Home / Agama / Kajian / Seri Al-Asma Al-Husna; Pengertian Al-Rahmân dan Al-Rahîm

Seri Al-Asma Al-Husna; Pengertian Al-Rahmân dan Al-Rahîm

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku, kembali kita melanjutkan kajian kita tentang al-Asmâ al-Husnâ (Nama-Nama (Allah) Yang Baik). Dalam hal ini, kita bahas sekaligus dua Nama, yakni; Al-Rahmân dan Al-Rahîm.

1. Pengertian Al-Rahmân (Yang Maha Pengasih)

Nama Al-Rahmân disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 57 kali. Allah berfirman:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۞

Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Fatihah: 1)

Al-Rahmân mengandung makna rahmat yang sempurna, yang diisyaratkan oleh Nabi dalam hadits tentang wanita tawanan yang menemukan anaknya lalu ia memeluk dan menyusuinya, beliau bersabda:

اللّٰهُ أَرْحَمُ لِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

“Allah lebih menyayangi hamba-hamba-Nya dibanding wanita ini terhadap anaknya.” (HR. Al-Bukhari: 5999 dan Muslim: 7154)

Al-Rahmân juga mengandung makna rahmat yang sangat luas yang dimaksud dengan firman Allah:

وَرَحْمَتِی وَسِعَتْ كُلَّ شَیْءٍ ۞

“Dan kasih sayang-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’raf: 156)

Sebagian ulama membagi rahmat Allah menjadi dua, yaitu;

1. Rahmat yang khusus bagi kaum mukminin, berupa ilmu yang bermanfaat, iman,  ketaqwaan, surga dan hal yang bersifat agama.

2. Rahmat Allah yang bersifat umum, mencakup orang-orang baik dan orang-orang jahat. Diantara rahmat umum Dia mengutus Rasul-Rasul, menurunkan sejumlah kitab Samawi, ayat-ayat kauniyah (alam) serta keteraturannya yang sangat detail, maka seluruh nikmat adalah buah dari rahmat dan kasih sayang-Nya yang meli-puti seluruh ciptaan dalam hal rizki dan segala sarana kehidupan dan kebutuhan mereka.

Al-Rahmân selalu digandengkan dengan Al-Rahîm, karena Al-Rahmân adalah sifat bagi Dzat-Nya (sifat dzâtiyah), dan Al-Rahîm adalah sifat perbuatan yang terkait dengan semua yang dirahmati (sifat fi’liyah).

Maka yang pertama adalah sifat dan yang kedua adalah perbuatan. Yang pertama berarti rahmat dan kasih sayang adalah sifat bagi-Nya, dan yang kedua berarti Dia menyayangi ciptaan-Nya dengan rahmat-Nya. Karena itu,  penggandengan keduanya adalah sebuah pesan tentang rahmat dan kasih sayang yang datang segera atau ditunda, yang bersifat khusus atau umum.

Seorang mukmin harus berusaha untuk memperoleh rahmat khusus yang dapat diupayakan dengan melaksanakan sejumlah amal dan ketaatan, secara khusus beberapa hal berikut:

a. Takwa, iman dan menunaikan zakat

وَرَحْمَتِی وَسِعَتْ كُلَّ شَیْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِینَ یَتَّقُوْنَ وَیُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلَّذِینَ هُمْ بِـَٔایَـٰتِنَا یُؤْمِنُونَ ۞

“Dan kasih sayang-Ku mencakup segala sesuatu, dan Aku menetapkannya bagi orang yang bertakwa, menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami”. (QS. Al-Araf: 156)

b. Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya

Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَأَطِیْعُوْا ٱللّٰهَ وَٱلرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ۞

“Dan taatilah Allah dan Rasul agar kalian dirahmati.” (QS. Ali ‘Imran: 132)

c. Berbuat baik kepada makhluk Allah Ta’ala.

Maka bagi orang-orang yang baik akan memperoleh bagian dari rahmat-Nya dan memperoleh kebaikan yang berlimpah dari-Nya, Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

إِنَّ رَحْمَتَ ٱللّٰهِ قَرِیبٌ مِّنَ ٱلْمُحْسِنِیْنَ ۞

“Sesungguhnya kasih sayang Allah itu dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)

d. Istighfâr pun dapat mengundang rahmat dari Al-Rahmân.

لَوْ لَا تَسْتَغْفِرُوْنَ ٱللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ۞

“Mengapa kalian tidak meminta ampun kepada Allah agar kalian dirahmati.” (QS. Al-Naml: 46)

e. Dzikir kepada Allah termasuk sesuatu yang dicintai oleh Al-Rahmân.

Dari Abu Hurairah RA., Nabi SAW bersabda;

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيْلَتَانِ فِى الْمِيْزَانِ، حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَٰنِ سُبْحَانَ ٱللّٰهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ ٱللّٰهِ الْعَظِيْمِ

Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat di timbangan, dan disukai Al-Rahmân yaitu “Subhânallâh wa bi hamdih, subhânallâhil ‘adzhîm” (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung). (HR. Bukhari no. 6682 dan Muslim no. 2694)

Karenanya, disunnahkan berdo’a dengan menyebutkan nama tersebut. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا ۞

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, kelak Yang Maha Penyayang (ar-Rahman) akan menanamkan kasih sayang di dalam hati mereka.” (QS. Maryam: 96)

2. Pengertian Al-Rahîm (Yang Maha Penyayang)

Nama Al-Rahîm disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 141 kali. Allah SWT berfirman;

وَإِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌ وَاحِدٌ لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحْمَـٰنُ ٱلرَّحِیمُ ۞

“Tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)

Al-Rahmân dan Al-Rahîm sama-sama diambil dari kata “rahmat” namun Al-Rahmân lebih kuat (secara mubâlaghah) dari Al-Rahîm. Al-Rahmân meliputi seluruh ciptaan, sementara Al-Rahîm menurut sebagian pendapat, hanya khusus bagi orang-orang yang beriman saja.

Allah SWT berfirman:

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمًا ۞

“.. Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43)

Sebagian pendapat lain menyatakan bahwa Al-Rahmân adalah sifat dzat bagi Allah dan Al-Rahîm adalah sifat perbuatan bagi Allah.

Hendaknya seorang hamba memiliki sifat kasih sayang (rahmat) sebagai harapan dan permintaan untuk mendapatkan rahmat Allah. Maka bagiannya dari rahmat Allah disyaratkan dengan kasih sayangnya kepada orang-orang di sekelilingnya, sebagaimana Nabi SAW mensyaratkan hal itu:

لَا يَرْحَمُ ٱللّٰهُ مَنْ لَا يَرْحَمُ النَّاسَ

“Allah tidak menyayangi orang-orang yang tidak menyayangi manusia.” (HR. Al-Bukhari: 7376)

Sungguh seorang pelacur diampuni dosanya karena kasih sayangnya kepada seekor anjing yang kehausan, lalu ia memberinya minum dengan sepatunya.

Sebelum seseorang menyayangi orang lain, hendaklah dia menyayangi dirinya terlebih dahulu. Misalnya, ketika seseorang tengah menghadapi musibah, krisis atau kesedihan. Hendaklah ia tidak meninggalkan keimanannya terhadap adanya rahmat Allah SWT. Hal ini agar ia tidak terjerumus ke dalam perangkap kesesatan syaithan karena putus asa dengan jalan bunuh diri, misalnya. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوْآ أَنْفُسَكُمْ إِنَّ ٱللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِیْمًا ۞

“.. Dan janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri, karena sesungguhnya Allah menyayangi kalian.” (QS. An-Nisa’: 29)

Dalam keadaan beban berat seperti itu, hendaklah berharap akan kasih sayang Allah dengan memperbanyak dzikir dan do’a. Rasulullah SAW mengajarkan cara berdo’a agar kita merasakan kasih sayang Allah SWT ketika berada dalam keadaan yang berat:

دَعَوَاتُ الْمَكْرُوْبِ: اَللّٰهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُوْ، فَلَا تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِى طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، لآ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

“Do’a orang yang sedang dalam kesusahan: ‘Allâhumma rahmataka arjû falâ takilnî ilâ nafsî tharfata ‘ainin, wa ashlih lî sya’nî kullahu, lâ ilâha illâ Anta’ (Ya Allah, aku mengharapkan rahmat-Mu, maka janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata; perbaikilah seluruh urusanku, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau).” (HR. Abu Daud)

3. Meneladani Al-Rahmân dan Al-Rahîm.

Nama Allah Al-Rahmân dan Al-Rahîm dapat diartikan dengan dua pengertian yang bisa dibilang memiliki makna yang sama; Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Hal ini dikarenakan keduanya memiliki kandungannya yang hampir sama. Yaitu Allah adalah dzat yang memiliki sifat rahmat; sifat kasih sayang. Sifat rahmat ini adalah sifat rahmat yang sempurna.

Manusia mengasihi manusia lain sebab rasa kasihan, yang apabila tidak dilampiaskan seperti diwujudkan dengan memberi bantuan, maka orang yang mengasihi akan tersakiti hatinya. Ini adalah rasa kasih sayang yang tidak sempurna. Sebab rasa kasihan itu secara tak langsung tidaklah tulus. Tapi, dilandasi keinginan si pelaku agar terlepas dari rasa tak nyaman di hatinya.

Allah tidaklah memiliki rasa kasih sayang seperti manusia. Rasa kasih sayang Allah tak didorong oleh keinginan terlepas dari rasa tak nyaman di hati layaknya manusia. Rasa kasih sayang Allah juga tak terbatas apakah makhluk yang dikasihi berhak menerima kasih sayang tersebut atau tidak. Juga tidak terbatas pada kehidupan dunia saja.

Lalu, kalau memang Allah Maha Pengasih, mengapa masih ada manusia yang sakit atau mengalami ujian hidup? Bukankah ini tampak bertentangan dengan sifat Maha Pengasih Allah? Jawabannya bisa didapat lewat berupa perumpamaan. Apakah rasa kasih sayang seorang ibu kepada anaknya yang menangis dan merengek ingin bermain dengan korek api adalah dengan memenuhi keinginannya tanpa perduli dengan keselamatan si anak?

Allah tidaklah mentaqdirkan keburukan pada hamba-Nya, kecuali di dalamnya ada sebuah kebaikan. Baik itu berupa teguran maupun penghapus dosa-dosa yang pernah si hamba lakukan. Atau Allah tahu, apabila keinginan si hamba terkabul, justru itu akan menimbulkan keburukan lebih besar tanpa bisa si hamba perkirakan. Allah berfirman dalam surah al-Insyirah ayat 5-6:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۞ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۞

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Imam al-Ghazali mengajarkan tentang bagaimana cara seseorang meneladani nama Al-Rahmân dan Al-Rahîm agar bahagia di dunia dan akhirat, antara lain:

a. Meneladani Nama Al-Rahmân

Pertama, mengasihi orang-orang yang sedang lalai dari mengingat Allah. Kedua, memalingkan mereka dari keadaan lalai kepada mengingat Allah dengan cara memberi nasihat secara halus, tidak dengan kasar. Ketiga, memandang para pelaku maksiat dengan pandangan merasa kasihan, tidak menghina. Keempat, menganggap setiap maksiat yang terjadi di alam ini sama seperti maksiat yang dilakukan oleh dirinya sendiri. Sehingga tak henti-hentinya ia berusaha menghilangkannya sebagai bentuk rasa kasih kepada pelakunya, agar tidak menerima rasa marah Allah serta jauh dari-Nya. Sama seperti saat ia melakukan kesalahan, lalu ia berusaha mentaubatinya.

