Saturday , June 12 2021
Home / Agama / Kajian / Sejarah Abah Umar dan Wirid Syahadatain (Bagian 3)

Sejarah Abah Umar dan Wirid Syahadatain (Bagian 3)

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Wasshalaatu wassalaamu ‘alaa Muhammadin wa aalihi ma’at tasliimi wabihii nasta’iinu fii tahshiilil ‘inaayatil ‘aammati wal-hidaayatit taammah, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin”.

Saudaraku, Tarekat Asy-Syahadatain dalam perjalanan sejarahnya mengalami dinamika yang tidak sederhana dan terus menjadi polemik. Namun hingga saat ini, tarekat itu tetap berdiri kokoh dan menjalankan aktifitas amaliyahnya untuk membina ruhani jama’ahnya.

Setelah Abah Umar wafat, estafet kemursyidan Tarekat Syahadatain dipegang oleh Muhamad Rasyid (Abah Rasyid) selama 20 tahun. Setelah Abah Rasyid wafat, dilanjutkan oleh putranya, Ahmad Ismail (Abah Mail). Dan kini dipimpin oleh Abdurrahman bin Umar yang juga menjabat Ketua DPP Asy-Syahadatain Indonesia. Hingga Tahun 2018, Tarekat Asy-Syahadatain belum diakui sebagai tarekat mu’tabarah yang terdaftar di JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Nahdhiyyah).

Saudaraku, ada baiknya mari sama-sama kita telaah segala aktifitas yang menjadi ajaran dan nilai-nilai yang ditanamkan pada Tarekat Asy-Syahadatain sebagaimana dikutif dari tulisan Moh. Rosyid dengan berbagai perobahan yang ditambahkan oleh admin.

Tahapan Menjadi Murid (Salik) Tarekat Asy-Syahadatain

Ada lima tahapan menjadi murid (salik) Abah ‘Umar, yakni (1) baiat; (2) shalat dhuha dan tahajjud selama 40 hari berturut-turut bagi murid pemula; (3) membaca shalawat tunjînâ, dan (4) membaca wirid, utamanya wirid “karcis”; (5) membaca wirid Asma’ Nurul Iman (Asmâ’ Nûr al-Îmân) sebagaimana diuraikan dalam buku yang menjadi pedoman tarekat ini, yakni “Mencari Ridlo Allah Tuntunan Wirid Asy-Syahadatain”, karya Syaikhuna Mukarrom Maulana Abah Umar bin Isma’il bin Yahya (Abah ‘Umar n.d.).

Buku tersebut berisi ajaran tarekat Syahadatain yang bersumber dari Abah ‘Umar dan dikodifikasi oleh generasi selanjutnya, sebagaimana berikut:

Pertama, bai’at. Bai’at merupakan ekspresi janji santri pada dirinya untuk menaati ajaran Islam. Bai’at secara hakikat adalah perjanjian setia untuk tetap ber-isyhâd bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan menjalankan semua perintah serta meninggalkan semua larangan-Nya. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللّٰهَ يَدُ اللّٰهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللّٰهِ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا ۞

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri. Barang siapa menepati janjinya kepada Allah Maka Allah akan memberinya pahala yang besar” (Q.S. al-Fathu [48]: 10).

Di tempat lain Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَىٰ أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللّٰهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ ۙ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللّٰهَ ۖ إِنَّ اللّٰهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ۞

“Hai Nabi apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, terimalah janji setia mereka dan mohonkan ampunan pada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. al-Mumtahanah [60]: 12).

Pada dasarnya bai’at dibagi menjadi lima, yakni bai’at Islam, hijrah, jihad, pengangkatan raja, dan tharîqah (al-Tîrâhî n.d., 8). Bai’at dalam tarekat Syahadatain adalah membaiatnya guru mursyid kâmil kepada muridnya untuk melakukan tuntunan dalam zikir, pemikiran, dan kepercayaan melakukan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Baiat ini dilakukan dengan cara seorang guru membacakan dua kalimat syahadat, lalu murid mengikuti dan tangan kanan diletakkan di kening dan tangan kiri diletakkan di dada tepat di hati.

Kedua, latihan (riyadhah) shalat dhuha dan tahajjud selama 40 hari berturut-turut yang bertujuan sebagai media pelatihan untuk menjalankan sunah Nabi. Jika shalat salik tarekat ini ada yang tertinggal sebelum 40 hari berturut-turut, maka harus mengulangi dari awal lagi. Dalam konteks ini, Abah ‘Umar berkata dalam sebuah syair sebagai berikut, “Tetepana dhuha tahajud shalat hajat. Pengen sugih selamet dunya akhirat.” (Jika ingin kaya dan selamat dunia serta akhirat, maka lakukanlah selalu shalat dhuha, tahajjud, dan hajat).

Ketiga, membaca shalawat tunjînâ yang lafadznya;

اَللّٰهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَآمًّا عَلَى سَـيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَاْلآفَاتِ، وَتَقْضِى لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ، وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّـيِّئآتِ، وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ، وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ وَعَلَى أٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ ۞

Allaahumma shalli shalaatan kaamilatan wa sallim salaaman taamman ‘alaa sayyidinaa muhammadinil ladzii tunjiina bihaa min jamii’il ahwaali wal aafaat, wa taqdhii lanaa bihaa jamii’al haajaat, wa tuthohhirunaa bihaa min jamii’is sayyiaat, wa tarfa’unaa bihaa ‘indaka a’lad darajaat, wa tuballighunaa bihaa aqshal ghaayaat, min jamii’il khairaati fil-hayaati wa ba’dal mamaat, wa ’alaa aalihii wa shahbihii bi’adadi kulli ma’luumil lak.

Tahapan ini juga dilakukan selama 40 hari dan hari terakhir harus pada hari dan pasaran kelahiran orang yang melakukannya. Jumlah bilangannya biasanya tergantung mursyid yang memberi.

Keempat, membaca wirid, utamanya “wirid karcis” yang rutin dan mempunyai target. Jumlahnya berdasarkan rekomendasi mursyid/guru. Membaca wirid dimulai hari Selasa seusai shalat Ashar, bacaan wirid tersebut:

يَاكَافِيء، يَامُبِيْنُ، يَاكَافِيء، يَامُغْنِيُّ، يَافَتَّاحُ، يَارَزَّاقُ، يَارَحْمٰنُ، يَارَحِيْمُ ۞

Yaa kaafii, yaa mubiin, yaa kaafii, yaa mughnii, yaa fattaah, yaa razzaaq, yaa rahmaan, yaa rahiim.

Wirid ini dibaca mulai hari Selasa seusai shalat Asar hingga terbenamnya matahari, jumlah bacaannya tergantung kemampuan pembaca,

يَاكَافِيء، يَامُبِيْنُ، يَاكَافِيء، يَامُغْنِيُّ ۞

Yaa kaafii, yaa mubiin, yaa kaafii, yaa mughnii.

Wirid ini pun dibaca sesudah terbenamnya matahari sampai shubuh. Jumlah bilangannya juga menurut kemampuan pembaca.

يَافَتَّاحُ، يَارَزَّاقُ، يَارَحْمٰنُ، يَارَحِيْمُ ۞

Yaa fattaah, yaa razzaaq, yaa rahmaan, yaa rahiim.

Wirid ini dibaca sesudah terbitnya matahari sampai waktu ashar. Jumlah bilangannya juga tergantung pembaca.

Membaca “wirid karcis”, yakni bacaan yang tidak terhitung bilangannya dan tidak terbatas masanya. Bacaan tersebut adalah:

اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ ۞

Setelah dirasa cukup kemudian melanjutkan dengan bacaan:

اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ ۞ لِّيَغْفِرَ لَكَ اللّٰهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْۢبِكَ وَمَا تَاَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًاۙ ۞ وَّيَنْصُرَكَ اللّٰهُ نَصْرًا عَزِيْزًا ۞ لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ۞ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ ۞ قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ ۙ۞ وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْ ۙ۞ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ ۙ۞ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ ۖ ۞

Kelima, wirid Asma’ Nurul Iman (guru sejati). Asma’ Nurul Iman digemari para pecinta ilmu hikmah karena manfaatnya; bagi yang menguasainya akan memiliki sahabat gaib, menurut sanadnya akan membimbing si penggunanya untuk menuju ke jalan yang benar, dapat melancarkan rezeki bila diiringi usaha nyata, berguna bagi mereka yang baru mempelajari ilmu hikmah karena mempermudah baginya dalam mencari petujuk gaib.

Adapun bacaan do’a Asma’ Nurul Iman adalah;

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، نَبِيُّنَا الْآمِرُ النَّاهِي فَلَا أَحَدٌ، أَبَرَّ فِى قَوْلِ لَا مِنْهُ وَلَا نَعَمِ، هُوَ الْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ لِكُلِّ هَوْلٍ مِنَ الْأَحْوَالِ مُقْتَحِمِ ۞

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Nabiyyunal aamirrun naahi falaa ahadun, abarra fii qauli laa minhu walaa na’ami. Huwal habiibul ladzii turjaa syafaa’atuhu likulli haulin minal ahwaali muqtahimi.

Berikut tata cara menguasai ilmu Asma’ Nurul Iman; (1) diawali berpuasa selama satu hari satu malam, dimulai pada hari Kamis, (2) selama berpuasa, asma’ harus dibaca sebanyak 1000 kali pada tengah malam, (3) ketika sudah selesai puasa, amalan tersebut cukup dibaca sebanyak 3 kali, setiap selesai shalat lima waktu, (4) disarankan setiap malam Jum’at amalan tersebut dibaca 1000 kali sampai bertemu atau pun mendengar suara gaib yang berbicara (rijalul ghaib). (5) Bila rijalul ghaib berkenan menemui pengamal maka berkomunikasilah seperlunya, jangan mendewakan khodam tersebut. Apabila sedang membaca Asmak lalu merasakan kejanggalan yang dirasakan, maka disarankan untuk tetap meneruskan membacanya.

Tuntunan Ámaliyah Jama’ah Asy-Syahadatain

Sesuai namanya, jama’ah Asy-Syahadatain menjadikan syahadat sebagai sentral amaliyah yang mesti dicapai. Hal itu sekaligus menjadi ciri khas tersendiri untuk dijadikan ‘pakaian’ bagi jama’ahnya. Amaliyah Syahadat merupakan ‘pintu gerbang’ dalam meniti jalan menuju Allah SWT.

Secara terperinci, amaliyah jama’ah Asy-Syahadatain terdiri dari;

Pertama, pemahaman dan penerapan makna syahadat di dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu metodenya adalah dengan melanggengkan membaca dua kalimat syahadat disertai shalawat yang dibaca tiga kali tiap seusai shalat wajib (sesudah salam).

Pada prinsipnya, bahwa “Syahadat iku minangka wiji kang tukul. Wite gede pange ngrembyak wohe gandul. Sebab syahadat ilmune dadi manfaat nyelametaken neng badan dunya akhirat” (Syahadat adalah perumpamaan sebuah biji yang tumbuh menjadi pohon besar, kemudian rantingnya banyak, tersebar, dan buahnya bergelantungan. Sebab syahadat ilmu menjadi manfaat untuk menyelamatkan diri kita di dunia dan akhirat).

Makna dan aktualisasi syahadat merupakan; (1) pondasi yang di atasnya berdiri kokoh sebuah bangunan keimanan; (2) bagaikan biji yang menumbuhkan pohon keimanan dan mencabangkan ilmu syariat serta menghasilkan buah hakekat; dan (3) sumber dari segala ilmu adalah syahadat. Penalaran kalimat tersebut adalah bahwa keindahan ilmu yang dilihat, baik itu ilmu duniawi maupun ilmu ukhrawi berasal dari penyaksian manusia kepada Allah dan utusan-Nya.

Menurut Muhammad Hasb Allâh dalam kitab Riyâd al-Badî‘ah yang disyarahkan oleh Muhammad Nawawî al-Jâwî sebagai berikut;

وَكَانَ الشَّهَادَةُ خَمْسَةٌ: شَاهِدٌ، وَمَشْهُوْدٌ لَهُ، وَمَشْهُوْدٌ عَلَيْهِ، وَمَشْهُوْدٌ بِهِ، وَصِيْغَةٌ،… الخ (رياد البديعة، ص. ٣)

“Terdapat lima rukun syahadat, yaitu: Syahid, Masyhud Lahu, Masyhud `Alaihi, masyhud Bihi, dan shighat”

(1). Syahid, yaitu: orang yang bersaksi, disertai keyakinan terhadap Allah yang Esa, dan serta keyakinan terhadap risalah Rasulullah Saw. (2). Masyhud Lahu, yaitu: Isi persaksiannya hanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. (3) Masyhud ‘Alaih, yaitu: Kalimat persaksiannya, atau tujuan persaksian-nya tidak bertentangan dengan Esa-nya dzat Allah SWT, dan risalah Rasulullah SAW. (4). Masyhud Bihi, yaitu: Persaksiannya menetapkan Sifat Esa-nya dzat Allah SWT dan risalah Nabi Muhammad SAW.

Kedua, bertawassul. Secara etimologi tawassul adalah mashdar dari kata tawassala–yatawassalu–tawassulan berarti mengambil perantara (wasilah). Secara terminologi adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menggunakan wasilah (perantara). Al-wasilah (perantara) adalah tempat yang dekat di sisi Allah. Rasulullah saw bersabda;

اَللّٰهُمَّ رَبَّ هٰذِهِ الدَّعْوَةِ التّآمَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقآئِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ ۞

Allah memerintahkan untuk bertawassul sebagaimana firmanNya

يَآ أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ۞

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (al-Maidah: 35).

Konsep tawassul yang menjadi amaliyah jama’ah Asy-Syahadatain adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan perantara (wasilah) para rasul, 25 nabi, 10 malaikat, auliya (para wali), orang shalih seperti al-habib Umar, Siti Quraisyin, Nyai Lodaya, Nyai Fathimah Gandasari, Syarif Hidayatullah, Syaikh Dzatul Kahfi, Kuwu Sangkan, Nyai Endang Geulis, Nyai Rarasantang, Syaikh Abdurrahman, Syaikh Magelung, Hasanuddin, Sayyid Husain, Sayyid Utsman, Raden Fatah, Syaikh Rumajang, Syaikh Bentong, Syaikh al-Hadi, Syaikh al-‘Alim, Syaikh al-Khabir, Syaikh al-Mubin, Syaikh al-Waliy, Syaikh al-Hamid, Syaikh al-Qawim, Syaikh al-Hafidzh.

Bacaan-bacaan yang menyertai tawassul yakni membaca ayat al-Quran, dzikir, dan doa tertentu yang telah diajarkan oleh al-habib Umar. Di antara ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca adalah al-Fatihah, as-Shaf 13, al-Ikhlas, al-Falaq, an-Nas, sebagian al-Fath, at-Taubah 128-129, Thaha 25-28, ayat Kursi, al-Qadr, al-Fil, dll. Di antara doa-doa yang dibaca adalah dua kalimat syahadat, shalawat, syahadat payung, shalawat tunjina (munjiyat), do’a surat al-Fiil, shalawat nurul anwar, dll.

Lafadz Syahadat Payung;

يَا شَيْخُنَا الْهَادِي، يَا شَيْخُنَا الْعَلِيْمُ، يَا شَيْخُنَا الْخَبِيْرُ، يَا شَيْخُنَا الْمُبِيْنُ، أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، يَا شَيْخُنَا الْوَلِيُّ، يَا شَيْخُنَا الْحَمِيْدُ، يَا شَيْخُنَا الْقَوِيْمُ، يَا شَيْخُنَا الْحَفِيْظُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ وَسَلَّمَ (2×)
يَا شَيْخُنَا الْهَادِي، يَا شَيْخُنَا الْعَلِيْمُ، يَا شَيْخُنَا الْخَبِيْرُ، يَا شَيْخُنَا الْمُبِيْنُ، أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، يَا شَيْخُنَا الْوَلِيُّ، يَا شَيْخُنَا الْحَمِيْدُ، يَا شَيْخُنَا الْقَوِيْمُ، يَا شَيْخُنَا الْحَفِيْظُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ وَسَلِّـمْ (1×)

Yaa Syaikhunal Haadii, Yaa Syaikhunal ‘Aliim, Yaa Syaikhunal Khabiir, Yaa Syaikhunal Mubiin, Asyhadu allaa ilaaha illallaah, Yaa Syaikhunal Waliyy, Yaa Syaikhunal Hamiid, Yaa Syaikhunal Qawiim, Yaa Syaikhunal Hafiidz, Wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah, Allaahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihii wa sallam (2X),

Yaa Syaikhunal Haadii, Yaa Syaikhunal ‘Aliim, Yaa Syaikhunal Khabiir, Yaa Syaikhunal Mubiin, Asyhadu allaa ilaaha illallaah, Yaa Syaikhunal Waliyy, Yaa Syaikhunal Hamiid, Yaa Syaikhunal Qawiim, Yaa Syaikhunal Hafiidz, Wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah, Allaahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallim (1X).

Lafadz Shalawat Nurul Anwar:

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى نُوْرِ الْأَنْوَارِ وَسِرِّ الْأَسْرَارِ وَتِرْيَاقِ الْأَغْيَارِ وَمِفْتَاحِ بَابِ الْيَسَارِ سَـيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ الْمُخْتَارِ وَآلِهِ الْأَطْهَارِ وَأَصْحَابِهِ الْأَخْيَارِ عَدَدَ نِعْمَةِ اللّٰهِ وَإِفْضَالِهِ ۞

Allaahumma shalli ‘alaa nuuril anwaari wa sirril asraar, wa tiryaaqil aghyaar, wa miftaahi baabil yasaari sayyidinaa wa maulaanaa muhammadinil mukhtaar, wa aalihil ath’haari wa ash’haabihil akhyaari ‘adada ni’matillaahi wa ifdhaalih.

Di antara dzikir yang dibaca adalah sebagian istighfar, al-Asma al-Husna, dll. Pelaksanaan tawassul biasanya secara berjama’ah dalam posisi melingkar dan dibentangkan di tengah-tengahnya kain putih. Waktu pelaksanaan tawassul berbeda-beda antar-jamaah sesuai tuntunan mursyid. Ada yang melaksanakan tiap pagi hari pada nishfu al-lail, ada yang seminggu sekali, atau selapan sekali (35 hari).

Ketiga, memakai jubah dan surban berwarna putih. Dalam menjalankan ‘ubudiyah seperti shalat, dzikir dan lain sebagainya memakai jubah dan surban putih. Sebagaimana Rasulullah setiap shalat berpakaian putih dan bersurban. Rasulullah memerintahkan untuk meniru semua hal yang ada dalam shalat Rasulullah baik gerakan, ucapan maupun pakaian. Rasulullah saw bersabda;

اَلْبِسُوْا مِنْ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ ۞

“Pakailah di antara pakaian-pakaianmu dengan pakaian putih, karena sesungguhnya ia adalah pakaianmu yang paling baik”

Keempat, mengamalkan Al-aurad harian (al-aurad adalah jama’ dari kata al-wirdu yang artinya wirid). Perintah Wirid “Ya Hadi Ya ‘Alim Ya Khabir Ya Mubin Ya Wali Ya Hamid Ya Qawim Ya Hafidz”. Wirid ini berupa doa-doa syar’i yang diperintahkan Allah SWT melalui Rasulullah SAW. Ini berarti semua wirid yang dibaca dan diajarkan oleh al-Habib Umar mempunyai dasar hukum. Aurad ini dibaca setiap kali setelah shalat maktubah, shalat dhuha, shalat tahajud, dan shalat-shalat sunnah yang lain. Mengenai sejarah turunnya wirid ini, dapat dibaca pada link; “Perintah Wirid “Yaa Haadii..” dari Abah Umar”. Dan Kitab Nadzhaman Tawassul yang sudah kami sempurnakan dan kami sesuaikan sehingga dapat diamalkan oleh para salik pengamal Tarekat Syatthariyyah dapat merujuk pada link berikut: “Nadzhaman Tawassul; Pancaran Nur Muhammad yang Tak Pernah Pupus”.

Wallaahu A’lam

 

About admin

Check Also

Shalawat Kubra

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...