Friday , August 6 2021
Home / Ensiklopedia / Analisis / Sri Baduga Maharaja: Sahabat Nabi Muhammad dari Nusantara?

Sri Baduga Maharaja: Sahabat Nabi Muhammad dari Nusantara?

Adakah Sahabat Nabi Muhammad dari Nusantara?

Konsepsi ilmu hadis konvensional menyebut sahabat adalah orang yang hidup sezaman dan melihat Nabi Saw. Logika sederhananya mereka orang-orang yang hidup di jazirah Arab dan sekitarnya yang arena kedekatan geografis memungkinkan mereka melihat, bertemu, dan berinteraksi dengan Nabi Saw.

Namun demikian kitab-kitab biografi sahabat memuat satu nama sahabat Nabi Saw yang bukan berasal dari bangsa Arab. Bila benar demikian karena itu perlu investigasi mendalam. Keberadaannya tidak saja memberi oksigen baru bagi kita dalam ikhtiar pemaknaan baru bagi konsep keilmuan tradisional Islam yang menjadi concern kajian kita selama ini. Bahkan dapat mendekonstruksi tidak hanya bangunan epistemologi ilmu keislaman klasik, khususnya ilmu kalam dan ilmu hadits, juga bangunan epistemologi ilmu humaniora Barat.

Satu nama tersebut ditulis dengan sebutan Sri Baduga Malik al-Hind (سرباتك مالك الهند). Termuat dalam kitab Usd al-Ghabah fi Ma’rifah al-Shahabah karya Ibn al-Atsir, biografi no. 1958, kitab Lisan al-Mizan karya karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani, jilid  4, hal. 19, biografi no. 3359 dan kitab Bihar al-Anwar al-Jamiah li Durari Akhbar al-Aimmah al-Athhar karya Muhammad Baqir al-Majlisi, jilid 14, hal. 520, bab Ahwal Muluk al-Ardh (berita para raja di dunia).

Al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak jilid 4, hal. 241, meski tidak mencatat biografi Malik al-Hind sebagaimana kitab yang lain, ia melaporkan sebagian hadiah yang diberikan kepada Nabi Saw yang berupa tembikar (jarrah) dan jahe (zanjabil) sebagai obat segala penyakit waktu itu (dawaaun likulli daain).

Pertanyaannya, siapakah dia, si Malik al-Hind itu? Kata kuncinya ada pada makna al-Hind dalam konsepsi para penulis Arab zaman dulu, bukan zaman sekarang atau pasca kolonialisasi bangsa Eropa.

Pasca imperialisme Eropa, kata Bilad al-Hind diartikan sebagai Negara India, atau negara-negara yang berada di anak benua India sana. Akan tetapi sebelum itu, kata Bilad al-Hind selain dipakai untuk menunjukkan wilayah yang dikelilingi samudra Hindia dan dilalui garis katulistiwa yang berpusat di Nusantara sekarang. Dan juga dipakai untuk menyebut wilayah kepulauan di daerah Indo-China dan pasifik.

Ingat sebutan negara Hindia-Belanda saat negara Indonesia di bawah penjajahan belanda dulu, kan?  Dengan demikian apakah Sri Baduga Malik al-Hind yang disebut dalam referensi di atas adalah seorang Maharaja dari Nusantara? Pertanyaan selanjutnya, apakah ini gelar bagi seorang raja atau nama seorang raja?

Di sinilah letak urgensi pemakaian metode abduktif dengan the logic of discovery dalam ilmu hadits revisionis juga ilmu keislaman yang lain.

Ini juga yang saya maksud kita harus menemukan sesuatu yang baru dalam mendekati Islamic Studies yang kita warisi dari khazanah klasik. Dalam konteks keindonesiaan hal ini penting selain untuk menampilkan dan mempromosikan wajah Islam Nusantara yang distingtif dengan model Islam-Islam (wilayah) lainnya, juga untuk melacak geneologi Islam with smiling face yang melekat pada wajah Islam Nusantara kita.

Sebelum ke sana. Kita perlu membaca lebih dulu informasi awal tentang Malik al-Hind yang direkam dalam referensi yang saya sebut di atas. Kita mulai dari yang tertua, kitab Usd al-Ghaabah:

(س * سرباتك) الهندي روى مكي بن أحمد البردعي عن إسحاق بن إبراهيم الطوسي قال حدثني وهو ابن سبع وتسعين سنة قال رأيت سرباتك ملك الهند في بلدة تسمى قنوج فقلت له كم أتى عليك من السنين قال تسعمائة سنة وخمس وعشرون سنة وهو مسلم وزعم أن النبي صلى الله عليه وسلم أنفذ إليه عشرة من أصحابه فمنهم حذيفة بن اليمان وعمرو بن العاص وأسامة بن زيد وأبو موسى الأشعري وصهيب وسفينة وغيرهم يدعوه إلى الاسلام فأجاب وأسلم وقبل كتاب النبي صلى الله عليه وسلم أخرجه أبو موسى وبحق ما تركه ابن منده وغيره فان تركه أولى من اثباته ولولا شرطنا إننا لا نخل بترجمة ذكروها أو أحدهم لتركنا هذه وأمثالها ۞

“Makki bin Ahmad al-Barda’i meriwayatkan dari Ishaq bin Ibrahim al-Thusi, ia berkata: haddatsani—saat itu berumur 97 tahun, ia berkata: Aku melihat Sri Baduga, Malik al-Hind, di sebuah negeri bernama Qannuh. Aku bertanya kepadanya: Berapa umur Baginda? Ia menjawab: 925 tahun. Ia seorang Muslim. Menurutnya, Nabi Saw mengutus 10 sahabatnya di antaranya Hudzaifah bin Yaman, ‘Amr bin Ash, Usamah bin Zaid, Abu Musa al-Asy’ari, Shuhaib, Safinah dan lain-lain untuk mengajaknya masuk Islam. Ia (Sri Baduga) menerima dan masuk Islam. Ia pun menerima surat Nabi. Riwayat ini dibawakan oleh Abu Musa. Diabaikan oleh Abu Mandah dan yang lainnya. Mengabaikannya lebih utama daripada membuktikannya. Sekiranya kami tidak mensyaratkan untuk menyebut semua biografi yang telah mereka sebut,  atau salah satunya. Niscaya nama ini atau nama lainnya akan kami abaikan”

(Kutipan selesai)

Sampai di sini informasi yang kita terima dari Ibn al-Atsir. Yang menarik dari informasi tersebut adalah umur Sang Raja yang sangat panjang (925 tahun). Sepertinya sulit dinalar, bukan?  Akan tetapi dengan perspektif yang lebih luas dan bukan sekedar hitung-hitungan angka semata, informasi seperti ini bisa menjadi pembuka jalan bagi rasionalisasi adanya seseorang yang dapat berumur panjang sampai ribuan tahun lamanya setelah sebelumnya informasi tentang umur Salman al-Farisi yang mencapai sekitar 350 tahun.

Dalam tradisi ajaran Ibrahimi yang bersifat teosentris panjangnya umur Salman menjadi penghubung bagi the missing link antara Nabi Isa as dan Nabi Muhammad Saw. Ditengarai Salman pernah berjumpa dengan para murid setia Jesus, al-khawariyyun, yang menubuwatkan kedatangan Nabi Muhammad Saw dan murid setianya, Imam ‘Ali as.

Inilah mengapa Salman bertanya kepada Nabi dalam riwayat yang terkenal: man washiyyuka? Dan dijawab Nabi Saw dengan jawaban yang tegas dan jelas yang tidak ada takwil lain selain yang tersurat.

Bila Salman menjadi penghubung the missing link dalam tradisi Nabi Ibrahim as yang bersifat teosentris yang berpusat di tanah Arab sana.

Apakah tidak mungkin bila Sri Baduga Malik al-Hind juga hadir sebagai penyambung the missing link antara agama abrahamik Timur Tengah yang teosentris dengan agama masyarakat Timur Jauh (Nusantara) yang antroposentris?

Kata Qannuh juga perlu kita telusuri ke dalam kitab Mu’jam al-Buldan dan yang lainnya. Tampaknya semua informasi terkait akan mengarah pada wilayah yang dilalui oleh garis khatulistiwa. Bukankah itu wilayah Nusantara kita?

Tidak kalah menarik adalah komentar Ibn al-Atsir yang mengatakan sebenarnya nama ini tidak mau ia cantumkan dalam karyanya ini. Tapi karena nama ini muncul dalam perbincangan para ulama sebelumnya, akhirnya ia terpaksa menyebut dengan komentar seperti di atas.

Kata-kata Ibnu al-Atsir ini menunjukkan ashobiyah (sebagian) bangsa Arab yang ingin memonopoli dan menutup-nutupi peran bangsa lain dalam hal beragama. Karena dalam riwayat lain yang tidak ia sebut menunjukkan peran besar Malik al-Hind dalam membantu tersiarnya ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia.

Sekarang kita coba lihat informasi tentang Sri Baduga dalam kitab Lisan al-Mizan karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani, biografi no. 3359:

(سرباتك) الهندي بفتح السين المهملة وسكون الراء بعدها موحدة وبعد الألف مثناة مفتوحة فوقانية ثم كاف * وذكره أبو موسى المديني في ذيل معرفة الصحابة * واخرج من طريق بشر بن أحمد الأسفرايني صاحب يحيي بن يحيى النيسابوري ان بشرا قال سمعت مكي بن أحمد البردعي يقول سمعت إسحاق بن إبراهيم الطوسي وقد بلغ سنه سبعا وخمس مائة يقول رأيت سرباتك ملك الهند فقلت لكم أتى لك قال تسع مائة وخمس وعشرون سنة وذكر ان النبي صلى الله عليه وآله انفذ إليه حذيفة بن اليمان وأسامة بن زيد وسفينة وصهيبا وأبا موسى الأشعري يدعونه إلى الاسلام فأسلم وقبل كتاب النبي صلى الله عليه وآله * قال الذهبي في التجريد هذا كذب واضح ولم يذكره في الميزان * وقال ابن الأثير في أسد الغابة أجاد ابن مندة في ترك ذكره * قلت * لا بل الذي يذكره ويكشف امره أولى ممن يهمله فيظن انه لم يطلع عليه * وممن يذكره ولا يكشف امره فيظن انه مقبول * وقد جاء ذكره من وجه آخر ورواه أبو حامد أحمد بن محمد بن إبراهيم بن الخليل البغوي أخبرنا عمر بن أحمد بن محمد بن عمر بن حفص النيسابوري انا أبو القاسم عبد الله بن الحسين بن بالويه بن بكر بن إبراهيم بن محمد بن فرخان الصوفي سمعت أبا إسماعيل مظفر بن أسد الحنفي المتطيب يقول سمعت سرباتك الهندي يقول رأيت محمدا صلى الله عليه وآله وسلم بمكة مرتين وبالمدينة مرة قدمت عليه رسولا من ملك الحبشة وكان لي حين قدمت عليه ستون وأربع مائة سنة وكان ربعة من الرجال ليس بطويل باين ولا بقصير أحسن الناس وجها * قال مظفر مات سرباتك سنة ست وثلاثين وثلاث مائة * وهو ابن أربع وتسعين وثمان مائة * قلت * وإذا أضيف ما ذكره من عمره عند وفادته إلى المدينة التي من سنة الهجرة إلى سنة وفاته ظهرت مجازفة مظفر بن أسد وغفلته عن تناقضه في مقدار عمره فإنه انما يكون ابن سبع مائة وبضع وتسعين فكأنه غلط بمائة سنة ۞

“Abu Musa al-Madini menyebutnya dalam kitab Dzail Ma’rifah al-Shahabah, melalui jalur Bisyr bin Ahmad al-Isfaraini, temannya Yahya bin Yahya al-Nisaburi, bahwa Bisyr berkata: Aku mendengar Makki bin Ahmad al-Bardza’i berkata: Aku mendengar Ishaq bin Ibrahim al-Thusi, saat itu berumur 97 tahun, ia berkata: Aku Melihat Sri Baduga Malik al-Hind. Aku bertanya: Berapa umurmu? Ia menjawab: 925 tahun. Ia menyebut bahwa Nabi telah mengutus Hudzaifah bin Yaman, Usamah bin Zaid, Safinah, Shuhaib, Abu Musa al-Asy’ari untuk mengajaknya masuk Islam. Ia pun masuk Islam dan menerima surat Nabi.

Di dalam kitab al-Tajrid, al-Dzahabi berkata: ini jelas dusta. Karena itu ia tidak menyebut dalam kitabnya, Al-Mizan (maksudnya Mizan al-I’tidal). Adapun Ibn al-Atsir dalam Usd al-Ghabah berkata: Ibnu Mandah lebih memilih tidak menyebutnya. Aku (al-Asqalani-red) berkata: Tidak. Bahkan yang menyebutnya dan menyingkap jati dirinya, lebih baik otoritasnya daripada yang menafikannya karena mungkin belum mengetahuinya. Juga lebih baik daripada yang menyebutnya tapi tidak meneliti urusannya karena menganggapnya sebagai kebenaran yang telah diterima secara ‘taken for granted.’

Nama ini juga disebut melalui jalur lain. Disebutkan oleh Abu Hamid Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim bin Khalil al-Baghawi. Mengabarkan kepada kami, Umar bin Ahmad bin Muhammad bin Umar bin Hafsh al-Nisaburi. Mengabarkan kepada kami, Abu al-qasim Abdullah bin al-husain bin Baluweh bin Bakr bin Ibrahim bin Muhammad bin Farkhan al-Shufi, ia berkata: Aku mendengar Abu Said Mudzafar bin Asad al-Hanafi al-Mutathabbib berkata: Aku mendengar Sri Baduga al-Hindi berkata:

Aku melihat Muhammad Saw di Makkah dua kali dan di Madinah satu kali. Aku menemuinya sebagai utusan dari Raja Habasyah. Saat itu aku berumur 460 tahun. Postur tubuhnya ideal. Tidak terlalu tinggi. Tidak juga pendek. Diantara semua orang di masanya, Wajahnya yang paling Bagus.

Kemudian Mudzafar berkata: Sri Baduga meninggal 336 H, dalam umur 894 tahun. Aku berkata: Bila umur saat kedatangannya ke Madinah nol hijriah ditambahkan pada tahun wafatnya, terlihat Mudzaffar bin Asad sangat berlebih-lebihan. Tampak nyata kontradiksi umurnya. Karena bila ukurannya demikian, berarti umurnya 790 sekian tahun saja. Kelebihan seratus tahun”

(Kutipan selesai)

Informasi dari Ibnu Hajar lebih lengkap dibandingkan Ibnu al-Atsir. Terlebih pada jalur ke dua, Mudzaffar, yang tidak disebut oleh Ibnu al-Atsir. Sebelum kita bahas informasi tambahan dari Mudzaffar, coba perhatikan komentar Ibnu Hajar terhadap al-Dzahabi yang menganggap info tentang Malik al-Hind adalah sebuah kedustaan yang karena itu tidak ia sertakan dalam karyanya, Mizan al-I’tidal.

Menurut Ibnu Hajar, yang berkisah tentang Sri Baduga Malik al-Hind lebih dipercaya daripada yang meragukannya. Tidak hanya menukil bahkan yang berusaha menyingkap siapa sebenarnya dia lebih otoritatif daripada yang hanya sekedar menukil tanpa investigasi lebih lanjut.

Komentar Ibnu Hajar menunjukkan bahwa cerita tentang Malik al-Hind ini bukan sekedar dongeng sebelum tidur. Ia telah menjadi perdebatan “akademik” yang sayangnya jarang diangkat di ruang publik. Kecuali S. Q. Fatimi dalam artikelnya berjudul “Two Letter From the Maharaja to Khalifah: A Study in the Early History of Islam in the East”.

Itupun tidak menyinggung tentang Malik al-Hind yang pernah bertemu Nabi Saw ini. Artikelnya menyoal tentang surat dari Raja Hindia yang pelapornya melihatnya di istana kekhalifahan Bani Umayyah. Namun demikian, kajian Fatimi memberikan tambahan data sebagai bekal untuk menyingkap siapa dia.

Yang penting dari telaah Fatimi terkait Malik al-Hind adalah kesimpulannya yang menyebut bahwa yang dimaksud dengan al-Hind dalam konsepsi para penulis Arab klasik bukanlah India yang sekarang tapi menunjuk pada wilayah Nusantara sekarang. Siapapun boleh menerima atau menolak tesis Fatimi. Dalam ranah akademik itu hal biasa. Asalkan disertai dengan data yang mendukung sikapnya.

Dengan disertai banyak data yang dapat ditelusuri, Fatimi telah membuat tesis yang sangat menarik terkait makna kata al-Hind ini dengan metode abduktif.

