Home / Agama / Tafsir / Tanda Kenabian Rasulullah Berupa Kelenjar Merah

Tanda Kenabian Rasulullah Berupa Kelenjar Merah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Sahabatku yang dirahmati Allah SWT, ternyata ada tanda-tanda Kenabian pada fisik Rasulullah SAW. Tanda fisik itu berupa kelenjar merah. Hal ini tertera dalam kajian kitab As-Syamail Al-Muhammadiyah Ke-16. Simak penjelasan lengkapnya.

Ada sebuah riwayat yang menggambarkan tanda-tanda fisik kenabian Rasulullah SAW yakni berupa kelenjar merah. Tanda kenabian ini familiar di kalangan sahabat, sehingga banyak sahabat yang menggambarkan tanda kenabian beliau dengan berbeda-beda.

Para sahabat menggambarkan sesuai dengan yang mereka lihat pada punggung Rasulullah SAW. Apa penyebab perbedaan ini? Apakah bergantung siapa yang melihat tanda tersebut atau memang tanda kenabian itu berubah-ubah?

Jabir bin Samurah salah satu sahabat yang melihat tanda kenabian Rasulullah SAW berupa kelenjar merah. Bagaimana penjelasan ulama pada riwayat Jabir bin Samurah ini? Berikut hadits dan penjelasannya:

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ يَعْقُوبَ الطَّالْقَانِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا أَيُّوبُ بْنُ جَابِرٍ، عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: « رَأَيْتُ الْخَاتَمَ بَيْنَ كَتِفَيْ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غُدَّةً حَمْرَاءَ مِثْلَ بَيْضَةِ الْحَمَامَةِ »

Jabir bin Samurah berkata, “Aku pernah melihat tanda (khatam), ia terletak di antara kedua bahu Rasulullah SAW, berupa kelenjar merah sebesar telur burung merpati.”

Tiga perawi dari hadits tersebut ada seorang atau beberapa ulama yang menilai lemah (dha’if) di antara mereka. Pertama, Sa’id bin Ya’qub dinilai terpercaya (tsiqah), namun Ibn Hibban menilainya lemah (dha’if). Kedua, Ayyub bin Jabir dinilai lemah (dha’if) oleh Abu Zur’ah dan ulama lainnya. Ketiga, Simak bin Harb dinilai terpercaya, tapi Ibn al-Mubarak menilainya lemah (dha’if).

Status hadits ini menurut Imam At-Tirmidzi dalam Sunan At-Tirmidzi adalah hasan shahih. Sedangkan istilah hasan shahih dengan hadits yang memiliki dua jalur sanad, satu jalur sanadnya berstatus hasan dan shahih pada jalur sanad lainnya.

Warna, Dzat, dan Bentuk Tanda Kenabian Rasulullah SAW

Dalam buku Terjemah Hadits; Mengenal Pribadi Dan Budi Pekerti Rasulullah SAW terbitan Diponegoro Bandung, kata ghuddah diartikan sepotong daging. Ibrahim bin Muhammad Al-Bajury mengartikannya sebagai daging yang bergerak serta menghubungkan antara daging dan kulit. Itulah yang dimaksud kamus Arab-Indonesia Al-Ma’any kata ghuddah mempunyai arti kelenjar.

Hadits riwayat Jabir bin Samurah menggambarkan tanda kenabian Rasulullah SAW berupa kelenjar merah, sebagaimana redaksi (matan) hadits tersebut. Ada banyak riwayat tentang warna tanda kenabian beliau. Ada riwayat lain yang menyatakan warna hitam, warna biru, dan ada juga yang menyatakan sama seperti warna kulit beliau.

Perbedaan riwayat tersebut tidak saling menolak satu sama lain, sebab keadaan itu berbeda dengan perbedaan waktu. Pada suatu waktu tanda kenabian Rasulullah SAW seperti kulit beliau, berwarna hijau pada waktu yang lain, dan begitu seterusnya.

Selanjutnya, dalam riwayat Jabir bin Samurah menyampaikan bentuk dari tanda kenabian Rasulullah SAW mirip  dengan telur burung merpati. Dalam hal ini banyak juga riwayat yang berbeda-beda dengan menyampaikan bentuk yang berbeda pula.

Misalnya riwayat yang menyatakan bahwa bentuk tanda kenabian beliau secara fisik seperti telur burung unta, buah apel, kemiri, tahi lalat dan menurut riwayat Shahih Al-Hakim tanda kenabian Rasulullah SAW berupa kumpulan bulu. (Ibrahim bin Muhammad Al-Bajuri, Al-Mawâhib Al-Ladunniyyah ‘ala As-Syamâil Al-Muhammadiyyah, 84)

Menurut Ibrahim bin Muhammad Al-Bajury tidak ada pertentangan antara riwayat ini (riwayat Jabir bin Samurah) dengan riwayat sebelumnya dan bahkan dengan riwayat lainnya. Demikian juga pendapat Al-Qurthubi bahwa keadaan fisik tanda kenabian Rasulullah SAW kadang membesar dan kadang mengecil, maka setiap sesuatu (dalam banyak riwayat) yang disamakan dengan keadaan tanda tersebut, layak baginya.

Ulama yang berpendapat tanda itu adalah bulu, maka tanda kenabian Rasulullah SAW kondisinya waktu itu terdapat bulu, begitu juga dengan riwayat lainnya. Ternyata dasar dari perbedaan riwayat para sahabat dengan menyebutkan bentuk yang berbeda disebabkan oleh perbedaan kondisinya pada saat para sahabat melihatnya.

Meskipun Ibrahim Al-Bajuri menyampaikan perbedaan-perbedaan riwayat tergantung pada waktu dan kondisi tanda kenabian Rasulullah SAW. Menurutnya, secara umum riwayat-riwayat yang pasti dan jelas mengenai tanda ini adalah jika mengecil seperti kemiri, jika membesar seperti kepalan tangan.

Adapun hadits yang mengatakan seperti bekas botol bekaman, lutut kambing, tahi lalat hijau dan ataupun hitam serta tertulis Muhammad SAW atau sir fainnaka al-mansur, maka riwayat-riwayat ini tidak pasti. Al-Bajuri mengutip dari pendapat Al-‘Asqalani dan ada juga pembenaran Ibn Hibban bahwa riwayat tersebut meragukan.

Datang juga dari pendapat banyak hafidz bahwa orang yang meriwayatkan pada tanda kenabian terdapat tulisan Muhammad SAW, maka hal itu diserupakan dengan khatam (cincin) yang ada pada tangan Rasulullah SAW. Padahal tidak demikian adanya.

Benar adanya pada hadits Jabir bin Samurah bahwa tanda kenabian Rasulullah SAW berupa kelenjar merah sesuai kondisi Jabir bin Samurah melihatnya pada waktu itu. Perbedaan penyebutan warna karena perbedaan waktu. Sedangkan perbedaan penyebutan bentuk dan dzatnya karena perbedaan kondisi pada saat para sahabat melihatnya.

Demikian penjelasan terkait tanda kenabian Rasulullah SAW secara fisik yakni berupa kelenjar merah. Semoga bermanfaat.

Wallâhu A’lamu bish-Shawâb

Source: Bincang Syari’ah

About admin

Check Also

Rahasia Langit yang Halus Tak ‘kan Terbuka Bagi Hati yang Keruh

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...