“Sejak api ditemukan Nabi Idris as, kegelapan malam terus direvolusi hingga penemuan bola lampu oleh Edison. Hanya kegelapan langit yang hingga kini tak jua bisa dikalahkan”.
Oleh: Admin*
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.
SEABAD lalu, Nikola Tesla, ilmuwan pilih tanding, melansir tesisnya dalam sebuah wawancara sederhana. Tesla meyakini sepenuhnya bahwa alam semesta kita semula adalah energi, dan energi terbentuk dari cahaya–yang kemudian mewujud jadi materi.
Sekadar membantu rekan pembaca menyusun ingatan, apa yang diyakini Tesla itulah yang kelak dirumuskan Einstein dalam Relativitas Khusus (1905); Relativitas Umum (1915).
Keputusan akhir dari kedua teori besar yang kemudian meruntuhkan mekanika-gravitasi Newton itu adalah kelahiran matra keempat dalam ranah kajian fisika: Waktu. Matra inilah yang lantas menyeret cahaya sebagai rambatan utama dan satu-satunya.
Einstein sang penenun teori ulung itu berhasil menghitung kecepatan cahaya dalam kisaran 300.000 km/detik.
Angka fenomenal itu pasti sulit dibayangkan orang awam. Saking peliknya, kita tak lagi mengerti apa ketersambungan antara keyakinan Tesla dengan temuan Einstein.
Ya, keduanya adalah seniman cahaya. Dua manusia unggul yang bukan muslim (secara theis), namun berhasil membongkar selubung misteri (QS. An-Nûr [24]: 35) yang dimulai dengan ayat, “Allah adalah Cahaya di langit dan di bumi… Cahaya Maha Cahaya…”. Ayat lengkapnya:
اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌۗ اَلْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍۗ اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍۙ يَّكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْۤءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ۙ ۞
“Allah (pemberi) cahaya (pada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang (pada dinding) yang tidak tembus518) yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang (yang berkilauan seperti) mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat,519) yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis). Allah memberi petunjuk menuju cahaya-Nya kepada orang yang Dia kehendaki. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. An-Nûr [24]: 35)
Tuhan menitis di alam ciptaan dengan turunan gradasi sepersekian triliun hingga terwujud sebagai materi. Persis seperti yang diyakini Tesla sepanjang hayat keilmuannya. Maka mudah belaka membuktikan bahwa kita manusia, adalah makhluk cahaya yang terus menghindari kondisi minadz-dzulumãt i-ilan n-Nûr: dari kegelapan menuju cahaya benderang. Semua bayi pasti menangis jika kamarnya digelapkan. Bahkan sampai usia dewasa pun, masih ada begitu banyak manusia yang anti-gelap.
Saking takutnya, malah merubung gemerlap lampu kota di pusat keramaian. Tak ubahnya laron, yang sekali berjumpa cahaya, lalu memungkasi hidupnya sendiri.
Sejak api ditemukan Nabi Idris as, kegelapan malam terus direvolusi hingga penemuan bola lampu oleh Edison. Hanya kegelapan langit yang hingga kini tak jua bisa dikalahkan. Manusia terpaksa harus tunduk pada hukum alam, terkait malam gelap; terang siang. Bukti paling tak bisa dibantah bahwa manusia adalah makhluk cahaya yang turun dari Langit, terdapat pada bola mata.
Tanpa kedua bola mata, nyaris sulit bagi kita mencandra segala yang zahir pun bathin dalam hidup ini. Sebab mata adalah pantulan terbaik bagi cahaya, agar manusia bisa melihat. Bukan sebaliknya, mata yang melihat karena adanya cahaya.
Cahaya juga menjadi titik tumpu terjadinya perjalanan Nabi Muhammad SAW di malam Isra, 27 Rajab, dari Masjid haram (Mekkah) menuju Masjid Aqsha (Palestina). Surat al-Isra mendedahkan sebuah kata kunci di penghujung ayatnya: innahû huwas samî’ul bashîr, Sungguh Dia Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.
Ya, pendengaran dan penglihatan pada indera manusia adalah gerak yang dikondisikan oleh sebuah komponen alam paling halus: gelombang dan cahaya. Keduanya menjadi media penghantar benda sehingga berpindah dari satu tempat ke tempat lain, teleport.
Persis seperti ungkapan dalam bahasa al-Qur’an (QS. Al-Isra [17]: 1) dengan alladzî bãraknã haulahû, yang Kami berkati sekelilingnya, bermakna Kami “bungkus” sekujur tubuh hamba itu untuk sebuah perjalanan jauh secepat cahaya. Dalam sebuah literatur, kendaraan Sang Hamba itu disebut Buraq, kilat (cahaya).
Tak ayal, banyak manusia yang merasa bisa melihat, tapi buta. Matanya diselubungi kepekatan yang luar biasa gelap menyergap. Merasa melihat fenomena namun gagal menangkap noumenanya. Latar paling awal dari sebuah pola penciptaan yang tak berawal, tak berakhir.
Teori cahaya yang dirumuskan Tesla, juga mengamini itu. Sejak cahaya dibungkus energi (ether) dan materi, segala sesuatu di semesta ini sulit dihabisi riwayatnya. Mengapa?
Sebab kondisi sejati yang terjadi, kita terus-menerus menjadi. Sejak Alam Azali hingga tak terperi. Wajar jika kemudian para awliya, sufi, filosof, teolog, mendaku bahwa neraka pun surga, bukanlah akhir segalanya. Kita, seperti juga semesta raya mengembang ini, akan terus menjalani safar, perjalanan nir-ujung menuju Cahaya Keabadian-Nya, bersama-Nya, kepada-Nya, dan untuk-Nya semata.
Manusia yang merusak dirinya, serupa laron mengingkari cahaya. []
_________
* Dimodifikasi dari Alif.Id, “Segala Sesuatu adalah Cahaya” oleh Ren Muhammad.