Sunday , October 17 2021
Home / Agama / Kajian / Saat Rasulullah SAW Sampaikan Salam Kepada Orang Majusi

Saat Rasulullah SAW Sampaikan Salam Kepada Orang Majusi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepada-Nya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayah-Nya yang umum dan petunjuk-Nya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Ini kisah yang datang dari Abdullah Ibnu Mubarak saat menunaikan ibadah haji di Mekkah. Ketika itu, ia bermimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW agar menyampaikan salam kepada orang Majusi atau penyembah api yang ada di Baghdad.

Dituturkan oleh Abdullah Ibnu Mubarak bahwa ketika ia menunaikan ibadah haji ia tertidur di dekat Khatim Sulaiman atau Hijr Ismail. Dalam tidurnya itu, Ibnu Mubarak bertemu dengan Rasulullah SAW. Kemudian beliau berpesan, ”Jika kau pulang nanti ke Baghdad, pergilah ke suatu tempat. Carilah orang yang bernama Bahram, orang Majusi. Sampaikan salamku padanya. Dan katakanlah Allah SWT sangat suka dengan yang ia lakukan”.

Setelah itu, Ibnu Mubarak terbangun. Kemudian ia merenungi mimpinya itu dan berkata, “Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil adzhīmi, ini sungguh mimpi setan”. Lalu Ibnu Mubarak mengambil wudhu, shalat dan kemudian thawaf. Setelah itu, Ibnu Mubarak tertidur lagi. Mimpi yang sama kembali datang hingga tiga kali.

Setelah selesai melakukan ibadah haji, Ibnu Mubarak kembali ke Baghdad. Dicarilah orang yang bernama Bahram. Hingga akhirnya ia ketemu dengan orang yang dimaksud Rasulullah SAW itu. Ternyata orang tersebut sudah tua.

“Apakah Anda orang yang bernama Bahram”, tanya Ibnu Mubarak.

“Ya”, jawab Bahram.

“Anda memiliki sesuatu yang menurut Allah SWT baik?”, tanya Ibnu Mubarak.

“Ya”, ujar Bahram singkat.

“Apa?” kata Ibnu Mubarak.

“Saya suka menghutangi seseorang dan saya mengambil keuntungan darinya”, katanya.

“Itu haram”, sergah Ibnu Mubarak. “Lalu apa lagi”, tanya Ibnu Mubarak penuh selidik.

“Ya, saya membuat pesta perkawinan anak menurut cara Majusi”, kata Bahram.

“Itu juga haram”, ucap Ibnu Mubarak. “Adakah yang lain?”

“Ya, saya mempunyai anak perempuan yang sangat cantik. Menurut saya tidak ada laki-laki yang patut menjadi istrinya. Maka ia saya kawini dengan pesta yang sangat meriah dan mengundang ribuan orang”, jawab Bahram.

“Itu juga haram. Ada yang lain lagi”, tanya Ibnu Mubarak.

“Ada. Pada malam saat saya ingin menggauli anakku tiba-tiba datang seorang muslimat yang ingin meminta api. Ketika saya kembali ke kamar, wanita itu mematikan api lagi. Kemudian saya kembali dan ia menyalakan api lagi. Namun ia mematikannya. Saya menjadi curiga. Jangan-jangan perempuan Islam itu mata-mata pencuri. Akhirnya, saya mengikutinya hingga rumah. Saya melihat ia memiliki beberapa anak perempuan yang nampak kelaparan”.

Bahram kemudian melanjutkan ceritanya. “Bagaimana ibu, apakah ibu membawa sesuatu, kami tidak kuat menahan lapar”, kata salah satu anaknya.

Ibu itu kemudian menjawab, ”Aku malu kepada Tuhan jika harus meminta sesuatu kepada selain-Nya. Apalagi harus meminta kepada musuh Allah SWT, orang majusi itu?”

“Ketika saya mendengar kata-kata ibu tadi, Saya langsung tergerak pulang. Di rumah saya mengambil nampan dan mengisinya dengan makanan. Setelah itu, saya kembali ke rumah ibu tadi dan mengantarnya sendiri”.

Mendengar cerita itu, Ibnu Mubarak berkata, ”Itulah kebaikan”. Setelah itu, Ibnu Mubarak menceritakan perihal mimpinya. Mendengar hal itu tiba-tiba Bahram berkata, “Asyhadu an lâ ilâha illallâhu, wa asyhadu anna muhammadar rasûlullâh”.

Kemudian Bahram pingsan hingga mati. Ibnu Mubarak pun kemudian mengkafani dan menguburkannya dengan cara Islam. Setelah peristiwa itu, Ibnu Mubarak berpesan;

”Wahai hamba Allah perbanyaklah derma kepada makhluk Allah. Karena dengan begitu, derma itu akan mengubah musuh menjadi kekasih”.

Oleh: Nurul Huda
Sumber tulisan: Diambil dari terjemahan Kitab Usfuriyah

Source: Sufinews.Com

 

About admin

Check Also

Wahai HambaKu

“Inilah amanah Allah untuk kita semua wahai sahabat” Oleh: H Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ...