Saturday , June 12 2021
Home / Agama / Kajian / Pentingnya Sanad Silsilah

Pentingnya Sanad Silsilah

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Ilmu Sanad Menurut Habib Luthfi

Sebaik-baiknya orang belajar ialah yang mempunyai guru. Lalu gurunya itu mempunyai guru lagi dan terus tersambung (wushul) dengan guru-guru lainnya. Itulah yang dinamakan sanad keilmuan. Sanad keilmuan dari guru-guru yang jelas dan berakhlak mulia memastikan ilmu yang kita dapatkan telah melalui proses yang baik dan benar, tidak melalui proses yang instan sehingga ilmu tersebut layak diajarkan kepada orang lain.

Guru dari segala guru adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, manusia pertama penerima wahyu Allah dari malaikat Jibril untuk manyampaikan risalah Islam. Lalu bagaimana ilmu-ilmu dari Allah diajarkan setelah Rasulullah wafat?

Habib Luthfi dalam bukunya Secercah Tinta: Jalinan Cinta Seorang Hamba dengan Sang Pencipta (2012) menjelaskan bahwa pesan-pesan atau wahyu-wahyu Allah yang menjadi pedoman bagi umat manusia terangkum dalam Al-Qur’an yang diturunkan secara bertahap selama 22 tahun.

Isi Al-Qur’an sangat sistematis dan detail, serta memiliki manajemen penurunan wahyu yang sangat rapi. Dengan demikian, maka dalam mempelajarinya tidak dapat dilakukan secara instan (tanpa melalui guru dan perangkat-perangkat ilmu), bahkan membutuhkan ketekunan dan waktu yang panjang.

Rasulullah SAW merupakan satu-satunya sosok yang memahami betul maksud dari setiap huruf, ayat, dan surat yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Penafsir ulung berikutnya yang jelas dapat dijadikan rujukan ialah para sahabat Nabi. Karena mereka merupakan saksi sejarah, bahkan objek pertama dari Al-Qur’an pasca-wafatnya Nabi.

Rujukan berikutnya ialah para ulama yang berguru kepada para sahabat Nabi dan generasi-generasi berikutnya yang secara transmisi (sanad) mereka saling menyambung. Jadi tidak dapat dibenarkan jika ada orang mengatakan kembali pada Al-Qur’an dan Hadits dengan maksud tidak perlu memakai perangkat-perangkat ilmu yang dibakukan oleh para ulama.

Perangkat-perangkat ilmu yang dimaksud sejatinya telah dipahami bersama secara kultural oleh masyarakat Arab pada zaman Nabi Muhammad, yaitu Nahwu (gramatika), Sharaf (morfologi), Balaghah (sastra), dan lain-lain meskipun di era Nabi maupun sahabat belum menjadi disiplin ilmu tersendiri. Al-Jurumiyyah, kitab yang diajarkan oleh pondok pesantren yang disusun oleh wali besar Syekh Shonhaji adalah bagian dari upaya awal untuk memahami Al-Qur’an.

Pentingnya ketersambungan sanad ilmu-ilmu agama dari guru-guru yang berakhlak baik, Habib Luthfi menegaskan bahwa menjawab setiap pertanyaan terkait problem-problem agama tidak bisa disandarkan dari pendapat dan pandangan pribadi semata.

Habib Luhtfi menjelaskan, perilaku Nabi Muhammad selalu menjaga perkataan. Hal ini yang menjadi salah satu syarat bagi mereka yang mengeluarkan fatwa maupun melontarkan pendapat dan kata-kata.

Orang yang sering lahn (melakukan kesalahan dalam mengambil hukum) termasuk tidak boleh mengeluarkan fatwa. Lahn di sini tidak hanya mempunyai arti salah mengucapkan kata-kata, tetapi juga menjawab sesuatu, padahal dia sendiri tidak tahu jawabannya atau tidak mantap.

Semisal ada yang bertanya tentang hukum dan jawabannya ‘menurut pendapat saya begini’, itu termasuk lahn. “Menjawab hukum kok ‘menurut saya’,” jelas Habib Luhtfi (2012: 56). Fatalnya pendapat pribadi dalam pengambilan sebuah hukum biasanya hanya mengedepankan hawa nafsu tanpa ilmu.

