Sunday , October 17 2021
Home / Agama / Kajian / Pentingnya Seorang Guru

Pentingnya Seorang Guru

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيم
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Allahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad.

Imam Abu Yazid al-Busthami memperingatkan seorang murid yang beljar tanpa bimbingan seorang guru sebagai berikut:

وَمِنْ كَلَامِ أَبِيْ يَزِيْدَ الْبِسْطَامِي قَدَّسَ اللّٰهُ سِرَّهُ، مَنْ لَمْ يَكُنْ شَيْخٌ فَشَيْخُهُ الشَّيْطَانُ (تفسير حقي، ج: 7، ص: 393)

Sebagian dari perkataan Imam Abu Yazid semoga Allah membersihkan rahasianya; Barangsiapa yang tidak mempunyai guru, maka gurunya adalah Syetan

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata:

مَنْ كَانَ شَيْخُهُ كِتَابَهُ فَخَطَئُهُ أَكْثَرُ مِنْ صَوَابِهِ

Barang siapa yang menjadikan bukunya sebagai gurunya, maka kesalahannya lebih banyak daripada benarnya

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa seseorang penuntut ilmu hendaknya memiliki guru dan tidak membiarkan dirinya belajar sendiri tanpa bimbingan.

Telah diperkuat dalam al-Qur’an:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

walaa taqfu maa laysa laka bihii ‘ilmun, innas sam’a wal-bashara wal-fu’aada kullu ulaa’ika kaana ‘anhu masuulaan

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya” (QS. Al-Israa: 36)

Imam Syafi’e rahimahullah pernah berkata:

مَثَلُ الَّذِيْ يَطْلُبُ الْعِلْمَ بِلَا حُجَّةٍ كَمَثَلِ حَاطِبِ لَيْلٍ يَحْمِلُ حُزْمَةَ حَطَبٍ وَفِيْهِ أَفْعَى تَلْدَغُهُ وَهُوَ لاَ يَدْرِيْ

Perumpamaan orang yang mencari ilmu tanpa hujjah (landasan yang kokoh) adalah seperti orang yang mencari kayu bakar pada malam hari, ia membawa seikat kayu yang di dalamnya terdapat ular siap mematuknya, sedangkan dia tidak mengetahuinya”.

Dari pepatah di atas jelas bahwa Imam Syafi’e menyuruh belajar pada hujjah yang dinisbahkan pada seorang guru yang menguasai al-Qur’an dan Hadits. Jika tidak, maka segala hal yang membahayakan dirinya baik dunia maupun akhirat yang tidak diketahuinya akan menimpanya.

Imam Ali Zainal Abidin berkata:

لَوْلاَ الْإِسْنَادَ لَقَالَ مَنْ شَآءَ مَا شَآءَ

Laulal-isnaada laqaala man syaa’a maa syaa’a

“Jika tanpa isnad memang orang bisa berkata apa saja yang dikehendakinya.”

Orang yang belajar tanpa guru, ia akan sekehendak hatinya menafsirkan semua ilmu dengan paham dan keinginannya sendiri. Saat itulah syaitan menyelimuti hati dan pikirannya. Nafsu telah mempengaruhi pikirannya hingga akhirnya menyesatkan orang lain.

Abu Hayyan berkata:

يَظُنُّ الْغَمْرَ أَنَّ الْكُتُبَ تَهْدِيْ أَخَافَهُمْ لِإِدْرَاكِ الْعُلُوْمَ، وَمَضا يَدْرِي الْجَهُوْلُ بِأَنَّ فِيْهَا غَوَامِضَ حَيَّرَتْ عَقْلَ الْفَهْمِ، إِذَا رُمْتَ الْعُلُوْمَ بِغَيْرِ شَيْخٍ ضَلَلْتَ عَنِ الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ، وَتَلْتَبِسُ الْأُمُوْرُ عَلَيْكَ حَتَّى تَصِيْرَ أَضَلَّ مِنْ تُوْمَا الْحَكِيْمِ

“Anak muda mengira bahwa buku membimbing orang yang mau memahami untuk mendapatkan ilmu. Orang bodoh tidak mengetahui bahwa di dalamnya terdapat kesulitan yang membingungkan akal orang. Jika kamu menginginkan ilmu tanpa syaikh, niscaya kamu tersesat dari jalan yang lurus. Perkara-perkara menjadi rancu atasmu sehingga kamu lebih tersesat daripada Tuma al-Hakim”.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Kitabul ’Ilmi menjelaskan bahwa seseorang penuntut ilmu hendaknya memiliki guru dan tidak membiarkan dirinya belajar sendiri tanpa bimbingan, karena orang yang memiliki guru akan memperoleh manfaat yang banyak.

