Saturday , September 25 2021
Home / Downloads / Qashidah Sa’duna Fiddunya; Ungkapan Kecintaan Kepada Sayyidah Khadijah al-Kubra

Qashidah Sa’duna Fiddunya; Ungkapan Kecintaan Kepada Sayyidah Khadijah al-Kubra

Oleh: Ismael Amin Kholil

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Pasca wafatnya Syaikhuna Maimun Zubair, “Qashidah Sa’duna Fiddunya” mendadak viral. Qashidah kesukaan Mbah Mun ini disenandungkan di berbagai Majelis. Di Youtube ratusan orang berlomba-lomba mengcover Qashidah ini.

Sejak Qashidah ini meledak sampai detik ini, banyak yang mengira bahwa Qashidah ini adalah karangan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki, dan saya termasuk salah satu yang memiliki perasangka itu. Selain Mbah Mun, Abuya memang salah satu yang mempopulerkan Qashidah ini. Qashidah ini seringkali disenandungkan sendiri oleh Abuya di berbagai kesempatan. Tak sedikit juga yang mengira bahwa “Qashidah Sa’duna Fiddunya” adalah karangan Mbah Maimun sendiri.

Memang tak dipungkiri, bahwa ada beberapa bait yang ditambahkan oleh Abuya dan Mbah Maimun melebihi teks Aslinya. Ini yang kemudian dijelaskan oleh Gus Idror Maimun bahwa tambahan itu Mbah Yai dapatkan dari alam Ruhaniah. Namun faktanya, “kerangka” asli Qashidah ini memang bukan karangan Abuya dan Mbah Maimun. Qashidah ini ditulis oleh seorang wali besar asal Quwairah (dibaca: ‘Guweireh’ dengan dialek orang Hadhramiy) Hadhramaut yaitu al-Habib Ahmad Bin Muhammad al-Muhdhar.

Habib Ahmad adalah ayah dari Habib Muhammad Al-Muhdhar Bondowoso, seorang wali besar yang disebutkan dalam kitab-kitab Habaib bahwa wajah beliau memiliki kemiripan dengan wajah mulia Baginda Rasulullah SAW. Bersama Habib Muhammad bin Idrus al-Habsy (murid kesayangan Habib Ali Shahibul Maulid), Habib Muhammad al-Muhdhar dimakamkan di Qubah Ampel. Jika anda berziarah ke Ampel, sayang sekali jika tidak menyempatkan diri untuk berziarah ke makam beliau-beliau yang terletak di tengah-tengah pasar Ampel ini.

Kembali ke sejarah Habib Ahmad. Beliau dikenal sebagai ulama yang memiliki ikatan luar biasa erat dengan al-Qur’an. beliau sudah hafal al-Quran di luar kepala sebelum usia beliau genap 7 tahun. Bahkan 30 tahun sebelum beliau wafat, di liang kuburnya beliau berhasil mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak 8.000 kali. Semua bermula ketika suatu hari beliau membaca “Biografi Rabi’ah al-Adawiyah”, seorang wali wanita yang menjadi ikon wanita shalehah sampai saat ini.

Sebelum wafatnya, Rabi’ah al-Adawiyah menggali sendiri liang kuburnya. Di situ ia biasanya berkhalwat, berdzikir, mengingat mati dan mengkhatamkan al-Qur’an hingga 7.000 kali. Mendengar itu, Habib Ahmad termotivasi hingga akhirnya berhasil mencapai 8.000 kali khataman. Ketika putra beliau bertanya mengapa beliau melakukan hal itu, beliau berkata: “aku tidak mau kalah oleh seorang wanita…”

Habib Ahmad juga dikenal memiliki kecintaan yang luar biasa kepada Sayyidah Khadijah al-Kubra. Beliau bahkan seringkali mendapatkan “Madad” khusus dari Sayyidah Khadijah. Yang begitu Masyhur adalah sebuah kejadian yang terjadi sekitar tahun 1250 H., ketika beliau bermukim di Mekkah. Ketika Shalat Jum’at beliau melihat Khatib memanjangkan Khutbah dan memendekkan Shalat, padahal Rasulullah SAW jelas-jelas bersabda :

إِنَّ طُوْلَ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَقَصْرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ، فَأَطِيْلُوا الصَّلَاةَ وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ، وَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ لَسِحْرًا .

“Sesungguhnya panjangnya shalat dan pendeknya khutbah merupakan ciri dari kefaqihan seseorang. Maka panjangkanlah shalat dan pendekkanlah khutbah, sesungguhnya di antara untaian kata yang indah itu ada daya penarik (bagaikan sihir).”

Setelah shalat Jum’at selesai, Habib Ahmad mendatangi Khatib tadi dan menamparnya, lantas berkata; “engkau telah menyalahi sunnah Rasulullah SAW… !”

Jama’ah shalat Jum’at heboh, Sang Khotib yang marah besar menyuruh para tentara untuk mengejar Habib Ahmad. Beliau akhirnya melarikan diri menuju pemakaman Ma’la. Ketika hampir saja tentara berhasil menangkap beliau, tiba-tiba pintu Qubah Sayyidah Khadijah terbuka dengan sendirinya (dulu di atas makam Sayyidah Khadijah dibangun Qubah megah yang kemudian dihancurkan Kaum Wahhabi). Ketika Habib Ahmad masuk, pintu Qubah tiba-tiba tertutup dengan sendirinya. Para tentara melakukan segala cara untuk membuka pintu, tapi tidak berhasil. Bahkan ketika akhirnya mereka berhasil membuka pintu dengan bantuan juru kunci Qubah, ternyata di dalam tidak ditemukan siapa-siapa. Habib Ahmad bagaikan lenyap ditelan Bumi.

Kabar kejadian ini akhirnya di dengar oleh Amir Mekkah. Beliau akhirnya mengetahui bahwa Habib Ahmad bukanlah orang biasa. Amir Mekkah meminta maaf dan mengundang khusus Habib Ahmad bahkan menawarkan beliau untuk menjadi penduduk Mekkah, akan tetapi Habib Ahmad menolak. Beliau beralasan, setelah meminta izin kepada Sayyidah khadijah, ternyata beliau lebih ridha jika Habib Ahmad pulang dan berdakwah di kampung halamannya di Hadhramaut.

Sejak saat itu, beliau dikenal sebagai “anak kesayangan” Sayyidah Khadijah al-Kubra. Qashidah-Qashidah karangan beliau tak pernah sepi dari pujian untuk Ummul Mu’minin Sayyidah Khadijah. Termasuk Qashidah kegemaran Mbah Mun “Sa’duna Fiddunya” ini. Bahkan tiap tahunnya, di bulan Muharram, beliau selalu mengadakan acara Haul Sayyidah Khadijah yang lebih dikenal dengan acara “Ihda ‘Asy’ariah”. Sebelum bertolak ke Indonesia, Biasanya Habib Umar selalu menyempatkan hadir ke acara ini.

Habib Ahmad juga dikenal sebagai sosok yang humoris. Salah satu kisah unik dan lucu tentang beliau ditulis oleh Habib Ali Bungur dalam kitabnya “Taajul A’ras”.

“Dulu Habib Ahmad berkunjung ke desa Taris Hadhramaut bersama putranya yang masih bayi, Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhar. Sesampainya di Taris, Habib Muhammad sakit keras, suhu panasnya tinggi. Ketika keadaan sang anak makin parah, Habib Ahmad pergi berziarah ke makam Habib Hasan bin Shalih al-Bahar, seorang wali besar yang disemayamkan di desa Taris, beliau lalu berkata:

“Bib.. Anak ana jatuh sakit. Sedangkan ana sekarang ada di daerah kekuasaan ente. Inget ya bib.. Kalo sampe terjadi apa-apa sama anak ana, ana bakal keluar dari golongan Habaib dan bergabung dengan golongan Wahhabi.. ”

Habib Ahmad lalu pulang dan menemukan anaknya sudah kembali sehat wal-‘afiyat seperti sedia kala.

Habib Ahmad memiliki banyak santri yang berhasil menjadi ulama-ulama besar, yang paling kesohor adalah Habib Ali bin Muhammad al-Habsy Shahibul Maulid. Habib Ahmad wafat dan dimakamkan di Guweireh Hadhramaut pada tahun 1304 H./1887 M.

Allah Yarham Habibana Ahmad Al-Muhdhar. Berawal dari rasa cinta beliau kepada Sayyidah Khadijah yang beliau tuangkan dalam bait-bait gubahannya, sampai saat ini beliau berhasil menginspirasi banyak orang (termasuk para kekasih Allah sekelas Abuya dan Mbah Mun) untuk memiliki ikatan dan rasa cinta khusus kepada Sayyidah Khodijah.

Bait-bait Qashidah beliau yang masih kita baca hingga saat ini adalah bukti bahwa kekuatan cinta adalah kekuatan sejati, yang tak kan pernah lekang oleh waktu dan tak Pernah mengenal kata henti.

Berikut ini “Qashidah Sa’duna Fiddunya” teks Arab, Latin dan Terjemahan Bahasa Indonesia. Silahkan didownload atau sekedar dibaca secara online”

Video Mbah Maimun diiringi dengan “Qashidah Sa’duna Fiddunya“:

About admin

Check Also

Ketetapan Allah Tidak Pernah Salah, Logika Bisa Salah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...