Home / Ensiklopedia / Analisis / Sisi Lain Konflik Rusia-Ukraina (3)

Sisi Lain Konflik Rusia-Ukraina (3)

Antara Senjata Nuklir, Tukang Gaduh, dan Kepemimpinan Kuat

Rusia bukanlah satu-satunya ‘negeri nuklir’ di muka bumi. Namun, di antara sembilan negara pemilik senjata nuklir, konon Beruang Merah —sebutan lain Rusia— paling disegani kawan serta ditakuti lawan karena faktor jumlah dan kualitas nuklirnya.

Isu (nuklir) tersebut sempat membikin gaduh panggung global sebab Putin memerintahkan pasukan nuklirnya siaga tinggi (dan siap tembak). Mengapa?

Bahwa terkait konflik Ukraina, info intelijen mensinyalir bakal ada pendadakan dan penyerbuan besar-besaran terhadap tentara Rusia, sedang pendadakan justru berasal dari (dalam) Ukraina sendiri. Entah entitas mana mau disusupkan serta menyelinap dalam jumlah besar ke Ukraina.

Akan tetapi, usai Putin memberi intruksi pasukan nuklir siaga tinggi, info intelijen pun meredup, menjauh, dan lenyap. Top. Sebuah langkah kontra (intelijen) yang jitu. Tanpa letusan peluru, satu persoalan pun selesai.

Ya, efek isu tersebut, publik pun mencari-tahu rincian hulu ledak kepunyaan kelompok negara nuklir pun beredar. Data Arms Control Association (AC) 2021, bahwa jumlah bom di dunia ada 13.000-an, di mana 90%-nya dikuasai Rusia dan AS. Sekitar 9.600 hulu ledak nuklir di bawah kendali militer. Itu garis besarnya.

Sebagaimana dikutip CNBC Indonesia (1/3/2022), rincian hulu ledak nuklir sebagai berikut:

1. Rusia: 6.257
2. AS: 5.550
3. China: 350
4. Prancis: 290
5. Inggris: 225
6. Pakistan: 165
7. India: 156
8. Israel: 90
9. Korea Utara: 40-50

Bila persepsi publik selama ini tergiring bahwa Korea Utara (Korut)-lah “biang”-nya senjata nuklir. Wajar. Sebab, ia kerap bikin gaduh jika mau uji coba senjata nuklirnya. Banyak ulah. Bahkan pernah, AS turun tangan meredam kegaduhan tersebut. Jika ditelusur, ternyata nuklir Korut tidak ada secuil kuku (lihat data CNBC di atas) bila dibanding Rusia punya.

Konvoi Senjata Nuklir

Dan melalui data CNBC tadi, sebenarnya sudah terbaca, kenapa NATO enggan ikut campur dalam konflik di Ukraina? Ya. Karena yang dihadapi kali ini bukan sekedar kaleng-kaleng. Selain berstatus autarki, Rusia hampir tidak memiliki ketergantungan pada negara lain (swasembada) dalam hal pangan dan energi.

Di samping punya gas weapon atas jajaran negara Eropa, Rusia memiliki hak veto di PBB, dan ia merupakan negara nuklir terbesar serta terkuat di muka bumi.

Dan paling utama sebenarnya, bahwa Rusia kini dipimpin sosok mantan KGB, memiliki leadership kuat, memahami konstelasi geopolitik global, penuh perhitungan, bernyali, bahkan cenderung ‘nekat’.
Entah apa yang ada di benak Putin tatkala mendengar sanksi-sanksi ekonomi kepada Rusia akibat “invasi”-nya, ia malah tertawa.

Perlahan akhirnya terbukti, para pemimpin Jerman, Inggris, dan Belanda (7/3/2022) memperingatkan jajaran Eropa, agar jangan melarang (stop) impor energi dari Rusia sebagai sanksi atas invasinya ke Ukraina, kenapa? Karena tidak ada pasokan alternatif yang bisa segera menggantikan. Rusia adalah salah satu produsen minyak mentah terbesar di dunia serta merupakan pemasok utama gas alam di Eropa.

