Home / Agama / Kajian / Seandainya Aku Tahu Waktu Kematianku

Seandainya Aku Tahu Waktu Kematianku

“Bersiaplah menyambut saat kita kembali kepadaNya, karena kita banyak terlena dengan persiapan menyambut ulang tahun kelahiran ketimbang waktu kematian”.

Oleh: Raden Mahmud Sirnadirasa*

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillãhirrahmãnirrahîm
Washshalãtu wassalãmu ‘alã Muhammadin wa ãlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inãyatil ‘ãmmati wal-hidãyatit tãmmah, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Usia Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW dan umatnya bisa ratusan tahun, tetapi untuk umat Nabi Nuhammad rata-rata 60-70 tahun. Rasulullah SAW sendiri pernah mengabarkan usia kebanyakan umatnya dalam hadits sebagai berikut:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْمَارُ أُمَّتِيْ مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوْزُ ذَلِكَ « رواه الترمذي »

“Dari Abu Hurairah RA. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Usia umatku (umumnya berkisar) antara 60 sampai 70 tahun. Jarang sekali di antara mereka melewati (angka) itu.’” (HR At-Tirmidzi).

Meski jarang, tetapi umur sahabat ada yang sampai ratusan tahun. Seperti yang dialami Salman Al Farisi. Tetapi tentu juga ada yang belum sampai 60 tahun usianya sudah meninggal dunia. Untuk yang usia panjang ini, Rasulullah SAW menyebutkan jika amalnya banyak akan menjadi manusia yang terbaik. Ini tergambar dalam Hadits sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلاً قَالَ، يَا رَسُولَ اللّٰهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟ قَالَ، مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ، قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ؟ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ « رواه احمد، والترمذي، والحاكم، وصححه الألباني »

Dari Abdurrahman bin Abu Bakrah, dari bapaknya, bahwa seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasûlullâh, siapakah manusia yang terbaik?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapakah orang yang terburuk?” Beliau menjawab, “Orang yang berumur panjang dan buruk amalnya”.
[HR. Ahmad; Tirmidzi; dan Al-Hâkim. Dishahihkan oleh Al-Albâni rahimahullah dalam Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb, 3/313, no. 3363, Maktabul Ma’arif, cet. 1, th 1421 H / 2000 M]

Dengan kedua hadits yang disebutkan di atas maka bagi yang telah mencapai usia 60 tahun atau lebih maka bersyukurlah karena kita telah dapat dikatakan sebagai orang yang panjang umur, dan telah mencapai usia waspada untuk kembali kepadaNya.

Pada usia itu (60 tahun), sinyal-sinyal kembali kepadaNya telah semakin jelas untuk kita mempersiapkan diri kembali ke alam kematian dengan amalan mulia. Hal ini tentunya sering kita mendengar ketika ada yang berulang tahun dengan menyanyikan “panjang umurnya serta mulia…!!!”. So, tanpa kemuliaan akhlak kehidupan menjadi sia-sia belaka.

Pernah terjadi di zaman Nabi Dawud AS., ketika seseorang telah diberi tahu waktu kematiannya. Namun demikian, Allah tetap mengujinya dengan sesuatu yang tidak disangka-sangka. Bagaimana kisahnya ? Yuk kita simak…

Dikisahkan bahwa dahulu Nabi Dawud AS memiliki seorang sahabat. Layaknya seorang sahabat, ia begitu dekat dengan Sang Nabi AS. Hubungannya dengan Sang Nabi terjalin begitu erat. Bahkan bisa dikatakan, ia juga merupakan pengikut setia dakwah Nabi Dawud AS.

Sungguh, ia merupakan sahabat yang dicintai oleh Nabi Dawud. Namun sayang, tiba-tiba saja Malaikat Jibril turun ke bumi dan berkata, “Wahai Nabi Dawud, berilah kabar kepada sahabatmu itu, bahwa ajalnya akan segera tiba. 50 hari lagi ia akan meninggal dunia.”

Seketika Nabi Dawud AS pun tercengang. Bagaimana tidak, sahabat yang ia kasihi ternyata ditakdirkan oleh Allah untuk sebentar lagi akan undur diri meninggalkan dunia yang fana ini. Akhirnya dengan berat hati, Nabi Dawud AS mengatakan perihal kabar yang telah ia terima dari Malaikat Jibril.

“Wahai sahabatku, sesungguhnya aku tak sampai hati untuk menyampaikan hal ini kepadamu. Namun Jibril memerintahkanku untuk mengatakan kepadamu bahwa ajalmu telah dekat. 50 hari lagi, engkau akan meninggalkan dunia ini,” kata Nabi Dawud AS dengan lirih kepada sahabatnya itu.

Mendengar penuturan Nabi Dawud AS, ia begitu bersedih. Betapa cepat waktu berlalu. Hingga tak terasa, sebentar lagi ia akan meninggalkan dunia dan berpisah dengan seseorang yang begitu ia cintai. Tak lain tak bukan adalah Dawud AS, Sang Nabi yang selalu ia dampingi.

