Monday , May 10 2021
Home / Agama / Kajian / Seri Al-Asma Al-Husna; Pengertian Al-Wakiilu

Seri Al-Asma Al-Husna; Pengertian Al-Wakiilu

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Wasshalaatu wassalaamu ‘alaa Muhammadin wa aalihi ma’at tasliimi wabihii nasta’iinu fii tahshiilil ‘inaayatil ‘aammati wal-hidaayatit taammah, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Salawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai InayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, aamiin ya Robbal ‘alamin”.

Pengertian Al-Wakiilu

Kata al-Wakiil mengandung arti Maha Mewakili atau Pemelihara. Al-Wakiil yaitu Allah SWT yang memelihara dan mengurusi segala kebutuhan makhluk-Nya, baik itu dalam urusan dunia maupun urusan akhirat

Menurut Ibnu Manzhur, Al-Wakiilu berarti penanggung jawab dan penjamin rezeki hamba. Dan sebenarnya, Dia sendirilah yang menjamin urusan hamba itu. Dalam Al Qur’an ditegaskan; ”Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku“. (QS. Al-Israa: 2)

وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِنْ دُونِي وَكِيلًا ۞

“Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku”. (QS. Al-Israa: 2)

Menurut pendapat lain, Al-Wakiilu berarti penjaga. Sedangkan menurut Abu Ishaq, Al-Wakiilu dalam konteks sifat ialah Allah Zat yang diserahi tanggung jawab atas semua ciptaanNya. Sedangkan ulama lain mengartikan Al-Wakiilu sebagai penjamin (dalam Kamus Lisan al-‘Arab).

Dari pendapat yang dikemukan oleh Ibnu Manzhur, bahwa arti asma Al-Wakiilu adalah Zat yang bertanggung jawab atas semua makhlukNya dalam pengertian yang menciptakan dari ketiadaan, dapat dipahami bahwa segala sesuatu selain Allah adalah makhluk ciptaan, dan setiap makhluk berangkat dari ketiadaan. Karena hanya Allah-lah yang mampu menciptakan semua makhluk itu dari ketiadaannya.

هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا ۞ إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا ۞

”(1) Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (2) Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan: 1-2)

Setelah menciptakan mereka, Allah menjaga dan mengawasi mereka, menganugerahkan kepada mereka sarana-sarana untuk bertahan hidup, dan menjaga mereka dari kepunahan. Kalau Allah tidak melakukan seperti itu, niscaya bumi dan langit beserta isinya akan hancur.

إِنَّ اللّٰهَ يُمْسِكُ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُوْلَا ۚ وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ ۚ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا ۞

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap. Dan sesungguhnya jika keduanya akan lenyap, tiada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah “. (QS. Faathir: 41)

Pengertian ini menyeluruh dan mencakup segala makhluk. Pemelihara segala sesuatu yang besar dan kecil, yang terhormat dan yang hina, binatang, tumbuhan dan benda mati. Pokoknya segala sesuatu yang mengacu kepada pengertian segala yang ada.

إِنَّمَا أَنْتَ نَذِيرٌ ۚ وَاللّٰهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ ۞

Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah Pemelihara segala sesuatu”. (QS. Huud: 12).

Sejak dulu para ulama telah banyak membahas dan menafsirkan nama-nama Allah ini. Karena nama-nama Allah adalah alamat kepada Dzat yang mesti kita ibadahi dengan sebenarnya.

Meskipun timbul perbedaan pendapat tentang arti, makna, dan penafsirannya, akan tetapi, yang jelas adalah kita tidak boleh musyrik (mencampur-adukkan dengan nama-nama lain) dalam mempergunakan, menyebut dan meneladani nama-nama Allah Ta’ala.

Tidak ada sesuatupun yang dapat disetarakan dengan Allah. Karena itu, nama-nama Allah itu harus dapat dipahami dan dihayati dengan hati melalui penjelasan para ulama yang disarikan dari Al-Qur’an dan Hadits. Pembahasan berikut hanyalah pendekatan yang disesuaikan dengan konsep akal kita yang sangat terbatas ini. Dari Allah jualah pemahaman yang haqiqi akan didapatkan.

Semua kata yang ditujukan pada Allah harus dipahami keberbedaannya dengan penggunaan wajar kata-kata itu. Allah itu tidak dapat dimisalkan atau dimiripkan dengan segala sesuatu, seperti tercantum dalam surat Al-Ikhlas.

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ ۞

“Dan tidak ada seorangpun yang setara denganNya”. (QS. Al-Ikhlash: 4)

Keteladan dari Nama Allah Al-Wakiilu

Hamba Al-Wakiilu adalah hamba yang bertawakkal kepada Allah SWT. Menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT hingga melahirkan sikap tawakkal. Tawakkal bukan berarti mengabaikan sebab-sebab dari suatu kejadian. Berdiam diri dan tidak peduli terhadap sebab akan mengakibatkan sikap malas.

