Home / Agama / Kajian / Syaikh Abdul Wahab Rokan; Seorang Sufi yang Faqih

Syaikh Abdul Wahab Rokan; Seorang Sufi yang Faqih

“Jika saya dipandang sebagai seorang yang banyak jasa, maka sampaikanlah amanah saya kepada Ratu Belanda supaya ia masuk Islam.” (Syaikh Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi An-Naqsyabandi)

Oleh: Aulia Rahman

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillãhirrahmãnirrahîm
Wash-shalãtu was-salãmu ‘alã Muhammadin wa ãlihî ma’at taslîmi wa bihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘ãmmati wal-hidãyatit tãmmah, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn”.

Biografi dan Nasab Tuan Guru Syaikh Abdul Wahab Rokan

Nama lengkap Syaikh Abdul Wahab Rokan adalah Syaikh Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi An-Naqsyabandi, terkenal dengan sebutan Tuan Guru Besilam Babussalam. Memiliki gelar Faqih Muhammad dan Abu Qosim nama kecilnya. Ayahnya bernama Abdul Manaf bin M. Yasin bin Maulana Tuanku Haji Abdullah Tambusai yang merupakan keturunan dari Raja-raja Siak. Wafatnya Haji Abdullah Tambusai meninggalkan anak dan cucu berjumlah 670 orang. Salah seorang putranya beliau bernama Muhammad Yasin yang menikah dengan seorang wanita dari Suku Batu Hampar. Dari hasil pernikahan kedua sepasang suami istri ini melahirkan anak laki-laki yang bernama Abdul Manaf, yaitu ayah kandung Syaikh Abdul Wahab Rokan. Sedangkan ibunya bernama Arba’iah binti Datuk binti Tengku Perdana Menteri bin Sultan Ibrahim, kepenuhan (Riau) dan masih mempunyai pertalian darah dengan Sultan Langkat.

Syaikh Abdul Wahab Rokan di lahirkan pada tanggal 19 Rabi’ul Akhir 1230 H. Bertepatan dengan 28 September 1811 M. Lahir di Kampung Danau Runda, Rantau Binuang Sakti. Sekarang daerah ini menjadi Negeri Tinggi, Rokan Tengah, Kab. Rokan Hulu, Provinsi Riau. Syaikh Abdul Wahab Rokan tumbuh di lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Kakeknya, Haji Abdullah Tambusai dikenal sebagai seorang ulama besar dari golongan raja-raja yang sangat berpengaruh dan disegani pada masanya.

Dari nasab tersebut, Syaikh Abdul Wahab Rokan sejak kecil terdidik dalam pelajaran agama. Demi menghafal Al-Qur’an, Syaikh Abdul Wahab Rokan sering bermalam di rumah gurunya. Beliau pun patuh pada gurunya, bahkan kerap mencucikan pakaian orang yang mendidiknya itu. Karomah telah tampak sejak Syaikh Abdul Wahab masih belia. Suatu ketika, saat orang terlelap pada dini hari, Abdul Wahab masih menekuni Al-Qur’an. Tiba-tiba muncullah orang tua mengajarinya membaca Al-Qur’an. Setelah khatam Al-Qur’an, orang tua itu pun menghilang.

Pendidikan Tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan

Selain pendidikan dari lingkungan keluarga, Syaikh Abdul Wahhab Rokan berguru kepada Tuan Guru Haji Abdul Halim di Tambusai. Pada periode 1846-1848, beliau merantau ke Semenanjung Malaya dan pernah tinggal di Johor dan Malaka. Dalam tempo kurang lebih dua tahun beliau mendapatkan kesempatan mengajar dan belajar. Di antara gurunya ketika berada di Malaya adalah Tuan Guru Syaikh Muhammad Yusuf, seorang ulama yang berasal dari Minangkabau.

Masih dalam tahun 1848 itu juga, beliau meneruskan perjalanan menuju ke Makkah dan belajar di sana hingga tahun 1854 M. Di antara gurunya sewaktu di Makkah adalah Syaikh Muhammad Yunus bin Syaikh Abdur Rahman Batu Bara (Asahan). Dalam pelajaran tasawuf dan Thariqat Naqsyabandiyah, Syaikh Abdul Wahab Rokan dididik oleh seorang ulama besar yang cukup terkenal dalam silsilah Thariqat Naqsyabandiyah yaitu Syaikh Sulaiman Zuhdi di Jabal Abi Qubis, Makkah.

Guru-guru Syekh Abdul Wahab ketika belajar di Makkah:

  1. Syekh Saidi Syarif Dahlan (Mufti mazhab Syafi’i)
  2. Syekh Hasbullah (ulama Indonesia yang mengajar di Masjidil Haram)
  3. Syekh Muhammad Yunus Abdurrahman Batu Bara (ulama Indonesia asal tanah Batak)
  4. Syekh Sulaiman Zuhdi di Jabal Abu Qubais, Makkah

Syekh Sulaiman Zuhdi inilah yang kemudian memberi ijazah (pegesahan) dan membaiat Syekh Abdul Wahab untuk mengamalkan dan menyiarkan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di tanah kelahirannya. Syekh Sulaiman Zuhdi pula yang memberikan gelar Al-Khalidi An-Naqsyabandi di belakang nama Abdul Wahab Rokan.

Tuan Guru Syaikh Abdul Wahhab Rokan kembali ke tanah air dalam tahun 1854 dan langsung mengajar di Tanjung Masjid Kecamatan Kubu, Bagan Siapiapi, Riau. Kemudian pada tahun 1856, beliau mengajar  di Sungai Masjid di daerah Dumai, Provinsi Riau. Tahun 1860 mengajar di Kualuh Kabupaten Labuhan Batu. Tahun 1865 mengajar di Tanjung Pura Kabupaten Langkat. Kemudian pada tahun 1883 beliau pindah ke Babusalam Langkat. Di Babusalam inilah menjadi pusat seluruh aktifitas pengajaran dan zikir dalam berdakwah membina umat.

Silsilah Tarekat

Silsilah Tarekat Naqsyabandiah yang sampai kepada Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi Naqsyabandi 1811-1926 menurut H. Ahmad Fuad Said dalam tulisannya sejarah Syekh Abdul Wahab Tuan Guru Babussalam, adalah sebagai berikut:

1. Sayyidina Nabi Muhammad SAW
2. Sayyid Abu Bakar Siddiq RA
3. Sayyid Salman al-Farisi RA
4. Sayyid Imam Qasim bin Muhammad RA
5. Sayyid Imam Ja’far Shadiq
6. Sayyid Syekh Abu Yazid Thaifur bin Isa bin
7. Sayyid Syekh Adam Bin Sarusyan Al-Busthami
8. Syekh Abu Hasan Ali bin Ja’far Al-Kharqani
9. Syekh Abu Ali Al-Fadhal bin Muhammad Al-Thusi Al-Farmadi
10. Syekh Abu Ya’kub Yusuf Al-Hamdani bin Aiyub bin Yusuf bin Husin
11. Syekh Abdul Khaliq Al-Fajduwani bin Al-Imam Adul Jamil
12. Syekh Arif Al-Riyukuri
13. Syekh Mahmud Al-Anjiru al-Faghnawi
14. Syekh Ali Al-Ramitani, terkenal dengan Syekh Azizan
15. Syekh Muhammad Baba As-Samasi
16. Syekh Sayyid Amir Kulali bin Sayyid Hamzah
17. Syekh Sayyid Bahauddin an-Naqsyabandi al-Uwaisi
18. Syekh Muhammad ‘Alauddin al-‘Atthar al-Khawarizumi al-Bukhari
19. Syekh Maulana Ya’kub al-Jarkhi Hishari
20. Syekh Ubaidullah al-Ahrar as-Samarqandiy
21. Syekh Maulana Muhammad Zahid
22. Syekh Muhammad Darwisas-Samarqandiy
23. Syekh Muhammad al-Khawajaki al-Amkaniy
24. Syekh Muhammad al-Baqi Billah
25. Syekh Ahmad al-Faruqi as-Sirhindiy
26. Syekh Muhammad Ma’shum al-‘Urwatil Wutsqa
27. Syekh Abdullah Hindi
28. Syekh Dhiyaul Haqqi
29. Syekh Ismail Jamil Minangkabawi
30. Syekh Abdullah Afandi
31. Syekh Sulaiman al-Qarimy
32. Syekh Sulaiman az-Zuhdi
33. Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi Naqsyabandi

Masjid dan Madrasah tempat Syekh Abdul Wahab mensyiarkan Islam

Perkampungan Besilam Babussalam Langkat

Pada tanggal 12 Syawal 1300 H/ 12 Agustus 1883, Syaikh Abdul Wahab Rokan bersama 160 orang murid dan keluarganya mengarungi sungai Batang Serangan menggunakan 13 buah perahu. Sungai Batang Serangan adalah sungai yang melintasi wilayah Kecamatan Batang Serangan, Padang Tualang dan Tanjung Pura di Langkat. Kemudian Tuan Guru Syaikh Abdul Wahab Rokan berlabuh di sebuah area yang terletak 6 KM dari kota Tanjung Pura, yang selanjutnya dijadikan kampung Babusalam sebagai kampung rohani dengan aturan dan hukum-hukum tersendiri, terlepas dari intervensi Kesultanan Langkat dan Belanda saat itu. Orang setempat menyebut kampung Babusalam dengan Besilam, sehingga sampai sekarang kampung itu disebut juga kampung Besilam.

Kegiatan kampung Besilam Babusalam cukup beragam. Pendidikan keislaman dilakukan setiap hari. Shalat berjamaah, tilawah Qur’an, shalawat puji-pujian serta amalan dzikir menurut kaedah tahriqat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Semua kegiatan ini dikerjakan atas bimbingan Tuan Guru Babusalam beserta Khalifah-khalifah Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Khalifah-khalifah ini adalah murid yang ditunjuk untuk membantu aktifitas beliau.

Babusalam menurut bahasa Arab artinya “Pintu Kesejahteraan.” Babusalam saat ini menjadi lokasi wisata religius dan bangunannya dijadikan cadar budaya. Di kampung Babusalam ini terdapat makam Tuan Guru Syaikh Abdul Wahab Rokan dan anggota keluarganya yang terletak di samping Masjid Babusalam.

Tuan Guru yang Menjabat di Babussalam

Di perkampungan Babussalam saat ini terdapat dua tuan guru yang menjabat sebagai pimpinan mursyid. Kedua tuan guru ini memiliki tempat persulukan yang berbeda lokasi di Babussalam. Keduanya memiliki hubungan yang erat karena masih satu garis keturunan dari Tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan. Hal ini terjadi karena adanya perselisihan antara Syekh Muhammad Daud dan Syekh Pakih Tambah tentang kepemimpinan Babussalam pada tahun 1948. Sejak saat itu di Babussalam terdapat dua tempat persulukan yang dikenal dengan Besilam Atas dan Besilam Bawah.

Besilam Atas atau yang menempati madrasah besar saat ini dipimpin oleh Syekh Hasyim Al-Syarwani dan Besilam Bawah dipimpin oleh Syekh H. Tajuddin bin Muhammad Daud.

Besilam Atas:

  • Tuan Guru I : Syekh Abdul Wahab Rokan Al Kholidi Naqsyabandy Menjabat dari tahun 1300-1345 H atau 1880-1926 M.
  • Tuan Guru II : Syekh Yahya Afandi Menjabat dari tahun 1345-1351 H atau 1926-1932 M.
  • Tuan Guru III : Syekh Abdul Manaf Menjabat dari tahun 1351-1354 H atau 1932-1935 M.
  • Tuan Guru IV : Syekh Abdul Jabbar Menjabat dari tahun 1354-1360 H atau 1935-1942 M.
  • Tuan Guru V : Syekh Muhammad Daud Menjabat 1360-1361 H atau 1942-1943 M Universitas Sumatera Utara.
  • Tuan Guru VI : Syekh Fakih Tambah Menjabat dari tahun 1361-1392 H atau 1943-1972 M.
  • Tuan Guru VII : Syekh Abdul Mu’im Menjabat dari tahun 1392-1401 H atau 1972-1981 M.
  • Tuan Guru VIII : Syekh Maddayan Menjabat dari tahun 1401-1406 H atau 1981-1986 M.
  • Tuan Guru IX : Syekh Pakih Sufi Menjabat daritahun 1406-1407 H atau 1986-1987 M.
  • Tuan Guru X : Syekh Anas Mudawar Menjabat dari tahun 1407-1418 H atau 1987-1997 M.
  • Tuan Guru XI : Syekh Hasyim Al-Syarwani Menjabat dari tahun 1418 H atau 1997 M sampai dengan sekarang

Besilam Bawah:

  • Tuan Guru I : Syekh Abdul Wahab Rokan Al Kholidi Naqsyabandy Menjabat dari tahun 1300-1345 H atau 1880-1926 M.
  • Tuan Guru II : Syekh Muhammad Daud Menjabat dari tahun 1366-1392 H atau 1948-1972 M.
  • Tuan Guru III : Syekh H Tajuddin Menjabat dari tahun 1392 atau 1872 sampai sekarang.

Perjuangan dan Karomah Tuan Guru Syaikh Abdul Wahab Rokan

Walaupun Tuan Guru Syaikh Abdul Wahab Rokan bukan sosok yang terkenal dalam pergerakan melawan penjajahan Belanda, tapi beliau aktif dalam mengarahkan strategi perjuangan non fisik sebagai upaya melawan kolonialisme Belanda. Beliau pernah mengirim utusan ke Jawa untuk bertemu H.O.S Tjokroaminoto dan mendirikan cabang organisasi Syarikat Islam di Kampung Babusalam di bawah pimpinan Haji Idris Kelantan. Syaikh Abdul Wahab Rokan diangkat sebagai penasihat.

Pada tahun 1923, asisten Residen Belanda bersama Sultan Langkat memberikan Bintang Emas untuk Tuan Guru Syaikh Abdul Wahab Rokan. Wakil Pemerintah Belanda itu kemudian berpidato bahwa Tuan Guru adalah seorang yang banyak jasanya dalam mengajar agama Islam dan mempunyai murid yang tersebar di Sumatra dan Semenanjung Malaya. Oleh sebab itu Kerajaan Belanda menghadiahkan sebuah Bintang Emas kepada Tuan Guru. Sebagai seorang sufi, hadiah ini bukan suatu kebanggaan. Bisa jadi ada maksud-maksud tertentu dari penjajah Belanda untuk memperalat Tuan Guru Babusalam untuk melegitimasi penjajahan mereka. Oleh karena itu, dengan tegas beliau langsung berkata, “Jika saya dipandang sebagai seorang yang banyak jasa, maka sampaikanlah amanah saya kepada Ratu Belanda supaya ia masuk Islam.

Beliau pernah juga ikut terlibat langsung dalam peperangan melawan Belanda di Aceh pada tahun 1308 H. Menurut kesaksian dari pihak Belanda yang pada saat itu sempat mengambil fotonya, Tuan Guru Syaikh Abdul Wahab Rokan mampu terbang, menyerang dengan gagah dan tidak dapat ditembak dengan senapan atau meriam.

Sebagai seorang yang banyak muridnya, Tuan Guru Syaikh Abdul Wahab Rokan sangat dikeramatkan oleh masyarakat Langkat. Sejumlah cerita tentang karomah beliau yang terkenal di kalangan masyarakat di antaranya, bahwa pada suatu saat pihak Belanda merasa curiga karena Tuan Guru Syaikh Abdul Wahab Rokan dan Kampung Babusalam tidak pernah kekurangan uang. Kemudian pihak Belanda menuduh beliau telah membuat uang palsu. Tuan Guru sangat merasa tersinggung sehingga langsung meninggalkan kampung Babusalam dan pindah ke Sumujung, Malaysia sembari mengembangkan Thariqat Naqsyabandiyah di sana.

Konon selama kepergian Tuan Guru, sumur-sumur minyak perusahaan milik Belanda, BPM (Batavsche Petrolium Matschapij) di Langkat menjadi kering. Penghasilan nelayan seperti ikan, udang dan kepiting di laut sekitar Langkat juga menghilang, sehingga menimbulkan kecemasan para penguasa Langkat. Akhirnya beliau dijemput dan dimohon untuk menetap kembali di Kampung Babusalam. Setelah itu sumur minyak pun mengalir kembali dan penghasilan nelayan di laut bertambah banyak.

Amalan dan Ibadah Tuan Guru Syaikh Abdul Wahab Rokan

Ibadah utama yang dilakukan beliau adalah shalat berjamaah setiap waktunya, rutin membaca Al-Qur’an, suluk secara terus menerus, wirid-wirid lainnya seperti membaca Yasin setiap malam jum’at, ratib setiap malam selasa, pembacaan maulid barzanji setiap tanggal 12 bulan Rabi’ul Awal, mengajar Kitab Rubu’ (Tasawuf) setiap malam antara waktu shalat maghrib dan isya.

Kebiasaan hidup beliau adalah menyukai berpakaian serba putih, hanya terkadang diselingi warna hijau. Gaya berpakaiannya sangat rapi terutama waktu mengerjakan shalat. Kedisipilinan adalah utama bagi beliau. Dalam melaksanakan sesuatu juga telah diatur sedemikian rupa hingga waktu makan pun diatur. Ketika masuk waktu sembahyang, setengah jam sebelumnya, kentong besar yang terletak dalam menara akan diketuk. Ketika shalat jum’at, satu jam sebelumnya akan diketuk kentong tersebut.

Pada tahun 1902 dibangunlah sebuah masjid dan madrasah baru sebagai pengganti bangunan lama. Madrasah dan masjid bertingkat tiga dengan dilengkapi menara di puncaknya. Untuk sampai ke menara, orang harus melalui enam tangga. Inilah bangunan yang hingga kini di pergunakan untuk tempat sembahyang tawajjuh. Di samping madrasah ini dibangun pula sebuah rumah tempat kediaman beliau yang disatukan oleh jembatan, satu untuk pihak laki-laki dan satu lagi untuk pihak perempuan.

Karya dan Karangan Tuan Guru Syaikh Abdul Wahab Rokan

Beberapa karya beliau yang terkenal sampai sekarang diantaranya:

  1. Merupakan kumpulan puji-pujian dan beberapa doa kepada Allah SWT.
  2. Syair Burung Garuda. Merupakan syair yang berisi nasehat pendidikan dan bimbingan untuk remaja. Sayangnya, syair ini hilang dan tidak ditemukan lagi.
  3. Wasiat 41. Merupakan pelajaran tentang akhlak dan adab salik terhadap mursyid, adab murid terhadap guru. Adapun wasiat ini berjumlah 41 sehingga dikenal dengan nama wasiat 41. Di antara sebagian petikan wasiat 41 Tuan Syaikh Abdul Wahab Rokan adalah sebagai berikut:

Wasiat Pertama

Hendaklah kamu sekalian masyghul dengan menuntut ilmu Qur’an dan kitab kepada guru yang mursyid. Dan hinakan diri kamu kepada guru kamu dan perbuat apa-apa yang disuruhnya. Jangan bertangguh. Dan banyak-banyak bersedekah kepadanya. Dan seolah-olah diri kamu itu hambanya. Dan jika sudah dapat ilmu itu maka hendaklah kamu ajarkan kepada anak cucu, kemudian kepada orang lain. Dan kasih sayangmu kepada muridmu seperti kasih sayang akan cucu kamu. Dan jangan kamu minta upah dan makan gaji sebab mengajar itu, tetapi minta upah dan gaji itu kepada Tuhan Esa lagi Kaya Murah, yaitu Allah Ta’ala.

Wasiat Kedua

Apabila kamu sudah baligh hendaklah menerima Thariqat Naqsyabandiah supaya sejalan kamu dengan aku.”

Wasiat Ketiga

“Jangan kamu berniaga -maksudnya jika terdapat penipuan atau riba. Jika hendak mencari nafkah hendaklah dengan tulang empat kerat seperti berhuma dan berladang dan menjadi amil. Dan di dalam mencari nafkah itu hendaklah bersedehkah tiap-tiap hari supaya segera dapat nafkah. Dan jika dapat Ringgit sepuluh, maka hendaklah sedekahkan satu dan taruh sembilan. Dan jika dapat dua puluh, sedekahkan dua. Dan jika dapat seratus, sedekahkan sepuluh dan taruh sembilan puluh. Apabila cukup nafkah kira-kira setahun maka hendaklah berhenti mencari itu dan duduk beramal ibadat hingga tinggal nafkah kira-kira empat puluh maka boleh mencari.

Wasiat Keempat

”Maka hendaklah kamu bersedekah sebilang hari istimewa pada malam jum’at dan harinya. Dan sekurang kurang sedekah itu empat puluh duit pada tiap-tiap hari. Dan lagi hendaklah bersedekah ke Mekah pada tiap-tiap tahun.”

Wasiat Kelima

Jangan kamu bersahabat dengan orang yang jahil dan orang fasik. Dan jangan bersahabat dengan orang kaya yang bakhil. Tetapi bersahabatlah kamu dengan orang yang alim-alim dan ulama-ulama dan salih-salih.”

Wasiat Keenam

”Jangan kamu hendak kemegahan dunia dan kebesarannya seperti hendak menjadi khadi, imam dan lain lainnya istimewa pula hendak jadi penghulu-penghulu dan lagi jangan hendak menuntut harta benda banyak-banyak. Dan jangan dibanyakan memakai pakaian yang halus.”

