Tuesday , September 28 2021
Home / Relaksasi / Renungan / Seorang Guru Mursyid yang Ditolak Bumi

Seorang Guru Mursyid yang Ditolak Bumi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Suatu ketika, salah seorang murid Yusuf, Ibrahim al-Khawwas dalam mimpinya mendengar suara tak dikenal, “Pergilah, dan katakan pada Yusuf, ‘Engkau adalah orang yang tertolak!’”

Bagi seorang murid, kata-kata ini terdengar begitu menyakitkan di telinga. Bukan hanya karena Yusuf merupakan guru dalam pengembaraan spiritualnya, tapi juga karena sosok Yusuf yang amat sangat dihormati hampir seluruh masyarakat di zamannya.

Karenanya, bagi Ibrahim al-Khawwas, akan lebih mudah untuk menahan himpitan gunung yang jatuh di atas kepalanya daripada harus mengatakan apa yang ada dalam mimpinya.

Belum juga hilang gelisah dalam batinnya, Ibrahim kembali memimpikan hal yang sama di malam berikutnya. Sebuah suara yang tak dikenalnya kembali menggaung di telinga. “Katakan padanya, “Engkau adalah orang yang tertolak!”

Ia pun terbelalak seraya bergegas menuju masjid. Membersihkan diri, dan kemudian duduk dzikir, untuk meminimalisir ketakutannya.

Namun, untuk ke sekian kalinya, mimpi itu kembali hadir. Bahkan, kali ini tampak lebih keras dan bernada mengancam, “Katakan padanya, ‘Engkaulah yang tertolak!’. Jika pesan ini tidak kau sampaikan, maka engkau tidak akan sanggup bangkit dari tempat tidurmu ini!”

Ibrahim segera terbangun dengan kesedihan yang dalam. Hal yang serupa ia lakukan juga, pergi ke masjid dan dzikir.

Kali ini, ia melihat sang guru rupanya sedang duduk berdzikir. Ibrahim yang sudah beberapa waktu digelisahkan oleh mimpinya, akhirnya memilih duduk agak jauh dari Yusuf.

Sayangnya, sang guru yang kala itu sedang berdzikir justru menghampirinya, sembari berkata, “Muridku, apakah engkau hafal satu saja ayat al-Qur’an?” Tanyanya.

“Ya,” jawab Ibrahim singkat. Lalu, ia pun membacakannya satu ayat yang mampu ia ingat.

Mendengar lantunan ayat al-Qur’an dari mulut Ibrahim, Yusuf tampak sangat bahagia. Ia pun kemudian bangkit dan mematung sejenak. Berusaha menutupi air matanya yang mengalir begitu deras dari hadapan muridnya.

“Sejak dini hari sampai saat ini,” kata Yusuf, “Aku mendengarkan berbagai bacaan ayat al-Qur’an dari para muridku. Namun, tak satu pun bacaan mereka mampu mengalirkan satu tetes air mata pun. Kini, melalui satu ayat, suatu keadaan telah mewujud —air mata telah mengalir deras dari kedua mataku. Manusia benar, bahwa aku adalah orang yang tertolak bumi. Seseorang yang dapat begitu terhanyut dalam sebuah syair puisi lagu, sementara al-Qur’an tidak berpengaruh padanya —ia sungguh orang yang tertolak.”

Mendengar penjelasan sang guru, Ibrahim semakin bingung dan mulai ragu dengan gurunya itu. Apakah ia sudah tepat berguru kepada Yusuf? Kalau sudah tepat, mengapa Yusuf termasuk orang yang tertolak, bahkan ditolak oleh bumi?

Sembari berjalan menyusuri padang pasir yang luas, Ibrahim al-Khawwas bertemu dengan Nabi Khidir as. Nabi Khidir as., berkata, “Yusuf telah mendapat hadiah dari Allah. Ia tertolak bumi, karena tempatnya memang bukan di bumi, tapi di surga. Di kala semua orang di sekelilingnya sanggup merintih, sedih, terhanyut, bahkan menangis karena syair puisi, namun Yusuf menangis karena ayat Tuhannya. Bukankah itu lebih baik daripada terhanyut karena syair manusia?”

_________________

Fariduddin Aththar berkisah tentang Abu Ya’qub Yusuf ibn al-Husain ar-Radardhi. Ia merupakan salah seorang sufi yang berasal dari Rayy.

Yusuf berkelana ke beberapa wilayah Timur Tengah untuk menuntut ilmu, dan sempat bertemu dengan Dzun Nun al-Mishri di Mesir, dan kemudian belajar di bawah bimbingannya.

Ia kembali ke Rayy untuk berkhutbah dan meninggal pada 304 H/ 916 M di sana.

Wallahu A’lam

From: YS/IslamIndonesia

About admin

Check Also

Dunia Itu Hanya Tiga Hari, Tiga Jam dan Tiga Nafas

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...