Tuesday , September 28 2021
Home / Agama / Kajian / Riwayat Habib Kuncung (Habib Ahmad bin Alawi al-Haddad)

Riwayat Habib Kuncung (Habib Ahmad bin Alawi al-Haddad)

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Makam Kramat Wali Allah al-Habib Ahmad bin ‘Alwi al-Haddad alias Habib Kuncung di  Pemakamam Keluarga Habib Abdullah bin Ja’far al-Haddad,  satu komplek dengan Masjid Jami al-Taubah, di Rawajati Timur II, Kelurahan Pancoran, Jakarta Selatan tak pernah sepi dari para peziarah yang ngalap berkah. Umat datang berziarah ingin mengaji diri merenungkan kembali mengenai hidup yang harus dijalani dengan tawadhu’ dan keshalehan yang utuh. Komplek ini sendiri kini dikelola oleh Yayasan Darut Taubah, Jakarta Selatan.

Habib Kuncung wafat pada tahun 1345 H., tepatnya tanggal 29 Sya’ban sekitar tahun 1926 M. Puncak keramaian yang biasanya dihadiri ribuan orang pada dan setiap hari Minggu ketiga bulan Rabi’ul Awwal diadakan peringatan Maulid Nabi di pemakaman beliau ba’da ‘Ashar. Al-Habib Ahmad bin ‘Alwi al-Haddad yang lebih dikenal dengan gelarnya Habib Kuncung seorang Wali Allah yang memiliki khariqul a’dah (di luar kelaziman umum). Kenapa?

Karena sering memakai memakai kopyah atau topi yang menjulang ke atas (kuncung bahasa Jawa) maka beliau digelari Habib Kuncung. Habib ini dikenal mempunyai kemampuan di luar kebiasaan manusia umumnya atau disebut dalam bahasa kewalian “Madzub” atau disebut dengan “ahli Darkah”. Habib akan muncul tiba-tiba di saat orang dalam kesulitan dan sangat memerlukan bantuan. Makanya setelah wafat Habib Kuncung mendapat kehormatan sedemikian rupa oleh umat Islam.

Riwayat Habib Kuncung

Ditilik dari sejarahnya, Habib Kuncung lahir di Gurfha, Hadhramaut, Tarim. Habib Kuncung belajar kepada ayahnya  sendiri al-Habib ‘Alwi al-Haddad. Selain itu, beliau juga belajar kepada al-Habib Ali bin Husein al-Haddad, Hadhramaut, al-Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi dan kepada Keramat Empang Bogor, al-Habib Abdullah bin Muhsin al-‘Atthas.

Konon, ketika beliau dewasa didatangi oleh Rasulullah SAW yang akhirnya beliau ziarah ke Madinah, selanjutnya dalam bisyarahnya, beliau disuruh ke Pulau Jawa oleh Nabi SAW. Habib (Kuncung) Ahmad bin Alwi al-Haddad termasuk keluarga Nabi SAW, keturunan ke-40.

Secara garis besar, kehidupan Habib Kuncung sangat misterius. Tak ada yang mengetahui kapan beliau lahir. Habib Kuncung hanya diketahui lahir di Hadhramaut, Tarim, sebuah daerah di Yaman. Habib dikenal sebagai pedagang. Sejak muda beliau sudah berdagang. Posisi inilah yang membuatnya mengenal wilayah Asia Tenggara saat beliau berdagang sampai ke Singapura. Habib Kuncung dikenal sebagai pedagang yang lumayan sukses di Singapura.

Menurut Habib Salim bin Ahmad, salah satu kerabatnya di Rawajati, Habib Kuncung sampai memiliki peninggalan harta benda yang di tahun 20an lalu senilai dengan harga 30 rumah di sini. Mobilitas dirinya sebagai pedagang juga yang membuatnya menginjak Tanah Bugis dan memperoleh istri di sana. Namun tak ada yang mengenal siapa istri Habib Kuncung itu. Dari perkawinan tersebut diketahui lahir seorang putra bernama Muhammad yang kemudian mewarisi harta peninggalan Habib Kuncung di Singapura. Namun sayang, Habib Muhammad kemudian meninggal dunia hingga terputuslah garis keturunan Habib Kuncung.

“Habib Kuncung dikenal selalu hidup berpindah-pindah. Tak ada yang dapat memastikan Habib Kuncung menetap di satu tempat tertentu. Beliau hadir dan pergi sesukanya. Hanya, beliau memiliki tempat singgah di Kampung Melayu, yakni rumah seorang pegawai gubernuran Batavia yang menjadi sahabatnya,” kisah Habib Salim bin Ahmad.

Habib Kuncung, lanjut Habib Salim, sering muncul di Kwitang pada Majelis ulama kalangan Habaib di Jakarta yang dipusatkan di Kediaman Habib Ali al-Habsyi. Namun beliau dikenal masyarakat Bogor, karena banyak menghabiskan waktu di sana.

Sebutan “kuncung” yang menjadi gelarnya juga berasal dari Bogor. Masyarakat di sana menyebutnya seperti itu karena beliau selalu mengenakan topi kuncung. Hidupnya yang bergaya pengembara membuat tak banyak orang mengetahui riwayatnya secara persis.

“Habib Kuncung sering hadir dan dikenal masyarakat sebagai seorang ulama yang misterius tapi berilmu tinggi. Banyak orang yang mengalami masalah berat menghadap kepadanya dan meminta nasihat maupun fatwa. Kalau bertemu, Habib Kuncung pasti diberi nasihat yang merujuk pada al-Qur’an dan al-Hadits,” jelas Habib Salim.

Habib akan memberikan pokok-pokok solusi dari permasalahan berserta literaturnya. Kemudian Habib menyuruh si peminta fatwa mengecek serta mengkajinya sendiri. Jika para ulama berkumpul mengadakan pembacaan kitab, maka, Habib Kuncung akan tampil sebagai pembacanya, karena suaranya yang bagus serta penguasaan bahasa arabnya yang tinggi. Tapi ini diyakini merupakan hal yang disengaja karena beliau tak ingin dilebih-lebihkan orang.

Pada suatu saat beliau mulai menunjukkan beberapa “kelebihannya”. Pernah satu ketika para ulama berkumpul di Kwitang. Mereka ingin melakukan perjalanan ke Cirebon memenuhi sebuah undangan. Saat itu Habib Kuncung agak terlupakan hingga tidak ikut rombongan ke stasiun. Para ulama berangkat pada pukul 07.30 pagi. Sesampainya di stasiun Cirebon, ternyata para ulama menemukan Habib Kuncung sudah di sana. Ketika yang lain bertanya,  beliau mengaku sudah berada di stasiun itu sejak pukul 07.30. rupanya ketika rombongan ulama berangkat ke stasiun, naik kereta menuju Cirebon, Habib Kuncung juga berangkat ke Cirebon tapi dengan caranya sendiri.

Kejadian lainnya, yang menunjukkan “kelebihan” Habib Kuncung, pada suatu ketika dia membakar sampah dalam lubang besar, di sekitar lubang itu terdapat pohon pisang. Rupanya pohon pisang itu sengaja ditanam orang. Terang saja, melihat lubang sampah itu dibakar, pemilik pohon pisang marah besar kepada Habib Kuncung. Tetapi Habib Kuncung hanya diam tak meresponnya. Ternyata ketika api padam tak ada sebatang pohon pisang pun yang mati, bahkan kemudian malah lebih subur  tumbuhnya.

Karomahnya yang lain yaitu; setiap kali Habib Kuncung memakai jasa tukang delman, kusir delman itu pasti pulang lebih awal, karena setoran menjadi mudah tercukupi. Kusirnya juga akan pulang dengan uang yang lebih dari biasanya. Makanya banyak sekali tukang delman yang mengharap-harap agar delmannya dinaiki Habib Kuncung.

Meskipun Habib Kuncung bersikap aneh dan selalu datang dan pergi tiba-tiba, umat mengenang Habib Kuncung sebagai pribadi terhormat yang saleh. Sedangkan apa-apa yang dianggap orang sebagai “kelebihannya” merupakan satu bentuk ketawadhu’annya. Habib Kuncung tak ingin orang memuja-muja dirinya berlebihan dan punya pikiran macam-macam. Habib Kuncung itu hanya ingin dikenal sebagai orang biasa saja. Begitu tawadhu’nya Habib Kuncung, beliau tak pernah mau menerima hadiah, baik uang maupun pakaian. Beliau hanya ingin dapat tampil seperti manusia biasa, apa adanya.

“Sekalipun begitu tak ada orang yang meragukan kapasitas Habib Kuncung sebagai Waliyullah. Buktinya hingga kini makamnya selalu dibanjiri para peziarah dari pelosok negeri, bahkan mancanegara,” pungkas Habib Salim mengakhiri kisahnya, di sela-sela memandu para peziarah.

Source: Alif.Id

About admin

Check Also

Legalitas Takwil pada Ayat-ayat Mutasyabihat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...