis kesulitan dan musibah yang bersifat moral, spiritual, mental dan sosial yang seluruhnya berasal dari ulah individu maupun masyarakat manusia itu sendiri.

Manusia adalah asal-muasal dari berbagai kesulitannya sendiri. Dialah penyebab sekaligus penanggung derita tindakan-tindakannya dan penentu nasibnya sendiri. Tetapi, apakah esensi dan hakikat manusia itu? Seperti halnya para filosof, para sufi yakin bahwa esensi dan hakikat manusia adalah jiwa atau ruhnya. Itulah rumah dan kediaman abadi manusia. Sementara raga hanyalah sisi material yang menghubungkan manusia dengan ruang dan waktu yang berperan menjadi wadah sekaligus ukuran pergerakan jiwanya.

Lagi-lagi seperti halnya para filosof, para sufi juga percaya bahwa jiwalah yang  “mendefinisikan” kebaikan dan keburukan, keindahan dan kejelekan, kebahagiaan dan kesengsaraan, kemudahan dan kesulitan manusia. Dalam sebuah hadis terkenal disebutkan, “Kalau seseorang meyakini bahwa batu bisa bermanfaat untuknya, niscaya batu itu akan benar-benar bermanfaat untuknya.” Mengenai soal yang sama, filosof Roma abad pertama, Epictecus, menyatakan: “Manusia terganggu bukan oleh benda-benda (kasat-mata di sekelilingnya), melainkan oleh pendapatnya tentang benda-benda tersebut.”[5]Lihat, Herbert Benson & William Proctor, Dasar-dasar Respons Relaksasi, (Kaifa, 2000), hal. 32.

Pendapat tentang benda-benda dan alam semesta terjelma hanya dalam pikiran dan jiwa manusia. Oleh sebab itu, keadaan jiwa sangat menentukan keseluruhan hidup manusia. Apa yang terjadi di dalam jiwa akan secara langsung berdampak pada apa yang kita rasakan, sedemikian sehingga apa yang tampak secara lahiriah sebagai menyenangkan bisa-bisa terasa menyedihkan hanya lantaran keadaan jiwa kita yang sedang kacau dan demikian pula sebaliknya.

Kekuatan takwa terutama sekali berperan memelihara jiwa dari berbagai dosa yang meredupkan cahaya akal dan tipu daya yang meresahkan hati. Itulah tafsiran dari QS. Ali Imran (3) ayat 120 yang menegaskan fungsi kesabaran dan takwa dalam menetralisasi dan melenyapkan bahaya tipu daya para penipu. Allah berfirman,

Jika kalian memperoleh kebaikan, niscaya mereka akan bersedih hati, tapi jika kalian mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya sedikitpun tidak akan mendatangkan kemudaratan kepada kalian. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” 

Dalam ayat lain, Allah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila ditimpa was-was dari sekelompok setan, mereka ingat kepada Allah maka merekapun menjadi bisa melihat dengan tajam (mubshirun).” (QS Al-‘Araf: 201)

Ayat terakhir ini menjelaskan bahwa was-was yang dibuat oleh setan menyebabkan rusaknya penglihatan dan menimbulkan kerabunan. Dan dalam kerabunan itu jiwa tidak akan dapat membedakan antara jurang dan jalan yang lurus. Sebaliknya, penjagaan takwa dapat menjauhkan manusia dari kegelapan, mempertajam penglihatan batin, membentangkan jalan keluar baginya dan memudahkannya menghadapi segala kesulitan. Manakala cahaya takwa menyala dalam jiwa, maka manusia tidak akan gambang terjatuh dalam jeratan kesulitan. Dan kalaupun karena satu dan lain sebab dia terjatuh dalam lembah kesulitan dan musibah, maka jalan keluar menuju keselamatan akan bisa dengan mudah ditemukan.

Jiwa ibarat mata manusia dalam melihat realitas, dan takwa adalah selaput yang menjaganya dari segala debu dan polusi. Tanpa selaput itu, kotoran dan debu akan mengenai mata dan mata akan menampilkan gambar-gambar yang buram dan kabur. Dari gambar-gambar itu kemudian kita melihat dunia yang, tak pelak lagi, penuh dengan kekacauan dan kesulitan. Dunia yang penuh dengan kesuraman dan kesumpekan. Tetapi, mata orang yang memiliki takwa tidak akan terkena kotoran sehingga daya penglihatannya akan senantiasa tajam dan terang. Mata yang tajam itupun akan dapat menyaksikan betapa hidup ini sebenarnya adalah panorama indah yang teratur dan tertata, terjaga dan terpelihara.

Sehubungan dengan itu, dalam Nahj Al-Balaghah Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata:

Sesungguhnya takwa kepada Allah adalah obat bagi hati Anda, penglihatan bagi kebutaan jiwa Anda, penyembuhan bagi penyakit tubuh Anda, pelurus keburukan dada Anda, penyuci kecemaran pikiran Anda, cahaya bagi kegelapan mata Anda, hiburan bagi kekalutan hati Anda dan kecerahan bagi suramnya kebodohan Anda.[6]Lihat, Murtadha Muthahhari, Ceramah-ceramah Seputar Persoalan Penting Agama dan Kehidupan, (Lentera, 1999), Buku Pertama, Pembahasan mengenai Takwa.

Menurut Sayidina Ali,”…orang-orang yang bertakwa ialah manusia-manusia yang bijak bestari. Kebenaran menjadi inti ucapan mereka, kesederhanaan adalah pakaian mereka dan kerendahan hati mengiringi gerak-gerik mereka…, Sekiranya bukan karena kepastian ajal yang telah ditetapkan Allah, niscaya roh mereka takkan tinggal diam dalam jasad-jasad mereka walau hanya sekejap, baik disebabkan oleh kerinduannya kepada pahala Allah ataupun ketakutannya kepada hukuman-Nya…

Lebih dari selainnya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib barangkali adalah sahabat Nabi Muhammad Saw yang paling banyak berbicara mengenai takwa. Huru hara politik yang pada zamannya boleh jadi memperbesar perhatian Sayyidina Ali kepada masalah takwa. Sebab, seperti telah kita bahas sebelumnya, takwa sangat berpengaruh menciptakan pelaksanaan hukum dan ketertiban yang menjadi prasyarat kesempurnaan individu dan masyarakat.

Suatu kali Sayyidina Ali berkata: “Sungguh, pada hari ini takwa kepada Allah adalah suatu perlindungan dan perisai, dan pada hari esok (Hari Pengadilan takwa itu) adalah jalan menuju surga. Jalannya terang dan beruntung orang yang menempuhnya.” Sejalan dengan takwa yang kita ibaratkan seperti vaksin, beliau menyebut takwa sebagai perlindungan dan perisai. Dalam perlindungan dan perisai takwa, seseorang terbebas dari pencemaran dan penyakit dunia, baik yang terasa ataupun yang tak terasa.

Banyak orang menduga bahwa takwa adalah kurungan sempit hukum-hukum agama. Tetapi, dalam pandangan Sayyidina Ali dugaan itu tidak benar adanya. Beliau berkata: “Sesungguhnya takwa kepada Allah merupakan kunci menuju petunjuk, bekal untuk hari kiamat, kemerdekaan dari perbudakan dan kebebasan dari segala keruntuhan. Dengan bantuan takwa, si pencari akan menemukan apa yang dicarinya, seorang yang lari akan berhasil menghindari musuhnya dan seorang yang berharap akan dapat menggapai harapannya.” Ungkapan ini hendak menegaskan bahwa takwa adalah keharusan dalam kehidupan manusia, yang tanpanya segala kaidah ilmu dan hukum tidak akan berguna, karena setiap orang akan mengikuti nafsunya sendiri-sendiri.

Dalam khotbah lain, Sayyidina Ali berkata: “Perhatikanlah bahwa dosa laksana kuda-kuda liar. Para penunggangnya duduk di atas panggung dengan kekang yang dibiarkan terlepas, sehingga (kuda dan penunggangnya) akan bersama-sama terseret ke dalam neraka. (Sebaliknya) perhatikanlah bahwa takwa laksana kuda-kuda terlatih. Para penunggangnya duduk di atas punggung dengan kekang dalam genggaman kedua tangan, sehingga kuda-kuda itu akan membawa mereka ke surga.”

Di sini Sayyidina Ali memperkenalkan dosa sebagai keliaran yang diliputi dengan kerusuhan dan kegaduhan. Banyaknya dosa menyebabkan lemah dan loyonya kepribadian. Dan dalam keadaan itu, posisi manusia vis-a-vis pengelolaan dirinya tak ubahnya seperti penunggang kuda liar yang kehilangan tali kekang, sehingga dia tidak akan punya kehendak dan kebebasan untuk mengarahkan dirinya yang telah berubah menjadi seekor kuda liar.

Selain berbicara mengenai pengaruh duniawi maupun ukhrawi takwa, Sayyidina Ali juga berbicara mengenai sifat-sifat orang yang bertakwa (muttaqy). Pernah suatu ketika sahabat Sayyidina Ali bernama Hammam, yang dikenal sebagai abid, bertanya kepadanya mengenai sifat-sifat orang yang bertakwa. Mula-mula Sayyidina Ali agak segan memenuhi permintaan itu, lalu berujar:

Wahai Hammam, bertakwalah kepada Allah dan berbuatlah kebajikan, sebab Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan berbuat kebajikan.

Mendengar itu, Hammam belum puas dan sekali lagi mendesak, sehingga Sayyidina Ali terpaksa memenuhi permintaannya. Setelah mengucapkan puji-pujian bagi Allah SWT dan shalawat bagi Nabi Saw, beliau bertutur:

Amma ba’du. Sesungguhnya ketika Allah mencipta makhluk-Nya, Dia mencipta dalam keadaan tidak butuh akan ketaatan mereka dan tidak cemas akan pembangkangan mereka …

Demikianlah, orang-orang yang bertakwa ialah manusia-manusia yang bijak bestari. Kebenaran menjadi inti ucapan mereka, kesederhanaan adalah pakaian mereka dan kerendahan hati mengiringi gerak-gerik mereka. Mereka tundukkkan pandangan terhadap segala yang diharamkan Allah dan mereka pakai pendengaran mereka hanya untuk mendengarkan ilmu yang berguna.

Jiwa mereka selalu diliputi ketenangan dalam menghadapi cobaan, sama seperti dalam menerima kenikmatan. Sekiranya bukan karena kepastian ajal yang telah ditetapkan Allah, niscaya roh mereka takkan tinggal diam dalam jasad-jasad mereka walau hanya sekejap, baik disebabkan oleh kerinduannya kepada pahala Allah ataupun ketakutannya kepada hukuman-Nya…

Kemudian Sayyidina Ali membeberkan tanda-tanda orang bertakwa,

…Tanda-tanda yang tampak pada diri mereka ialah keteguhan dalam beragama, ketegasan bercampur dengan kelunakan, keyakinan dalam keimanan, kecintaan yang sangat kepada ilmu, kepandaian dalam keluhuran hati, kesederhanaan dalam kekayaan, kekhusyukan dalam beribadah, ketabahan dalam kekurangan, kesungguhan dalam mencari yang halal, kegesitan dalam kebenaran dan menjaga diri dari ketamakan …

Kebaikannya selalu bisa diharapkan, gangguannya tak pernah dikhawatirkan. Bila sedang bersama orang-orang lalai, ia tak pernah lupa mengingat Tuhan. Dan bila sedang bersama orang-orang yang mengingat Tuhan, ia tak pernah lalai. Memaafkan siapa yang menzaliminya. Memberi orang yang menolaknya. Menyambung hubungan dengan orang yang memutuskannya….. tak pernah terlihat kemungkarannya. Selalu hadir kebajikannya … Segera mengakui yang benar sebelum dihadapkan kepada kesaksian orang lain …

Penukil cerita ini lalu menuturkan: “Ketika Sayyidina Ali sampai di bagian ini dari khotbahnya, Hammam – si abid yang menyimak semuanya dengan tekun itu – seketika terjatuh pingsan, sehingga Sayyidina Ali berkata: “Sungguh, demi Allah, sejak pertama aku sudah mencemaskan hal ini akan terjadi padanya.” Kemudian beliau bertanya untuk mengukuhkan pernyataan (istifham inkary): “Beginikah akibat yang ditimbulkan oleh nasihat-nasihat yang mendalam kepada hati yang peka?![7]Lihat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Mutiara Nahjul Balaghah, Mizan, 1993, hal. 38-42. (MK)

_________

Catatan: Artikel ini diambil dari buku karya Musa Kazhim, Belajar Menjadi Sufi, (Jakarta, Lentera, 2002), hal. 50-53. Penerbitan artikel ini sudah atas izin dari penulis.

Source: Gana Islamika

 

Catatan Kaki[+]

About admin

Check Also

Pilihlah Agama dengan Teks atau Tanpa Teks

“Beragama tidaklah sempurna tanpa menggabungkan agama tekstual dengan agama ritual spiritual” Oleh: H. Derajat بِسْمِ ...