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata; “tidak akan dapat ilmu yang bermanfa’at seseorang diantara kalian kecuali dengan enam perkara, yaitu : harus cerdas, semangat, bersabar, memiliki biaya, memiliki guru pembimbing dan waktu yang lama”.

Para ulama berkata; “janganlah kalian belajar ilmu dari orang yang belajar dari kitab tanpa belajar dari syaikh yang pintar, karena hal itu akan menjadikan anda sesat, serta membelokkan pengertian”.

Dengan sendirinya ulama mempunyai peranan yang sangat penting karena merupakan perantara ilmu, seperti ungkapan dalam kaidah Fiqh:

وَسَآئِلُ الأُمُوْرِ كَالمَقَاصِدِ، وَاحْكُمْ بِهٰذَا الحُكْمِ لِلزَّوَآئِدِ

“Perantara-perantara setiap urusan sama dengan tujuan, lalu berhukumlah dengan hukum ini dengan segala tambahan lainnya”.

Seorang murid yang berlaku hormat dan adab kepada gurunya merupakan perantara untuk mendapatkan ilmu agama yang agung. Maka prilaku hormat dan beradab seorang murid kepada guru memiliki hukum wajib yang sama dengan wajibnya menuntut ilmu.

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa menguraikan al-Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”.
(HR. Ahmad)

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata, Rasulullah saw bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

Pendapat Ulama’ tentang Pentingnya Memiliki Guru

وَلاَبُدَ فِى سُلُوْكِ طَرِيْقِ الْحَقِّ مِنْ اِرْشَادِ اُسْتَاذٍ حَاذِقٍ وَتَسْلِيْكِ شَيْخٍ كَامِلٍ مُكَمَّلٍ حَتَّى تَظْهَرُ حَقِيْقَةَ التَّوْحِيْدِ بِتَغْلِيْبِ الْقَوِىِّ الرُّحَانِيَّةِ عَلَى الْقَوِيِّ الْجِسْمَانِيَّةِ

“Diwajibkan bagi orang yang mencari jalan yang benar (belajar agama) untuk mencari seorang guru yang benar, dan di bawah arahan guru yang sempurna dan bisa menyempurnakan sehingga bisa menghantarkan kepada hakikat tauhid dengan mengedepankan kekuatan ruhani mengalahkan kekuatan jasmani (akal fikiran)”.
(Tafsir haqqi, juz 15, hal: 13)

وَقَالَ الشَّيْخُ أَبُو عَلِيّ الدَّقَاقِ: لَوْ أَنَّ رَجُلاً يُوْحَى إِلَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ لَهٗ شَيْخٌ لَا يَجِيْءُ مِنْهُ مِنَ الْأَسْرَارِ

Syeh Abu Ali al-Daqaaq berkata; “seandainya seseorang diberi petunjuk dan tak ada guru baginya, maka jangan berharap akan muncul baginya asrar (rahasia-rahasia yang benar dari kebenaran ilmu tersebut)”.

فَعَلَى قَارِئِ الْقُرْآنِ اَنْ يَأْخُذَ قِرَآئَتَهُ عَلَى طَرِيْقِ التَّلَقِّى وَالْإِسْنَادِ عَنِ الشُّيُوْخِ الْآخِذِيْنَ عَنْ شُيُوْخِهِمْ كَىْ يَصِلَ اِلَى تَأَكُّدِ مِنْ أَنْ تِلَاوَتِهِ تُطَابِق مَا جَآءَ عَنْ رَسُوْلِ اللّٰهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (كتاب حق التلاوة ص 46)

“Bagi orang yang belajar membaca al-Qur’an disyaratkan untuk belajar cara membaca dari (guru) yang guru tersebut mendapat ajaran dari gurunya, agar kebenaran dari bacaan tersebut sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah saw”. (Haqqu al-Tilawaah, hal: 46)

مَنْ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَلَيْسَ لَهٗ شَيْخٌ فَشَيْخُهٗ شَيْطَانٌ

Man ta’allamal ‘ilma walaisa lahuu syaikhun fasyaikhuhu syaithan

“Barang siapa yang mempelajari suatu ilmu namun tidak memiliki guru, maka gurunya adalah setan”. (Maqalah Ulama).

