Oleh: H. Derajat
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيم
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Allahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad.
“Adhang-adhang tetese embun, pasrah peparing marang Gusti” (Setelah usaha yang maksimal pasrahkanlah semua pada Tuhan)
Suatu hari istriku bertanya soal kebaikan dan keburukan di hadapan Tuhan, maka aku jawab dengan sebuah kisah untuk ditarik kesimpulannya.
Istriku sayang, petiklah hikmah yang terkandung dalam kisah ini maka engkau tak akan pernah salah mendudukkan Tuhanmu dalam kehidupan ini.
Suatu malam, seorang wanita bermimpi masuk ke sebuah toko baru di pasar. Dia terkejut, menemukan Nabi Isa di belakang toko.
“Engkau menjual apa di sini?” ia bertanya.
“Apa saja yang menjadi keinginan hatimu,” kata Nabi Isa.
Hampir tak berani percaya apa yang didengarnya, wanita itu memutuskan minta hal-hal paling baik, yang dapat diinginkan seorang manusia. “Aku minta ketenteraman hati dan cinta, bahagia dan bijaksana, dan bebas dari sakit.” katanya. Lalu sebagai pikiran baik kemudian ditambahkan, “Tidak hanya untuk saya. Untuk semua orang di dunia.”
Nabi Isa tersenyum. “Kukira, engkau menafsirkan aku salah, nak,” jawab Nabi Isa. “Kami tidak menjual buah di sini. Hanya benih.”
Demikianlah istriku, yang kamu harus pahami bahwa Allah melalui para Nabi, para Wali dan para orang-orang sholeh hanya menebarkan bibit kebaikan, bibit kekayaan, bibit keimanan dan semua bibit kebutuhan hidupmu. Beliau semua tidak menjual buah kebaikan, buah keimanan, buah kekayaan dan buah perbekalan kehidupanmu. Tugasmulah menanamkan benih itu, merawatnya, kemudian memetik hasilnya.
So, jangan pernah salah sangka pada Tuhanmu…