Tuesday , September 28 2021
Home / Agama / Kajian / Sosok Ulama Penghubung Antara Islam di Betawi dengan Pattani

Sosok Ulama Penghubung Antara Islam di Betawi dengan Pattani

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku terkasih, semakin jelas dalam catatan sejarah koneksi antar-Ulama Nusantara di antara negara-negara Asia Tenggara. Bagaimana hubungan-hubungan itu terjalin, saling bertukar pemikiran, dorongan dan solusi-solusi dalam dakwah dan pembinaan umat.

Pattani adalah salah satu provinsi di selatan Thailand, ternyata memiliki hubungan dengan Betawi sedemikian kuat. Sosok Ulama penghubung itu adalah Syekh Abdul Shamad Al-Jawi Al-Falimbani, seorang guru bagi ulama-ulama di Pattani dan Betawi.

Syekh Abdul Shamad Al-Jawi Al-Falimbani adalah seorang Ulama produktif dalam penulisan Kitab-Kitab Islam, diantaranya;

  • Zahratul Murid fi Bayani Kalimatit Tauhid, 1178 H/1764 M.
  • Risalah Pada Menyatakan Sebab Yang Diharamkan Bagi Nikah, 1179 H/1765 M.
  • Hidayatus Salikin fi Suluki MaslakilMuttaqin, 1192 H/1778 M.
  • Siyarus Salikin ila ‘Ibadati Rabbil ‘Alamin, 1194 H/1780 M-1203 H/1788 M.
  • Al-‘Urwatul Wutsqa wa Silsiltu Waliyil Atqa.
  • Ratib Sheikh ‘Abdus Shamad al-Falimbani.
  • Nashihatul Muslimina wa Tazkiratul Mu’minina fi Fadhailil Jihadi wa Karaamatil Mujtahidina fi Sabilillah.
  • Ar-Risalatu fi Kaifiyatir Ratib Lailatil Jum’ah
  • Mulhiqun fi Bayani Fawaidin Nafi’ah fi Jihadi fi Sabilillah
  • Zatul Muttaqin fi Tauhidi Rabbil ‘Alamin
  • ‘Ilmut Tasawuf
  • Mulkhishut Tuhbatil Mafdhah minar Rahmatil Mahdah ‘Alaihis Shalatu was Salam
  • Kitab Mi’raj, 1201 H/1786 M.
  • Anisul Muttaqin
  • Puisi Kemenangan Kedah

Perkembangan Islam di Thailand

Muhammad Zakee Cheha menjelaskan, perkembangan Islam di Thailand dimulai sebelum Kerajaan Siam menguasai Kerajaan Melayu Pattani.

“Patani berasal dari kata al-Fathani yang berarti kebijaksanaan atau cerdik, karena di tempat itu banyak lahir ulama dan cendekiawan Muslim yang terkenal,” ungkapnya.

Menurutnya, Thailand bagian selatan pada masa dahulu pernah berbentuk satu daulat Islam. Kawasan ini merupakan basis masyarakat Melayu-Muslim.

“Di sini juga terdapat masalah, kawasan ini merupakan daerah konflik yang berkepanjangan hingga hari ini,” jelasnya.

Konflik di bagian Thailand Selatan, lanjutnya, terjadi sejak penyerahan wilayah utara Melayu oleh pemerintah Kolonial Inggris kepada Kerajaan Siam dengan perjanjian Anglo di antara Inggris–Siam, pada 10 Mei 1909.

Dengan perjanjian ini kerajaan Siam mencabut hak-hak dan martabat Muslim Pattani. Akibatnya, muncul aksi-aksi perlawanan yang dianggap oleh pemerintah pusat sebagai separatisme sehingga diberlakukan darurat militer di wilayah tersebut.

Guru bagi Ulama Pattani dan Betawi

Titik sambung Pattani dan Betawi itu ditemukan dari Syekh Abdul Shamad al-Jawi al-Falimbani yang merupakan guru bagi ulama di Patani dan di Betawi. Beliau bukan sekedar ke Pattani untuk mengajar ilmu keislaman, bahkan beliau turut berjuang dan berperang untuk melawan tentara Siam, akhirnya beliau terbunuh.

Kepala beliau dipenggal dan dibawa tentara Siam ke Bangkok, sedangkan tubuhnya dimakamkan di Kampung Bangkrak, Distrik Chana, Provinsi Songkhla.

Sebelum Syekh Abdul Shamad al-Falimbani meninggal dunia, beliau dan murid-muridnya turut juga berjasa dalam menyebarkan tarekat Sammaniyah di tanah Betawi.

Beliau pernah datang ke Betawi bersama Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan Syekh Abdurrahman al-Mashri al-Batawi untuk meluruskan arah kiblat Masjd Al-Mansur, Sawah Lio, Jembatan Lima, Jakarta Barat, pada tahun 1767 M.

Mari kita berdo’a dan membaca Surat al-Fatihah untuk beliau:

نَسْأَلُ اللّٰهَ بِأَنَّهُ يَتَغَشَّاهُ بِالرَّحْمَةِ وَالْمَغْفِرَةِ وَيُسْكِنُهُ الْجَنَّةَ، وَيَنْفَعُنَا بِأَسْرَارِهٖ وَأَنْوَارِهٖ وَعُلُوْمِهٖ وَنَفَحَاتِهٖ وَبَرَكَاتِهٖ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، آمِيْنَ، وَإِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَلْفَاتِحَةَ أَثَابَكُمُ اللّٰهُ … ۞

“Kami mohon kepada Allah, bahwa sesungguhnya Allah menganugerahi kepada beliau rahmat, ampunan, dan memberikan tempat di surga, dan dapat limpahan manfaat kepada kami segala rahasia-rahasianya, cahaya-cahayanya, ilmu-ilmunya, harum semerbak kedudukannya dan keberkahannya dalam agama, dunia dan akhirat, Ya Allah perkenankanlah doa ini, dan dengan kehadiran Nabi Muhammad SAW, bacalah Surat al-Fatihah semoga kalian mendapat balasan…”

Wallâhu A’lam

About admin

Check Also

Legalitas Takwil pada Ayat-ayat Mutasyabihat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...