Bahkan Imam Bukhari yang terkenal ahli hadits itu jumlah gurunya sampai 1.080 orang.

Oleh karena itu banyak ulama yang berkata tentang pentingnya berguru dalam mempelajari ilmu bagi penuntut ilmu tingkat dasar dan menengah, diantaranya:

Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali, beliau berkata:

فَاعْلَمْ أَنَّ الْأُسْتَاذَ فَاتِحٌ وَمُسَهِّلٌ، وَالتَّحْصِيْلُ مَعَهُ أَسْهَلُ وَأَرْوَحُ

“Ketahuilah olehmu, bahwasanya guru itu adalah pembuka (yang tertutup) dan memudahkan (yang rumit). Mendapatkan ilmu dengan adanya bimbingan guru akan lebih mudah dan lebih menyenangkan”. (Minhajul ‘Abidin ilaa Janhati Rabbil ‘Alamiin, halaman 8)

Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqaf, beliau berkata:

إِنَّ الْمَشِيْخَةَ شَأْنُهَا عَظِيْمٌ وَأَمْرُهَا عَالٍ جَسِيْمٌ

“Sesungguhnya guru itu kedudukannya sangat penting dan peranannya amat tinggi lagi besar” (Kitab Al-Fawaaidul Makkiyyah, halaman 25)

Syekh Zarnuji, beliau mengemukakan sebuah syair karangan sayyidina Ali:

أَلَا لَا تَنَالُ اْلعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ : سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ، ذَكَاءٍ، وَحِرْصٍ، وَاصْطِبَارٍ، وَبُلْغَةٍ، وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ، وَطُوْلِ زَمَانٍ .

“Ingatlah, kamu tidak akan meraih ilmu melainkan dengan enam perkara. Aku akan ceritakan semua itu kepadamu dengan sejelas-jelasnya; cerdas, semangat tinggi, ulet dan tabah, punya biaya, bimbingan guru dan waktunya lama”. (Kitab Ta’lim Muta’allim, halaman 14)

Al-Habib Ahmad bin Abi Bakar Al-Hadhrami, beliau berkata:

إِنَّ اْلأَخْذَ مِنْ شَيْخٍ لَهُ تَمَامُ الْإِطِّلَاعِ مِمَّا يُتَعَيَّنُ عَلَى طَالِبِ الْعِلْمِ، وَأَمَّا مُجَرَّدُ اْلمُطَالَعَةِ بِغَيْرِ شَيْخٍ إِتِّكَالًا عَلَى اْلفَهْمِ فَقَلِيْلَةُ الْجَدْوَى إِذْ لَابُدَّ أَنْ تَعْرِضَ عَلَيْهِ مُشْكِلَاتٌ تَتَّضِحُ لَهُ إِلَّا إِنْ حَلَّهَا شَيْخٌ

“Bahwasanya mengambil ilmu dari seseorang guru yang sempurna penelaahannya itu dipandang penting bagi orang yang menuntut ilmu. Dan adapun semata-mata muthala’ah tanpa ada bimbingan dari guru karena mengandalkan pemahaman sendiri saja, maka sedikit hasilnya. Karena jika dia menemukan kerumitan-kerumitan, tidak akan jelas baginya kecuali adanya uraian dari guru”. (Kitab manhalul Wurraadi min  Faidhil Imdaadi, halaman 102)

Al-‘Allamah Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid ra berkata;

قَالَ الْعَلَّامَةُ الشَّيْخُ بَكْرٍ بْنِ عَبْدِ اللّٰهِ أَبُوْ زَيْدٍ رَحِمَهُ اللّٰهُ فِي كِتَابِهِ الْقَيْمِ حِلْيَةُ طَالِبِ الْعِلْمِ: تَلَقِّي الْعِلْمِ عَنِ الْأَشْيَاخِ : الْأَصْلُ فِي الطَّلَبِ أَنْ يَكُوْنَ بِطَرِيْقِ التَّلْقِيْنِ وَالتَّلَقِّي عَنِ الْأَسَاتِيْذِ، وَالْمُثَافِنَةِ لِلْأَشْيَاخِ، وَالْأَخْذِ مِنْ أَفْوَاهِ الرِّجَالِ لاَ مِنَ الصُّحُفِ وَبُطُوْنِ الْكُتُبِ، وَاْلأَوَّلُ مِنْ بَابِ أَخْذِ النَّسِيْبِ عَنِ النَّسِيْبِ النَّاطِقِ، وَهُوَ الْمُعَلِّمُ، أَمَّا الثَّانِي عَنِ الْكِتَابِ، فَهُوَ جُمَادُ، فَأَنَّى لَهُ اتِّصَالُ النَّسَبِ؟ وَقَدْ قِيْلَ: “مَنْ دَخَلَ فِي الْعِلْمِ وَحَدَهٗ خَرَجَ وَحْدَهٗ”. (1)؛ أي: مَنْ دَخَلَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ بِلَا شَيْخٍ خَرَجَ مِنْهُ بِلَا عِلْمٍ، إِذْ اْلعِلْمُ صُنْعَةٌ، وَكُلُّ صُنْعَةٍ تَحْتَاجُ إِلَى صَانِعٍ، فَلَابُدَّ إذاً لِتَعَلُّمِهَا مِنْ مُعَلِّمِهَا الْحَاذِقِ.

Al-Alamah Syeikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid ra mengatakan dalam kitabnya Hilyah Thalib Al-Ilmi;  tentang Menerima Ilmu dari Para Masyayikh; “Asal mula ilmu itu didapat dengan jalan bertalqin dan bertalaqqi (bertemu/menerima langsung) dan didapat langsung dari para guru dan bimbingan para Masyayikh, mengambil ilmu dari mulutnya seorang lelaki bukan dari lembaran di dalam kitab. Pertama, dari bab mengambil bagian dari tema orang yang menyampaikan ilmu yaitu guru pembimbing (mu’allim) dan yang kedua dari kitab itu sendiri yang menjadi rujukan baku. Maka darimana sesungguhnya koneksi ilmu itu didapat? Telah dikatakan : “Barangsiapa masuk mencari ilmu sendirian (tanpa guru), maka dia akan keluar dengan sendirian (tanpa ilmu).” Artinya, “Barangsiapa yang masuk untuk menuntut ilmu tanpa syaikh, maka dia keluar tanpa mendapat ilmu.” Karena ilmu itu ditulis dan setiap yang ditulis membutuhkan penulisnya/pengarangnya. Maka sudah seharusnya jika ingin mempelajari ilmu harus dari seorang pengajar yang pintar”. (Al-Jawahir wa Ad-Durur Imam As-Sakhawi [5/58])

Al-Hafizh Ad-Dzahabi ra mengatakan:

قَالَ الْحَافِظُ الذَّهَبِي رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالٰى فِي تَرْجَمَتِهِ لَهُ(2): “وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَيْخٌ، بَلْ اِشْتَغَلَ بِالْأَخْذِ عَنِ الْكُتُبِ، وَصَنَفَ كِتَاباً فِي تَحْصِيْلِ الصَّنَاعَةِ مِنَ الْكُتُبِ، وَأَنَّهَا أَوْفَقَ مِنَ الْمُعَلِّمِيْنَ، وَهٰذَا غَلَطٌ”1هـ.

Al-Hafizh Ad-Dzahabi r.a., dalam kitab terjemahannya beliau mengatakan, “Dan bagi orang yang tidak memiliki syaikh pembimbing tetapi sibuk mengutip dari kitab untuk mengarang kitab dan menghasilkan karangan sebuah kitab yang cocok/sesuai dari para ahli ilmu hal ini adalah sebuah kesalahan.” (Siir Al-A’lam An-Nubala’ [18/105], Syarh Al-Ihya’ [1/66], Bughyah Al-Wa’ah [1/131], Syadzrat Ad-Dzahab [5/11] dan Al-Ghunyah Li Al-Qadhi ‘Iyadh [16-17])

Dalam kitab Al-Fawaaidul Makkiyyah, halaman 25 dan kitab Taudhihul Adillah, juz III, halaman 147, terdapat syair :

مَنْ يَأْخُذِ الْعِلْمَ عَنْ شَيْخٍ مُشَافَهَةً ۞ يَكُنْ عَنِ الزَّيْغِ وَالتَّحْرِيْفِ فِى حَرَمٍ
وَإِنَّ بْتِغَاءَ اْلعِلْمِ دُوْنَ مُعَلِّمٍ ۞ كَمُوْقِدِ مِصْبَاحٍ وَلَيْسَ لَهُ دُهْنٌ
كُلُّ مَنْ يَطْلُبُ اْلعُلُوْمَ فَرِيْدًا ۞ دُوْنَ شَيْخٍ فَإِنَّهُ فِى ضَلَالٍ

Barangsiapa yang mengambil ilmu dari seorang guru secara langsung berhadap-hadapan ֍ Niscaya akan terjagalah dia dari kesesatan dan kekeliruan.

Dan bahwasanya menuntut ilmu tanpa ada bimbingan dari guru ֍ Laksana seseorang yang menyalakan pelita, padahal pelita itu tidak berminyak.

Setiap orang yang menuntut ilmu secara tersendiri ֍ tanpa guru, maka sesungguhnya dia berada dalam kesesatan.

Berkata Al-Kholil bin Ahmad;

الرِّجَالُ أَرْبَعَةٌ: رَجُلٌ يَدْرِيْ أَنّهُ لاَ يَدْرِيْ فَذٰلِكَ جَاهِلٌ فَعَلِّمُوْهُ، وَرَجُلٌ يَدْرِيْ وَلاَ يَدْرِيْ أَنَّهُ يَدْرِيْ فَذٰلِكَ غَافِلٌ فَنَبِّهُوْهُ، وَرَجُلٌ يَدْرِيْ وَيَدْرِيْ أَنَّهُ يَدْرِيْ، فَذٰلِكَ عَالِمٌ فَاتَّبِعُوْهُ، وَرَجُلٌ لاَ يَدْرِيْ وَلاَ يَدْرِيْ أَنَّهُ لاَ يَدْرِيْ فَذٰلِكَ مَآئِقٌ فَاحْذَرُوْهُ

“Orang-orang itu ada empat macam; (1) seorang yang mengetahui dan tidak mengetahui bahwasanya ia mengetahui, itulah orang yang lalai maka ingatkalah ia; (2) dan seorang yang tidak tahu dan ia mengetahui bahwasanya ia tidak tahu, itulah orang yang jahil (bodoh) maka ajarilah ia; (3) dan seorang yang mengetahui dan ia tahu bahwasanya ia mengetahui, itulah orang yang pandai maka ikutilah; (4) dan seorang yang tidak tahu dan tidak tahu bahwasanya ia tidak tahu, dan dia mengajarkan orang, itulah orang tolol maka jauhilah dia”. (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal ila As-Sunan Al-Kubra 1/441 no 828).

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ، وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ. (رواه البخاري ومسلم)

Dari Abdullah bin Mas’ud, dari Nabi bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah masaku, lalu orang-orang sesudah mereka, kemudian orang-orang sesudah mereka. Selanjutnya datang kaum-kaum yang kesaksian salah seorang mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului kesaksiannya” (HR. Bukhari, No. 2652, Muslim, No. 6635).

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah saw bersabda, “Di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (HR. Ath Thabarani).

Imam Muslim mengatakan dalam muqaddimah kitab Sahihnya, bahwa sanad ilmu pertama kali dicetuskan oleh Imam Ibnu al-Mubarak, beliau mengatakan sanad sebagaimana berikut,

وَحَدَّثَنِى مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ قُهْزَاذَ – مِنْ أَهْلِ مَرْوَ – قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَانَ بْنَ عُثْمَانَ يَقُولُ سَمِعْتُ عَبْدَ اللّٰهِ بْنَ الْمُبَارَكِ يَقُولُ الإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلاَ الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ.

Muhammad bin ‘Abdullah bin Quhzadz –penduduk marwa- telah menceritakan kepada ku, ia berkata: Aku mendengar ‘Abdan bin ‘Utsman berkata: Aku mendengar ‘Abudullah bin al-Mubarak ia berkata: “Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya (dengan akal pikirannya sendiri)”  [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah kitab Shahihnya 1/47 no: 32)

Dari Ibnu Abbas ra., Rasulullah saw Bersabda: “Barangsiapa yang berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka.”. (HR.At Tirmidzi).

