Wednesday , December 1 2021
Home / Agama / Improvisasi Salik / Puncak Ilmu adalah Kebingungan

Puncak Ilmu adalah Kebingungan

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Wasshalaatu wassalaamu ‘alaa Muhammadin wa aalihi ma’at tasliimi wabihii nasta’iinu fii tahshiilil ‘inaayatil ‘aammati wal-hidaayatit taammah, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin”.

Saudaraku, menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim”

Menuntut ilmu, dalam prosesnya, bukanlah sekedar menjadikannya sebagai obyek pengetahuan semata. Namun, harus menjadikannya sebagai subyek. Ilmu pengetahuan itu tidak semata-mata berhenti pada pengajaran akal semata, tetapi harus menyertakan seluruh tubuh dzhaahiran wa baathinan.

Pembelajaran yang dilaksanakan melibatkan seluruh panca indera hingga ilmu harus berimplikasi pada “birahi” ketuhanan. Harus menjadi energi bagi seseorang yang menuntutnya (salik), hingga dirinya, lahir dan bathin, menyatakan dan merasakan keesaan Tuhan. Dalam puncaknya, “rasa ketuhanan” itu akan memunculkan hal yang tahayyur (kondisi bingung). Bingung di sini bukanlah dalam pengertian negatif, tapi justru menjadi sebuah energi baru.

Mursyid kami memaparkan dan membenarkan keadaan tersebut sebagaimana juga dirasakan oleh Mursyid Agung, Sayyidul Anaam, Junjungan Kita Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana berikut:

ثُمَّ اعْلَمْ اَيُّهَا الْمُرِيْدُ اَنَّ الْحَقَّ سُبْحَانَهُ هُوَ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ، وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ، وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ جِهَةِ التَّعْرِيْفِ وَالْبَاطِنُ مِنْ جِهَةِ التَّكْيِيْفِ، مَنْ عَرَفَ اَنَّهُ اَجَلٌ مِنْ اَنْ يَعْرِفَ بِالْاِحَاطَةِ فَقَدْ عَرَفَهُ وَلِذَلِكَ قِيْلَ لَا يَعْرِفُ اللّٰهَ اِلَّا اللّٰهُ فَتَأَيَّدُوْا، وَالدِّيْنُ دَيْنَانِ اِيْمَانٌ وَاِشْرَاكٌ، وَلِلْعُقُوْلِ حُدُوْدٌ تَجَاوُزُهَا وَالْعَجْزُ عَنْ دَرْكِ الْاِدْرَاكِ اِدْرَاكٌ وَغَايَةُ الْقُصْوَى فِى مَعْرِفَةِ الْحَقِّ حَيْرَةٌ اَعْنِى حَيْرَةٌ مَحْمُوْدَةٌ وَهِىَ حَيْرَةُ اُوْلِى الْاَبْصَارِ مَنْ تَوَالَى التَّجَلِّيَاِت الْاِلَهِيَّةَ وَتَتَالَى الْبَارِقَةَ الذَّاتِيَةَ.

Ketahuilah wahai murid, bahwa Allah SWT itu tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, namun Dia meliputi segala sesuatu, Dia nyata dari segi pengetahuan, namun tidak nyata dari segi bentuk. Barangsiapa mengetahui bahwa Dia itu terlalu Agung untuk benar-benar diketahui, sungguh ia telah mengenal-Nya. Oleh karena itu, ada satu keterangan mengatakan bahwa yang mampu mengenal Allah itu hanya Allah sendiri. Maka, peganglah prinsip ini. Dalam agama  itu ada dua Unsur,  yaitu: iman dan syirik, dan akal itu memiliki keterbatasan serta ketidakmampuan untuk mengetahui hakikat Allah, dan  puncak tertinggi dalam mengenal Allah SWT adalah rasa bingung, tapi bingung yang terpuji, yaitu bingungnya orang berilmu yang mengetahui proses tajalli (penyingkapan diri)nya Tuhan serta pemancaran cahaya-Nya.

Mursyid kami melanjutkan, bahwa Rasulullah SAW pun meminta ditambahkan kebingungan akan Ketuhanan. Berikut penjelasannya:

وَقَدْ طَلَبَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زِيَادَةً ذَلِكَ مِنْ مَوْلَاهُ، فَقَالَ فِى دُعَائِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ﴿رَبِّ زِدْنِى فِيْكَ تَحَيُّرًا يَعْنِى تَحَيُّرًا مِنْ تَوَالَى تَجَلِّيَاتِكَ وَكَثْرَةَ تَقَلُّبَاتِ ذَاتِكَ فِى شُئُوْنِكَ وَصِفَاتِكَ﴾ وَقَالَ صَاحِبُ عَوَارِفُ الْمَعَارِفِ مَا لَفْظُهُ سُئِلَ الْجُنَيْد عَنِ النِّهَايَةِ قَالَ هِىَ الرُّجُوْعُ اِلَى الْبِدَايَةِ وَقَدْ فَصَّلَ بَعْضُهُمْ قَوْلَ الْجُنَيْدِ قَالَ مَعْنَاهُ اَنَّهُ كَانَ فِى اِبْتِدَاءِ اَمْرِهِ فِى جَهْلٍ ثُمَّ عَلِمَ ثُمَّ جَهِلَ، قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى ﴿لِكَيْ لَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا﴾ وَقَالَ بَعْضُهُمْ اَعْرَفُ الْخَلْقِ بِاللّٰهِ اَشَدُّهُمْ تَحَيُّرًا فِيْهِ، اِنْتَهَى.

Rasulullah SAW pun pernah memita agar ditambah rasa bingung dari Tuhannya dengan berdoa, “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku kebingungan atas-Mu, yakni bingung dari tajalli-Mu yang tidak ada henti-hentinya, dan dari banyaknya perubahan dzat-Mu dalam segala tindakan dan sifat-Mu”. Pengarang kitab ‘Awārif al-Ma ārif’ berkata, “Imam Junaid pernah ditanya tentang akhir kehidupan, lalu dia menjawab: akhir kehidupan adalah kembali ke permulaan”. Ulama lain menjelaskan ucapan Imam Junaid tersebut dengan mengatakan, bahwa maksudnya manusia itu pada mulanya berada dalam kebodohan, lalu menjadi makrifat (mengetahui), lalu kembali kepada kebingungan dan kebodohan. Dia itu bagaikan anak-anak, yang awalnya tidak tahu apa-apa, lalu menjadi pandai, dan kembali lagi pada ketidaktahuannya. Allah ta’ala berfirman, “Supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulu pernah diketahuinya”. Sebagian ulama mengatakan bahwa makhluk Allah yang paling makrifat adalah mereka yang paling bingung memikirkan-Nya, sekian.

وَفَسَّرَ بَعْضُهُمُ الْحَيْرُ الْمَذْكُوْرُ فِى الدُّعَاءِ الْمَذْكُوْرُ بِالْعِلْمِ، قَالَ فَالتَّحَيُّرُ هُوَ الْعِلْمُ وَلَوْ لَمْ يَكُنْ كَذَلِكَ لَمَّا طَلَبَ النَّبِىّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزِّيَادَةَ مِنَ التَّحَيُّرِ فَاِنَّهُ اَمَرَ بِطَلَبِ الزِّيَادَةِ مِنَ الْعِلْمِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى ﴿رَبِّ زِدْنِى عِلْمًا﴾ فَلَمْ يَقُلْ حَالًا وَلَا مَقَامًا لِتَعَلُّمِ قَدْرِ الْعِلْمِ، فَالْعِلْمُ يَنْتَهِىْ اِلَى التَّحَيُّرِ وَلَا يَحْصُلُ ذَلِكَ التَّحَيُّرَ غَالِبًا اِلَّا بِاسْتِغْرَاقِ فِى الْاَذْكَارِ وَالْاَشْغَالِ الْآتِيَةِ بِاِذْنِ اللّٰهِ تَعَالَى وَتَوْفِيْقِهِ وَبِاللّٰهِ التَّوْفِيْقُ.

Sebagian dari para ulama menafsirkan kata “bingung” (yang terdapat dalam doa Nabi tersebut) dengan pengetahuan (ilmu). Mereka mengatakan, “Rasa bingung adalah pengetahuan, walaupun sebenarnya tidak demikian, karena Nabi Muhammad SAW sendiri memohon tambahan rasa bingung tersebut, padahal Nabi pernah menyuruh untuk selalu memohon tambahan pengetahuan, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah ta’ala, “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. Nabi tidak berdoa untuk meminta ditambah atau diperbaiki keadaannya, tidak pula minta ditambah tingkatannya untuk mempelajari kadar ilmu tersebut. Pengetahuan itu berakhir pada kebingungan, dan biasanya ia tidak akan diperoleh kecuali dengan bersungguh-sungguh dalam berzikir dan tindakan-tindakan lain yang nanti akan dibicarakan, dengan izin Allah ta’ala serta petunjuk-Nya, dan hanya kepada Allahlah kita mohon petunjuk.

وَاِذَا تَقَرَّرَ لَكَ هَذَا فَلْنَرْجِعْ اِلَى بَيَانِ صِحَّةِ عَيْنِيَّةِ الْاَشْيَاءِ وَعَدَمِهَا وَنَقُوْلُ، ثُمَّ اعْلَمْ اَيُّهَا الْمُرِيْدُ اَنَّ عَيْنِيَّةَ الْاَشْيَاءِ لَا تَصِحُّ اِلَّا قَبْلَ ظُهُوْرِ الْاَشْيَاءِ فِى الْخَارِجِ، وَلِذَلِكَ لَا يَصِحُّ اَنْ نَقُوْلَ الْكُلُّ هُوَ الْحَقُّ اِلَّا مِنْ حَيْثُ الطَّمْسِ فِى الْاَحَدِيَةِ اَيْضًا كَمَا تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ، وَاَمَّا بَعْدَ ظُهُوْرِهَا فِيْهِ فَلَا يَصِحُّ ذَلِكَ لِاَنَّ لِلظُّهُوْرِ حُكْمًا وَلِلْبُطُوْنِ حُكْمًا، وَحُكْمُ الْبُطُوْنِ حُكْمُ الْكُمُوْنِ يَعْنِى عَدَمٌ، وَحُكْمُ الظُّهُوْرِ حُكْمُ الْوُجُوْدِ، فَاعْلَمْ ذَلِكَ وَلَا تَغْلُطْ وَقَدْ غَلَطَ مَنْ غَلَطَ فِى مِثْلِ هَذَا وَضَلَّ وَاَضَلَّ، نَسْأَلُ اللّٰهَ الْعَفْوَ وَالْعَفِيَةَ فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

Apabila engkau telah memahami hal ini, maka hendaklah engkau kembali kepada penjelasan tentang keabsahan kesatuan (‘ainiyyah’) segala sesuatu dan ketiadaannya. Ketahuilah wahai murid, bahwa kesatuan segala sesuatu itu tidak benar kecuali sebelum munculnya segala sesuatu tersebut dalam kenyataan (masih pada zaman dahulu). Oleh karenanya, kita tidak dapat mengatakan bahwa al-kull (kesemestaan) itu adalah al-Haq, kecuali dari segi peleburan dan tidak adanya perbedaan dalam keesaan, seperti yang telah dikemukakan. Adapun jika segala sesuatu itu telah tampak dalam kenyataan, maka kesatuan segala sesuatu itu tidak absah lagi, karena alam lahir memiliki hukum tersendiri, demikian juga dengan alam batin. Adapun hukum batin adalah hukum yang samar, tegasnya ketiadaan (‘adamun), sedangkan hukum lahir adalah hukum yang tampak (wujud). Ketahuilah itu dan jangan keliru, karena orang yang keliru dalam hal ini, berbahaya, dia juga akan sesat dan menyesatkan, kami memohon ampunan dan kesehatan kepada Allah dalam urusan agama, dunia dan akhirat.

Demikian pemaparan Mursyid kami tentang hal ihwal seseorang yang menuntut ilmu, hingga berpuncak pada kebingungan. Semoga bermanfa’at.

Wallaahu A’lam

 

About admin

Check Also

Pendosa yang Tawadhu’ dan Ahli Ibadah yang Ujub

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...