Home / Downloads / Resep Menghilangkan Kegundahan Hati

Resep Menghilangkan Kegundahan Hati

Oleh: Raden Mahmud Sirnadirasa*

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillãhirrahmãnirrahîm
Washshalãtu wassalãmu ‘alã Muhammadin wa ãlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inãyatil ‘ãmmati wal-hidãyatit tãmmah, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Di masa kita hidup dalam berbagai guncangan bathin, ada baiknya kita kembalikan setiap permasalahan kepada pemilik diri dan hati kita yang sesungguhnya yaitu Allah SWT.

Sebelum saya membukakan wirid/zikir Imam Ghazali ini ada baiknya kita membaca nasehat bahasa Jawa berikut ini terlebih dahulu :

“Dadiya”

Dadiya gedhe sing ora ngebot-boti
(jadilah besar yang tidak membebani).

Dadiya santosa sing ora gawe wedi
(jadilah perkasa yang tidak menakutkan).

Dadiya lancip sing ora nglarani
(jadilah runcing yang tidak menyakiti).

Dadiya landhep sing ora natoni
(jadilah tajam yang tidak melukai).

Dadiya sugih sing ora gawe rugi
(jadilah kaya yang tidak merugikan).

Dadiya pinunjul sing ora gawe meri
(jadilah unggul namun tidak menimbulkan iri hati).

Dadiya padhang sing ora mblerengi
(jadilah terang namun tidak mengaburkan).

Dadiya sumunar sing ora nyulapi
(jadilah bersinar namun tidak menyilaukan).

Dadiya talanging banyu rahmating Gusti Allah kanggo sasamaning titah
(jadilah talang air bagi rahmat Tuhan untuk sesama hambaNya)

Imam Al-Ghazali menuntun kita untuk mengamalkan wirid berikut sesuai penjelasannya, yaitu:

تُكَرِّرُ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْ هذِهِ الْكَلِمَاتِ إِمَّا مِائَةَ مَرَّةٍ أَوْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً، أَوْ عَشْرَ مَرَّاتٍ، وَهُوَ أَقَلُّهُ، لِيَكُوْنَ الْمَجْمُوْعُ مِائَةً. وَلَازِمْ هذِهِ الْأَوْرَادَ، وَلاَ تَتَكَلَّمْ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ؛ فَفِي الْخَبَرِ أَنَّ ذَلِكَ أَفْضَلُ مِنْ إِعْتَاقِ ثَمَانِ رِقَابِ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيْلَ عَلَى نَبِيِّنَا وَعَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَعْنِي الإِشْتِغَالَ بِالذِّكْرِ إِلَى طُلُوْعِ الشَّمْسِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَتَخَلَّلَهُ كَلَامٌ

“Engkau ulang-ulang setiap wirid dari wirid-wirid itu, entah seratus kali atau tujuh puluh kali, atau sepuluh kali dan ini paling sedikitnya agar menjadi seratus. Dawamkan wirid-wirid ini, jangan berbicara sebelum terbitnya matahari; terdapat dalam hadits, bahwasannya tidak berbicara sebelum terbitnya matahari lebih utama dari memerdekakan delapan budak dari anak turunan Nabi Ismail salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, yang aku maksud yaitu menyibukkan dengan zikir sampai terbitnya matahari tanpa menyelanginya dengan pembicaraan.”

Ada yang mengamalkan dzikir seadanya, setelah shalat saja, hingga ada yang di setiap hembusan nafasnya dihiasi dengan Asma` Allah SWT.

Imam Al-Ghazali dalam karyanya, Bidâyatul Hidâyah merekomendasikan kita beberapa wiridan yang dapat kita amalkan. Ia menyebutkan:

وَلْيَكُنْ مِنْ تَسَابِيْحِكَ، وَأَذْكَارِكَ عَشْرُ كَلِمَاتٍ

Hendaknya tasbih-tasbihmu dan dzikir-dzikirmu terdapat sepuluh kalimat,” yaitu:

Pertama:

لَآ إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، لَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِى وَيُمِيْتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوْتُ، بِيَدِهِ الْخَيْر، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ ۞

Lã ilãha illallãh, wahdahû lã syarîka lah, lahul mulku, lahul hamdu, yuhyî wa yumîtu, wa huwa hayyun lã yamûtu, biyadihil khairu, wa huwa ‘alã kulli syay`in qadîr.

“Tiada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia yang menghidupkan dan mematikan, Dia maha hidup tidak mati, kebaikan ada di kekuasaan-Nya. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Kedua:

لَآ إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ ۞

Lã ilãha illallãhul malikul haqqul mubîn

“Tiada tuhan selain Allah yang maha menjadi raja, maha benar, maha menjelaskan.”

Ketiga:

لَآ إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ، رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الْعَزِيْزُ الْغَفَّارُ ۞

Lã ilãha illallãhul wãhidul qahhãr, rabbus samãwãti wal ardhi wa mã bainahumal ‘azîzul ghaffãr

“Tiada tuhan selain Allah yang esa dan maha perkasa, Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya yang maha perkasa lagi maha pengampun.”

Keempat:

سُبْحَانَ اللّٰهِ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ، وَلَآ إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَاللّٰهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ ۞

Subhãnallãh, wal hamdu lillãh, wa lã ilãha illallãh, wallãhu akbar, wa lã haula wa lã quwwata illã billãhil ‘aliyyil ‘adzhîm.

“Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, tiada daya dan upaya melainkan atas pertolongan Allah.”

Kelima:

سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلَآئِكَةِ وَالرُّوْحِ ۞

Subbûhun quddûsun rabbul malãikati war rûh

“Maha Suci, Maha Qudus, Tuhan sekalian malaikat dan Ruh (Jibril).”

Keenam:

سُبْحَانَ اللّٰهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللّٰهِ الْعَظِيْمِ ۞

Subhãnallãh wa bi hamdih, subhãnallãhil ‘adzhîm

“Maha Suci Allah dengan memuji-Nya, dan Maha Suci Allah yang Maha Agung.”

Ketujuh:

أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ الَّذِي لَآ إِلَهَ إِلَا اللّٰهُ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ، وَأَسْأَلُهُ التَّوْبَةَ وَالْمَغْفِرَةَ ۞

Astaghfirullãhal ‘adzhîm alladzî lã ilãha illallãh huwal hayyul qayyûm, wa as’aluhut taubata wal maghfirah

“Aku memohon ampun kepada Allah yang maha agung, yang tiada tuhan selain Allah, Dia yang maha hidup dan yang berdiri sendiri, aku memohon tobat dan ampunan.”

Kedelapan:

اَللّٰهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا رَادَّ لِمَا قَضَيْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ ۞

Allãhumma lã mãni’a limã a’thaita wa lã mu’thia limã mana’ta wa lã rãdda limã qadhaita wa lã yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu

“Ya Allah, tidak ada yang bisa mencegah apa yang Engkau berikan, tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau cegah, tidak ada yang dapat menolak apa yang Engkau tetapkan, dan tidak bermanfaat kekayaan/kemuliaan (bagi orang yang memilikinya), hanya dari-Mu kekayaan/kemuliaan itu.”

Kesembilan:

اَللّٰهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ ۞

Allãhumma shalli ‘alã Muhammadin, wa ‘alã ãli Muhammadin wa shahbihî wa sallim

“Ya Allah curahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad SAW dan kepada keluarga serta sahabatnya, juga curahkanlah keselamatan.”

Kesepuluh:

بِسْمِ اللّٰهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَآءِ، وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ۞

Bismillãhil ladzî lã yadhurru ma’asmihî syai`un fil ardhi wa lã fis samã`i wa huwas samî’ul ‘alîm

“Dengan menyebut nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada yang dapat mencelakai segala sesuatu di bumi dan langit, Dia-lah yang maha mendengar lagi maha mengetahui.”

Wirid-wirid di atas sebagiannya sering kita baca, dan kebanyakan sudah tidak asing lagi. Jika memang tidak dapat mengamalkan semuanya, mungkin kita dapat mengamalkannya sebagian terlebih dahulu. Sebagaimana dalam kaidah fiqih;

مَا لَا يُدْرَكُ كُلُّهُ لَا يُتْرَكُ جُلُّهُ

Mã lã yudraku kulluhu lã yutraku julluh

“Sesuatu yang tidak dapat dikerjakan semuanya, jangan ditinggalkan semuanya.”

Semoga Allah merahmati kita semua, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn.

***

Bagi yang ingin mengamalkan tuntunan dzikir oleh Imam al-Ghazali, berikut ini kami buatkan e-book untuk bisa didownload dan diprint out agar dapat dijadikan buku yang bisa dipegang untuk diamalkan. Silahkan klik tombol merah di bawah ini:

Tuntunan Dzikir Imam Ghazali

 

____________________

*Dr. Supardi, SH., MH., Kepala Kejaksaan Tinggi Riau.

About byHaqq (Admin)

Pena adalah senjata yang lebih halus dari atom. Kadangkala terhempas angin, terbuang seperti sampah. Kadangkala terkumpul ambisi, tergali seperti ideologi. Manfaat dan mudharat pena adalah maqamatmu...

Check Also

Nasihat Syaikh Abu al-Hasan Ali asy-Syadzili

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...