Namun ia tak mau terlarut dalam kesedihan terlalu lama. Di sisa waktunya yang tinggal 50 hari lagi, ia bergegas untuk bersiap-siap menjemput ajal dengan penuh kerelaan. Mulai hari itu, ia gunakan hari-harinya untuk lebih semangat dalam beribadah.

Hari demi hari silih berganti. Hingga tibalah hari ke-50, waktu ajalnya untuk menghampiri. Ia lantas menyiapkan makanan. Bukan untuk ia makan, melainkan rencananya akan ia haturkan kepada Sang Nabi AS sebagai simbol penghormatan perpisahan.

Di tengah perjalanannya menemui Nabi Dawud AS, ia berpapasan dengan seorang faqir yang kelaparan. Hatinya pun bimbang. Di satu sisi, ia begitu iba dengan si faqir tersebut. Namun di sisi lain, makanan itu adalah hidangan perpisahan yang ia siapkan khusus untuk Nabi Dawud AS.

Ia lantas menghalau kebimbangannya dengan segera. Sembari mengulurkan makanan yang ia bawa, dalam hati ia berkata, “Ah, mengapa aku mengedepankan egoku untuk memberi Nabi Dawud AS. Padahal jelas-jelas si faqir ini lebih membutuhkannya.”

Si faqir lantas menyambut uluran tangan berisi makanan dengan penuh gembira. Sungguh dari raut mukanya terpancar kebahagiaan tak terkira. Bak seorang nelayan yang tak sengaja menemukan harta karun emas permata. Segera saja, si faqir menyantap makanan hingga tak tersisa.

Setelah kejadian tersebut, Malaikat Jibril AS lantas diperintahkan oleh Allah ta’ala untuk memberi kabar kepada Nabi Dawud AS. Kabar itu mengatakan bahwa berkah sedekah makanan sahabatnya itu, Allah menunda ajalnya. Ia diberikan anugerah tambahan umur 50 tahun lamanya.

Setelah ia sampai menghadap kepada Nabi Dawud AS., maka Nabi Dawud pun mengabarkan hal tersebut. Ia terkaget, tak menyangka, bercampur rasa gembira penuh suka cita. Ia lantas bersyukur pada Allah Ta’ala.

Subhanallãh, betapa luas karunia dan rahmat Allah Ta’ala.

Renungan yang dapat kita petik dari kisah di atas adalah bahwa walaupun kita mengetahui batas usia kita, namun tidak menjamin Allah Ta’ala tidak mengujinya. Karena itu, jangan pernah merendahkan amal sekecil apapun karena mungkin saja Allah menyimpan rahasiaNya di dalam amal itu.

Maka sampaikanlah nasehat atau pengingat apapun kepada sesama umat sebagai amal sholeh kita. Mungkin saja nasehat itu menjadi penyebab Allah merahmati kita. Wassalãmu ‘alaikum...

***Kisah ini disarikan dari Kitab Hasyiyah As-Shawy ‘ala Tafsir Jalalain juz II, halaman 5 karya Syekh Ahmad bin Muhammad As-Shawy Al-Misri Al-Khalwati Al-Maliki (1175-1241 H/1761-1825 M).

Marilah kita tutup dengan berdo’a :

اَللّٰهُمَّ طَوِّلْ عُمُوْرَنَا وَصَحِّحْ أَجْسَادَنَا وَنَوِّرْ قُلُوْبَنَا وَثَبِّتْ إِيْمَانَنَا وَأَحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَوَسِّعْ أَرْزَاقَنَا وَإِلَى الخَيْرِ قَرِّبْنَا وَعَنِ الشَّرِّ اَبْعِدْنَا وَاقْضِ حَوَائِجَنَا فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ

Allãhumma thawwil umûranã, wa shahhih ajsãdanã, wa nawwir qulûbanã, wa tsabbit îmãnanã wa ahsin a’mãlanã, wa wassi’ arzãqanã, wa ilal khairi qarribnã wa ‘anisy-syarri ab’idnã, waqdhi hawãijanã fid-dîni wad-dunyã wal-ãkhirati innaka ‘alã kulli syai-in qadîr

“Ya Allah, panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Doa ini dapat dipanjatkan setiap hari agar senantiasa diberi keberkahan dalam hidup oleh Allah SWT.

Wallãhu A’lamu bish-Shawãb.

____________________

*Dr. Supardi, SH., MH., Kepala Kejaksaan Tinggi Riau.

About byHaqq (Admin)

Pena adalah senjata yang lebih halus dari atom. Kadangkala terhempas angin, terbuang seperti sampah. Kadangkala terkumpul ambisi, tergali seperti ideologi. Manfaat dan mudharat pena adalah maqamatmu...

Check Also

Nasihat Syaikh Abu al-Hasan Ali asy-Syadzili

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...