Home / Agama / Kajian / Pepujian; Antara Qadim dengan Huduts

Pepujian; Antara Qadim dengan Huduts

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Sahabatku terkasih, alam semesta dipelihara dan dijaga dengan pepujian. Fakta itu telah dinyatakan dengan tegas dalam Surat Al-Fatihah ayat dua sebagai tuntunan bagi manusia, yang pada hakikatnya, seluruh pujian di alam semesta ini bermuara kepada Allah SWT.

Namun demikian, berdasarkan tingkat kesadaran manusia, seluruh pepujian itu dimaknakan sebagaimana tersebut dalam literatur Islam di Jawa:

Alhamdu utawi sekabehane puji kang patang perkoro iku lillahi tertentu kagungane Gusti Allah“.

“Segala puji yang terdiri dari empat perkara di dunia ini hanya berhak ditujukan kepada Allah semata”.

Apa saja puji yang empat perkara itu? Empat perkara tersebut adalah:

1. Puji qadim ‘ala qadim,
2. Puji qadim ‘ala huduts,
3. Puji huduts ‘ala qadim,
4. Puji huduts ‘ala huduts.

Lalu siapa atau apa sih qadim itu? Siapa dan apa pula huduts itu?

Mungkin pertanyaan tersebut muncul di benak para pembaca sekalian sebelum masuk lebih jauh kepada makna haqiqi dari pepujian itu sendiri.

Qadim merupakan salah satu asma’ Allah yang berarti Zat Maha Dulu. Zat yang sudah ada jauh sebelum kata ada itu ada. Zat yang menjadi awal dari segala awal. Zat yang tidak ada permulaannya, tidak ada awal kejadiannya, tidak ada penciptanya.

Sedangkan huduts, merupakan lawan dari qadim. Sesuatu yang adanya itu ‘baru’ atau dalam bahasa pesantren biasa diistilahkan dengan ‘anyar teko’. Jika qadim tidak ada permulaannya, maka huduts ada permulaannya.

Seperti halnya manusia yang awal penciptaannya dari tanah. Ataupun Setan yang tercipta dari api.

Dalam bahasa yang sederhana, qadim itu Tuhan atau Khaliq, Sang Pencipta. Huduts berarti makhluq, yang diciptakan.

Puji qadim ‘ala qadim berarti pujian yang Tuhan tujukan kepada Zat-Nya sendiri, qadim ‘ala huduts berarti Pujian dari Tuhan kepada makhluk-Nya, huduts ‘ala qadim adalah pujian dari makhluk kepada Tuhannya, huduts ‘ala huduts adalah pujian dari makhluk kepada sesama makhluk.

Nah, keempat pujian tersebut semuanya bermuara kepada Tuhan. Karena tanpa-Nya tidak akan ada makhluk yang memuji kepada-Nya atau memuji kepada sesama makhluk.

Lalu, apakah kemudian huduts itu merupakan wujud lain yang terpisah dari qadim?

Pertanyaan tersebut menyeruak sepanjang sejarah perdebatan manusia tentang Tuhan. Ya, Tuhan memang hanya berada pada perdebatan bagi mereka yang suka berdebat tapi tidak meniti jalan ruhani.

Bagi para ‘pengamal ruhani’, kemantapan hati akan Tuhan sudah menghunjam kuat di dalam dirinya, sehingga mereka menghindari atau tidak menginginkan perdebatan yang hanya terpaut atau mengandalkan pandangan-pandangan lahiriyah saja.

Ketika akal manusia dalam memahami ‘wujud’ hanya terjebak pada apa yang kasat indera, maka akal tersebut telah kehilangan pedoman. Manusia yang memiliki akal sebatas itu, belumlah dikatakan sebagai manusia yang mencapai “fî ahsani taqwîm” (manusia dengan struktur terbaik), alias manusia sempurna. Atau dalam istilah tasawuf disebut juga dengan “al-insân al-kâmil“.

Manusia dengan struktur terbaik adalah manusia yang sangat paham akan bagaimana dudukan, hubungan dan perbedaan antara “huduts” dengan “qadim”.

Dalam kesadaran yang paling rendah, manusia memahami segala sesuatu hanya sebatas pada apa yang kasat oleh panca indera. Padahal, apa yang kasat oleh panca indera itu disebabkan oleh ‘sesuatu yang lain’ yang lebih ‘halus’. Dan ‘sesuatu yang lain’ yang lebih ‘halus’ itu juga disebabkan oleh ‘sesuatu yang lain’ lagi yang lebih ‘halus’ lagi. Dan seterusnya, hingga ‘sesuatu yang halus’ itu bermuara pada ‘Al-Lathîf‘ (Yang Maha Halus).

Dari pemahaman tersebut, dapatkah kita mengatakan bahwa huduts itu adalah sesuatu yang lain dari qadim?

Karena ‘wujud’ itu hanyalah milik qadim, maka segala sesuatu selain dari ‘wujud’ itu tak memiliki ‘wujud’, alias ma’dûm (ditiadakan). Itulah huduts. Jadi, huduts adalah ‘al-‘adam’ (tiada). Jika huduts menjadi seperti ada dan memiliki eksistensi, maka keberadaan huduts itu diadakan (mawjud) oleh wujud qadim. Al-mawjud dalam bahasa Arab adalah isim maf’ul artinya diadakan. Sekaligus, wujud qadim juga bisa meniadakannya (al-ma’dum).

Huduts bukanlah qadim. Namun huduts bukanlah sesuatu yang lain dari qadim. Begitulah Guru kami memberikan tuntunan dalam memahami alam dan Tuhan.

Pertanyaan selanjutnya, dapatkah dikatakan bahwa huduts bergerak, berbuat, dan berbicara, bahkan memuji qadim?

Huduts dianugerahi hidup oleh qadim. Karena itu, huduts bisa bergerak, berbicara dan memuji. Namun hidup huduts tak bisa dikatakan lepas dan terpisah dari qadim. Huduts tak berdiri sendiri. Namun demikian, ketika huduts memuji qadim itu bermakna huduts telah terbuka hijab kesadarannya tentang Tuhan.

Pertanyaan selanjutnya lagi, mungkinkah perbuatan dosa yang dilakukan oleh huduts dikatakan sebagai perbuatan qadim?

Pertanyaan tersebut sering muncul di tengah perjalanan salik menuju Tuhan, sehingga terkadang menjadi perdebatan liar yang tanpa arah. Padahal seharusnya, jawaban dari pertanyaan itu bukanlah dengan perdebatan yang sarat akan penyimpangan.

Pada paragraf sebelumnya sudah dinyatakan bahwa huduts dianugerahi hidup oleh qadim. Karena itu, huduts bisa bergerak, berbicara dan memuji. Bahkan melakukan perbuatan dosa dan penyimpangan. Lalu apakah perbuatan dosa oleh huduts memungkinkan untuk dikatakan sebagai perbuatan qadim? Di titik inilah hukum syar’i membatasi dan mengatur segala sesuatu. Perbuatan mana yang boleh dan perbuatan mana yang terlarang.

Berkaitan dengan pembatasan tersebut, dalam salah satu al-qawâid al-ushuliyyah dikatakan:

اَلْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةِ حَتَّى يَدُلُّ الدَّلِيْلِ عَلَى تَحْرِيْمِهِ

“Hukum asal dari segala sesuatu adalah boleh, hingga muncul petunjuk yang menunjukkan atas pengharamannya.”

Suatu perbuatan dikatakan sebagai perbuatan dosa muncul karena sebuah hukum yang telah ditetapkan oleh dalil yang telah menunjukkan hal itu. Binatang tak terikat hukum syar’i, maka tak ada penetapan hukum bagi perbuatannya. Derajat manusia lebih tinggi dari binatang, maka manusia berada dan terikat pada pengaturan hukum syar’i dalam perbuatannya.

Lalu apakah perbuatan dosa oleh manusia memungkinkan untuk dikatakan sebagai perbuatan qadim? Jawabannya mungkin saja, jika manusia itu dikehendaki oleh Tuhan sebagai sebab untuk menunjukkan bagi manusia lain suatu prilaku buruk, menyimpang dan menyesatkan. Singkatnya, manusia disesatkan oleh Tuhan karena kehendak manusia itu sendiri yang tidak tunduk pada hukum syar’i yang telah ditunjukkan oleh Tuhan. Tuhan telah menunjukkan larangan-Nya beserta hukum-hukum yang akan dijatuhkan-Nya.

Mereka memilih untuk melakukan perbuatan yang sekelas dengan binatang tanpa mengindahkan petunjuk-petunjuk yang diberikan Tuhan. Mereka mengunci mati hati mereka sendiri untuk diarahkan pada perbuatan yang “berkelas manusia”,  sehingga Tuhan membuka ruang buat mereka untuk melakukan perbuatan yang “berkelas binatang”. Bahkan mungkin lebih rendah lagi perbuatannya di bawah “kelas binatang”.

Manusia yang patuh pada petunjuk, telah dijanjikan oleh Tuhan:

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ ۞ أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ۞

“dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-Baqarah [2]: 4-5)

Sementara manusia yang tidak patuh atas petunjuk Tuhan, juga dijanjikan oleh Tuhan:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ ۞ خَتَمَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَعَلٰى سَمْعِهِمْ ۗ وَعَلٰٓى اَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَّلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ ۞

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat”. (QS. (QS. Al-Baqarah [2]: 6-7)

Pertanyaan selanjutnya, apakah binatang dapat memuji Tuhan? Jawabannya, ya. Karena Tuhan juga memberikan petunjuk yang banyak akan hal itu. Salah satunya:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللّٰهَ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلطَّيْرُ صَٰفَّٰتٍ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُۥ وَتَسْبِيحَهُۥ وَٱللّٰهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ ۞

“Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nur: 41).

Namun demikian, apakah sama tasbihnya binatang dengan manusia? Tentu berbeda. Jika kalian menginginkan cara bertasbih seperti binatang, silahkan, jadilah binatang, dan lakukanlah perbuatan-perbuatan yang sama seperti binatang. Jika kalian menginginkan untuk menjadi manusia sejati, silahkan ikuti petunjuk Tuhan, dan lakukanlah perbuatan-perbuatan manusia sejati.

Dari narasi di atas, manusia sejati akan sadar tentang hakikat wujud qadim dan sadar pula dirinya huduts. Karena itu, manusia sejati akan menyadari bahwa ketika ia dipuji oleh seseorang, maka sebenarnya ia sama sekali tidak layak untuk dipuji. Sehingga ia akan mengembalikan segala pujian itu kepada pemiliknya yang sah, yakni yang qadim, Allah SWT.

Begitu juga dalam melihat segala macam keta’ajuban, maka ia akan ingat tentang Sang Pencipta Keta’ajuban tersebut. Sehingga dalam pandangan manusia pada umumnya, ia menjadi seperti biasa aja. Karena dirinya sudah berada pada genggaman yang qadim, yakni Allah SWT.

Sahabatku terkasih, kututup artikel ini dengan doa sebagaimana diucapkan oleh Sayyidina Abu Bakar Shiddiq tatkala beliau dipuji oleh orang lain.

اللّٰهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللّٰهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لَا يَعْلَمُوْنَ وَلَا تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

Allâhumma anta a’lamu minnî bi-nafsî, wa anâ a’lamu bi nafsî minhum. Allâhummaj‘alnî khairam mimmâ yadzhunnûn, waghfirlî mâ lâ ya’lamûn, wa lâ tu-âkhidzniy bimâ yaqûlûn.

“Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka”.

About admin

Check Also

Taqwa Kepada Tuhan

Oleh: Raden Mahmud Sirnadirasa* بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ ...