Sunday , October 17 2021
Home / Agama / Kajian / Selalu Ada Alasan Bersyukur, Termasuk Hadapi Kematian

Selalu Ada Alasan Bersyukur, Termasuk Hadapi Kematian

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

“Bersyukur adalah hal terindah bagi seorang mukmin”.

Menjadi seorang mukmin adalah nikmat yang tak ternilai meski kadang kurang disadari. Apapun yang menimpa seorang mukmin akan jadi pintu kebaikan baginya asalkan  ia pandai menyikapinya.

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ (رواه مسلم)

“Sungguh ajaib mukmin itu. Apa saja yang terjadi itulah yang terbaik untuknya. Semua itu hanya ada pada diri seorang mukmin. Jika ia mendapat kegembiraan ia bersyukur dan itu yang terbaik untuknya. Dan jika ia mendapat kesedihan ia bersabar dan itu juga yang terbaik untuknya.” (HR. Muslim)

Tapi kadang kalimat-kalimat ini indah untuk dikatakan tapi sulit untuk dipraktekkan. Ia mudah diucapkan ketika seseorang tidak mengalami langsung musibah, kesedihan, dan kesulitan itu. Ketika ia mengalaminya langsung, di sinilah ia diuji apakah ia bisa mengamalkan apa yang selama ini ia sampaikan ataukah ia gagal di saat ujian.

Tak jarang ketika kita menasehati seseorang yang sedang ditimpa musibah atau masalah, ia berkata dengan penuh amarah, “Ang pandai mangicek sajo nyo… Ang bisa mangicek saba saba, dek ang dak mangalami langsuang apo nan den alami, cubo lah rasoan kok tibo dek ang suak…” (Kamu pandai bicara saja… kamu bisa ngomong sabar dan sabar karena kamu tidak mengalami langsung apa yang saya alami… Cobalah rasakan nanti kalau ini menimpamu…).

Sebenarnya ada tips sederhana yang diajarkan Rasulullah SAW kepada para sahabat ketika mereka ditimpa musibah. Coba simak hadits berikut ini:

إِذَا أَصَابَ أَحَدَكُمْ مُصِيبَةٌ، فَلْيَذْكُرْ مُصَابَهُ بِي، فَإِنَّهَا مِنْ أَعْظَمِ الْمَصَائِبِ (رواه الدارمي)

“Jika di antara kalian mendapat musibah maka ingatlah musibah yang menimpanya karena kepergianku karena itulah sesungguhnya musibah yang paling berat.” (HR. Ad-Daramiy)

Tak ada musibah yang lebih berat bagi para sahabat selain kepergian Sang Nabi tercinta.

Apa artinya ini? Ketika kita ditimpa musibah, ingatlah bahwa sesungguhnya ada musibah yang jauh lebih besar dan berat, yang membuat kita merasa bahwa musibah yang kita alami saat ini sebenarnya belum ada apa-apanya.

Ini juga bisa diartikan bahwa ketika kita ditimpa musibah, sadarilah bahwa itu jauh lebih ringan dari apa yang sebenarnya bisa saja terjadi yang jauh lebih berat.

Misalnya, kita sudah hati-hati dalam berkendara, tapi karena satu dan lain hal, kita terjatuh dan menyebabkan keretakan pada tulang. Kita tetap masih bisa bersyukur dengan berkata pada diri sendiri, “Untung hanya tulang yang retak. Coba kalau muka atau kepala yang retak. Untung tidak ada kendaraan lain yang melaju kencang yang bisa saja melindas tubuh kita yang terbanting ke aspal.” Dan masih banyak lagi keuntungan-keuntungan lain yang bisa kita munculkan jika kita mau melihat celah kesyukurannya.

Yang lebih penting lagi adalah untung masih diberikan kesempatan untuk hidup. Sehingga masih ada kesempatan untuk bertaubat dari berbagai dosa dan kesalahan serta memperbanyak bekal menghadapi hari yang pasti terjadi.

Kalau begitu apakah kematian tidak memiliki celah untuk disyukuri? Tetap ada. Karena kematian itu tetap lebih baik bagi siapapun. Abdullah bin Mas’ud ra bahkan bersumpah untuk hal ini:

وَاللّٰهِ الَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ، مَا مِنْ نَفْسٍ حَيَّةٍ إِلَّا الْمَوْتُ خَيْرٌ لَهَا (رواه الطبراني)

“Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain-Nya, tidak ada jiwa yang hidup melainkan kematian jauh lebih baik baginya.” (HR. Thabrani)

Mengapa demikian? Ibnu Mas’ud ra melanjutkan:

إِنْ كَانَ بِرًّا إِنَّ اللّٰهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: (( وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ لِلْأَبْرَارِ )) وَإِنْ كَانَ فَاجِرًا إِنَّ اللّٰهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: (( وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوْا أَنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ لِيَزْدَادُوْا إِثْمًا )) .

“Jika ia seorang yang baik, Allah SWT berfirman: “Apa yang di sisi Allah jauh lebih baik bagi orang-orang yang baik (al-abrar)”. Dan jika ia seorang yang jahat, Allah SWT berfirman: “Orang-orang kafir jangan mengira bahwa tenggang waktu yang Kami berikan itu baik untuk mereka. Sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan pada mereka hanyalah agar dosa mereka semakin bertambah.

Apalagi untuk seorang mukmin, di masa yang penuh dengan fitnah ini, tentu kematian menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggunya. Rasulullah SAW bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُولُ: يَا لَيْتَنِي مَكَانَهُ (رواه البخاري)

“Tidak akan terjadi kiamat sampai ada orang lewat di depan kubur orang lain lalu ia berkata, “Andaikan saja aku yang ada di posisinya.” (HR. Bukhari)

Semoga Allah SWT selalu menjaga keimanan dan kesehatan kita, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

Oleh : Ustadz Yendri Junaidi Lc MA
Source: Republika Online

About admin

Check Also

Wahai HambaKu

“Inilah amanah Allah untuk kita semua wahai sahabat” Oleh: H Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ...