Home / Ensiklopedia / Analisis / Silsilah dan Kisah Bani Israil: Perjalanan Panjang ke Baitul Maqdis (2)
ilustrasi penyembahan patung anak sapi karya Nicolas Poussin (sumber: wikipedia)

Silsilah dan Kisah Bani Israil: Perjalanan Panjang ke Baitul Maqdis (2)

Oleh: Agus Tomaros*

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Ulama tafsir menuturkan, saat Firaun bergerak bersama pasukannya untuk mengejar Bani Israil, ia berada di tengah-tengah pasukan besar. Bahkan menurut salah satu sumber, kuda dalam pasukan ini berjumlah seratus ribu ekor berwarna hitam legam. Jumlah prajuritnya lebih dari 1.600.000 personil. Adapun jumlah Bani Israil menurut salah satu sumber adalah sekitar 600.000 prajurit, tidak termasuk anak-anak.

Setelah Musa as bersama kaumnya melintas secara keseluruhan dan keluar dari lautan, saat itulah pasukan garis depan Firaun baru masuk. Saat itu, Musa bermaksud memukulkan tongkat ke lautan agar kondisi laut kembali seperti sedia kala, agar Firaun dan pasukannya tidak bisa mengejar. Tapi Allah Yang Mahakuasa dan Pemilik keluhuran memerintahkan agar lautan tetap dibiarkan seperti itu sebagaimana firman-Nya, “Dan biarkanlah laut itu terbelah,” dan menenggelamkan Firaun serta bala tentaranya.

Mosaik tentang 12 suku Bani Israil pada dinding Sinagoga di Yerusalem (wikipedia)

Bani Israil Terhalang Memasuki Baitul Maqdis

Ahli Kitab menyebutkan, setelah menyeberangi lautan, Bani Israil pergi menuju negeri Syam, mereka singgah selama tiga hari tanpa menemukan air, hingga ada yang berbicara sinis terkait kondisi yang terjadi. Mereka kemudian menemukan air beracun dan asin, mereka tidak bisa meminum air itu. Allah kemudian memerintahkan Musa as untuk mengambil sebilah kayu lalu diletakkan di air tersebut, air berubah menjadi tawar dan enak diminum. Di tempat itulah Allah mengajarkan sejumlah kewajiban dan amalan-amalan sunah kepada Musa, juga memberikan sejumlah wasiat kepadanya.

Selanjutnya, Bani Israil tiba pada sebuah kaum yang masih menyembah berhala. Kaum yang ditemui Bani Israil dalam perjalanannya ke Baitul Maqdis adalah kaum Haitsani, Fazzari, Kan’an, dan lainnya. Musa kemudian memerintahkan Bani Israil memasuki kota tempat kaum tersebut berada, memerangi mereka dan mengusir mereka dari Baitul Maqdis, karena Allah menakdirkan kota tersebut untuk mereka, juga menjanjikannya melalui lisan Ibrahim Al-Khalil dan Musa Al-Kalim.

Namun, mereka enggan berjihad, akhirnya Allah menimpakan rasa takut yang menguasai diri mereka. Allah membuat mereka bingung, mereka berjalan lalu berhenti, pergi lalu kembali dalam rentang waktu selama 40 tahun lamanya. Setelah masa 40 tahun itu Nabi Musa kembali menerima wahyu dan ia langsung dapat melihat wajah Allah.

Saat Musa pergi untuk (bermunajat) pada Rabb-nya di atas gunung Thur, seseorang di antara Bani Israil yang bernama Harun As-Samiri mengambil perhiasan-perhiasan yang sebelumnya mereka pinjam (dari orang-orang Qibthi), lalu ia bentuk menjadi patung anak sapi, segenggam tanah diletakkan di dalamnya.

Tanah tersebut diambil Samiri dari jejak kaki kuda malaikat Jibril saat ia melihatnya menenggelamkan Firaun. Saat tanah itu dimasukkan ke dalam patung anak sapi, patung mengeluarkan suara seperti lenguhan anak sapi sungguhan. Menurut salah satu pendapat, patung tersebut berubah memiliki tubuh, maksudnya memiliki daging, darah dan hidup, juga bisa melenguh.

Pendapat lain menyebutkan, suara tersebut disebabkan karena adanya angin yang masuk melalui dubur lalu keluar melalui mulut, sehingga terdengar suara lenguhan sapi betina. Bani Israil kemudian menari-nari dan bergembira ria di sekitarnya.

Saat Musa kembali, ia melihat kaumnya menyembah patung anak sapi. Musa yang marah menyaksikan itu lalu melemparkan lauh-lauh Taurat. Ia kemudian menghampiri mereka, mencela dan menegur mereka dengan keras karena tindakan buruk yang mereka lakukan. Setelah kembali didakwahi oleh Musa para penyembah anak sapi itu kemudian bertobat.

Nabi Musa as Membangun “Qubbatuz Zaman”

Qubbatuz Zaman adalah kubah yang terbuat dari kayu cemara, kulit binatang-binatang ternak, dan bulu kambing. Musa diperintahkan oleh Allah untuk menghias kubah tersebut dengan kain sutra yang dicelup, emas dan perak, dengan tata cara rinci menurut ahli kitab.

Kubah ini memiliki sepuluh tenda, panjang masing-masing tenda 28 hasta, lebarnya empat hasta, dengan empat pintu, tali-tali tenda terbuat dari kain sutra biasa dan sutra putih yang dicelup, di dalamnya ada beberapa rak dan lembaran-lembaran yang terbuat dari emas dan perak, setiap sisinya terdapat dua pintu, dan sejumlah pintu-pintu besar lainnya, tirai penutup terbuat dari sutra yang dicelup, dan hal-hal lain yang terlalu panjang untuk disebutkan.

Materai Rp. 100 Republik Indonesia bertahun 1978 dengan gambar Kubah Sakhra, Palestina.

Qubbatuz Zaman ini dibangun kala Bani Israil berada pada masa kebingungan, berkelana di muka bumi tanpa arah dan tujuan. Mereka shalat menghadap ke kubah yang merupakan kiblat sekaligus Ka’bah bagi mereka, dengan diimami Musa dan yang mempersembahkan kurban adalah saudaranya, Harun.

Saat Harun meninggal dunia, kemudian disusul Musa, anak-anak Harun tetap menunaikan seruan ayah mereka untuk mempersembahkan kurban, yang hingga saat ini masih dijalankan.

Adapun mengenai wafatnya Musa as, dijelaskan bahwa ia wafat sebelum Bani Israil memasuki Baitul Maqdis yaitu saat Bani Israil masih berada dalam situasi membingungkan, berkelana ke sana ke mari tanpa tentu arah. Di antara buktinya adalah kata-kata Musa berikut saat memilih kematian, “Ya Rabb! Dekatkan aku ke Baitul Maqdis sejauh lemparan batu.” Andai Musa sudah memasuki Baitul Maqdis, tentu tidak meminta seperti itu.

Namun, kala Musa menghadapi situasi membingungkan bersama kaumnya dan kematiannya tiba, ia ingin berada di dekat Baitul Maqdis yang hendak ia tuju sebagai tempat hijrah dan yang ia perintahkan kepada kaumnya agar memasuki tempat tersebut. Namun, takdir menghalangi Musa untuk sampai ke Baitul Maqdis sejarak lemparan batu. Itulah mengapa pemimpin seluruh manusia sekaligus utusan Allah, Nabi saw berkata kepada seluruh penduduk perkampungan dan perkotaan, “Andai aku berada di sana, tentu aku perlihatkan makamnya kepada kalian, di dekat bukit merah.”

____________

Source: Kompasiana

About admin

Check Also

Bashîrah; Alat Melihat Hakikat Allah Ta’ala

“Bila masih banyak kebingungan menghadapi berbagai masalah di dunia ini, apakah sebagai pertanda bahwa bashîrah ...