Thursday , December 9 2021
Home / Relaksasi / Renungan / Sang Mujahidah itu Adalah Bibi Rasulullah SAW

Sang Mujahidah itu Adalah Bibi Rasulullah SAW

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Perempuan yang suci, jujur, penuh perjuangan dan berhati mulia. Ia adalah Shafiyah binti Abdul Muthalib ibn Hasyim al-Qurasyiyyah al-Hasyimiyyah. Ia merupakan bibi Rasulullah SAW, dan saudari kandung Asadullah wa Asadu Rasulihi (Singa Allah dan Rasul-Nya), Hamzah ibn Abdul Muththalib.

Shafiyah binti Abdul Muthalib merupakan ibu dari sang sahabat besar, Zubair ibn ‘Awwam. Ia tumbuh di rumah seorang pembesar Quraisy, pemilik kekuasaan, kehormatan, dan keagungan, Abdul Muthalib, yang mampu membentuk kepribadian yang kokoh pada dirinya dan memberi kedudukan mulia di tengah kaumnya.

Oleh karena, itu tak mengherankan jika bibi Rasulullah SAW tersebut tumbuh menjadi perempuan yang berlidah fasih, baligh, ahli qira’ah, alim, pemberani, dan kesatria.

Allah SWT menyinari hati Shafiyah dengan cahaya iman dan hidayah. Shafiyah adalah salah seorang perempuan yang paling awal masuk Islam dan mengakui kenabian Rasulullah SAW pada masa awal dakwah Islam.

Ia pun beriman kepada Allah serta membenarkan dakwah keponakannya yang jujur dan tepercaya. la juga mendukung Rasulullah SAW dan turut mendakwahkan agama Islam. Shafiyah memeluk Islam dengan baik hingga mendapat derajat dan kedudukan yang agung di tengah seluruh umat Islam.

Sebelum masuk Islam, Shafiyah adalah istri dari Hârits ibn Harb ibn Umayyah saudara Abu Sufyan. Al-Hârits kemudian meninggal dunia meninggalkan Shafiyah.

Setelah itu, Shafiyah dinikahi oleh al-‘Awwam ibn Khuwailid. Dari pernikahannya ini, ia memiliki anak bernama Zubair, Abdul Ka’bah, dan as-Sa’ib.

Sang putra, as-Sa’ib, ikut terlibat dalam perang Badar dan Perang Khandaq bersama Rasulullah SAW kemudian gugur menjadi syuhada dalam Perang Yamamah.

Shafiyah, bibi Rasulullah, juga termasuk salah satu di antara umat yang beriman, yang ikut melakukan perjalanan hijrah. Ketika Rasulullah SAW mengizinkan para sahabat untuk hijrah ke Madinah, setiap orang pun melakukan hijrah bersama keluarganya yang telah masuk Islam. Tidak ketinggalan, Shafiyah, bibi Rasulullah, juga turut hijrah bersama putranya, Zubair ibn ‘Awwâm r.a.

Shafiyah dan putranya merasakan banyak gangguan disertai siksaan karena keislamannya. Dengan begitu, hijrah yang dilakukan hakekatnya merupakan rahmat dari Allah SWT untuk menyelamatkan diri dan agama dari hal-hal yang mengancam keselamatan jiwa. Di samping itu, hijrah juga merupakan sebagian dari sunah para nabi.

Shafiyah menyaksikan putranya yang disiksa dengan kejam, tetapi ia tidak mampu membela sang anak. Ketika itu, Zubair digantung oleh pamannya sendiri di atas pohon untuk mengasapinya agar kembali menjadi kafir.

Namun, Zubair berkata, “Selamanya aku tidak akan pernah menjadi kafir.” Sang ibu yang tulus dan penyabar ini begitu pedih melihat anaknya dalam keadaan demikian.

Shafiyah memandangi sang anak dengan penuh kasih dan simpati. Ia seakan mengatakan, “Wahai anakku, teguhkanlah dirimu dalam kebenaran dan jangan pernah kembali kepada agama nenek moyangmu!”

Melihat keteguhan dan ketabahan sang ibu yang melihat anaknya sedang disiksa itu, Zubair yang masih belia itu semakin teguh untuk memegang keyakinannya pada Islam.

Shafiyah nan suci melakukan hijrah bersama Zubair, anaknya, menuju Madinah al-Munawwarah. Setibanya di sana, mereka disambut oleh Mundzir ibn Muhammad ibn ‘Uqbah, di Desa Bani Jahjaba. Ketika Rasulullah mempersaudarakan antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin, beliau persaudarakan Zubair ibn ‘Awwam dengan Salamah ibn Salamah ibn Waqsy.

Shafiyah menyaksikan tersebarnya Islam secara luas ke seluruh penjuru negeri dan ia sendiri ikut andil dalam menyebarkannya. Semangat jihad begitu mengakar dalam hatinya sejak masa kecilnya.

