Sunday , May 9 2021
Home / Relaksasi / Renungan / Saat-saat Terakhir; Sebuah Renungan Menghadapi Saat yang Pasti Menimpa

Saat-saat Terakhir; Sebuah Renungan Menghadapi Saat yang Pasti Menimpa

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Allahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad.

Pernahkah kamu bertanya-tanya; di pangkuan siapakah nanti kamu akan menghembuskan nafas terakhirmu? Pertanyaan yang kedengarannya ngeri ya? Padahal seharusnya ini adalah pertanyaan penting yang “paling manis”.
Baik muda ataupun tua pasti akan dijemput maut.

Karena berbicara tentang siapa yang paling berhak menjadi sandaran kepala kita ketika Ruh kita hendak berpisah dari jasad, adalah pembicaraan “perihal Cinta”.

Si dia, tempat kita bersandar terakhir, haruslah orang yang mencintai kita dengan sungguh-sungguh, yang ketika kita menghadapi sakaratul maut, dia tau apa yang mesti dia lakukan. Bukan sekedar menangis, bukan sekedar merengek, terisak sambil menyebut nama kita untuk jangan meninggalkannya.

Dia haruslah orang yang bisa mentalqin kita dengan “Kalimah Thayyibah; Laa Ilaaha Illallaah“. Mentalqin hamba yang sedang menghadapi “Perjuangan Terakhirnya”, butuh ilmu dan bimbingan.

Siapa tahu istri/suamimu wafat dalam pelukanmu. Siapa tahu istri/suami/orangtua/anakmu meregang nyawa ketika sedang berada dalam pangkuan atau dekapanmu.

Sudah banyak kisah, ketika nafas seorang ayah tersengal-sengal menjemput ajalnya, anak-anaknya hanya bisa menangis, tak tahu harus bagaimana berbuat dan memperlakukan ayahnya di akhir hayatnya.

Jutaan cerita ketika seorang istri tak lagi bisa berkata apa-apa, hanya menetes air mata sambil berbisik menitipkan buah hatinya agar dirawat dan dibesarkan ayahnya dengan kasih sayang.

Suaminya hanya bisa menatap iba, tak keluar sepatah kata pun sebagai pesan terakhir untuk diucapkan istrinya menjemput akhir hidupnya.

Sebuah wasiat indah, pengantar Ruh menuju syurga, dari manusia paling utama yang namanya senantiasa disebut-sebut dengan penuh kasih sayang di setiap keping zaman… Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam..., Beliau berpesan…;

لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ لَآ إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

“Talqinlah (tuntunlah) seseorang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan Kalimat; Laa ilaaha illaa Allaah”. (Hadits Shahih Riwayat Muslim)

Sungguh, kalimat yang terakhir diucapkan seorang hamba ketika menjelang wafatnya, haruslah Kalimat yang ‘Paling Bagus’… ‘Paling Indah’… ‘Paling Utama’. Dan tidak ada kalimat yang lebih indah daripada kalimat; “Laa ilaaha illaa Allaah“.

Karena, kalimat inilah kalimat penyelamat yang menjadi sebab Allah memasukkan seseorang ke dalam syurga ketika kalimat ini menjadi kata-kata terakhir yang keluar dari lisannya menjelang ajal.

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَآ إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Beliau bersabda; “Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah “Laa ilaaha illaa Allaah”, maka dia akan “Masuk Syurga”. (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud)

Lantas, bagaimana cara mentalqin seorang hamba yang sedang menghadapi ajalnya? Apakah kita bacakan ayat-ayat dari Al-Quran…, bacakan tahlilan…, atau berulang-ulang kita bisikkan kalimat Laa ilaaha illaa Allaah?

Tidak. Cukup sekali saja membisikkannya….

Perhatikan, apakah dia bisa menirukannya. Jika sudah bisa menirukan, tahan lisan. Jangan sampai dia berkata-kata lagi selain Laa ilaaha illaa Allaah

Kalau dia mengigau lagi atau mengucapkan kata-kata, tunggu diamnya, lalu bisikkan lagi Laa ilaaha illaa Allaah, sampai kamu tau dia bisa menirukannya.

Begitu seterusnya sampai Ruhnya terlepas dari jasadnya, sehingga kata-kata terakhir yang keluar dari lisannya adalah, “Laa ilaaha illaa Allaah“. Dan dia menjemput kemenangan meraih “Husnul Khatimah”.

Itulah bentuk cinta dan kasih sayang yang sebenar-benarnya terhadap orang yang kita cintai, dengan membantunya mengucap kalimat penyelamat di penghujung hidupnya.

Semoga Allah Karuniakan kepada kita semua akhir hidup yang “Husnul Khatimah” dan bisa masuk syurga semuanya. Berkumpul dengan keluarga dan teman-teman yang kita sayangi. Bàarakallaahu fiikum.

Aamiin… Aamiin… Aamiin… Yaa Rabbal ‘Aalamiin…

About admin

Check Also

Makna “Tampak Saking”

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...