Friday , April 23 2021
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Satu Lagi, “Pasak Bumi” Dipanggil Allah SWT (Wafatnya Abuya Uci Turtusi)

Satu Lagi, “Pasak Bumi” Dipanggil Allah SWT (Wafatnya Abuya Uci Turtusi)

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Allahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad.

Kita semua mengakui bahwa gunung merupakan pasak bumi yang diciptakan Allah yang secara ilmiah diproses melalui pelipatan kerak bumi. Fenomena lipatan tersebut berperan penting menjaga stabilitas kerak bumi dari goncangan. Selain itu, gunung juga memiliki akar yang tertanam di dalam bumi sehingga menjadikannya kokoh.

Namun, pasak bumi yang dimaksud dalam penjelasan ini adalah pasak bumi secara majazi. “Pasak bumi” tersebut puncaknya menyentuh langit dan akarnya menyentuh ‘inti bumi’. “Pasak bumi” inilah yang disebut sebagai Ulama pewaris para Nabi shallallaahu wa sallama ‘alaihim ajma’iin. Dalam istilah lain, ‘Ulama pewaris para Nabi tersebut disebut juga sebagai Wali Allah.

Karena seorang Ulama adalah “Pasak Bumi”, maka wafatnya adalah sebuah musibah bagi umat manusia. Sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi sallam dalam sabdanya :

مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ , وَنَجْمٌ طُمِسَ ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ

“Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama” (HR al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’).

Sebagai musibah dalam agama yang diibaratkan oleh Nabi laksana bintang yang padam, wajar bila kita bersedih ditinggal wafat seorang ulama. Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi sallam sendiri menyatakan bahwa tidak bersedih dengan wafatnya ulama pertanda kemunafikan.

Imam Al-Hafizh Jalaluddin bin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi dalam Kitab Tanqih Al-Qaul mengutip sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ لَمْ يَحْزَنْ لِمَوْتِ العَالِمِ، فَهُوَ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ

“Barangsiapa yang tidak sedih dengan kematian ulama maka dia adalah munafik, munafik, munafik”.

Adalah Abuya Turthusi, seorang Ulama kharismatik yang tinggal di Kampung Cilongok, Tangerang, Banten. Beliau  pada Selasa subuh, pukul 05.00 WIB., 6 April 2021 M./23 Sya’ban 1442 H., telah wafat. Sebagai seorang ulama yang kharismatik, wafatnya Abuya Uci meninggalkan duka yang sangat mendalam.

KH. Uci Turtusi atau yang kerap disapa dengan panggilan Abuya Uci Turtusi lahir di Pondok Pesantren Al-Istiqlaliyah, di Kampung Cilongok, Pasar Kemis, Tangerang, Banten. Beliau merupakan putra dari Abuya Dimyathi al-Bantani.

KH. Uci Turtusi memulai pendidikannya dengan belajar langsung kepada ayahnya, Abuya Dimyathi al-Bantani. Setelah selesai belajar dengan ayahnya, beliau melanjutkan pendidikannyan dengan belajar kepada 32 orang guru di berbagai pesantren, yang beliau tempuh selama 32 tahun.

Ketika beliau belajar di pesantren, beliau termasuk orang yang sering pindah-pindah. Paling lama waktu belajar, beliau tempuh selama 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari kemudian beliau pindah lagi. Hal tersebut dikarenakan ketika pengasuh pesantren mengetahui bahwa beliau adalah anak Abuya Dimyathi al-Bantani, maka kebanyakan para kiai justru tidak berani menerimanya sebagai murid.
Pengasuh Pesantren

Setelah wafat ayahandanya, Abuya Dimyathi al-Bantani, kepengasuhan Pondok Pesantren Salafiyah Al-Istiqlaliyah yang berdiri sejak tahun 1957 M dilanjutkan oleh putra beliau, KH. Uci Turtusi.

Pondok pesantren tersebut berada di kampung Cilongok, Desa Sukamantri, Kecamatan Pasar Kemis, berdiri di atas lahan seluas ± 4,5 ha.

Suasana di Pesantren al-Istiqlaliyyah pada acara pengajian rutin hari Ahad.

 

Saat ini, di lingkungan komplek pesantren terdapat empat masjid, tiga masjid berada di dalam pesantren dan satu lagi berada di luar pesantren. Dengan berdirinya empat masjid, menjadi hal menarik karena pondok pesantren ini berbeda dari pondok pesantren pada umumnya, yang hanya memilik satu masjid.

Setiap hari Ahad ba’da Subuh, Pesantren Salafiyah Al-Istiqlaliyah selalu mengadakan majelis akbar bagi masyarakat luas yang langsung dipimpin oleh KH. Uci Turtusi.

Tradisi ini telah berlangsung lama sejak masa kepemimpinan Abuya Dimyathi al-Bantani. Jumlah jamaah yang mengikuti pengajian inipun sangat banyak, tidak kurang dari 5.000 orang datang dari sekitar wilayah Tangerang, Banten, Bogor, Bekasi dan juga Jakarta.

Pada majelis akbar tersebut, materi yang diberikan lebih mengarah kepada bimbingan kerohanian, etika keagamaan dan nasehat-nasehat yang menenangkan bagi masyarakat. Hal ini menjadi kebutuhan spiritual bagi masyarakat luas terutama di wilayah Tangerang.

Tidak hanya sekedar untuk mengaji, kehadiran masyarakat pada saat majelis akbar tersebut juga tidak lepas dari kebesaran sosok Abah Uci sebagai ulama kharismatik yang dikenal memiliki kedalaman ilmu agama dan keberkahan sebagai seorang ulama.

Tidak jarang setelah pengajian selesai, para tamu yang hadir meminta keberkahan untuk didoakan dan menyampaikan persoalan-persoalan mereka untuk diberi bimbingan dan jalan keluar oleh Abah Uci.

Selain acara pengajian mingguan, ada beberapa acara besar yang diselengarakan tahunan, yaitu acara Maulid Nabi, Haul Tuan Syekh Abdul Qadir Al-Zaelani. Acara tersebut dihadiri ratusan ribu jama’ah yang terdiri dari para pejabat dari berbagai lapisan, termasuk Gus Dur (semasa hidupnya). Para ulama pun turut hadir pada acara tersebut, baik dari pulau Jawa maupun dari luar pulau jawa, ulama dari mancanegara, para Habaib dan para tokoh besar lainnya.

Ribuan Jamaah Hadiri Haul Tuan Guru Syeikh Abdul Qodir Jaelani di Pesantren al-Istiqlaliyyah Abuya Uci.

 

Almarhum Gus Dur dan Habib Luthfi bin Yahya merupakan sahabat dekat dari KH. Uci Turtusi, Sebelum Almarhum Gus Dur Meninggal beliau ditanya oleh KH. Uci Turtusi, “Gus apa yang paling diinginkan oleh Gus apa? Baik di kala jadi presiden atau setelah lengser jadi presiden,” jawaban Gus Dur “Saya inginkan adalah ketika saya wafat, istri, anak, teman-teman dan sekitarnya mengirimkan Al Fatihah buat saya,” kata Abuya menirukan Gus Dur.

KH. Uci Turtusi adalah tokoh ulama besar yang sangat dihormati dan disegani oleh semua kalangan masyarakat, beliau sangat berjasa besar karena telah mengharumkan bangsa Indonesia terutama Kabupaten Tangerang Banten. Dengan ke istimewaan dan karomah yang diberikan Allah SWT kepada KH. Uci Turtusi, hati umat Islam merasa rindu untuk bertemu dan silaturahmi dengan sosok sang ulama ini, dengan kepiawaiannya menyampaikan dan mengajarkan ilmu agama dengan ikhlas, sehingga tausiyah yang disampaikan sangat jelas dan mudah dipahami oleh para jamaah.

Beliau adalah Mursyid Tarekat, yang keilmuannya tidak diragukan lagi. Seorang alim ulama yang akhlaknya mulia yang selalu mengajak umat pada kebaikan, ulama lurus yang tidak pernah mau terbawa-bawa ke dunia politik demi kepentingan pribadi maupun pesantren yang dipimpinnya.