Bahkan dalam Perang Uhud, begitu ia mendapat kesempatan untuk terlibat perang, ia pun berjalan di barisan paling depan di antara para perempuan yang ikut pergi untuk melayani para pejuang laki-laki, mengobati para prajurit yang terluka, menyiapkan makan, dan lain-lain.

Ketika Allah menghendaki kaum Muslimin mengalami kekalahan karena sebagian dari mereka menyimpang dari perintah Rasulullah sebagai panglima mereka, Shafiyah yang pemberani itu menenteng sebuah tombak dan turun ke tengah medan perang.

Dengan tombak itu, Shafiyah menghadang orang-orang yang melarikan diri dari medan perang. Ia berkata kepada mereka, “Kalian akan lari meninggalkan Rasulullah?”

Seusai perang, Rasulullah turun ke medan pertempuran untuk memeriksa para prajurit muslim yang terluka dan terbunuh. Beliau mendengar kabar tentang terbunuhnya paman beliau, Hamzah, Sang Singa Allah dan Rasul-Nya.

Saat menemukan jasad Hamzah, beliau melihat perutnya yang terburai dan jasadnya dalam keadaan yang sangat buruk. Melihat keadaan sang paman yang demikian, Rasulullah sangat sedih dan hatinya teriris.

Air mata mengucur dari kedua mata beliau karena duka atas kepergian sang syuhada Islam. Beliau bersabda, “Aku tidak akan mengalami sebagaimana yang engkau alami. Sungguh aku tidak pernah melihat keadaan yang lebih tidak menyenangkan daripada ini. Semoga Allah merahmatimu karena sepanjang yang kutahu, engkau adalah orang yang senang melakukan kebaikan dan menyambung silaturahmi. Demi Allah, jika Allah memberiku kesempatan untuk mengalahkan kaum Quraisy, aku akan membalas terhadap tujuh puluh orang dari mereka.

Selanjutnya, Rasulullah SAW bersabda, “Andai Shafiyah tidak bersedih dan khawatir akan menjadi sunnah sesudahku, aku pasti membiarkannya (jasad Hamzah) menjadi mangsa binatang buas dan burung-burung pemangsa.

Rasulullah meletakkan jasad Hamzah di arah kiblat lalu beliau berdiri dan meratap hingga terasa sesak dadanya. Beliau sangat tertekan hingga bersabda, “Wahai paman Rasulullah, Asadullah wa Asadu Rasulihi. Wahai Hamzah, wahai orang yang suka melakukan kebaikan. Wahai Hamzah, wahai orang yang senang menyingkap kesulitan. Wahai Hamzah, sang pembela Rasulullah.

Melihat kesedihan Rasulullah atas kematian sang paman, kaum Muslimin berkata, “Jika suatu hari nanti Allah memberi kita kemenangan atas mereka, pastilah kita balas mereka dengan balasan yang tidak pernah disaksikan oleh bangsa Arab.”

Ketika mengetahui saudaranya, Hamzah, telah terbunuh, Shafiyah segera bergegas untuk melihatnya. Hamzah adalah saudara kandung Shafiyah. Karena itu, Rasulullah bersabda kepada Zubair putra Shafiyah, “Wahai Zubair, cegahlah ibumu!”

Dengan perasaan sedih, Zubair segera pergi untuk menghampiri sang ibu. Ia berkata, “Wahai ibu, sesungguhnya Rasulullah menyuruhmu untuk kembali.” Shafiyah menjawab, “Mengapa begitu? Aku mendengar bahwa saudaraku telah dibunuh? Itu semua terjadi dalam perjuangan karena Allah. Jadi, alangkah besar keridhaan kita atas apa yang terjadi. Aku akan bersabar, Insya Allah.”

Para sahabat Anshar menghalangi Shafiyah untuk melihat jasad Hamzah, saudaranya. Namun, usaha itu tanpa arti. Pada akhirnya, Rasulullah mencegah mereka.

Beliau berseru, “Biarkanlah ia!” Shafiyah yang penyabar itu pun melihat Hamzah yang telah dipotong-potong. Ia merasakan kesedihan menyayat hatinya. Shafiyah tertunduk di hadapan Rasulullah hingga ketika Shafiyah menangis, Rasulullah pun ikut menangis. Ketika Shafiyah terisak, Rasulullah juga ikut terisak.

Fathimah az-Zahra dan orang-orang yang mengerumuninya juga menangis. Setiap kali Fathimah menangis, Rasulullah juga turut menangis kemudian bersabda, “Aku tidak akan pernah mengalami seperti Hamzah.”

Sayyidina Hamzah dibungkus dengan kain pendek. Jika mereka tutupkan

di kepala, kedua kakinya terbuka dan jika mereka tutupkan di kaki, kepalanya tersingkap. Akhirnya, mereka tutupkan kain di kepala lalu kedua kakinya ditutup dengan rerumputan hijau.

Ketika sang singa Allah dan Rasul-Nya ini telah dimakamkan, Rasulullah bersabda, “Aku didatangi oleh Jibril kemudian mengabarkan kepadaku bahwa Hamzah ibn Abdul Muththalib tertulis di antara penghuni langit tujuh: Hamzah ibn Abdul Muththalib Sang Singa Allah dan Rasul-Nya.

Tentang dirinya sendiri, Shafiyah sang wanita pejuang berjiwa kesatria ini mengatakan, “Aku adalah wanita pertama yang membunuh laki-laki.” Peristiwa itu adalah saat Rasulullah pergi menuju Khandaq (parit), beliau posisikan para wanita dan anak-anak yang bergabung dalam perang tersebut di dalam sebuah benteng tinggi yang disebut dengan Fari’. Bersama mereka, beliau posisikan penyair Rasulullah, Hassan ibn Tsabit, yang usianya sudah hampir enam puluh tahun.

Di tengah laskar para perempuan itu, menyelinaplah seorang laki-laki Yahudi yang jahat. Ia berusaha untuk melecehkan para perempuan tersebut.

Ia kelilingi benteng sementara para laki-laki muslim sedang berhadapan dengan musuh. Shafiyah bangkit dan mengatakan kepada Hassan, “Laki-laki Yahudi itu berusaha melihat aurat kami maka bangkitlah dan bunuhlah ia!”

Hassan ibn Tsabit menjawab, “Andai aku mampu melakukan itu, aku pasti bersama Rasulullah. Semoga Allah mengampunimu wahai Shafiyah. Engkau tahu bahwa aku bukanlah orang yang mampu untuk melakukan itu.”

Begitu mendengar jawaban Hassan ibn Tsabit, Shafiyah bangkit dengan gemetar. Semangat pun bergelora dalam jiwanya. Ia berdiri dan mengambil sebuah tongkat keras lalu turun dari benteng. Shafiyah menanti kelengahan laki-laki Yahudi tersebut. Tatkala mendapatkan celah itu, ia lancarkan serangan dengan memukul kepala Yahudi itu berkali-kali sampai mati.

Shafiyah kembali ke benteng dengan kebahagiaan yang memancar dari kedua matanya karena telah mampu menghabisi musuh Allah dan berhasil melindungi aurat kaum muslimah dari kejahatan.

Dalam peristiwa Perang Khaibar, sekali lagi Shafiyah sang pejuang itu berjuang bersama para wanita mukminah untuk membantu para pahlawan Islam. Para wanita itu mengambil tempat di medan perang untuk melakukan pengobatan terhadap para prajurit yang sakit atau terluka, serta menyiapkan makanan dan senjata untuk para pejuang.

Shafiyah ash-Shafiyah sangat mencintai Islam dan sangat bersemangat untuk meluhurkan kalimat Allah. Ia juga sangat mencintai keponakannya, Muhammad SAW sejak masa kecil.

Shafiyah sangat menyayangi Rasulullah dan sangat mengagumi beliau saat menjadi remaja. Karena itu, ketika Rasulullah menyampaikan dakwah Islam, Shafiyah langsung percaya dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai nabi.

Ia selalu mendukung Rasulullah saat berperang. Oleh sebab itu, saat Rasulullah wafat, Shafiyah sangat berduka dan menangisnya dengan tangisan getir. Shafiyah meratapi beliau dalam sebuah gubahan syairnya yang indah. Ia melantunkan,

Wahai mata, limpahkan air mata dan duka
Ratapilah manusia terbaik yang wafat dan pergi

Ratapilah al-Mushtafa dengan duka mendalam
Bingungkan hati laksana yang dituju

Aku hampir kehilangan hidup ketika datang
Takdir yang ditentukan pada keagungannya

Beliau sangat penyayang kepada hamba
Kasih sayang dan petunjuk yang terbaik

Semoga Allah meridhai hidup dan matinya
Semoga membalasnya dengan surga pada hari abadi

Sepeninggal Rasulullah, Shafiyah hidup pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar sebagai seorang wanita mulia dan terhormat. Sampai akhirnya, ia berpulang ke rahmatullah pada masa kekhalifahan Umar ibn Khaththab pada tahun 20 H saat usianya sudah lebih dari tujuh puluh tahun. Jenazahnya dimakamkan di tanah Baqi’ asy-Syarif.

Shafiyah merupakan salah seorang mercusuar dalam sejarah Islam dan merupakan contoh terbaik bagi pengorbanan dan jihad di jalan Allah dalam membela agama yang benar. Semoga Allah merahmati Sayyidah Shafiyah nan jernih suci dan seorang mukminah pejuang sejati.

_________________

Source: dikutip dari Buku “Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam“, karya Dr. Bassam Muhammad Hamami.

About admin

Check Also

Ambisi Membuat Kita Merasa Tak Pernah Cukup

“Sucikan cita-cita dengan mawas diri!” (Mama Arjaen qaddasallahu sirrahu) Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ ...