Saturday , June 12 2021
Home / Relaksasi / Renungan / Rasulullah Mendo’akan Umatnya Setiap Malam

Rasulullah Mendo’akan Umatnya Setiap Malam

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Wasshalaatu wassalaamu ‘alaa Muhammadin wa aalihi ma’at tasliimi wabihii nasta’iinu fii tahshiilil ‘inaayatil ‘aammati wal-hidaayatit taammah, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin”.

“Seberapa tinggi keyakinanmu bahwa Rasulullah selalu mendo’akanmu setiap saat, maka itulah yang akan engkau dapatkan saudaraku. Bila engkau yakin bahwa Yang Mulia Nabi mendo’akanmu untuk kesembuhan dari penyakitmu maka sungguh do’a mustajabnya akan menyembuhkanmu. Bila engkau yakin Rasul mendo’akanmu untuk keselamatanmu, kebahagiaanmu, kelimpahan rezekimu, maka sungguh itulah pula yang akan engkau dapatkan. Demi Allah itu kebenaran yang nyata!!”

Saudaraku, sahabatku, dan para kekasihku, kembali kita renungkan bersama bahwa guruku, junjunganku, kekasihku, Rasulullah SAW betapa sangat sayang kepada kita semua. Setiap malam beliau tak henti-hentinya menumpahkan air mata demi umatnya. Adakah getaran di hati kita bahwa munajat guru kita itu telah menembus relung-relung sukma kita sehingga cintanya telah membuat hati kita menjadi cermin dan memantulkannya kembali?

Sungguh saudaraku, sahabatku, dan para kekasihku, bahwa pantulan cermin cinta Rasulullah SAW di hati kita akan membuat diri kita, keluarga kita, sahabat-sahabat kita, lingkungan kita, lingkaran bergaul kita, semua akan diberkati oleh kasih sayang Allah SWT. Sebuah cinta yang tak bisa ditakar dengan materi.

Setiap malam dalam shalatnya, Rasulullah SAW berdoa kepada Allah SWT agar memberikan ampunan pembebasan adzab untuk umatnya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan juga dalam Mushannaf Ibn Abi Syaibah, yang riwayat tersebut masyhur sepanjang zaman:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ:  قَامَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى أَصْبَحَ يَتْلُو آيَةً وَاحِدَةً مِنْ كِتَابِ اللّٰهِ بِهَا يَرْكَعُ وَبِهَا يَسْجُدُ وَبِهَا يَدْعُوْ إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ ۞

Dari Abu Dzar, RA., beliau berkata; “Aku mendengar Rasulullah SAW suatu malam dalam shalatnya hingga pagi harinya, beliau membaca dan mengulang-ulang satu ayat dari Kitabullah (Al-Qur’an) dalam setiap setiap ruku’ dan sujudnya; “Jika Engkau mengadzab mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya memang Engkau maha pengampun lagi maha bijaksana”. (Do’a tersebut terdapat di dalam QS. al-Maidah: 118).

Begitu sayangnya beliau SAW kepada kita semua, hingga beliau tak pernah ridha jika ada umatnya yang diadzab oleh Allah. Do’a tersebut dipanjatkan di setiap keheningan malam, di kesunyian dan pada kesendiriannya. Lalu bagaimanakah dengan kita?

Dalam riwayat lain, yang direkam banyak ulama hadits, diantaranya Imam Ibn Khuzaimah, Imam Al-Thabrani dan juga Imam Abi Daud, juga Imam Al-Baihaqi, bahwasanya Rasulullah SAW, ketika terjadi gerhana Matahari,  sebagaimana syari’at shalat gerhana seperti yang diajarkan, beliau  melakukan shalat dengan berdiri dan ruku’ yang panjang. Lalu di akhir sujud shalatnya, beliau menghela nafas dan menghembuskannya cukup kencang seperti menahan tangis. Lalu beliau mengatakan:

رَبِّيْ، أَلَمْ تَعِدْنِيْ أَلَّا تُعَذِّبَهُمْ وَأَنَا فِيْهِمْ، أَلَمْ تَعِدْنِيْ أَنْ لَا تُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ ۞

“Tuhanku, bukankah Engkau telah berjanji, bahwa Engkau tidak akan menurunkan adzab kepada umatku selama aku berada bersama mereka. Dan bukankah Engkau juga berjanji tidak menurunkan adzab selama mereka memohon ampunan?”

Bisakah kita membayangkan, bagaimanakah bentuk rasa cinta dalam diri seseorang yang sudah menembus batas-batas ruang dan waktu? Padahal mereka yang disebut umat Rasulullah SAW itu adalah mereka yang hidup setelah beliau diangkat menjadi Rasulullah SAW. Hingga detik ini, manusia yang hidup sejak risalah beliau dan yang mencakup seluruh umat manusia, tidak selalu punya loyalitas terhadap beliau, lalu beliau tanpa pengecualian dan tanpa pamrih mengucapkan doa hingga berlinang air mata. Subhaanaka laa ‘ilma lanaa illaa maa ‘allamtanaa.

Selanjutnya, menarik untuk kita simak sebuah hadits yang diriwayatkan Siti ‘Aisyah:

قَالَتْ عَائِشَةُ: لَمَّا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَيِّبَ النَّفْسِ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللّٰهِ أُدْعُ اللّٰهَ لِى، فَقَالَ: “اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِعَائِشَةَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهَا وَمَا تَأَخَّرَ وَمَا أَسَرَّتْ وَمَا اَعْلَنَتْ”. فَضَحِكَتْ عَائِشَةُ حَتَّى سَقَطَ رَأْسُهَا فِى حِجْرِهَا مِنَ الضِّحْكِ، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيَسُرُّكِ دُعَائِى؟ فَقَالَتْ: وَمَا لِى لَا يَسُرُّنِى دُعَاؤُكَ؟ فَقَالَ: إِنَّهَا لَدُعَائِى لِاُمَّتِيْ فِى كُلِّ صَلَاةٍ “. (صحيح ابن حبان).

“Siti Aisyah, isteri Nabi mengatakan : “Manakala aku melihat Nabi sedang senang, aku mengatakan : “Duhai Nabi, tolong do’akan aku, ya?”. Lalu Nabi mengatakan : “Ya Allah ampuni dosa-dosa ‘Aisyah, yang dulu maupun yang akan datang, yang tersembunyi maupun yang tampak”. Mendengar do’a suaminya itu ‘Aisyah tertawa terkekeh-kekeh, sampai kepalanya jatuh ke pangkuan Nabi. Kemudian Nabi mengatakan: “Apakah kau senang dengan do’aku tadi?”. ‘Aisyah menjawab : “Bagaimana mungkin aku tidak senang didoakan olehmu?”. Nabi mengatakan lagi: “Itulah do’a yang aku panjatkan kepada Allah untuk umatku pada setiap shalat”.

Saudaraku, kecintaan Rasulullah SAW kepada umatnya yang tanpa pamrih itu adalah sebuah syafa’at, pelebur dosa, penetral segala kesalahan, dan pembebas dari segala adzab. Lalu sudahkah kita mendapatkan “tiket syafa’at” melalui kecintaan beliau kepada kita. Lalu bagaimana cara mendapatkannya?

Dalam Shahih Al-Bukhari dari Abu Hurairah berkata:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ: قُلْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، أَلَّا يَسْأَلَنِيْ عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلَ مِنْكَ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ : لَآ إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ خَالِصَةً مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ مِثْلَ مَنْ فَقّهَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ تَعَالَى ۞

Diriwayatkan dari Abi Hurairah, beliau berkata: Aku berkata pada Nabi SAW: “Siapakah orang yang paling beruntung dengan (mendapatkan) syafa’atmu pada hari Kiamat?” Kemudian nabi SAW bersabda: “Wahai Abu Hurairah, aku kira belum ada seorangpun yang bertanya tentang hadits ini yang lebih awal dari kamu. Aku melihat kesungguhanmu tentang (maksud) hadits ini. Orang yang paling beruntung dengan syafa’atku di hari kiamat nanti adalah orang-orang yang mengucapkan kalimat ‘laa ilaaha illaa Allah’ (tiada Tuhan selain Allah) dengan ikhlas dari lubuk hatinya yang paling dalam, seperti orang yang paham tentang agama Allah Ta’ala”.

Ternyata, kunci untuk mendapatkan “tiket syafa’at” Rasulullah SAW yang berupa kecintaan kepada umatnya itu adalah kalimat ‘laa ilaaha illaa Allah’ (tiada Tuhan selain Allah). Sudah pasti, ketika seseorang mampu “menggunakan” kunci tersebut, ia akan memantulkan kasih sayang yang sama tanpa pamrih. Dan akan selalu berada pada “rumah” yang sama dengan Rasulullah SAW.

Juga dalam Shahih Al-Bukhari, yang juga diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ يَدْعُوْهَا، فَأُرِيْدُ أَنْ أَخْتَبِئ دَعْوَتِيْ شَفَاعَةً لأُِمَّتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۞

”Setiap Nabi memiliki do’a yang mustajab yang selalu ia panjatkan. Maka aku ingin sembunyikan do’aku ini sebagai syafa’at untuk umatku nanti di hari kiamat”.

Semoga Allah SWT menganugerahkan kelembutan hati kepada kita agar kita memahami cinta Rasulullah SAW kepada kita selaku umatnya, sehingga kita dapat terbimbing untuk bisa mendapatkan syafa’atnya melalui kalimat yang kita pahami, kita rasakan dan kita jalani, yakni kalimat ‘laa ilaaha illaa Allah‘ (tiada Tuhan selain Allah). Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

Wallaahu A’lam

 

About admin

Check Also

Shalawat Kubra

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...