Masih diperlukan kajian mendalam terkait masalah ini untuk menyingkap siapa Malik al-Hind yang pernah bertemu Nabi yang karena itu termasuk ke dalam sahabat Nabi Saw. Apakah yang dimaksud adalah Raja yang berkuasa di wilayah India sekarang yang mayoritas penduduknya beragama Hindu?

Ataukah kata Hindu merujuk pada agama lokal yang dianut oleh penduduk yang menempati wilayah al-Hind yang tidak lain adalah wilayah Nusantara sekarang? Fokus pencarian kita pada makna al-Hind dan agama Hindu.

Sebagai data tambahan untuk mencari kepingan puzzle, berikut kita akan telusuri sekilas sejarah istilah agama Hindu menurut peneliti sejarah Nusantara, Agus Wira Budiman. Penelitian Agus akan mengarahkan kita pada fakta historis lain yang dapat dipakai untuk merancang ulang bangunan epistemologi ilmu-ilmu keislaman (kalam) klasik.

Amin Abdullah menyebutnya epistemologi ilmu kalam jadid (baru). Mengapa harus kalam jadid? Selama ini lokus kajian kalam klasik seputar tuhan menurut pandangan Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah, Syi’ah, dan lain-lain yang tidak lain hasil konsepsi masyarakat Arab yang bercabang dari agama Islam yang muncul sekitar 1400 tahun yang lalu di tanah Arab sana.

Padahal di zaman sekarang Islam bukan satu-satunya the living religion. Dalam dunia sekarang ada banyak living religion yang mempunyai konsep ketuhanan, seperangkat nilai, dan keyakinan yang sama persis seperti yang dipraktikkan oleh umat Islam.

Hanya saja kitab suci, bahasa yang digunakan, nabi atau rasul yang menjadi tokoh karismatik, tata cara ritual ibadahnya serta letak geografis para pemeluknya berbeda. Agama-agama lokal tersebut bukanlah “agama” baru dibanding dengan Islam atau agama-agama dunia yang lain seperti Hindu, Budha, Yahudi dan Kristen.

Ia adalah “agama” lama yang diyakini secara turun temurun oleh penghuni pertama wilayah tersebut. Dan ilmu “agama”-nya pun diajarkan dan diwariskan secara turun temurun pula dari para leluhur mereka kepada anak cucu pilihan yang dianggap pantas untuk mengembannya.

Cara memperoleh ilmu pengetahuannya bisa diverifikasi dengan epistemologi ‘irfani. Transmisi pengetahuan agama seperti itu, min al-ajdad ila al-abai tsumma al-ahfad, dalam Islam disebut dengan sanad. “Haditsi haditsu abi, haditsu abi haditsu jaddi, haditsu jaddi haditsu Rasulillah”, kata cicit Nabi, dan “haditsu Rasulillah hadiitsullahi”. Hal yang umum berlaku dalam sebuah komunitas. Tidak hanya dalam komunitas Arab saja.

Dari sini kita akan dapat memahami ayat al-Qur’an yang berbunyi: minhum man qashashna ‘alaik wa minhum man lam naqshush ‘alaik (QS. 40:78). Bahwa banyak nabi yang kisahnya disebut al-kitab dan lebih banyak yang tidak. Bunyi lengkap ayatnya:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ ۗ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللّٰهِ ۚ فَإِذَا جَآءَ أَمْرُ اللّٰهِ قُضِيَ بِالْحَقِّ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْمُبْطِلُونَ

“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil”. (QS. 40: 78)

Tapi dikisahkan oleh hadis Nabi Saw. Apakah Malik al-Hind termasuk ke dalam nubuwat ini? Sebagaimana termaktub dalam kitab al-nubuwwah dalam Bihar al-Anwar yang akan kita lihat nanti? Dari sini juga kita dapat memahami ayat yang berbunyi: wa likulli qaumin hadin (QS. 13: 7). Bahwa setiap kaum memiliki ‘nabi’ tersendiri. Akan sangat inspiratif dan akan menjadi temuan menarik bila kita mampu menarik benang merah informasi tentang Malik al-Hind ini dengan buku Nabi-Nabi Nusantara karya al-Makin, rektor UIN Jogja.

وَيَقُولُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوْا لَوْلَآ أُنزِلَ عَلَيْهِ ءَايَةٌ مِّن رَّبِّهِۦٓ ۗ إِنَّمَآ أَنتَ مُنذِرٌ ۖ وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ

“Orang-orang yang kafir berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu tanda (kebesaran) dari Tuhannya?” Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.” (QS. 13: 7)

Kita kembali ke muasal penamaan agama Hindu. Menurut Wira Budiman, dalam Encyclopedia of Religion and Ethics vol. 6, sebelum kedatangan Islam ke India kata Hindu tidak ada disebut dalam literartur India bahkan dalam kitab sucinya sendiri.

Adalah penulis Inggris yang pertama kali menggunakan kata Hindu pada tahun 1830 untuk menggambarkan keadaan dan kepercayaan orang India. Maka penyebutan kata Hindu untuk menggambarkan kepercayaan/agama leluhur Nusantara pra-Islam tidak lain karena pengaruh imperialis Eropa yang membagi-bagi daerah jajahan di Timur Jauh. Sebagai bagian dari periodesasi sejarah yang hendak mereka paksakan pada daerah jajahan.

Menarik bila kita mampu meneliti genealogi, ideologi dan penamaan kepercayaaan agama masyarakat Bali yang sebenarnya sama dengan kepercayaan leluhur Nusantara yang lain. Seperti kepercayaan Sunda Wiwitan, Djawa Sunda, Kapitayan, Kejawen, Parmalim, Kaharingan, Wetu Telu, dan lain-lain yang sudah ada sejak sebelum kedatangan agama impor; Islam, Kristen, Budha, Hindu (India) dan Kong Hucu sebagai paham global yang dijadikan acuan bagi penetapan agama resmi yang diakui oleh negara.

Masyarakat Bali menyebut tuhan dengan Sang Hyang Widi Wasa, yang tidak ada dalam kamus agama ‘hindu’ India. Belum lagi banyak tradisi masyarakat Hindu-Bali yang secara diametrikal berbeda dengan Hindu-India. Ini sebagai bukti awal untuk investigasi lanjut tentang makna al-Hind dalam literatur Arab kuno.

‘Alaa kulli haal, masih banyak PR terkait persoalan sahabat Nabi ini daripada sekedar mengulang-ulangi dogma keadilan sahabat yang sebenarnya sudah menjadi fosil sejarah. Di sinilah relevansinya formula ilmu kalam jadid yang tidak melulu mengkaji konsep tuhan berdasarkan mazhab-mazhab Arab (Sunni, Syi’ah, Mu’tazilah dan Wahabi). Juga karena ilmu kalam klasik menyetir lokus kajian ilmu hadits tradisional yang sangat saktarian dan tidak egaliter.

Kita kembali ke Malik al-Hind. Sekarang kita menuju sumber Syi’ah, kitab Bihar al-Anwar. Ada tambahan data yang tidak ada dalam dua sumber sebelumnya. Menariknya, al-Majlisi menempatkan kisah ini dalam kitab al-nubuwwah persis setelah menyebut Nabi Muhammad Saw berasal dari pohon mulia yang berbuah (jurtsumah al-mutakhayyirah/al-mutsmirah). Dalam riwayat lain disebut min al-syajarah al-musyarrafah al-thayyibah. Kepadanya dititipkan al-Qur’an yang ditulis dengan bahasa Arab yang memuat berita tentang (ilmu) manusia zaman dahulu dan (Ilmu) manusia masa depan.

Persis setelah itu kemudian berkisah tentang Malik al-Hind ini yang berumur panjang. Apa konteksnya? Di sini asyiknya metode abduktif. Kita tidak hanya berhenti pada teks saja. Tapi menukik pada konteks. Menemukan konteks di balik penempatan kisah ini adalah domain the logic of discovery pola pikir abduktif. Dari sini akan tersingkap korelasi antara tradisi Ibrahim yang bersifat teosentris dan muncul di Timur Tengah sana dengan tradisi non-Abrahamik yang bersifat antroposentris yang berkembang di Timur Jauh sini.

Yang terkait dengan teks hadis Nabi Saw yang berbunyi: Hablullah al-mamdud min al-ardhi ila al-samai, dalam menyebut posisi ‘itrah Nabi Saw yang menurut Fadhlullah sebagai penghubung antara langit dan bumi.

Saya harap ini dapat menggugah curiosity kita untuk merenung, berpikir, lalu bertindak melakukan investigasi mendalam dengan paradigma berpikir yang baru untuk memperoleh pengetahuan yang juga baru yaitu paradigma abduktif.

Saya yakin dengan the logic of discovery akan tersingkap banyak kejutan akademik yang dapat mengguncangkan singgasana/’arsy ilmu pengetahuan Barat maupun Timur. Kita kembali ke Bihar al-Anwar.

Dari ‘Ali bin ‘Abdullah al-Aswari, dari Makki bin Ahmad, ia berkata: Aku mendengar Ishaq bin Ibrahim al-Thusi, saat berumur 97 tahun, berkata:

Aku melihat Sri Baduga Malik al-Hind di sebuah negri bernama Shauh (di kitab Usud al-Ghabah disebut Qannuh). Aku bertanya: Berapa umur Baginda? Ia menjawab: 925 tahun. Ia seorang Muslim. Di sini informasinya sama dengan dua sumber di atas. Juga tentang sahabat yang diutus Nabi Saw. Dan surat Nabi Saw yang ia terima.

Mendengar umurnya yang begitu panjang, al-Thusi kaget dan bertanya lagi: Dalam kondisi lemah seperti ini, bagaimana anda shalat? Ia menjawab: Allah berfirman: Mereka orang-orang yang selalu mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring. Aku bertanya lagi:

Apa makanan tuan? Aku makan air garam dan al-karrat, jawabnya. Aku bertanya lagi: Adakah sesuatu yang keluar darimu? Ia menjawab: Sesuatu yang sangat sedikit seminggu sekali. Aku bertanya tentang giginya. Ia telah menggantinya selama dua puluh kali.

Di kandangnya aku melihat binatang berkaki empat yang lebih besar dari gajah (al-fiil) disebut dengan Zandafil. Aku bertanya tentang kegunaannya. Ia menjelaskan bahwa Zandafil dipakai untuk mengangkut pakaian para dayang ke istana.

Kerajaannya seluas empat tahun perjalanan bila ditempuh dengan itu. Luas ibu kotanya lima puluh farsakh. Setiap pintu masuk kerajaan dijaga oleh 120.000 tentara. Jika terjadi satu peristiwa (pemberontakan) di satu pintu batalyon itu keluar untuk berperang tanpa meminta bantuan batalyon lain yang berada di dalam kota.

Aku juga mendengarnya berkata: Aku masuk ke Maghrib. Sesampainya di wilayah berpasir, aku berjalan menuju kaumnya Musa. Aku lihat atap rumah mereka datar (tidak beratap seperti umumnya di Nusantara). Mereka menaruh makanan di luar tempat tinggal mereka. Orang-orang mengambil secukupnya. Dan sisanya ditinggal di sana. Kuburan mereka di rumah mereka. Kebun mereka dari pusat kota berjarak dua farsakh. Tidak ada orang yang menua (ini kata kuncinya). Mereka tidak berpenyakit. Sehat semua sampai mereka meninggal.

Mereka memiliki (hari) pasar. Bila seorang dari mereka hendak membeli sesuatu, ia pergi ke pasar itu dan menimbangnya sendiri. Mengambil barang seperlunya tanpa dihadiri yang punya. Bila hendak shalat, mereka datang, shalat, lalu kembali. Tidak ada permusuhan dan hate-speech di antara mereka. Yang ada hanya mengingat Allah Swt dan kematian.

—————–

1. Artikel ini terbit atas izin langsung dari Dr Muhammad Babul Ulum yang kini tinggal di Tasikmalaya, Jawa Barat.
2. Republika.co.id ucapan terima kasih atas kiriman artikel ini dari DR Surya Suryadi di Universitas Leiden, Belanda.

—————–

Oleh: Dr Muhammad Babul Ulum, M.Ag, Ustaz dan Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra Jakarta.
Red: Muhammad Subarkah
Source: REPUBLIKA.CO.ID

About admin

Check Also

Fakta-fakta Ilmuwan Johann Wolfgang von Goethe Seorang Muslim

Johann Wolfgang von Goethe adalah seorang ilmuwan ber-IQ tinggi, lahir di Frankfurt, 28 Agustus 1749 ...