Sanad Silsilah Keilmuan Abuya Uci Turthusi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

1. Robbul arbaabi wamu’tiqur riqoobi Alloh subhanahu wa Ta’ala
2. Sayyidunaa Jibbriil ‘alaihis salaam
3. Sayyidunaa manba-ul ‘ilmi wal asroori wa makhzanul faidli wal anwaari wa maljaa-ul ummati wal abroori wamahbathu jibriila fil-laili wan nahaari wa habiibulloohis sattaaril ladzii unzila ‘alaihi afdlolul kutubi wal asfaari sayyidunaa Muhammadunil mukhtaari shollaoohu ‘alaihi wa ‘alaa aalihi wa ash-haabihil akhyaar
4. Sayyidunaa ‘Aliy karomalloohu wajhah
5. Sayyiduna Husain rodliyalloohu ‘anhu
6. Sayyidunaa Zainal ‘Abidin rodliyalloohu ‘anhu
7. Sayyidunaa Muhammad Baaqir rodliyalloohu ‘anhu
8. Sayyidunaa Ja’far Shodhiq rodliyalloohu ‘anhu
9. Sayyidunaa Imam Musa al-Kaadhim rodliyalloohu ‘anhu
10. Syekh Abul Hasan ‘Ali bin Musa al-Ridho rodliyalloohu ‘anhu
11. Syekh Ma’ruuf al-Karkhi rodliyalloohu ‘anhu
12. Syekh Sirris Saqothi rodliyalloohu ‘anhu
13. syekh Abul Qosim Junaidil Baghdadiy rodliyallohu ‘anhu
14. Syekh Abu Bakrin Dilfisy-Syibli rodliyalloohu ‘anhu
15. Syekh Abul Fadl-li ao ‘Abbdul Waahid at-Tamiimii rodliyalloohu ‘anhu
16. Syekh Abdul Faroj at-Thurthuusi rodliyalloohu ‘anhu
17. Syekh Abul Hasan Alii bin Yuusuf al- Qirsyi al Hakaarii rodliyalloohu ‘anhu
18. Syekh Abuu Sa’iid al Mubarok bin Alii Makhzuumii rodliyalloohu ‘anhu
19. Syekh ‘Abdul Qoodir Al Jaelani Qoddasalloohu sirrohu
20. Syekh ‘Abdul ‘Aziiz rodliyalloohu ‘anhu
21. Syekh Muhammad al-Hattaak rodliyalloohu ‘anhu
22. Syekh Syamsuddin rodliyalloohu ‘anhu
23. Syekh Syarofudiin rodliyalloohu ‘anhu
24. Syekh Nuuruddiin rodliyalloohu ‘anhu
25. Syekh Waliyuddiin rodliyalloohu ‘anhu
26. Syekh Hisaamuddiin rodliyalloohu ‘anhu
27. Syekh Yahya rodliyalloohu ‘anhu
28. Syekh Abuu Bakar rodliyalloohu ‘anhu
29. Syekh Abdurrohiim rodliyalloohu ‘anhu
30. Syekh ‘Ustman rodliyalloohu ‘anhu
31. Syekh ‘Abdul Fattah rodliyalloohu ‘anhu
32. Syekh Muhammad Murood rodliyalloohu ‘anhu
33. Syekh Syamsuddiin rodliyalloohu ‘anhu
34. Syekh Ahmad Khootib Syambaasi rodliyalloohu ‘anhu
35. Syekh Abdul Karim Banten rodliyalloohu ‘anhu
36. Syekh Asnawi Banten Rodliyalloohu ‘anh
37. Syekh Ahmad Dahlan tanjakan rajeg Rodliyalloohu ‘anhu
38. Syekh Arsyad Tanjakan rajeg rodliyalloohu ‘anhu.
39. Syekh Abuya Dimyati Cilongok Pasarkemis
( Ayah dari Abuya Uci Turtusi )
40. Syekh Abah Uci Turthusi Cilongok Pasarkemis

Marilah kita panjatkan do’a untuk beliau dengan sebaik-baik do’a yang mampu kita panjatkan; semoga Allah ta’ala menerima amal ibadah beliau, mengampuni kesalahan beliau dan menerangi Maqamnya dengan CahayaNya sebagaimana beliau semasa hidupnya selalu membimbing umat menuju Cahaya Ilahi yang lurus. Aamiin ya Robbal alamin.

 

About admin

Check Also

Kitab Tanwir al-Qulub: Penerang Hati dalam Kegelapan (Pegangan Pengikut Tarekat Naqsyabandiyah)

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...