Wednesday , December 1 2021
Home / Agama / Kajian / Sejarah Abah Umar dan Wirid Syahadatain (Bagian 1)

Sejarah Abah Umar dan Wirid Syahadatain (Bagian 1)

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Wasshalaatu wassalaamu ‘alaa Muhammadin wa aalihi ma’at tasliimi wabihii nasta’iinu fii tahshiilil ‘inaayatil ‘aammati wal-hidaayatit taammah, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin”.

Saudaraku, sebagaimana sudah kami paparkan pada beberapa artikel terdahulu tentang “Nadzhaman Tawassul” dan “Perintah Wirid dari Abah Umar” di website ini, ada baiknya secara bertahap kita telusuri sosok Habib Umar bin Isma’il bin Yahya yang masyhur dengan laqab “Abah Umar”. Karena beliau adalah seorang Waliyyullah yang sepak terjangnya tak bisa dilepaskan dari perjuangannya melawan penjajah Belanda untuk memerdekakan bangsa ini. Artinya, beliau merupakan salah seorang (dari sekian banyak para Wali di Nusantara) yang bisa dikatakan sebagai stake holder berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.

Abah Umar dengan segala metodologi dakwahnya, dikatakan punya sejarah yang cukup melekat di hati masyarakat Jawa Barat, setidaknya di kalangan pengikutnya. Beliau memiliki metodologi dakwah dengan sebuah ijtihad dzikir yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga mudah melekat dan mudah dipahami masyarakat. Dzikir itu diamalkan dalam bentuk Nadzhaman dengan gaya dan irama yang khas.

Berikut adalah biografi singkat Abah Umar yang kami rangkum dari beberapa sumber, meskipun sebagian besar diambil dari data budaya pitutur yang hidup di masyarakat. Abah Umar adalah keturunan Rasulullah SAW ke-36. Marga beliau adalah Yahya. Adapun nasab silsilahnya secara darah adalah;

(1) Umar, bin (2) Isma’il, bin (3) Ahmad, bin (4) Syaikh, bin (5) Thaha, bin (6) Masyikh, bin (7) Ahmad, bin (8) Idrus, bin (9) Abdullah, bin (10) Muhammad, bin (11) Alawi, bin (12) Ahmad, bin (13) Yahya, bin (14) Hasan, bin (15) Ali, bin (16) Alawi, bin (17) Muhammad, bin (18) Ali, bin (19) Alawi, bin (20) Muhammad, bin (21) Ali Muhammad Shahib al-Mirbath, bin (22) Ali Khali Qasim, bin (23) Alawi, bin (24) Muhammad, bin (25) Alawi, bin (26) Ubaidillah, bin (27) Ahmad al-Muhajir Ilallah, bin (28) Isa an-Naqib, bin (29) Muhammad an-Naqib, bin (30) Ali al-Aridh, bin (31) Ja’far ash-Shadiq, bin (32) Muhammad al-Baqir, bin (33) Ali Zain al-Abidin, bin (34) Husein, bin (35) Fathimah az-Zahra, binti (36) Muhammad Rasulullah Saw.

Habib Umar adalah salah seorang keturunan Alawiyah yang lahir pada tanggal 12 Rabiul Awwal 1298 H., bertepatan dengan tanggal 22 Juni 1888 M. di Arjawinangun Cirebon (± 25 KM ke arah Barat Laut kota Cirebon). Ayahnya, Syarif Ismail, Adalah seorang Da’i berdarah Hadhramaut yang menyebarkan Islam di Nusantara. Ibunya asli Arjawinangun, Siti Suniah binti H. Shiddiq. Pasangan ini dikaruniai empat orang anak: Umar, Qasim, Ibrahim, dan Abdullah. Garis keturunan Habib Umar sampai kepada Nabi Muhammad melalui Sayyidina Husein.

Sejak usia remaja, beliau mengembara menuntut ilmu dari satu pondok pesantren ke pondok pesantren lain. Pesantren yang beliau singgahi pertama kali adalah pondok pesantren Ciwedus Cilimus Kuningan Jawa Barat yang diasuh oleh KH. Ahmad Shobari.

Menurut cerita, KH. Ahmad Shobari adalah orang yang pertama kali bai’at tarekat kepada beliau, padahal usia Abah Umar di kala itu masih relatif muda. Dari Ciwedus, beliau bertemu dengan KH. Abdul Halim, seorang kyai muda dari Majalengka, Jawa Barat yang juga pernah menjadi murid KH. Ahmad Shobari. Dua tahun kemudian beliau pindah ke pondok pesantren Bobos Palimanan Cirebon yang dipimpin oleh Kyai Suja’.

Pada tahun 1916, beliau pindah lagi ke pondok pesantren Buntet Astanajapura, Cirebon, Jawa Barat, yang diasuh oleh KH. Abbas. Kemudian setelah satu tahun di sana, beliau pergi ke pondok pesantren Majalengka yang diasuh oleh KH. Anwar dan KH. Abdul Halim. Di pondok pesantren Majalengka ini, Abah Umar menimba ilmu selama lima tahun.

Tahun keenam Abah Umar diangkat sebagai tenaga pengajar tetap di madrasah yang didirikan oleh KH. Abdul Halim. Di sini beliau seringkali terlibat dalam diskusi dengan para tokoh di pesantren maupun para tokoh yang berada di persyarikatan ulama sehingga nama beliau cepat terkenal.

Pada tahun 1923 Habib Umar pulang ke kampung halaman. Dari sinilah beliau memulai berdakwah dan membangun masyarakat, baik dalam bidang sosial, material, keagamaan, maupun spiritual.

Khawariq Abah Umar

Sebagaimana umumnya diketahui, bahwa seorang Waliyyullah memiliki karakteristik tertentu yang muncul di luar kelaziman adat awam. Bahasa Arab menyebutnya sebagai khawaariq (jama’) atau khariq (tunggal). Istilah majemuknya biasa disebut ‘khariqul ‘adat’ (keluar dari kelaziman umum). Nah, dalam kisah yang dituturkan masyarakat, Habib Umar sejak kecil sudah terlihat tanda-tanda kewaliannya.

Diceritakan sewaktu beliau lahir sekujur tubuhnya penuh dengan tulisan Arab (tulisan aurad dari Syahadat sampai akhir), sehingga sang ayah Syarif Isma’il merasa khawatir akan menjadi fitnah. Maka beliaupun menciuminya terus setiap hari sambil membacakan shalawat hingga tulisan-tulisan tersebut pada akhirnya hilang begitu saja.

Kemudian dikisahkan, saat beliau berusia tujuh tahunan, ketika Abah Umar akan pergi nyantri ke pondok pesantren Ciwedus, Kuningan. Sebelumnya, KH. Ahmad Shobari sebagai pengasuh pesantren Ciwedus mengumumkan kepada para santrinya bahwa pesantrennya akan kedatangan Habib Agung. Para santrinya pun diperintahkan untuk kerja bakti membersihkan lingkungan pesantren sebagai penyambutan selamat datang bagi Habib yang sebentar lagi tiba. Kiyai juga berpesan agar Habib dihormati dan dimuliakan. Hingga pada waktu yang ditunggu, datanglah Habib Umar ke pesantren Ciwedus. Para santripun geger, bingung dan keder, karena ternyata yang datang hanyalah seorang anak kecil yang masih berusia tujuh tahunan.

Diceritakan bahwa Habib Umar kecil selalu hadir dalam pengajian yang disampaikan oleh KH. Ahmad Shobari baik dalam pengajian kitab kuning maupun tausiyah. Namun di sana Habib Umar kecil hanya tidur-tiduran bahkan pulas di samping kiyai, layaknya anak kecil. Hal ini membuat para santri mencibir dan mencemoohnya. Kala itu, Habib Umar kecil menunjukkan khawariqnya dengan mengingatkan KH. Ahmad Shobari ketika dalam membaca kitabnya ada kesalahan. Begitupun para santri yang nderes di kamar, selalu diluruskan oleh Habib Umar kecil yang saat itu juga sebagai santri di pondok tersebut. Dengan kejadian itu, para santri menjadi takjub, hingga akhirnya menghormati dan memuliakannya.

Setelah beberapa waktu nyantri di Ciwedus, KH. Ahmad Shobari sebagai pimpinan pesantren, justru memohon kepada Habib Umar untuk diajarkan Ilmu Syahadat sesuai yang dipesankan oleh gurunya Mbah Kholil Bangkalan-Madura. Akhirnya, KH. Ahmad Shobari yang di dalamnya hadir juga KH. Soheh Bondan, Indramayu, yang saat itu juga nyantri di pondok tersebut ikut juga bai’at syahadat.

Selang beberapa waktu, sekitar dua tahunan, Habib Umar kecil pindah ke pesantren Bobos di bawah asuhan KH. Syuja’i. Dari pondok Bobos, selanjutnya pindah lagi ke pondok Buntet, di bawah asuhan KH. Abbas. Ketika di Buntet, Habib Umar bertingkah sama seperti waktu di Ciwedus. Ia tidak mengaji, hanya bermain-main di bawah meja Kiyai yang sedang mengajar ngaji. Sesekali, apabila Kiyainya ada kesalahan, maka dipukullah meja Kiyai tersebut dari bawah meja, hingga Kiainya sadar bahwa yang diajarkannya ada yang salah. Tidak berselang lama, Kiyai pun meminta untuk diajarkan syahadat.

Melawan Penjajah dengan Dakwah

Demi menegakkan ajaran Islam, ia tak kenal kompromi dengan pemerintah kolonial Belanda. Sejak kecil, Abah Umar, sebelum mendapatkan pendidikan agama dari berbagai pesantren di Jawa Barat, beliau memperoleh pendidikan langsung dari ayahnya sendiri. Saat itu, sang ayah menyaksikan masyarakat kampung Arjawinangun sangat memprihatinkan. Masyarakat di tanah kelahirannya tenggelam dalam kebiasaan berjudi dan perbuatan dosa besar lainnya.

Sepulang dari pengembaraannya, alias nyantri di berbagai pesantren di Jawa Barat, Habib Umar merasa terpanggil untuk memperbaiki masyarakat di tanah kelahirannya. Dalam sebuah mimpi, ia bertemu Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati, yang memberinya restu untuk niat baiknya tersebut. Selain itu, Syarif Hidayatullah juga mengajarkan hakikat kalimat Syahadat kepadanya. Maka, setiap malam Jum’at Habib Umar pun menggelar pengajian di rumahnya. Tapi upaya itu mendapat perlawanan serius dari masyarakat. Mereka mencemooh, menghina, dan mencibir pengajian Habib Umar. Di bawah tekanan masyarakat saat itu, ia terus berjalan dengan dakwahnya.

Karena pengajiannya dianggap meresahkan masyarakat, pada gilirannya pemerintah kolonial menangkap Habib Umar dan menjebloskannya ke dalam penjara. Namun, tiga bulan kemudian ia dibebaskan, berkat perlawanan yang diberikan oleh jama’ahnya hingga jatuh korban di kalangan antek-antek Belanda. Kepalang basah, tahun 1940, Habib Umar bahkan menyediakan rumahnya sebagai markas perjuangan melawan pemerintah kolonial Belanda.

Tidak hanya itu, ia juga turun tangan dengan mengajarkan ilmu kanuragan kepada kaum muda. Bulan Agustus 1940 ia ditangkap Belanda lagi dan pengajiannya ditutup, enam bulan kemudian, 20 Februari 1941, ia dibebaskan. Semangat perjuangan melawan kolonialisme semakin membara dalam dada Habib Umar. Maka ia pun banyak mengadakan kontak dengan tokoh-tokoh agama di seputar Cirebon, seperti Kiai Ahmad Suja’ (Bobos), Kiai Abdul Halim (Majalengka), Kiai Syamsuri (Wanantara), Kiai Mustafa (Kanggraksan), Kiai Kriyan (Munjul).

Tidak Hanya pada masa penjajahan Belanda, pada zaman Jepang pun nama Habib Umar melejit lagi sebagai pejuang agama. Ia memperkarakan Undang-Undang yang dikeluarkan Jepang yang melarang pengajaran huruf Arab di Masyarakat. UU itu dianggap sebagai alat agar umat Islam meninggalkan Al-Quran.

Panji-Panji Syahadatain

Pada masa kemerdekaan, Tahun 1947, Habib Umar mulai mengibarkan panji-panji Syahadatain. Itu bermula dari pengajian yang dipimpinnya yang semula dikenal sebagai “Pengajian Abah Umar” menjadi “Pengajian Jama’ah Asy-Syahadatain”.

Ternyata pengajian ini mendapat simpati luas sehingga menyebar ke seluruh Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tahun 1951, lembaga itu mendapat restu dari presiden Soekarno. Tahun 1951, Habib Umar sempat mendirikan Pondok Pesantren Asy-Syahadatain di Panguragan.

Selain mengajarkan ilmu agama, beliau juga mengajarkan keterampilan seperti bertani, menjahit, bengkel, koperasi, dan ilmu kanuragan. Habib Umar juga mengharuskan jama’ahnya bertawasul kepada Rasulullah, Malaikat, Ahlul Bait, Wali, setiap selesai shalat fardhu. Menurutnya, tawassul menyebabkan terkabulnya suatu doa.

Lebih Jauh lagi, Habib Umar juga mendirikan Tarekat Asy-Syahadatain. Ia Juga sekaligus pemimpin Tarekat Asy-Syahadatain, menulis buku berjudul “Aurad Thariqah Asy-Syahadatain”, sebagai pedoman bagi jama’ahnya. Syahadat, menurut Habib Umar, tidak cukup dilafadzkan di mulut, tapi maknanya juga harus membias ke dalam jiwa. Dengan persaksian dua kalimat syahadat itu, seseorang akan diampuni atas dosanya, dan terkikis pula akar-akar kemusyrikan dalam dirinya. Karyanya yang lain adalah Aurad (1972), menggunakan bahasa daerah yang berisi ilmu akhlaq dan tasawuf, aqidah dan pedoman hidup kaum muslimin.

Habib Umar menghadap ke hadirat Allah pada 13 Rajab 1393 atau 20 Agustus 1973. Semoga amal ibadah dan perjuangannya mendapat balasan yang setimpal dari Allah Swt.

 

About admin

Check Also

Pendosa yang Tawadhu’ dan Ahli Ibadah yang Ujub

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...