Ketawakkalan dapat diibaratkan dengan menyadari sebab-akibat. Orang harus berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Rasulullah SAW bersabda; “Ikatlah untamu dan bertawakkallah kepada Allah SWT.”

Manusia harus menyadari bahwa semua usahanya yang baik adalah sebuah do’a yang aktif diiringi harapan akan adanya pertolongan-Nya. Allah SWT berfirman dalam surat Al-An’am ayat 102 :

ذَلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْ لا إِلَهَ إِلا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوْهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلٌ ۞

“(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.”

Contoh perilaku yang dapat diteladani dari Sifat Al-Wakiilu adalah kita harus berusaha keras dalam mengerjakan sesuatu. Setelah itu kita tawakkal (menyerahkan hasilnya kepada Allah). Niscaya Allah akan memberikan hasil yang baik.

Allah memerintahkan Rasulullah SAW untuk bertawakkal kepadaNya:

فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ۞ وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيْزِ الرَّحِيمِ ۞

“(216) Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan”; (217) Bertawakkallah kepada Allah Yang maha Perkasa lagi Maha penyayang”. (QS. Asy-Syu’araa: 216-217)

Allah-pun memerintahkan orang-orang mukmin agar bertawakkal kepada-Nya:

وَمَا لَنَا أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللّٰهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا ۚ وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَىٰ مَا آذَيْتُمُونَا ۚ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ ۞

“Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri”. (QS. Ibrahim: 12)

Menyertakan Nama Al-Wakiil Dalam Berdakwah dan Berjihad

Sesungguhnya, bertawakkal kepada Allah adalah menggantungkan diri kepadaNya dalam memperjuangkan Islam dan dalam berdakwah kepada Allah, terutama ketika berhadapan dengan kekuatan dan kesewenangan para penguasa tiran yang menekan dan mengabaikan kebenaran. Di sinilah seharusnya kaum mukminin itu harus memegang teguh prinsip, bermental baja dan bertawakkal kepada Allah SWT.

Bertawakkal kepada Allah tidak berarti pasrah dan enggan melawan kebatilan. Karena konsep tawakkal seperti ini  adalah konsep yang dianut oleh kalangan Bani Israil, yang mereka sampaikan kepada Musa dan saudaranya. Allah sangat mencela konsep tawakal ini. Sebagaimana firmanNya:

قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا ۖ فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ ۞

“Mereka berkata: “Hai Musa, sungguh kami tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”. (QS. Al-Maaidah: 24).

Sebaliknya, Allah SWT memuji Muhammad SAW dan para sahabatnya yang terluka di perang Uhud. Sehingga ketika Rasulullah menyeru mereka untuk menyerang kembali kaum musyrikin, sontak mereka mengiyakan meski luka di tubuh mereka masih meneteskan darah. Dan ketika terdengar kabar bahwa kaum musyrikin kembali untuk menumpas habis mereka, mereka pun bertawakal.

الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلّٰهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ ۞ الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ ۞ فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللّٰهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوْءٌ وَاتَّبَعُوْا رِضْوَانَ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ ذُوْ فَضْلٍ عَظِيمٍ ۞ إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ۞

”(172) Yaitu orang-orang yang menaati perintah Allah dan rasulNya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebajikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.  (173) (Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan; ”Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab; ”cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (174) Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (175) Maka mereka tidak lain hanyalah syetan  yang menakut-nakuti kamu dengan kawan-kawannya (orang  musyrik Quraisy) karena itu jangalah kamu takut kepada mereka , tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS. Ali ‘Imran; 172-175)

Kisah perang Uhud ini merupakan contoh yang paling baik yang menggambarkan pemahaman yang benar tentang konsep tawakkal kepada Allah. Contoh ini menjelaskan Islam sebagai aqidah, syari’ah dan metodologi kehidupan. Contoh yang menggerakkan hati untuk menyeru kepada Allah dan melawan musuh-musuhNya. Mereka yang dicontohkan dalam contoh ini benar-benar bertawakkal, berlindung dan berserah diri kepada Allah. Dan Allah pun melihat kebenaran itu, menghukumi berdasarkan kebenaran itu dan membantu kebenaran itu dengan pertolongan-Nya. Mereka itulah yang memahami makna firman Allah:

قُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ ۞

” … Katakanlah; ”Cukuplah Allah bagiku”, kepadaNya bertawakkal orang-orang yang berserah diri”. (QS. Az-Zumar: 38)

Berdo’a Melalui Nama al-Wakiilu

Sikap berserah diri kepada nama al-Wakiilu adalah makna haqiqi dari sikap tawakkal. Karena itu, mengaitkan nama al-Wakiilu dalam dalam segala bentuk tindakan adalah bagian dari doa yang secara aktif dimanifestasikan pada kehidupan sehari-hari.

Salah satu do’a yang diajarkan Rasulullah SAW untuk menggantungkan diri kepada nama Allah al-Wakiilu adalah do’a yang bisa diucapkan untuk keluar rumah sebagai berikut.

بِسْمِ اللّٰهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللّٰهِ، لَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ

Bismillahi tawakkaltu ’alallaah, laa haula wa laa quwwata illaa billaah

“Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.”

Do’a bertawakkal kepada Allah atas segala urusan yang baik untuk menghilangkan rasa waswas dan kekhawatiran berlebihan serta memohon pertolonganNya. Do’a di bawah ini sangat baik ketika menghadapi tekanan, ancaman dan situasi yang mencekam. Seperti saat ini yang sedang dalam kondisi pandemi covid-19. Inilah do’anya:

حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلِ نِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرِ وَلَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Hasbunallah wa ni’mal wakiil ni’mal maulaa wa ni’man nashiir wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil adzhiim.

“Cukuplah Allah tempat berserah diri bagi kami, sebaik-baik Pelindung, sebaik-baik Junjungan dan sebaik-baik Penolong. Tak ada daya dan kekuatan kecuali dengan (daya dan kekuatan) Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung”.

Menurut Imam al-Ajhuri, do’a tersebut di atas juga biasa dibaca pada hari ‘Asyura (10 Muharram). Bagi orang yang membaca bacaan tersebut, dia akan selamat dari keburukan pada tahun itu. Dibaca sebanyak 70 (tujuhpuluh) kali pada waktu setelah Maghrib. Setelah itu, disambung dengan membaca do’a di bawah ini sebanyak 7 (tujuh) kali.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۞ وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ ۞ سُبْحَانَ اللّٰهِ مِلْءَ الْمِيْزَانِ وَمُنْتَهَى اْلعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ الْعَرْشِ، لَامَلْجَأَ وَلَامَنْجَا مِنَ اللّٰهِ إِلَّآ إِلَيْهِ ۞ سُبْحَانَ اللّٰهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَاْلوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِهِ التَّآمَّاتِ كُلِّهَا، أَسْأَلُكَ السَّلَامَةَ كُلَّهَا بِرَحْمَتِكَ يَآأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَلَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ الْعَلِيّ ِ اْلعَظِيْمِ، وَهُوَ حَسْبِيْ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ، نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ، وَصَلَّى اللّٰهُ تَعَالَى عَلَى نَبِيِّنَا خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَجْمَعِيْنَ ۞

Bismillaahirrahmaanirrahiim, wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam, subhaanallaahi mil’al miizaani wa muntahal ‘ilmi wa mablaghar ridhaa wa zinatal ‘arsyi, laa malja’a wa laa manjaa minallaahi illaa ilaihi, subhaanallaahi ‘adadasy syaf’i wal watri wa ‘adada kalimaatihit taammaati kullihaa, as’alukas salaamata kullahaa birahmatika yaa arhamar-raahimiin, laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil adzhiim, wa huwa hasbii wa ni’mal wakiil, ni’mal maulaa wa ni’man nashiir, wa shallallaahu ta’aalaa ‘alaa nabiyyinaa khairi khalqihi sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallama ajma’iin.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah telah bershalawat dan bersalam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya serta para sahabatnya, Maha Suci Allah yang menguasai timbangan, dan puncak dari segala ilmu, dan batas pencapaian ridha, dan perbendaharaan ‘arsy, tak ada tempat perlindungan dan tempat keselamatan kecuali (dinisbahkan) kepadaNya, Maha Suci Allah yang berbilang-bilang genap dan ganjil, dan berbilang-bilang kalimatNya yang sempurna seluruhnya, aku mohon keselamatan secara menyeluruh dengan rahmatMu, wahai yang lebih Pengasih daripada para pengasih, dan tak ada daya dan kekuatan kecuali dengan (daya dan kekuatan) Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, cukuplah Dia bagiku sebaik-baik Pelindung, sebaik-baik Junjungan dan sebaik-baik Penolong, Allah Ta’ala telah bershalawat dan bersalam kepada Nabi kami, ciptaanNya yang paling baik, Junjungan kami Muhammad dan kepada keluarganya serta para sahabatnya semua”.

Dengan tambahan sedikit redaksi pada teks do’a tersebut di atas, di dalam kitab Fathul Bari disebutkan bahwa orang yang membaca bacaan tersebut pada hari ‘Asyura, maka hatinya tidak akan mati.

Wallaahu A’lam

About admin

Check Also

Makna “Tampak Saking”

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...