Murid dan Penerus Dakwah Tuan Guru Syaikh Abdul Wahab Rokan

Murid Syaikh Abdul Wahab Rokan sangat banyak yang tersebar di wilayah Asia Tenggara, Singapura, Thailand, Malaysia, Timor Leste dan lain sebagainya. Di antara muridnya yang dianggap mursyid dan khalifah yang sangat giat menyebarkan Thariqat Naqsyabandiah Khalidiah di Batu Pahat, Johor ialah Syaikh Umar Bin Haji Muhammad al-Khalidi. Muridnya yang lain adalah Syaikh Muhammad Nur Sumatera. Muridnya Syaikh Muhammad Nur Sumatera adalah Haji Yahya Laksamana al-Khalidi an-Naqsyabandi, Rambah, Sumatera. Beliau ini adalah penyusun buku berjudul Risalah Thariqat Naqsyabandiah: Jalan Ma’rifah, cetakan pertama tahun 1976 di Malaysia, diterbitkan oleh pengarangnya sendiri.  Murid lain yang terkenal adalah:

  1. Tuan Guru H. Yahya sebagai Tuan Guru ke-2 di Babusalam tahun 1926-1929
  2. Tuan Guru H. Abd. Jabbar sebagai Tuan Guru ke-3 tahun 1929-1943
  3. Tuan Guru Fakih Tambah 1943- 1972
  4. Syaikh M. Daud
  5. Syaikh Rajab Marbau Rantau Prapat
  6. Syaikh Umar Pahang Malaysia
  7. Tuan Guru H. Muim al Wahab
  8. Syaikh Ibrahim Dalimunthe Gunung Selamat Rantau Prapat
  9. Syaikh Ma’arif Kota Pinang

Adapun pemegang tampuk kepemimpinan Thariqat Naqsyabandiyah Babussalam Langkat Sumatera Utara saat ini adalah Tuan Guru Syaikh DR. Zikmal Fuad, MA (2020) yang sebelumnya menggantikan posisi Syaikh H. Irfansyah Al Rokany. Tuan Guru Syaikh DR. Zikmal Fuad, MA merupakan Tuan Guru Babussalam yang ke-12 sejak Tuan Guru Pertama yaitu Syaikh Abdul Wahab Rokan.

Kompleks Pemakaman Syekh Abdul Wahab Rokan

Haul Tuan Guru Syaikh Abdul Wahab Rokan

Pada tanggal 21 Jumadal Ula 1345 Hijriyah bertepatan pada tanggal 27 Desember 1926 beliau allah yarhamuh berpulang kehadirat Allah SWT. Oleh para zuriat dan murid-muridnya, setiap tanggal 21 Jumadal Ula ditetapkan sebagai Haul Tuan Guru Syaikh Abdul Wahab Rokan yang diadakan setiap tahun. Masyarakat Langkat pada umumnya menyebut acara haul ini dengan kata “Hul”. Acara haul ini diadakan selama tiga hari tiga malam berturut-turut dengan diisi berbagai kegiatan keagamaan seperti pembacaan tahlil bagi kaum bapak, khatam Al-Qur’an bagi kaum ibu, ratib, diakhiri dengan pembacaan maulid Nabi Muhammad SAW sampai tengah malam. Acara haul ditutup dengan diadakannya kenduri dan jamuan umum pada hari ketiga atau terakhir. Pada acara ini biasanya peziarah akan dibagikan nasi berkat yang akan dimakan dan dibawa oleh peziarah pulang ke kampung halaman.

Sampai saat ini haul Tuan Guru Syaikh Abdul Wahab Rokan masih dilaksanakan dengan antusiasme para peziarah yang sangat banyak berdatangan dari berbagai wilayah di Provinsi Sumatra Utara maupun dari luar Provinsi Sumatra Utara, Riau bahkan dari luar negeri. Kegiatan haul ini juga dihadiri oleh pejabat daerah dan tokoh nasional hingga presiden dan wakil presiden Indonesia. Tamu-tamu yang hadir adalah murid-murid Tuan Guru Babusalam. Adapun motivasi para peziarah adalah untuk mengambil berkah di Babusalam, sekaligus untuk mengenang perjuangan dakwah Tuan Guru Syaikh Abdul Wahab Rokan dalam mengembangkan ajaran Islam dan Thariqat Naqsyabandiyah. Kegiatan haul ini biasanya dihadiri sekitar 20.000 orang.

____________

Source: Ulama Nusantara Center

About admin

Check Also

Meneladani Ulama Salaf di Malam-malam Terakhir Bulan Ramadhan

“Beberapa ulama salaf menyendiri dalam rumahnya, berkhalwat dengan Rabb-Nya, hingga seseorang bertanya padanya: ‘tidakkah engkau ...