Saturday , June 12 2021
Home / Agama / Kajian / Pengertian Sanad ‘Ali

Pengertian Sanad ‘Ali

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Sanad al-‘Âli (tinggi) dan al-Nâzil (rendah) adalah dua keadaan sanad suatu hadits. Maksudnya adalah ketika satu hadits (Matan) datang dengan dua sanad atau lebih, maka yang jumlah perawinya lebih sedikit dari yang lainnya, maka ini disebut Sanad al-‘Âli (tinggi) dan yang jumlah perawinya lebih banyak disebut Sanad al-Nâzil (rendah).

Misalkan ada teman anda yang mengatakan: ‘saya mendengar Ahmad berkata: ‘saya mendengar Muhammad berkata: ‘saya mendengar Mahmud berkata: ‘Jakarta banjir sekarang’. Maka pada Sanad ini terdapat tiga orang perawi: Teman anda, Ahmad, dan Muhammad, adapun haditsnya berasal dari perkataan Mahmud.

Kemudian anda mendengar ibu anda berkata: ‘Tadi bapakmu bercerita: ‘saya dengar Mahmud berkata: ‘Jakarta banjir sekarang’. Pada Sanad ini hanya ada dua orang perawi: Ibu anda dan bapak anda. Haditsnya sama, yakni dari ucapan Mahmud.

Maka sanad yang pertama disebut al-Nâzil karena lebih banyak jumlah perawinya dari yang kedua. Sedangkan yang kedua disebut al-‘Âli.

Para Ulama hadits sangat semangat mencari sanad yang ‘Âli (tinggi), karena semakin sedikit perawinya, maka kemungkinan salahnya semakin kecil. Namun terkadang mereka dapati Sanad yang ‘Âli ada padanya seorang perawi yang lemah, sehingga mereka membawakan sanad yang Nâzil.

Sanad al-‘Âli (Sanad Tinggi) adalah sanad yang dekat dengan Rasulullah SAW. Hal ini menjadikan teks hadits lebih otentik dan orisinil. Karena ia mendapatkannya dari perawi yang lebih dekat kepada Rasulullah SAW.

Sebagai contoh Sanad al-‘Ali, di dalam Shahih Muslim disebutkan:

حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ أَبُو النَّضْرِ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: نُهِيْنَا أَنْ نَسْأَلَ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ فَكَانَ يُعْجِبُنَا أَنْ يَجِيْءَ الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ فَيَسْأَلَهُ وَنَحْنُ نَسْمَعُ فَأَتَاهُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَتَانَا رَسُولُكَ فَزَعَمَ أَنَّكَ تَزْعُمُ أَنَّ اللّٰهَ أَرْسَلَكَ، قَالَ: صَدَقَ، قَالَ: فَمَنْ خَلَقَ السَّمَآءَ والْأَرْضَ؟ قَالَ: اللّٰهُ، قَالَ: فَمَنْ نَصَبَ هَذِهِ الْجِبَالَ؟ قَالَ: اللّٰهُ، قَالَ: فَمَنْ جَعَلَ هَذَا الْمَنَافِعَ؟ قَالَ: اللّٰهُ، قَالَ: فَبِالَّذِيْ خَلَقَ السَّمَآءَ وَخَلَقَ الْأَرْضَ وَنَصَبَ هَذِهِ الْجِبَالَ، آللّٰهُ أَرْسَلَكَ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: وَزَعَمَ رَسُوْلُكَ أَنَّ عَلَيْنَا خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِنَا وَلَيْلَتِنَا، قَالَ: صَدَقَ قَالَ فَبِالَّذِي أَرْسَلَكَ آللّٰهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: وَزَعَمَ رَسُوْلُكَ أَنَّ عَلَيْنَا زَكَاةً فِي أَمْوَالِنَا؟ قَالَ: صَدَقَ، قَالَ: فَبِالَّذِي أَرْسَلَكَ آللّٰهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: وَزَعَمَ رَسُوْلُكَ أَنَّ عَلَيْنَا صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ فِي سَنَتِنَا؟ قَالَ: صَدَقَ، قَالَ: فَبِالَّذِي أَرْسَلَكَ آللّٰهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: وَزَعَمَ رَسُوْلُكَ أَنَّ عَلَيْنَا حَجَّ الْبَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا؟ قَالَ: صَدَقَ، قَالَ: ثُمَّ وَلَّى قَالَ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَزِيْدُ عَلَيْهِنَّ وَلَا أَنْقُصُ مِنْهُنَّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَئِنْ صَدَقَ لَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ (رواه مسلم)

Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin al-Qasim, (ia berkata) telah menceritakan kepada kami Abu an-Nadlr telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin al-Mughirah dari Tsabit dari Anas bin Malik dia berkata: “Dahulu kami dilarang untuk bertanya kepada Rasulullah SAW tentang sesuatu (yang tidak penting). Sungguh menggembirakan kami kedatangan seorang laki-laki dari kampung pedalaman (badui), lalu menanyakan sesuatu kepada beliau dan kami mendengarkannya. (Pada suatu hari) datanglah seorang laki-laki dari mereka, dan berkata: ‘Wahai Muhammad, telah datang utusanmu kepada kami, lalu ia mengklaim bahwa engkau mengklaim bahwa Allah mengutusmu. ’Rasulullah menjawab: ‘Benar’. Dia bertanya: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Rasulullah menjawab: ‘Allah.’ Dia bertanya: Dia bertanya lagi: ‘Siapakah yang memancangkan gunung-gunung?’ Beliau menjawab: ‘Allah. ’Siapakah yang menjadikan manfaat-manfaat ini di dalamnya?’ Beliau menjawab: Allah. Dia berkata: ‘Maka demi Dzat yang menciptakan langit, menciptakan bumi, memancangkan gunung-gunung ini, dan menjadikan manfaat-manfaat ini di dalamnya. Apakah Allah yang mengutusmu? ’Beliau menjawab: ‘Benar. ’Dia bertanya: ‘Utusanmu mengklaim bahwa kami diwajibkan menunaikan shalat lima waktu sehari semalam (apakah ini benar)? ’Beliau menjawab: ‘Benar. Dia berkata: Utusanmu mengklaim bahwa kami wajib membayar zakat pada harta kami (apakah ini benar?). Beliau menjawab: Benar. ’Dia berkata: ‘Demi Dzat yang mengutusmu, apakah Allah memerintahkanmu untuk melakukan ini? ’Beliau menjawab: ‘Benar’. Dia berkata: ‘Utusanmu mengklaim bahwa kami wajib berpuasa satu bulan (Ramadlan) setiap tahun (apakah ini benar)? ’Beliau menjawab: ‘Benar. ’Dia berkata: ‘Apakah Allah memerintahkanmu untuk melakukan ini?’ Beliau menjawab: ‘Benar’. Dia berkata: ‘Utusanmu mengklaim bahwa kami wajib menunaikan ibadah haji bagi siapa di antara kami yang mampu menempuh jalannya, (apakah ini benar?)’ Beliau menjawab: ‘Benar’. Kemudian dia berpaling dan berkata: ‘Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan menambah (kewajiban tersebut) dan tidak akan menguranginya.Maka Nabi SAW bersabda: “Jika benar (yang dikatakannya), sungguh dia akan masuk surga.’’ (HR. Muslim)

Abu ‘Abdillah (al-Hakim) RH berkata: “Hadits ini diriwayatkan dalam sanad yang shahih milik Imam Muslim RH. Di dalamnya terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya seseorang mencari sanad ‘Ali (yang tinggi/dekat dengan Nabi) dan tidak mencukupkan diri dengan sanad nuzul (yang rendah/jauh dari Nabi) sekalipun ia mendengarnya (sanad rendah tersebut) dari seorang yang tsiqah (kuat hafalannya). Karena seorang Badui tadi ketika utusan Rasulullah SAW datang kepadanya, lalu mengabarkan kepadanya apa-apa yang diwajibkan oleh Allah kepada mereka, hal itu tidak membuatnya puas (merasa cukup), hingga dia akhirnya pergi langsung mendatangi Rasulullah SAW untuk mendengarkan dari beliau SAW apa yang disampaikan oleh utusan tersebut dari beliau SAW. Seandainya mencari sanad ‘Ali tidak dianjurkan tentu al-Musthafa (Rasulullah) SAW akan mengingkari pertanyaan orang badui kepada beliau tentang apa yang disampaikan oleh utusan beliau kepadanya.”

Abu ‘Abdillah (al-Hakim) RH berkata: “Adapun mencari sanad ‘Ali, maka hal itu dianjurkan sebagaimana telah kami sebutkan. Banyak dari kalangan Sahabat RA yang melakukan rihlah (perjalanan jauh) untuk mencari sanad ‘Ali.”