Melalui Asmaul Husna berupa Al-Rahmân, manusia didorong untuk mengasihi orang lain dengan cara, bagaimana agar mereka memperoleh kebahagiaan di akhirat. Terutama orang yang lalai dari mengingat Allah atau melakukan hal-hal yang dilarang Allah. Kebahagiaan ini tidaklah bisa didapat dengan cara bersikap atau memberikan teguran yang kasar. Karena cara-cara yang tak baik dalam memberikan teguran, justru bisa membuat mereka semakin enggan menerima kebaikan. Sehingga tujuan agar mereka memperoleh kebahagiaan di akhirat justru semakin sulit didapat.

b. Meneladani Nama Al-Rahîm

Pertama, berusaha sekuat tenaga menghilangkan kesulitan orang yang sedang membutuhkan. Kedua, tidak abai terhadap orang miskin yang ada di sekitar serta daerahnya. Berusaha memperbaiki perokonomian mereka baik dengan bantuan berupa materi, dengan pangkat yang di miliki, atau menjadi lantaran terpenuhinya hak-hak yang dimiliki mereka. Ketiga, andai tidak bisa melakukan poin yang kedua, maka memberikan bantuan dengan bentuk doa serta memperlihatkan rasa prihatin sebagai bentuk rasa solidaritas sampai mereka merasa bahwa kita pun mengalami hal sama dengan mereka.

Melalui Asmaul Husna berupa Ar-Rahman, manusia didorong untuk mengasihi orang lain dengan cara, memberi bantuan agar mereka memperoleh kebahagiaan di dunia. Yaitu dengan terpenuhinya kebutuhan hidup sehari-hari. Baik berupa memberi bantuan berupa materi, kewenangan, atau setidaknya mendoakan serta menunjukkan keprihatinan.

4. Perbedaan Al-Rahmân dan Al-Rahîm.

Al-Rahmân dan Al-Rahîm berasal dari kata yang sama, yaitu “Rahmat”. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, Al-Rahmân seringkali diterjemahkan dengan “Maha Pengasih”, sedangkan Al-Rahîm diterjemahkan dengan “Maha Penyayang.” Secara sekilas membaca terjemahan tersebut, seolah-olah makna Al-Rahmân dan Al-Rahîm adalah sama, yaitu menunjukkan sifat rahmat Allah Ta’ala.

Konsekuensi dari pemahaman ini adalah disebutkannya nama Al-Rahîm itu untuk menguatkan makna Al-Rahmân yang telah disebutkan sebelumnya, sebagaimana dalam lafadz basmalah;

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۞

Maksudnya, nama Al-Rahîm itu berfungsi untuk menguatkan nama Allah Al-Rahmân yang telah disebutkan terlebih dahulu, karena keduanya memiliki makna yang sama (menunjukkan sifat rahmat Allah Ta’ala) dan tidak ada perbedaan. Dalam bahasa Arab, penguatan makna ini disebut dengan ta’kîd. Inilah pendapat sebagian ulama, yaitu Al-Rahîm berfungsi sebagai penguat untuk nama Al-Rahmân, karena keduanya memiliki makna yang sama.

Akan tetapi, dalam bahasa Arab terdapat sebuah kaidah;

تَأْسِيْسُ الْمَعْنَى مُقَدَّمٌ عَلَى التَّأْكِيْدِ

“Memunculkan makna baru itu lebih didahulukan daripada menguatkan makna sebelumnya.”

Inilah yang lebih tepat, yaitu meskipun sama-sama berasal dari akar kata yang sama (yaitu rahmat), kedua nama Allah Ta’ala tersebut memiliki makna yang berbeda. Hal ini juga diperkuat dari sisi bahasa Arab, karena Al-Rahmân mengikuti pola (wazan) fa’lân (فعلان), sedangkan Al-Rahîm mengikuti pola fa’îl (فعيل). Karena memiliki pola yang berbeda, maka maknanya pun juga menjadi berbeda.

Para ulama berbeda pendapat dalam memahami perbedaan makna Al-Rahmân dan Al-Rahîm.

a. Pendapat pertama

Al-Rahmân menunjukkan rahmat Allah Ta’ala yang sangat luas, yang meliputi seluruh makhluk, termasuk hamba-Nya yang kafir. Hal ini sebagaimana kaidah dalam bahasa Arab, karena Al-Rahmân mengikuti pola (wazan) fa’lân (فعلان) yang berarti “penuh atau sangat banyak”. Contohnya seperti kata ghadhbân (غضبان) yang menunjukkan orang yang sedang dipenuhi dengan rasa marah. Sehingga Al-Rahmân kurang lebih bermakna “Dzat yang dipenuhi rasa rahmat mencakup seluruh makhluk.”

Sedangkan Al-Rahîm adalah rahmat yang khusus ditujukan untuk orang-orang yang beriman. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا ۞

“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia (Allah) Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43)

Di antara ulama kontemporer yang memilih pendapat ini adalah Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala. (Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, hal. 5-6)

Inilah yang mungkin menjadi rahasia mengapa Allah Ta’ala memilih nama Al-Rahmân ketika menyebut sifat istiwa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy, dan tidak memilih Al-Rahîm. Allah Ta’ala berfirman,

الرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى ۞

“Yang Maha Pengasih bersemayam di atas ‘arsy”. (QS. Thaha: 5)

Sisi kesesuaian pemilihan Al-Rahmân adalah bahwa ‘arsy merupakan makhluk Allah Ta’ala yang paling besar dan paling tinggi, dan menaungi seluruh makhluk yang lainnya.

b. Pendapat kedua

Al-Rahmân menunjukkan sifat rahmat Allah Ta’ala sejak dahulu tanpa awal. Sedangkan Al-Rahîm menunjukkan perbuatan (fi’il) Allah Ta’ala yang merahmati hamba-hamba-Nya yang berhak untuk mendapatkan rahmat-Nya. Sebagaimana dalam ayat di atas,

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا ۞

“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43)

Pendapat kedua ini dipilih oleh Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala. Dan di antara ulama kontemporer yang menguatkan pendapat ke dua ini adalah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala. (Syarh Al-Mandzumah Al-Baiquniyyah, hal. 15)

Di antara dua pendapat tersebut, pendapat yang -in syâ Allâh- lebih kuat adalah pendapat kedua. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala;

إِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَحِيْمٌ ۞

“Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada seluruh manusia.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala menyebut sifat rahîm dan dikaitkan dengan semua manusia (بِالنَّاسِ). Sesuai dengan kaidah bahasa Arab, “manusia” di sini bersifat umum, mencakup muslim ataupun kafir, baik hamba-Nya yang shalih ataupun yang suka bermaksiat. Sehingga mengatakan bahwa Al-Rahîm adalah rahmat yang khusus kepada hamba-Nya yang beriman itu tidaklah tepat berdasarkan ayat di atas. Sehingga yang lebih tepat adalah pendapat yang ke dua. Wallahu Ta’ala a’lam.

c. Pendapat yang lainnya

Perbedaan antara Al-Rahmân dan Al-Rahîm lainnya adalah bahwa Al-Rahmân itu khusus untuk Allah Ta’ala. Sedangkan Allah Ta’ala terkadang mensifati sebagian hamba-Nya dengan sifat rahîm. Sebagaimana firman Allah Ta’ala;

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ ۞

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)

Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala mensifati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sifat rahmat, dengan memilih kata rahîm dan bukan rahmân. Dan di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala tidak pernah mensifati hamba-Nya dengan rahmân. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa rahmân adalah khusus untuk Allah, berbeda dengan rahîm.

Perlu diperhatikan di sini bahwa meskipun sebagian hamba memiliki sifat rahîm, sifat tersebut berbeda dengan sifat rahîm yang dimiliki oleh Allah Ta’ala. Karena sifat rahîm Allah adalah sesuai dengan keagungan, kebesaran dan kemuliaan Allah Ta’ala, dan sifat rahîm yang dimiliki hamba itu sesuai dengan yang layak untuk makhluk. Dan sifat Allah Ta’ala tidaklah sama atau serupa dengan sifat makhluk, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۞

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Saudaraku, dengan mengetahui penjelasan kedua Nama Al-Rahmân dan Al-Rahîm tersebut, semoga Allah SWT memberikan kita rahmat-Nya sehingga kita dapat meneladani kedua Nama tersebut untuk kehidupan kita, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

About admin

Check Also

Misi Hidup

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...