Kemarin, Prancis sempat juga dibuat ‘menggigil’ oleh Beruang Merah. Apa pasal?

Begini. Entah ini agitasi, anekdot, atau memang realitas, cerita pun telah beredar. Ketika Menteri Keuangan Prancis, Bruno Le Maire mengancam akan membuat ekonomi Rusia jatuh. Putin mengancam akan melenyapkan Prancis dari peta dunia (dengan nuklir) tanpa diberitahu terlebih dahulu. Lha, Emmanuel Macron, Presiden Prancis langsung menelpon Presiden Rusia meminta maaf atas pernyataan menterinya. Menggigil.

Dimitry Medvedev, Kepala Urusan Federasi Rusia mengatakan kepada Prancis agar berhati-hati dalam memberikan statement. Karena saat ini Prancis berpeluang menjadi sasaran serangan Rusia bila salah langkah.

Antara Flanking Warfare dan Proses Tak Pernah Mengkhianati Hasil

Geopolitik mengajarkan, tak ada konflik terjadi melainkan karena faktor geoekonomi. Entah isu lokal maupun (konflik) global. Sama saja. Bahkan kerap kali, konflik lokal itu justru bagian dari konflik global.

Maka, makna lain proxy war bisa diartikan bahwa para pihak yang bertikai memilih wilayah/negara lain sebagai medan pertempuran; atau para pihak yang bertikai menggunakan (siapa) entitas atau organisme lain untuk/yang bertempur.

Jadi, proxy war boleh dibilang sebagai medan tempur, contohnya, atau bisa juga disebut konflik perwalian, atau perang perpanjangan tangan.

Semenanjung Korea misalnya, selain merupakan medan tempur bagi hegemoni Barat versus Timur, juga perpanjangan tangan keduanya. Korea Utara mengusung kepentingan Timur, sedang Korea Selatan mewakili hegemoni Barat. Begitulah pola proxy war. Suriah pun sejatinya berpola begitu. Termasuk konflik di Thailand. Intinya, sekedar menjadi medan tempur belaka.

Possible routes of alleged Russian invasion of Ukraine

Paling aktual kini peperangan di Eropa Timur. Secara hakiki, yang bertarung di Ukraina ialah Rusia versus koalisi militer Barat —NATO— pimpinan AS. Tak bukan. Ukraina selain cuma “proxy“-nya Barat, ia juga (termasuk) korban alias ditumbalkan. Ini sudah jamak di dunia geopolitik. Kenapa demikian?

Inilah apa yang disebut dengan istilah strateginya sebagai flanking warfare. Memprovokasi Ukraina agar berani berperang di satu sisi, lalu membuat Rusia marah sehingga melakukan “invasi” pada sisi lain. Setelah terjadi perang, si tumbal ditinggal sendirian. Inilah yang tengah terjadi. Canggihnya strategi flanking, ia berperang tanpa menurunkan pasukan. Modalnya provokasi.

Dalam istilah gaul, Ukraina kena “prank” ala NATO. Betapa mungkin, AS dan sekutunya saja belum tentu seimbang melawan Rusia, ia sendirian menghadapi Beruang Merah. Apa boleh buat. Ukraina pun terpaksa melawan secara optimal, bahkan sangat maksimal serta habis-habisan bertempur atas nama nasionalisme. Cinta tanah air.

Konon, proses memang tidak pernah mengkhianati hasil. Kenapa? Jenderal bintang dua Rusia pun tewas diterjang oleh sniper Ukraina. Dunia tercengang. Dan itu pukulan buat Putin, sang jenderal tewas dalam perang kecil yang secara teori, bisa ditaklukkan oleh Rusia dalam hitungan hari.

Itulah sisi-sisi (peristiwa) lain dalam konflik di Ukraina yang harus disimak bersama. Proses tidak pernah mengkhianati hasil.

Oleh: M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)
Source: The Global Review

About admin

Check Also

Syaikh Nurjati, Sang Pengembara Sejati (2)

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...