Friday , April 23 2021
Home / Tag Archives: Renungan Kebangsaan

Tag Archives: Renungan Kebangsaan

March, 2019

  • 22 March

    Teropong Sengkuni

    Lakon teater “Sengkuni2019” baru akan digelar di Surabaya 7-8 Maret 2019, kota kedua sesudah Yogya. Tetapi akselerasi dinamis pengetahuan dan pemikiran Jamaah Maiyah sudah melewatinya dan melangkah di depannya. Sudah pasca Sengkuni2019. Padahal Sengkuni Teater Perdikan sudah berada pada sekian langkah di depan pemahaman mainstream tentang Sengkuni. Pengetahuan tentang Sengkuni ...

January, 2019

  • 30 January

    Islam tanpa Muslim: Sebuah Renungan

      New Zealand (NZ) atau Selandia Baru adalah Negeri kepulauan dengan dua pulau utama, pulau Utara dan pulau Selatan. Penduduknya kurang dari 5 juta dengan jumlah domba lebih dari 40 juta. Bersih, langitnya biru, dan warganya sangat dekat dengan alam. Bumi Allah di bagian sini sangat disyukuri, dipelihara, dan dijadikan sahabat. Hasilnya ...

  • 28 January

    Toto Tentrem Kerto Raharjo atau Baldatun Thayyibatun Wa Robbun Ghafur?

    Hari-hari di akhir ini negeri kita tengah disubukkan oleh berbagi peristiwa politik yang jauh dari peristiwa kenegarawanan. Karenanya, Cak Nun juga menulis tentang peristiwa ini dalam sepuluh tulisan di www.caknun.com. Sebelum itu,  kalau menengok ke belakang, Gambang Syafaat juga pernah mengangkat tema kajian tentang “Nusantara gemah ripah loh jinawi”. Dalam pengantarnya Cak Nun ...

October, 2018

  • 8 October

    Jendela Hati Buat Prajurit Sejati

    Bukan Jabatan, Melainkan Jiwa Menjadi tentara tidak sama dengan menjadi Bupati, Gubernur, Menteri atau Presiden. Tentara itu jiwa, Presiden itu jabatan. Jabatan Presiden akan ditinggalkan dan meninggalkan (dengan paksa) orang yang menyandangnya, sedangkan ketentaraan adalah jiwa yang menyatu dengan manusianya, adalah ruh yang tak bisa dicopot kecuali oleh pengkhianatan dan ...

  • 2 October

    Sumber Kesaktian Pancasila

    HARI  kesaktian Pancasila, merupakan produk politik rezim Orde Baru. Ini adalah antitesa dari peristiwa yang terjadi sehari sebelumnya, yaitu G30S/PKI. Dari titik inilah rangka bangun pemerintahan Orde Baru ditegakkan. Meski akhirnya pada tahun 1998, kita sepakat untuk menumbangkan rezim ini, namun tak satupun dari kita mempertanyakan, apalagi menggugat “kesaktian Pancasila”. ...

September, 2018

  • 4 September

    Garuda Menebus Ibu Pertiwi

    Tengah-tengah asyik aku menulis puisi “Indonesia Bukanlah, Bukanlah Indonesia”, mendadak hatiku menghentikan pikiranku yang sedang bekerja. Aku bertanya ada apa, ia menjawab dengan pertanyaan: “Mana anak-anakmu yang berjanji menuliskan hasil pembelajarannya tentang Pancasila Garuda dan Bhinneka Tunggal Ika?” “Kita perlu sabar menunggu”, aku menjawab, “kita tidak boleh memaksakan kemauan kita, ...

  • 3 September

    Nasionalisme Sayur Salju

    Sudah tidak terlihat lagi salju. Puncak musim dingin baru saja lewat. Saya naik kereta cepat dari kota Qingdao ke Tianjin. Kawasan timur Tiongkok. Selama 4 jam. Di sepanjang perjalanan terlihat bangunan green house. Sambung-menyambung. Tidak henti-hentinya. Saya diskusikan itu. Lautan green house itu. Dengan teman seperjalanan saya. Yang dulu juga ...

August, 2018

  • 26 August

    Apa Pentingnya Asian Games?

    “Pemuda-pemuda dan Pemudi-pemudi datang di Solo ini tidak untuk berolahraga saja, tapi terutama untuk menunjukkan semangat kemerdekaan yang menyala-nyala, diadakan bagi perbaikan derajat dan rohani bangsa.” BEGITU pidato Presiden Soekarno saat membuka Pekan Olahraga Nasional (PON) I di Stadion Sriwedari, Solo, 9 September 1948. Jangan membayangkan pembukaan PON pertama itu ...

  • 24 August

    Mbah Hamid Kajoran: “Kalau Bisa Mengamalkan Dua Sila Pancasila, Bisa Jadi Wali!”

    Ada proses dialog yang intens di kalangan ulama dan tokoh NU sebelum menerima Pancasila sebagai azas tunggal dalam berbangsa dan bernegara. Dialog tidak hanya dilakukan di forum-forum formal ilmiah akademik yang mengeksplorasi argumen dan gagasan rasional, tetapi juga di forum non formal seperti silaturrahim dan anjangsana, serta forum mujahadah dan ...

  • 17 August

    Refleksi Kemerdekaan Jalaludin Rahmat : Ratu Adil ?

    Sekiranya Belanda memerintah dengan adil, kita tak akan melakukan perjuangan Kemerdekaan. Seandainya Jepang tidak melakukan penindasan, kita tidak akan memproklamasikan Kemerdekaan. Karena itu, ketika mensyukuri Kemerdekaan, syukurilah perbuatan zalim dan penindasan para penjajah kita. Ucapan ini keluar dari pembicara pada sebuah peringatan syukuran yang diselenggarakan salah satu organisasi pemuda Islam ...