Home / Agama / Kajian / Syaikh Haji Hasan Mustapa; Seorang Aristokrat Sunda yang Sufi

Syaikh Haji Hasan Mustapa; Seorang Aristokrat Sunda yang Sufi

“KH.Hasan Musthafa adalah seorang ulama yang menguasai berbagai macam ilmu yang diperoleh dari guru-gurunya di Makkah, Selain kepada Syaikh Nawawi Al Bantani, beliau juga berguru kepada Syaikh Musthafa Al-Afifi, Syaikh Abdullah Az-Zawawi, Syaikh Hasballah dan Syaikh Bakri Satha”.

Oleh: Admin*

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillãhirrahmãnirrahîm
Wash-shalãtu was-salãmu ‘alã Muhammadin wa ãlihî ma’at taslîmi wa bihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘ãmmati wal-hidãyatit tãmmah, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn”.

Riwayat Hidup

KH. Hasan Musthafa adalah seorang ulama dan pujangga Islam yang banyak menulis masalah agama dan tasawuf dalam bentuk (puisi yang berirama dalam bahasa sunda), Beliau juga pernah menjadi kepala penghulu di Aceh pada zaman Hindia Belanda.

KH. Hasan Musthafa lahir di Garut Jawa Barat pada 1286 H/ 3 Juni 1852 M. Beliau terlahir dalam lingkungan menak, bangsawan sunda, tetapi berorientasi pada pesantren. KH. Hasan Musthafa wafat di Bandung pada 1348 H atau 13 Januari 1930 M.

KH. Hasan Musthafa menyebarkan ajaranya melalui karya seninya yang sangat berlainan dengan karya-karya seni sunda pada masa itu. Umumnya yang dibahas adalah masalah ketuhanan, Tasawuf. Bentuk formalnya mirip dengan kitab-kitab suluk dalam bahasa Jawa, tetapi isinya lebih dekat dengan tradisi puisi tasawuf, salah satu murid beliau adalah KH. Hasan Mustofa (Abuya Cilember)

Karena Pengetahuan agamanya yang luas, Snouck Hugronje pada tahun 1889 memintanya untuk mendampinginya dalam perjalanan keliling Jawa dan Madura. Atas usul Snouck Hugronje, pemerintah Belanda mengangkat KH. Hasan musthafa menjadi Kepala Penghulu di Aceh pada Tanggal 25 Agustus 1893.

Jabatan sebagai kepala penghulu di aceh dipegangnya selama dua tahun kemudian, beliau kembali ke Bandung dan menjadi Penghulu Bandung selama 23 Tahun. Tahun 1918 atas permintaannya sendiri, beliau pensiun.

Mengenai aliran tasawauf yang dianut dan diajarkan kepada para muridnya tidak diketahui dengan pasti. Akan tetapi, beberapa orang menyebutkan bahwa beliau menganut aliran Tarekat Syattariyah. Suatu tarekat yang berasal dari india, yang didirikan Syaikh Abdullah Asy-Syattar, yang dikembangkan pertama kali di Indonesia Oleh Syaikh Abdul Rauf Singkel, dan menyebar ke Jawa Barat atas peranan Syaikh Abdul Muhyi Pamijatan, Salah Seorang Murid Syaikh Abdul Rauf Singkel. Dalam karyanya beliau sering menyebut nama Al-Ghazali sebagai Sufi yang dikaguminya.

Haji Hasan Mustapa bersama Raden Hadji Moehamad Roesdi

Budayawan Sunda Modern

Hasan Mustapa dikenal sebagai tokoh besar sejarah kebudayaan Sunda modern. Sosoknya tercatat sebagai seorang ulama sufi, sastrawan sekaligus aristrokrat Sunda. Hasan Mustapa memiliki sejumlah karya intelektual yang ditulisnya dalam bahasa Arab, bahasa Sunda aksara Arab (Sunda Pegon) dan bahasa Sunda aksara Latin.

Terkait sosok Hasan Mustapa sebagai sastrawan besar Sunda dan penghulu besar Bandung, hal ini sudah dikaji oleh cukup banyak sumber. Adapun kajian sosok Hasan Mustapa dalam kapasitasnya sebagai “santri-ulama”, maka hal ini belum terlalu banyak.

Jaringan keilmuan “santri-ulama” Hasan Mustapa terhubung dengan pusat-pusat jaringan yang terdapat di Priangan (Jawa Barat), Surabaya (Jawa Timur), Madura, dan juga Makkah di Timur Tengah. Salah satu inti jaringan keilmuan Hasan Mustapa adalah Syaikh KH. Khalil Bangkalan (Madura). Dalam catataannya (Adji Wiwitan Istilah), Hasan Mustapa menyebut dirinya pernah belajar kepada KH. Kholil Bangkalan di Madura, sebelum beliau pergi belajar ke Mekkah.

Dalam karyanya yang berjudul “Adji Wiwitan Istilah”, Hasan Mustapa menceritakan pengembaraan intelektual di masa mudanya. Ia menulis bahwa pada masa kecilnya ia belajar kepada Kiyai Haji Hasan Basri dari Kiarakoneng, lalu kepada Penghulu Garut Raden Haji Yahya, lalu kepada Kiyai Abdul Hasan di Sawahdadap Tanjungsari (Sumedang), lalu kepada Kiyai Muhammad Cibunut Garut (putra Kiyai Hasan Basri Kiarakoneng), lalu kepada Kiyai Adzra’i (menantu Kiyai Muhammad Cibunut), lalu kepada Kiyai Abdulkahar (Dasarema, Surabaya) dan Kiyai Khalil (Bangkalan, Madura) (Rosidi, 1989: 48; Rohmana, 2018: 20).

Hasan Mustapa menulis:

“Kaula keur leutik diguru Embah Haji Hasan Basari, Kiarakoneng, mashur maca Qur’anna, satengah hafad. Pindah deui ngaji sarap nahu nu leutik di Juragan Panghulu pareman, Raden Haji Yahya, Garut. Pindah deui kaula ka Tanjungsari, Sumedang, pasantren Kiai Abdul Hasan (Sawahdadap). Pindah deui ka Cibunut, Kiai Muhammad Garut. Datang deui guru anyar, paman Muhammad Idjra’i, mantuna, pangajaran Kiai Abdulkahar (Dasarema Surabaya), Kiai Khalil (Bangkalan Madura)

(Ketika kecil saya belajar pada Embah Haji Hasan Basri, Kiarakoneng, yang terkenal sebagai ulama pembaca al-Qur’an. [Di sana saya belajar hingga] setengah hapal al-Qur’an. Lalu pindah lagi mengaji ilmu sharaf dan nahwu yang masih dasar pada Juragan Penghulu Raden Haji Yahya, Garut. Lalu saya pindah lagi ke Tanjungsari Sumedang di Pesantren Kiai Abdul Hasan (Sawahdadap). Lalu pindah lagi ke Cibunut, Kiai Muhammad Garut. Lalu datang lagi guru baru, paman Muhammad Idjra’i, menantunya (Kiai Muhammad), (juga) mendapat pengajaran dari Kiai Abdulkahar (Dasarema Surabaya), Kiyai Khalil (Bangkalan Madura).

Setelah itu, Hasan Mustapa pergi melanjutakan studinya ke Makkah. Di kota suci itu, Hasan Mustapa belajar kepada Syaikh ‘Abd al-Hamîd al-Syirwânî (w. 1883), Sayyid Ahmad Zainî Dahlân (w. 1885), Syaikh Abû Bakar Muhammad Syathâ (w. 1890), Syaikh Sa’îd Bâ-Bashil (w. 1912), Syaikh ‘Abdullân al-Zawâwî (w. 1924), Syaikh Sulaimân Hasbullâh al-Makkî (w. 1917), Syaikh Nawawi Banten (w. 1897) dan lain-lain.

Di Makkah, Hasan Mustapa juga tercatat pernah mengajar. Hal ini setidaknya terjadi pada kurun masa 1878-1885. Saat itu, usianya masih terbilang relatif muda (ia lahir 1852). Karirnya sebagai “guru para pelajar Sunda di Makkah” pada akhir abad 19 M ini terekam dalam sumber sezamannya, yaitu buku “Mekka” (1888) karya Snouck Hurgronje. Selain terdapat dalam buku “Mekka”, jejak karir Hasan Mustapa di Makkah juga terekam dalam manuskrip berbahasa Arab berjudul “Tarajim Ulama Jawah” karya Rd. Aboe Bakar Djajadiningrat (w. 1914), seorang bangsawan Sunda asal Pandeglang yang bekerja sebagai penerjemah dan informan di kantor Konsulat Belanda di Jeddah.

Masa Belajar Syaikh Haji Hasan Mustapa

Pertama-tama beliau belajar mengaji dari orang tuanya sendiri, kemudian belajar qira’ah, membaca al Qur’an dengan baik dari Kiai Hasan Basri seorang ulama dari Kiarakoneng, Garut dan dari seorang Qori yang masih berkerabat dengan ibunya.

Ketika berusia delapan tahun beliau dibawa Ayahnya menunaikan ibadah Haji, di Makkah beliau bermukim selama setahun dan belajar bahas arab dan membaca Al Qur an.

Sepulangnya dari Makkah beliau dimasukkan ke berbagai pesantren di Garut dan Sumedang. Beliau belajar dasar-dasar ilmu sharaf dan nahwu, tata bahasa Arab, kepada R.H. Yahya, seorang pensiunan Penghulu di Garut, kemudian beliau pindah ke Abdul Hasan, seorang kiai dari Sawahdadap, Sumedang. dari sumedang beliau kembali lagi ke Garut untuk belajar kepada Kiai Muhammad Irja.

pada tahun 1874, beliau berangkat untuk kedua kalinya ke Makkah guna memperdalam ilmu-ilmu keagamaan islam kali itu beliau bermukim di makkah selama delapan tahun. Ketika berada di Makkah beliau berkenalan dengan Snouck Hurgronje seorang orientalis Belanda yang sedang meneliti masyarakat Islam di Makkah.

KH.Hasan Musthafa adalah seorang ulama yang menguasai berbagai macam ilmu yang diperoleh dari guru-gurunya di Makkah, Selain kepada Syaikh Nawawi Al Bantani, beliau juga berguru kepada Syaikh Musthafa Al-Afifi, Syaikh Abdullah Az-Zawawi, Syaikh Hasballah dan Syaikh Bakri Satha.

Beliau meninggalkan Makkah pada tahun 1882, karena dipanggil Oleh R.H Muhammad Musa, penghulu Garut pada masa itu, Beliau dipanggil pulang untuk meredakan ketegangan akibat perbedaan paham diantara para ulama Garut. Berkat Usaha KH. Hasan Musthafa dan bantuan R.H. Muhammad Musa perselisihan itu dapat diredakan.

Di antara guru-guru KH. Hasan Mustafha adalah:

  1. Ayahnya sendiri,
  2. Kiai Hasan Basri,
  3. R.H. Yahya,
  4. Kiai Abdul Hasan,
  5. Kiai Muhammad Irja’,
  6. Syekh Nawawi Al Bantani,
  7. Syekh Musthafa Al Afifi,
  8. Syekh Abdullah Az Zawawi,
  9. Syekh Hasbullah,
  10. Syekh Bakri Satha.

Dalam “Mekka”, Snouck Hurgronje menulis:

سنتوقف هنيهة مع أهل العلم من صوندا. لقد جلب انتباهنا اليهم عالمان بسبب العدد الكبير من التلاميذ الذين يحيطون بهم. ومعظم الطلاب هم من شباب البريانجان. إن كلا من محمد وحسن مصطفى معروفان باسم منطقتهما قاروت في بريانجان

(Kita akan sejenak bersama para ahli ilmu yang berasal dari Sunda [di Makkah]. Perhatian kami telah tertarik oleh dua orang sosok ulama dari Sunda yang memiliki jumlah murid banyak yang mengelilinginya. Rata-rata para murid dua ulama Sunda itu berasa dari para pemuda Priangan. Kedua ulama Sunda itu adalah Syaikh Muhammad Garut dan Syaikh Hasan Mustapa [Musthafa] Garut yang dikenal dengan nama daerah asal mereka di Priangan, yaitu Garut.