Bersyukurlah seseorang yang mempunyai garis dan sanad keilmuan jelas dari guru-guru yang baik dan berakhlak mulia. Apalagi yang ilmunya menyambung hingga Nabi Muhammad SAW. Karena Allah menghendaki Nabi Muhammad SAW menjadi hamba-Nya yang terpilih dan menjadi yang terdepan dari nabi-nabi.

Tradisi Istimewa Sejarah Islam

Ilmu sanad adalah sebuah tradisi ilmiah yang hanya dimiliki oleh umat Islam. Tidak ada umat, dari agama dan ras manapun yang memiliki tradisi ilmiah ini. Ahli hadits menyusun rumusan keilmuan ini dengan kaidah-kaidah detil yang mengagumkan.

Isnad atau sanad adalah silsilah nama-nama perawi (pewarta) yang membawakan suatu berita tentang hadits Nabi SAW atau kejadian-kejadian sejarah. Dinamakan sanad, karena para penghafal menjadikannya acuan dalam menilai kualitas suatu berita atau ucapan. Apakah ucapan tersebut shahih (valid) atau dha’if (tidak valid).

Dalam tradisi Islam sejarah Islam, kita harus membaca sejarah sebagaimana halnya membaca hadits-hadits Rasulullah SAW. Tidak mungkin riwayat dari Rasulullah SAW diketahui benar atau tidaknya tanpa melalui proses penelitian sanad (silsilah pewarta) dan matannya (teks berita). Para ulama kita memperhatikan nama-nama periwayat dan redaksi ucapan yang mereka riwayatkan. Mereka mengumpulkan setiap redaksi hadits yang diriwayatkan oleh perawi, memilah-milahnya, menghukuminya, dan memisahkan mana yang shahih dan mana yang dha’if. Dengan metode ini, hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah SAW bisa dibersihkan dari kebohongan dan hal-hal buruk yang disisipkan padanya.

Ironisnya, sekarang ini kaum muslimin tidak lagi memperdulikan kualitas kabar, cerita, dan berita yang mereka baca. Mereka lupa tradisi emas yang disusun oleh ulama-ulama mereka. Sebagian umat Islam gandrung dengan tulisan-tulisan modern dan mengenyampingkan karya ulama-ulama mereka. Mereka membaca sejarah dengan mengedepankan keindahan bahasa dan runut alurnya. Tak lagi memperhatikan apakah riwayat yang dinukil buku-buku tersebut benar atau tidak. Padahal Islam memiliki standar yang tinggi dalam menerima berita.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَآءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ ۞

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat: 6).

Sanad Adalah Harta Istimewa Kaum Muslimin

Terjaganya hadits Nabi SAW hingga saat ini –setelah karunia Allah SWT karena adanya sanad yang bersambung kepada beliau SAW. Metodologi ini, Allah SWT berikan hanya kepada umat Islam, tidak pada umat yang lain. Kita lihat sejarah-sejarah umat, selain umat Islam, kualitas berita yang mereka kabarkan rapuh sekali. Mereka tidak punya metodologi yang dapat diandalkan untuk menerima ucapan-ucapan nabi mereka. Sehingga terputuslah hubungan mereka dengan para nabi itu, secara ilmiah dan sejarah.

Umat Islam berbeda. Umat ini pemilik tunggal metodologi periwayatan. Berita yang didapat umat ini, diriwayatkan oleh pewarta yang kuat daya ingatnya, jujur, dan amanah dalam menyampaikan berita. Nabi SAW telah memberi isyarat bahwa ilmu ini akan kekal di tengah-tengah umatnya. Beliau SAW bersabda,

تَسْمَعُونَ وَيُسْمَعُ مِنْكُمْ، وَيُسْمَعُ مِمَّنْ سَمِعَ مِنْكُمْ

“Kalian mendengar dan didengar dari kalian. Dan orang-orang yang mendegar dari kalian akan didengarkan.” (HR. Abu Dawud, Bab Fadhl Nasyrul Ilmi 3659).

Urgensi Sanad

Para ulama telah menjelaskan tentang urgensi sanad. Mereka menjelaskan pentingnya ilmu ini dengan pemisalan yang tinggi. Seperti ucapan ulama tabi’in, Muhammad bin Sirin rahimahullah,

إِنَّ هَذَا العِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Karena itu, perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Riwayat Muslim).

Sufyan ats-Tsaury (ulama tabi’ at-tabi’in) rahimahullah mengatakan,

اَلإِسْنَادُ هُوَ سِلَاحُ المُؤْمِنِ، فَإِذَا لَمْ يَكُنْ مَعَهُ سِلَاحٌ فَبِأَيِّ شَيْءٍ يُقَاتِلُ؟

“Sanad adalah senjatanya orang-orang beriman. Kalau bukan dengan senjata itu, lalu dengan apa mereka berperang?” (al-Majruhin oleh Ibnu Hibban)

Berperang maksudnya adalah perang argumentasi. Mengkritik orang yang menyampaikan kabar bohong dan membela agama ini dari kepalsuan.

Abdullah bin al-Mubarak (ulama tabi’ at-tabi’in) rahimahullah mengatakan,

اَلإِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ وَلَوْلَا الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Sanad itu bagian dari agama. Kalau bukan karena Isnad, pasti siapaun bisa berkata apa yang dia kehendaki.” (Riwayat Muslim).

Dengan adanya sanad, setiap orang yang mencatut nama Rasulullah SAW atau para sahabatnya dalam suatu nukilan, tidak serta-merta diterima ucapannya. Ucapannya diteliti, dari siapa dia mendengar. Apakah ucapan tersebut memiliki periwayat yang bersambung hingga ke Rasulullah SAW atau tidak. Satu persatu nama-nama itu diteliti latar belakang kehidupan mereka, kualitas daya ingatnya, kejujurannya, keshalehannya, dll. Apabila dikategorikan sebagai seorang terpecaya dan memenuhi syarat-syarat lainnya. Barulah nukilannya diterima. Jika tidak memenuhi syarat, maka tidak diterima. Sehingga seseorang tidak bisa berbicara semaunya dalam agama ini.

Ilmu ini bisa diterapkan pada ilmu-ilmu lainnya. Seperti ilmu sastra Arab, sejarah, pengobatan, dll. Dari ilmu ini pula, lahir cabang keilmuan yang lain. seperti, Jarh wa Ta’dil. Apabila seorang pewarta tidak mencukupi syarat, ia di-jarh (dicela). Tidak dinilai layak. Jika si pewarta mencukupi syarat, ia di-ta’dil (dipuji). Dianggap layak beritanya diterima.

Perkembangan Ilmu Sanad

Kaum muslimin mulai memperhatikan sanad setelah terjadi musibah pembunuhan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Di masa itu, mulai muncul orang-orang yang memalsukan ucapan. Para ahli hadits pun mengambil sikap untuk membentengi syariat dan sejarah Islam dari dusta dan kepalsuan. Sanad menjadi senjata untuk membantah para pemalsu. Sufyan ats-Tsaury rahimahullah mengatakan, “Ketika para pendusta membuat sanad-sanad bohong, kami bantah mereka dengan tarikh dan nama-nama periwayat.” (Isham al-Bayir dalam Ushul Manhaj an-Naqdu ‘Inda Ahlu al-Hadits, Hal: 80).

Ilmu Sanad Dalam Pandangan Oritentalis

Metodologi para ulama Islam dalam menetapkan hadits shahih, baik sanadnya (jalur periwayatan) dan matan (teks berita atau hadits) telah membuat kagum para orientalis. Mereka juga mengagumi bagaimana sanad bisa melahirkan keilmuan lain seperti ilmu Ushul Hadits, Jarh wa Ta’dil, dll. Di antara orientalis yang mengagumi ilmu yang hanya dimiliki kaum muslimin ini adalah: Bosworth Smith, George Bernard Shaw, Sprengger, dll. (al-Mustasyriqun wa al-Hadits an-Nabawi oleh Muhammad Bahauddin).

Sprenger, seorang orientalis asal Jerman mengatakan, “Dunia tidak pernah melihat dan tidak akan pernah melihat komunitas seperti umat Islam. Mereka telah mempelajari cabang ilmu hadits, yakni Ilmu Rijal. Mereka meneliti 1,5 juta biografi periwayat.” Komentar Sprenger terhadap kitab al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah karya Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah.

Maurice Bucaille mengatakan, “Telah diketahui, bahwa sumber hukum Islam yang ke-2 (hadits) bersandar pada penukilan lisan. Oleh karena itu, orang-orang pertama yang mengumpulan dan mentrasnkrip perkataan dan perbuatan ke dalam bentuk teks melakukan tugas ini dengan berat. Perhatian pertama mereka tertuju pada detilnya hafalan hadits-hadits di masa kehidupan Nabi. Mereka membukukan nama-nama periwayat yang menukilkan ucapan dan perbuatan Nabi SAW. Hingga nama-nama tersebut bersambung sampai kepada generasi pertama, baik dari kalangan keluarga Nabi SAW atau sahabat-sahabat beliau yang langsung bertemu dengan beliau SAW. Usaha ini dilakukan setelah meneliti satu persatu biografi periwayat. Serta menjauhi periwayat yang diketahui memiliki rekam jejak yang buruk dan tidak jujur. Karena hal ini menunjukkan lemahnya kualitas periwayat yang membawa berita. Sehingga mereka tidak dijadikan rujukan dalam jalur periwayatan hadits. Metodologi ini hanya dimiliki oleh ulama Islam dalam setiap meneliti semua kabar dari Nabi mereka.” (Dirasah al-Kutub al-Muwaddasah fi Dhaui al-Ma’arif al-Hadits oleh Maurice Bucaille).

Seorang pendeta dan orientalis Inggris, David Samuel Margoliouth, yang terkenal memusuhi Islam, ia juga tidak memungkiri betapa selektifnya umat Islam dalam memilih pembawa berita (perawi). Margoliouth mengatakan, “Pantas umat Islam bangga sebangga-bangganya dengan ilmu hadits mereka.” (al-Maqalat al-Ilmiyah Hal 234-253, dinukil dari pengantar al-Ma’rifatu Li Kitab al-Jarh wa at-Ta’dil).

Sejarawan Nasrani asal Libanon, Ahmad Rustum, ketika menulis karyanya Mushthalah at-Tarikh, ia mengakui hebatnya metodologi penukilan berita sejarah dalam tradisi Islam. Bgaimana umat Islam memilah, mana pewarta yang terpecaya dan mana yang bukan sungguh luar biasa. Mana yang adil dan mana yang amanah. Sehingga ia pun mengambil sebagian berita sejarah dari ahli sejarah Islam (Mushtalah at-Tarikh oleh Asad Gabriel Rustum).

Sanad dalam Tarekat

Sanad di dalam Tarekat tidak hanya sebatas memverifikasi sebuah ucapan Rasulullah SAW dari sisi basyariyahnya saja. Ia tidak hanya bertujuan menjaga otentisitas teks, akan tetapi juga menjaga kandungan spiritual teks dan maqashid haqiqiyyah (maksud-maksud yang benar) dari teks.

Sanad dalam tarekat lebih luas cakupannya dan lebih detil keotentikannya. Kepentingan sanad dalam tarekat justru menjaga bashirah ‘ainiyyah yang diamanahkan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya hingga akhir zaman. Penjagaan melalui sanad itu lebih bersifat ‘illat syakhshiyyah (esensi kepribadian Rasulullah SAW).

Dalam ilmu sanad secara basyariyyah, kemurnian yang dijaga adalah semata kemurnian tekstual. Sehingga betapapun terjaganya keotentikan teks, tak dapat menjamin seseorang mencapai maqashid haqiqiyyah dari teks. Maqashid haqiqiyyah hanya bisa dicapai lewat pendalaman-pendalaman kontemplatif akan sebuah teks. Hal itu hanya ada di dalam metodologi sanad dalam pemahaman tarekat.

Dalam istilah sufistik, rasa dari pendalaman tekstual tersebut dinamakan dengan al-Dzawq. Karena itu, dalam dunia sufisme, sanad tidak terbatas pada bagaimana teks bisa terjaga orisinalitasnya, akan tetapi bagaimana pemahaman menyeluruh yang dikabarkan oleh Rasulullah SAW tentang Islam dapat terjaga orisinalitasnya hingga akhir zaman. Pemahaman para sufi tidak hanya berhenti pada teks, tapi juga memahami si pengucap teks. Pengucap teks dalam hal ini adalah Rasulullah SAW.

Dengan demikian, sanad dalam tarekat adalah sebuah metode pencapaian pemahaman akan “kepribadian Rasulullah SAW” melalui para pewarisnya secara turun temurun hingga akhir zaman.

Semoga Allah SWT merahmati para ulama yang mewarisi risalah Rasulullah SAW melalui sanad hingga terjaga keotentikannya. Merekalah pewaris yang sebenarnya akan kemuliaan Islam yang terbangun dalam kepribadiannya hingga menjadi perantara antara Rasulullah SAW dengan umat akhir zaman, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

Wallâhu A’lam

About admin

Check Also

Shalawat Kubra

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...