Di antaranya apa yang diriwayatkan dari ‘Atha bin Abi Rabah RH dia berkata: ”Abu Ayyub, RA ke luar (dari Madinah) menuju tempat ‘Uqbah bin ‘Amir RA untuk menanyakan tentang hadits yang ia dengar dari Rasulullah SAW, dan tidak tersisa satu sahabatpun yang mendengar dari beliau SAW selain dia dan ‘Uqbah. Ketika dia tiba di rumah Maslamah bin Mikhlad al-Anshari RA –ia adalah gubernur Mesir- maka ia mengabarinya, lalu dengan bergegas Maslamah pun keluar menemuinya lalu memeluknya dan berkata: “Apa yang membuatmu datang ke sini wahai Abu Ayyub?” Maka ia menjawab: “Suatu hadits yang aku dengar dari Rasulullah SAW yang tidak tersisa satu orangpun yang mendengarnya dari Rasulullah SAW selain aku dan ‘Uqbah, maka utuslah orang untuk menunjukkan aku ke rumahnya”. ‘Atha berkata: ”Maka ia mengutus orang untuk menunjukkinya ke rumah ‘Uqbah. Lalu dia mengabarkan kepada ‘Uqbah, maka ‘Uqbah pun bergegas dan keluar menemuinya lalu memeluk Abu Ayyub. Kemudian ‘Uqbah berkata: “Apa yang menyebabkan kamu datang ke sini wahai Abu Ayyub?” Ia menjawab: “Suatu hadits yang aku dengar dari Rasulullah SAW yang tidak tersisa satu orang pun yang mendengarnya dari Rasulullah SAW selain aku dan kamu tentang satrul mu’min (menutup aib orang beriman)”. ‘Uqbah RA berkata: “Benar, aku mendengar dari Rasulullah SAW bersabda:’

مَنْ سَتَرَ مُؤْمِنًا فِى الدُّنْيَا عَلَى خِزْيَةٍ سَتَرَهُ اللّٰهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa menutupi aib seorang mu’min di dunia, Allah akan menutupi aibnya pada hari Kiamat.”

Maka Abu Ayyub, RA berkata kepadanya: “Engkau benar”. Kemudian Abu Ayyub, RA berlalu menuju binatang tunggangannya, lalu menaikinya dan kembali ke Madinah.

Abu ‘Abdillah (Imam al-Hakim) RH berkata: “Maka inilah Abu Ayyub, RA sekalipun persahabatannya dengan Nabi SAW lebih awal (lebih dahulu), dan hafalan haditsnya dari Nabi SAW banyak. Tetapi dia pergi menuju salah seorang sahabat yang masih sebaya dengannya untuk mendapatkan satu hadits. Seandainya dia mencukupkan diri dengan mendengarkan hadits Nabi SAW dari sebagian sahabat saja maka itu bisa saja dia lakukan.

Di antaranya apa yang diriwayatkan dari Malik dari Yahya dari Sa’id bin al-Musayyib RH, dia berkata: “Sungguh, dahulu aku pernah bersafar (bepergian jauh) sejauh perjalanan beberapa hari dan malam untuk mendapatkan satu hadits.”

Di antaranya apa yang dikatakan oleh Marzuq, aku mendengar ‘Amr bin Abi Salamah berkata: ”Aku berkata kepada al-Auzaa’i: ‘Wahai Abu ‘Amr, aku telah menemanimu selama empat hari, namun aku hanya mendengar darimu tiga puluh hadits saja.’ Dia berkata: ‘Engkau menganggap sedikit tiga puluh hadits yang engkau dapatkan dalam waktu empat hari!

Jabir bin ‘Abdillah, RA pernah berjalan menuju Mesir, membeli kuda lalu menaikinya, sehingga ia bisa bertanya kepada ‘Uqbah bin ‘Amir, RA untuk menanyakan satu hadits saja, lalu kemudian ia kembali ke Madinah. Sedangkan engkau menganggap sedikit tiga puluh hadits yang engkau dapatkan dalam empat hari.’

Abu ‘Abdillah (Imam al-Hakim) RH berkata: “Dan Jabir bin ‘Abdillah, RA, sekalipun banyak hafalannya, dan seringnya ia bersama Rasulullah SAW, dia rela menempuh jarak yang jauh untuk mendapatkan satu hadits dari orang yang sederajat atau di bawahnya.

Sumber: Diringkas dari Kitab “Ma’rifat ‘Ulûm al-Hadîts” karya Imam al-Hakim RH.

 

 

About admin

Check Also

Pentingnya Sanad Silsilah

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...