أما حسن مصطفى فهو تلميذ محمد في جزيرة جاوة. ولقد قدم الى مكة منذ أربعة عشر عاما بهدف طلب العلم والأخذ م شيوخ الجاوي في مكة أمثال حسب الله ومصطفى وعبد الله الزواوي وغيرهم. وفي خلال السنوات العشر الماضية كان يقوم بالتدريس. كما أنه قد ألف بعض الكتب التي طبعت في مصر منها كتاب في علم العروض. لقد كان منزل الشيخ يعج بعد صلاة الفجر وبعد الظهيرة بعدد كبير من الجاويين والصونديين الذين يفدون لسماع محاضراته

(Hasan Mustapa adalah murid dari Syaikh Muhammad ketika masih berada di Pulau Jawa dulu. Hasan Mustapa telah datang ke Makkah sejak empat belas tahun silam dengan tujuan untuk belajar ilmu dari para guru di Makkah, semisal Syaikh Hasbullah, Syaikh Musthafa, Syaikh Abdullah al-Zawawi dan lain-lain. Sejak sekitar sepuluh tahun yang lalu, Hasan Mustapa telah mengajar di Makkah. Ia juga mengarang beberapa kitab yang dicetak di Mesir, di antaranya adalah kitab dalam bidang ilmu puisi Arab. Rumah Hasan Mustapa senantiasa dipenuhi oleh para pelajar setelah waktu shalat subuh dan setelah waktu shalat zuhur. Para santrinya kebanyakan dari Nusantara, khususnya dari Sunda yang dengan seksama mendengarkan kuliah/ pengajian Hasan Mustapa)

Karya-Karya Syaikh Haji Hasan Mustapa

Ketika berada di Makkah, Hasan Mustapa menulis beberapa karya dalam bahasa Arab. Karya-karya yang ditulisnya dalam bahasa Arab tersebut meliputi “al-Lam’ah al-Nûrâniyyah” dalam bidang disiplin ilmu gramatika Arab (ilmu nahwu) dan juga “al-Fath al-Mubîn fî Manzhûmah al-Sittîn” dalam bidang fikih madzhab Syafi’i.

Dua karya Hasan Mustapa di atas juga menegaskan kedekatan hubungannya dengan Syaikh Nawawi Banten. Karya pertama (al-Lam’ah al-Nûrâniyyah) adalah karya syarah Hasan Mustapa atas teks puisi (nazhom) yang dikarang oleh Syaikh Nawawi Banten berjudul “al-‘Iqd al-Jummâniyyah”. Sementara itu, Syaikh Nawawi Banten juga menulis syarah atas karya kedua Hasan Mustapa (al-Fath al-Mubîn), dengan judul “al-‘Iqd al-Tsamîn bi Syarh al-Fath al-Mubîn”.

Sebuah karya Hasan Mustapa berbahasa Arab lainnya adalah “Injâz al-Wa’d fî Ithfâ al-Ra’d” yang masih berupa manuskrip (naskah tulis tangan). Dalam karya tersebut, Hasan Mustapa membantah sebuah risalah dengan tanpa nama pengarang yang terbit di sebuah koran di Mesir yang menyerang sosok pribadinya, berjudul “al-Radd ‘alâ Iblîs Bandûm fî Itsbât Dzât al-Hayy al-Qayyûm”. Dalam risalah “surat kaleng” tak berpengarang itu, Hasan Mustapa diserang karakternya dengan disebut sebagai “Iblis Bandung”.

Setelah kepulangannya ke tanah air dari Makkah, Hasan Mustapa lebih dominan dikenal sebagai sosok pujangga besar dan sastrawan Sunda, juga aristokrat lokal yang bekerja untuk pemerintahan kolonial Hindia Belanda (sebagai penghulu Aceh dan penghulu besar Bandung). Hasan Mustapa juga tercatat memiliki hubungan yang dekat dengan Snouck Hurgronje sebagai mitra informan dan kolabolator. Kedekatan hubungan ini dapat disimak melalui surat-surat Hasan Mustapa untuk Snouck dalam buku “Informan sunda masa kolonial: surat-surat Haji Hasan Mustapa untuk C. Snouck Hurgronje dalam kurun 1894-1923” karya Jajang Rohmana (2018).

Hasan Mustapa wafat di Bandung pada tahun 1930 dan dimakamkan di kompleks bupati-bupati Bandung di kawasan Astana Anyar. Di dekat makam Hasan Mustapa, terdapat juga makam Rd. H. Moehammad Sjoe’eb (Kalipah Apo, w. 1922), penghulu Bandung kawan Hasan Mustapa yang juga mertua Snouck Hurgronje.

Tapak Tilas Syekh Haji Hasan Mustapa

Dangding Hasan Mustapa

Dangding mungkin tak terdengar asing di antara masyarakat Sunda. Meski kini gaungnya redup-redup alang di kesusastraan Sunda, dulu dangding sesungguhnya terbilang populer. Seperti dikutip dari buku berjudul Empat Sastrawan Sunda Lama, Dangding dulu malah sempat juga diajarkan di sekolah rakyat seluruh wilayah Priangan.

Dangding sendiri merupakan salah satu jenis puisi yang dapat dimasukkan ke dalam kategori sajak bermatra (metrical verse). Bentuk puisi tradisional ini memiliki aturan baku yang membatasi tiap-tiap lariknya. Larik-larik dangding, sebagaimana lazimnya larik-larik sajak bermatra, antara lain diatur dengan apa yang disebut sebagai “kisi-kisi kematraan” (metrical grid).

Merujuk pada pendapat Hawe Setiawan, seorang budayawan dan peneliti sastra Sunda, dangding pada dasarnya digubah untuk pembaca yang bersenandung. Bentuk puisi yang juga disebut guguritan ini terikat oleh aturan baku mengenai melodi. Khususnya, menyangkut jumlah suku kata pada tiap larik, jumlah larik pada tiap pada (bait.red), serta variasi rima akhir.

Dalam esai Hawe Setiawan yang ditulis untuk seri kuliah umum bertajuk “Islam dan Mistisisme Nusantara: Dangding Mistis Hasan Mustapa” di Salihara pada tahun 2012, aturan-aturan persajakan yang terikat dalam sebuah dangding, dapat pula dipahami sebagai aturan komposisi musikal.

Dangding atau guguritan dikenal dalam tradisi sastra Sunda sebagai salah satu pengaruh dari guguritan yang dikenal dalam tradisi sastra Jawa. Dituliskan oleh Hawe, dahulu, terutama ketika politik dan kebudayaan Sunda berpaling ke Tanah Jawa, pengetahuan dan keterampilan di bidang bahasa dan sastra Jawa kiranya dianggap bagian dari ciri-ciri keterpelajaran orang Sunda yang melatarbelakangi dangding.

Bagi para leluhur atau tokoh-tokoh Sunda, dangding juga kerap dijadikan sebuah instrumen untuk mengantarkan pengajaran-pengajaran budaya, norma, bahkan agama agar sampai pada tatanan masyarakat ke akar rumput.

Salah satu sosok yang menjadikan dangding sebagai instrumen syiar atau pengajaran ilmu agama itu adalah Haji Hasan Mustapa. Dia merupakan salah satu tokoh yang dikenal kuat dari gubahan-gubahan dangding-nya yang santer dengan ajaran tasawuf.

Haji Hasan Mustapa juga merupakan tokoh yang sangat produktif dalam membuat dangding. Bahkan, dalam tempo dua hingga tiga tahun saja ia telah mampu menghasilkan dangding lebih dari 10 ribu pada.

Secara kongkrit, belum ada yang bisa memastikan berapa jumlah keseluruhan dangding yang ia buat. Namun, merujuk pada Naskah Karya Haji Hasan Mustapa (1987) yang disusun oleh Iskandarwassid dkk, jumlah dangding karya Haji Hasan Mustapa yang telah diketahui ada 10.815 pada.

Namun dari jumlah itu, yang masih ada hanyalah 9.472 pada. Itu pun tersebar di mana-mana, seperti pada koleksi Wangsaatmadja, di Perpustakaan Universitas Leiden, di Bagian Naskah Museum Nasional, dan koleksi perseorangan.

Kemungkinan, menurut Iskandarwassid, masih ada yang belum ditemukan. Sekalipun masih jauh mencapai jumlah 20 ribu pada, namun jelas sudah gubahan dangding Haji Hasan Mustapa lebih dari 10 ribu pada. Jumlah tersebut jauh melebihi keseluruhan pada karya penulis Wawatjan Poernama Alam, R. Soeriadiredja, yakni 6.197 pada.

Menurut Hawe Setiawan, mistisime Islam sangat amat terasa dalam dangding atau guguritan karya Haji Hasan Mustapa. Dangding yang ia buat banyak memperlihatkan renungannya tentang tasawuf atau ketuhanan.

“Karena pandangannya tentang hubungan masnusia dengan Tuhan yang dia ibaratkan seperti rebung dengan bambu, dia dinilai sebagai Haji “mahiwal” atau kontroversial penganut wahdatul wujud,” tulis Hawe Setiawan.

Wahdatul wujud merupakan istilah kontroversial di antara kaum muslimin. Bagi sebagian mereka wahdatul wujud pada khususnya, dan tasawuf pada umumnya, adalah bentuk penyimpangan dari ajaran Islam yang murni.

Beberapa penganut agama Islam menolak wahdatul wujud. Mereka menganggapnya sebagian sesuatu yang berbahaya bagi umat Islam, khususnya mereka yang awam. Akan tetapi, bagi yang lain wahdatul wujud adalah hasil tertinggi dari pengalaman mistik dalam Islam yang dalam beberapa hadist Nabi SAW disebut dengan istilah ihsan.

Syekh Haji Hasan Mustapa, Ulama Nyleneh

Ulama Nyeleneh

Dalam buku Haji Hasan Mustapa jeung Karya-karyana karya budayawan Ajip Rosidi, Haji Hasan Mustapa digambarkan amat terkenal sebagai ulama mahiwal (kontroversial/nyeleneh). Sebabnya karena beberapa sikapnya dianggap tidak lazim oleh masyarakat pada saat itu.

Haji Hasan Mustapa, dipandang sebagai ulama yang kerap berdakwah menggunakan cara yang aneh sekaligus menggelikan (lucu). Dituliskan Ajip,oleh para pengagumnya, Haji Hasan Mustapa dipandang memiliki kemampuan untuk cepat menjawab pertanyaan orang lain. Dia dapat mematahkan pendapat-pendapat orang lain secara mudah, serta membalikkan pertanyaan yang sulit untuk dijawab.

Misalnya, ketika saat seseorang datang kepadanya menanyakan rupa Allah dengan kalimat “Allah itu seperti siapa?”, dengan tanggap Haji Hasan Mustapa membalikkan pertanyaan tersebut.

“Kamu sudah pernah melihat Kanjeng (Dalem Bupati)?,” tanya Haji Hasan Mustapa disusul oleh jawaban orang tersebut dengan kata “Iya”.

“Sudah pernah melihat Kanjeng Tuan Besar?,” tanyanya kembali. Orang yang sama kembali mengiyakan.

“Nah, (Allah) sedikit dari itu (Kanjeng Tuan Besar),” jawabnya, membuat orang tersebut mengerenyitkan dahinya.

Dituliskan oleh Ajip Rosidi, sekilas jawaban Haji Hasan Mustapa seperti merendahkan Allah karena membandingkan dengan manusia, bahkan ia menyebut “sedikit dari itu”. Namun, jika dilihat secara dalam, nyatanya Haji Hasan Mustapa hanya menyesuaikan alam pikiran orang yang bertanya, yang mempunyai anggapan bahwa Allah bisa diperkirakan wajahnya.

Contoh yang lain, dipaparkan oleh Ajip Rosidi adalah kisah Haji Hasan Mustapa dengan Opas Kabupaten. Ketika ia didatangi oleh Opas kabupaten yang diperintahkan oleh Kanjeng Dalem untuk menanyakan jumlah setan, Haji Hasan Mustapa mudah saja menjawabnya.

“Ada dua,” jawab Haji Hasan Mustapa saat itu.

Mendengar jawaban tersebut, Opas itu kemudian pergi. Akan tetapi, tak lama berselang Opas itu kembali datang dengan membawa pertanyaan baru. “Yang dua itu, mana?” tanyanya.

“Pertama, setan Kanjeng Dalem. Kedua, setan opas,” tegas Haji Hasan Mustapa.

Bagi Haji Hasan Mustapa saat itu, mengatakan Kanjeng Dalem sebagai setan merupakan hal yang wajar. Jadi ia tidak pernah takut. Apalagi Haji Hasan Mustapa berkata demikian karena Opas yang bolak-balik bertanya tersebut datang ketika dia ingin melaksanakan shalat.

____________

Source: Dihimpun dari berbagai sumber

About admin

Check Also

Bashîrah; Alat Melihat Hakikat Allah Ta’ala

“Bila masih banyak kebingungan menghadapi berbagai masalah di dunia ini, apakah sebagai pertanda bahwa bashîrah ...