Home / Agama / Improvisasi Salik / Segala Puji Untuk Allah dan Melalui Allah

Segala Puji Untuk Allah dan Melalui Allah

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku dan para sahabatku, sebagai bahan renungan pada postingan kali ini, mari kita simak ucapan Guru kami Syeikh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi dalam al-Futuhât al-Makkiyyah mengenai rahasia yang terdapat pada kalimat Alhamdulillâh (segala puji untuk Allah) dan perbedaannya dengan kalimat Alhamdubillâh (segala puji dengan/melalui Allah).

Dari segi penulisan, kalimat pertama dengan huruf Lâm dan kalimat yang kedua dengan huruf . Dari segi susunan tata-bahasa Arab keduanya benar dan boleh diucapkan. Namun demikian, secara maknawi kedua kalimat tersebut mengimplikasikan makna yang berbeda.

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ    اَلْحَمْدُ بِاللّٰهِ

Guru kami Syeikh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi menjelaskan tentang rahasia-rahasia yang terkandung di dalam kedua kalimat tersebut dengan mengatakan bahwa huruf Lâm memfanakan gambaran hamba, sementara huruf Bâ’ menetapkannya. Syeikh Abu al-Abbâs Ibn al-‘Arif ra., mengatakan “Para Alim adalah untuk-Ku () dan Para ‘Arif adalah melalui-Ku ()”.

Beliau menyatakan bahwa Lâm memiliki maqam yang lebih tinggi, karena beliau mengatakan bahwa Para ‘Arif terkait dengan himmah-himmah lalu mengatakan tentang Lâm, “sementara Al-Haqq berada di belakang itu semua”. Kemudian beliau tidak berhenti sampai di sini dan menambahkan catatan untuk hal di atas dengan berkata, “Himmah adalah untuk ketersambugan (wushul)”. Himmah adalah milik para ‘Arif, pemilik .

Untuk para ‘Alim pemilik Lâm beliau mengatakan, “Namun Al-Haqq hanya bisa menjadi jelas tatkala gambaran hamba telah musnah”. Yang terakhir ini adalah maqam Lâm, yaitu maqam fananya gambaran hamba.

Dengan demikian, Alhamdulillâh lebih tinggi kedudukannya dari Alhamdubillâh. Karena Alhamdubillâh menetapkan keberadaan dirimu. Sementara Alhamdulillâh memfanakan dirimu.

Ketika seorang ‘Alim mengucapkan Alhamdulillâh, maka yang ia maksud adalah tiada yang memuji kecuali Dia dan pastinya tiada pula yang dipuji selain Dia. Sementara jika orang awam mengucapkan Alhamdulillâh, maka yang ia maksud adalah tiada yang dipuji kecuali Dia, sementara yang memuji adalah dirinya.

Bentuk lafal yang diucapkan oleh keduanya sama, tetapi orang ‘Alim memfanakan makhluq yang memuji sekaligus yang dipuji. Sedangkan orang awam hanya memfanakan makhluq sebagai yang dipuji, namun tidak sebagai yang memuji.

Akan halnya Para ‘Arif, mereka tidak bisa terlepas dari mengatakan Alhamdulillâh seperti orang awam, sebab mereka berada pada maqam Alhamdubillâh, karena bagi mereka diri mereka tetap ada. Carilah kebenaran mengenai hal ini! Karena ini termasuk inti ma’rifah.

Dalam catatan kakinya, Syeikh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi mengutip kalimat Syeikh Abu al-Abbâs Ibn al-‘Arif ra. Kutipan lengkapnya:

فَالْعُلَمَاءُ لِي وَالْعَارِفُوْنَ بِي، عَلِقَ الْعُبَّادُ بِالْأَعْمَالِ وَالْمُرِيْدُوْنَ بِالْأَحْوَالِ وَالْعَارِفُوْنَ بِالْهِمَمِ، وَالْحَقُّ وَرَاءَ ذٰلِكَ كُلِّهِ، لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْعِبَادِ نِسَبٌ إِلَّا الْعِنَايَةَ، وَلَا سَبَبٌ إِلَّا الْحُكْمَ، وَلَا وَقْتٌ إِلَّا الْأَزَلَ، وَمَا بَقِيَ فَعَمًى وَتَلْبِيْسُ، فَالْأَعْمَالُ لِلْجَزَاءِ، وَالْأَحْوَالُ لِلْكَرَمَاتِ، وَالْهِمَمُ لِلْوُصُوْلِ، وَإِنَّمَا يَتَعَيَّنُ الْحَقُّ عِنْدَ اضْمِحْلَالِ الرَّسْمِ .

“Para ‘Âlim adalah untuk-Ku dan Para ‘Ârif adalah melalui-Ku. Para ‘Ubbâd (Ahli Ibadah) terkait dengan amal-amal, Para Murid dengan ahwâl dan Para ‘Ârif dengan himmah-himmah, sementara Al-Haqq berada di belakang itu semua. Di antara Al-Haqq dan hamba tidak ada keterkaitan apapun kecuali Inâyat, tidak ada sebab kecuali hukum, dan tidak ada waktu kecuali azal. Adapun selain itu, yang ada hanyalah kebutaan dan ketidakjelasan. Amal-amal adalah untuk ganjaran, ahwâl untuk karamah-karamah, dan himmah-himmah untuk ketersambungan (wushûl). Namun Al-Haqq hanya bisa menjadi jelas setelah gambaran [hamba] musnah”. (Ibn Al-‘Arif, Mahâsin al-Majâlis)

Wallahu A’lam

About admin

Check Also

Nasihat Syaikh Abu al-Hasan Ali asy-Syadzili

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...