Imam Malik ra. berkata: “Hendaklah seseorang penuntut itu hafalannya (matan hadith dan ilmu) daripada ulama, bukan daripada Suhuf (lembaran)”. (Al-Kifayah oleh Imam Al Khatib m/s 108).

Imam Asy Syafi’i ra. juga berkata: “Barangsiapa yang bertafaqquh (coba memahami agama) melalui isi kandungan buku-buku, maka dia akan mensia-siakan hukum (kefahaman sebenar-benarnya)”. (Tazkirah As-Sami’e: 87).

Berkata pula Imam Ats Tsauri ra.: “Sanad adalah senjata orang mukmin, maka bila kau tak punya senjata maka dengan apa kau akan berperang?”, berkata pula Imam Ibnul Mubarak: “Pelajar ilmu yang tak punya sanad bagaikan penaik atap namun tak punya tangganya, sungguh telah Allah muliakan ummat ini dengan sanad”. (Faidhul Qadir juz 1 hal 433).

Al-Hafidh Imam Ats Tsauri ra. mengatakan: “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”.

Bahkan Al Imam Abu Yazid Al Bustamiy ra. berkata: “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan”. (Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203).

Asy Syeikh As Sayyid Yusuf Bakhour Al Hasani menyampaikan bahwa: “Maksud dari pengijazahan sanad itu adalah agar kamu menghafal bukan sekadar untuk meriwayatkan tetapi juga untuk meneladani orang yang kamu mengambil sanad daripadanya, dan orang yang kamu ambil sanadnya itu juga meneladani orang yang di atas di mana dia mengambil sanad daripadanya dan begitulah seterusnya hingga berujung kepada kamu meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, keterjagaan al-Qur’an itu benar-benar sempurna baik secara lafazh, makna dan pengamalan”.

Syeikh Ibn Jama’ah berkata: “Sebesar-besar musibah adalah dengan bergurukan sahifah (lembaran-lembaran atau buku)”. (Ibn Al-Jama’ah: 87 dan dinukilkan dalam Muqoddimah Syarh Al-Maqawif 1/90).

Imam Badruddin ibn Jama’ah: “Hendaklah seseorang penuntut ilmu itu berusaha mendapatkan Syeikh yang mana dia seorang yang menguasai ilmu-ilmu Syariah secara sempurna, yang mana dia melazimi para syeikh yang terpercaya di zamannya yang banyak mengkaji dan dia lama bersahabat dengan para ulama’, bukan berguru dengan orang yang mengambil ilmu hanya dari lembar kertas dan tidak pula bersahabat dengan para syeikh (ulama’) yang agung”. (Tazkirah As-Sami’ wa Al-Mutakallim 1/38).

Dari Anas bin Malik ra berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan, oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadinya perselisihan, maka ikutilah kelompok mayoritas”. (HR. Ibnu Majah No. 3950, Abd bin Humaid dalam Musnad-nya (1220) dan Ath Thabarani dalam Musnad Al Syamiyyin (2069).

Al-Imam Abu Yazid Al-Bustami; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan”. (Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203).

Dan sebagai penjelasan terakhir mari kita renungi bersama sama apa yang di sampaikan Habib Mundzir al-Musyawa: “Sanad adalah bagai rantai emas terkuat yang tak bisa diputus dunia dan akhirat, jika bergerak satu mata rantai maka bergerak seluruh mata rantai hingga ujungnya, yaitu Rasulullah saw”.

Orang yang berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja, maka ia akan menemui kesalahannya karena buku tidak bisa menegur. Membaca buku tanpa bimbingan hanya akan menimbulkan pemahaman yang liar dalam pikiran si pembaca. Karenanya, bimbingan guru tetaplah penting.

Jadi, boleh saja membuka wawasan dengan membaca sebuah buku, namun kita harus mempunyai satu guru yang kita bisa tanya jika kita sedang mendapatkan persoalan dalam memahami teks buku.

About admin

Check Also

Wahai HambaKu

“Inilah amanah Allah untuk kita semua wahai sahabat” Oleh: H Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ...