Home / Agama / Kajian / Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani: Peran Mursyid Menghidupkan Hati

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani: Peran Mursyid Menghidupkan Hati

Oleh: Mimi Jamilah Mahya, MIRKH*

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillãhirrahmãnirrahîm
Was-shalãtu was-salãmu ‘alã Muhammadin wa ãlihî ma’at taslîmi wa bihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘ãmmati wal-hidãyatit tãmmah, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn”.

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani pernah mengungkapkan di dalam karyanya, Kitab Sirrul Asrãr tentang perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib:

لَوْ لَا الْمُرَبِّيْ مَا عَرَفْتُ رَبِّيْ

Laulal Murabbî mã ‘araftu Rabbî

“Kalau bukan karena pembimbing (Murabbi), aku pasti tidak mengenal Tuhanku” (Al-Jailani 2015, hal 215).

Mengenai maksud dari perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ini, beliau mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pembimbing di sini adalah pembimbing bathin. Namun ia dapat terwujud karena pendidikan dari pembimbing lahir melalui talqîn.

Para nabi dan para wali adalah para pembimbing lahir sekaligus pembimbing batin, yang dari pendidikan mereka itulah perjumpaan dengan ruh lain dapat terjadi. Selanjutnya, beliau mengutip firman Allah SWT:

رَفِيْعُ الدَّرَجٰتِ ذُو الْعَرْشِۚ يُلْقِى الرُّوْحَ مِنْ اَمْرِهٖ عَلٰى مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ لِيُنْذِرَ يَوْمَ التَّلَاقِۙ ۞

“Dialah yang Maha Tinggi derajat-Nya, yang mempunyai Arasy, yang mengutus Jibril dengan perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya Dia memperingatkan manusia tentang hari pertemuan (hari kiamat)” (QS. Al-Mukmin (al-Ghafir) [40]: 15).

Selanjutnya, tentang urgensi peran guru atau mursyid di dalam menghidupkan dan mendidik hati dan mengenalkan seorang murid kepada Allah SWT, beliau mengungkapkan secara jelas bahwa;

“mencari mursyid itu wajib hukumnya untuk menghidupkan hati serta mengenalkan kepada Tuhan” (Al-Jailani 2015, hal: 215-216)

Dari ungkapan beliau ini, penulis menggarisbawahi urgensi dan peran guru Mursyid dalam tasawuf atau tarekat yang dalam men-tarbiyah murid-muridnya berorientasi pada pendidikan untuk menghidupkan hati dan ma’rifatullah atau memperkenalkan manusia kepada Tuhan-Nya.

Jadi, tujuan pendidikan dalam konteks tasawuf bukan sekedar mencerdaskan manusia, tetapi lebih jauh dan lebih penting dari itu, adalah mendidik hati manusia dan memperkenalkan mereka kepada Allah sebagai Dzat yang menciptakan, menghidupkan dan memberinya rizki.

Sesungguhnya mengenal Allah ini merupakan tujuan dari penciptaan manusia itu sendiri. Sebagaimana firman Allah SWT:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ۞

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku”. (QS Adz Dzariyat: 56).

Menurut Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, maksud dari “menyembah-Ku” adalah ma’rifat kepada-Ku. Jika manusia tidak mengenal Allah, bagaimana dapat menyembah-Nya? Ma’rifat hanya dapat dicapai dengan menyingkap tirai nafsu dari cermin hati melalui jalan penyucian. Dengan begitu, dalam cermin hati itu, si hamba dapat melihat keindahan khazanah yang tersembunyi yang ada dalam lubuk hati yang paling dalam (sirr lubb al-qalb).

Demikianlah Allah menyatakan di dalam sebuah Hadits Qudsi:

كُنْتُ كَنْزًا مَخْفِيَّا فَأَحْبَبْتُ أَنْ اُعْرَفَ فَخَلَقْتُ خَلْقًا فَبِيْ عَرَفُوْنِيْ ۞

“Aku adalah khazanah tersembunyi. Aku ingin dikenali, karena itulah Aku ciptakan makhluk agar Aku dikenali”.

Selanjutnya, menurut beliau lagi, ketika Allah SWT menerangkan bahwa penciptaan manusia adalah untuk mengenal Allah (ma’rifatullah), maka mengenal Allah SWT adalah wajib baginya.

Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa mengenal Allah SWT atau ma’rifatullah merupakan kewajiban setiap manusia. Dan karena ia merupakan suatu kewajiban, maka sangat pentinglah bagi setiap individu untuk mencari dan mempelajari ilmu tentang Allah SWT.

Hal ini sebagaimana tersebut di dalam Hadits Nabi SAW bahwa:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan” (HR. Ibnu Majah).

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani di dalam mengomentari Hadits ini beliau mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “ilmu” dalam Hadits ini adalah ilmu makrifat dan kedekatan dengan Allah. Sedangkan semua ilmu lahiriyah lainnya tidaklah diperlukan, kecuali hanya ilmu-ilmu tertentu yang menjadi alat untuk melaksanakan kewajiban (Al-Jailani 2015, hal : 75).

Selain itu, menurut Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani bahwa pendidikan harus memiliki kesesuaian, yaitu kesesuaian atau ketersambungan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Seorang pemula sama sekali tidak memiliki keterkaitan dengan Allah SWT dan Rasulullah SAW. Sehingga ia harus terlebih dahulu dibimbing oleh seorang wali. Karena seorang wali memiliki kesamaan atau kesetaraan antara dirinya dengan pemula (murid) dari segi kemanusiaannya, sebagaimana halnya saat Rasulullah SAW masih hidup.

Seorang wali menjadi pewaris sempurna sebagai limpahan kewalian Nabi SAW, yang dengan itu ia menjadi dikenal orang banyak. Kalau saja Rasulullah SAW masih hidup di dunia ini manusia tidak membutuhkan bimbingan dari orang lain. Ketika beliau wafat, maka beliau terputus dari keterkaitan secara langsung. Demikian pula yang terjadi pada waliyullah ketika mereka sudah wafat, mereka tidak memberikan bimbingan langsung kepada manusia untuk sampai tujuan. (Al-Jailani 2015, hal 218-220).

Semoga Allah SWT menghidupkan hati manusia yang telah mati lewat bimbingan para Mursyid.

اَللّٰهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ وَعَلَى مَحَبَّتِكَ وَعَلَى مَحَبَّةِ رَسُوْلِكَ

Allãhumma yã muqallibal qulûbi tsabbit qalbî ‘alã dînika wa ‘alã mahabbatika wa ‘alã mahabbati rasûlika

“Wahai Allah, Yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu, dan pada cinta kepada-Mu, dan pada cinta kepada Rasul-Mu”. Ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn.

Wallãhu A’lamu bish-Shawãb

______________

* Dosen STAI Attaqwa Bekasi, E-mail: jamilah.mahya@gmail.com

About admin

Check Also

Pilihlah Agama dengan Teks atau Tanpa Teks

“Beragama tidaklah sempurna tanpa menggabungkan agama tekstual dengan agama ritual spiritual” Oleh: H. Derajat بِسْمِ ...