Monday , May 10 2021
Home / Ensiklopedia / Analisis / Pengaruh Bulan Terhadap Kejiwaan Manusia
(Sumber gambar: Getty Images)

Pengaruh Bulan Terhadap Kejiwaan Manusia

Gagasan bahwa siklus bulan dapat mempengaruhi perilaku orang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Pengobatan modern telah menolaknya. Tetapi penelitian baru menunjukkan bahwa teori-teori kuno ini mungkin ada benarnya.

Pria berusia 35 tahun yang duduk di klinik psikiatri David Avery adalah seorang insinyur: “Dia suka memecahkan masalah,” kata Avery.

Dan masalah yang membingungkannya ketika dirawat di bangsal psikiatrik tempat Avery bekerja di Seattle tahun 2005 adalah suasana hatinya.

Suasana hatinya berubah dengan cepat dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain, kadang-kadang ada fantasi bunuh diri, melihat dan mendengar hal-hal yang tidak ada.

Pola tidur pria itu juga tidak menentu, beralih dari insomnia total menjadi tidur 12 jam per malam.

Sebagai seorang pemecah masalah, pria itu telah mencatat dengan cermat pola-pola ini, mencoba memahami semuanya.

Avery dengan cermat mempelajari catatan-catatan ini dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Keteraturan ritmenya menggelitik saya,” kata dia. Dia melihat bahwa suasana hati dan pola tidur pasiennya bergerak sesuai pasang surut samudera, yang didorong oleh tarikan gravitasi bulan.

“Tampaknya ada gelombang pasang pada malam hari ketika durasi tidurnya pendek,” kata Avery.

Dia awalnya menganggap firasatnya ini sebagai kegilaan. Bahkan jika siklus suasana hati pria itu selaras dengan Bulan, ia tidak memiliki mekanisme untuk menjelaskannya. Tidak pula ada gagasan tentang apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya.

Pasien diberi resep obat dan terapi cahaya untuk menstabilkan suasana hati dan tidurnya, dan akhirnya diperbolehkan pulang. Avery menyelipkan catatan pria itu ke dalam laci lemari arsip dan menutupnya.

Dua belas tahun kemudian, seorang psikiater terkenal bernama Thomas Wehr menerbitkan sebuah makalah yang menggambarkan 17 pasien dengan gangguan bipolar yang cepat berputar.

Ini adalah suatu bentuk penyakit di mana orang-orang beralih, dari depresi ke mania dengan lebih cepat dari biasanya. Seperti juga pasien Avery, episode penyakit mereka pun menunjukkan keteraturan luar biasa.

“Hal yang mengejutkan saya tentang siklus ini adalah bahwa mereka sangat teratur, tidak seperti apa yang terjadi dalam proses biologis,” kata Wehr, seorang profesor psikiatri emeritus di Institut Kesehatan Mental Nasional di Bethesda, AS.

“Itu membuat saya bertanya-tanya, apakah ada semacam pengaruh eksternal yang mendorong siklus ini? Dan [karena kepercayaan historis bahwa Bulan mempengaruhi perilaku manusia] hal yang jelas dapat dipertimbangkan adalah apakah ada pengaruh bulan.”

Selama berabad-abad, orang percaya bahwa Bulan memengaruhi perilaku manusia. Kata “lunacy” (kegilaan) berasal dari bahasa Latin “lunaticus”, yang berarti “moonstruck”.

Filsuf Yunani Aristoteles dan naturalis Romawi Pliny the Elder percaya bahwa kegilaan dan epilepsi disebabkan oleh Bulan. Wanita hamil juga dikabarkan lebih mungkin melahirkan di bulan purnama.

Tetapi bukti ilmiah yang dikumpulkan dengan melihat kembali catatan kelahiran selama fase bulan yang berbeda, tidak konsisten. Demikian juga dengan bukti bahwa siklus bulan meningkatkan kekerasan di antara pasien psikiatris atau narapidana penjara.

Meskipun demikian, satu studi baru-baru ini menunjukkan bahwa aktivitas kriminal di luar ruangan seperti insiden yang terjadi di jalan-jalan, atau dalam situasi alami seperti pantai, mungkin lebih tinggi ketika ada lebih banyak cahaya bulan.

Namun, ada beberapa bukti bahwa pola tidur bervariasi di seluruh siklus bulan. Sebagai contoh, ada sebuah studi 2013 yang dilakukan di bawah kondisi yang sangat terkontrol di laboratorium tidur.

Penelitian ini menemukan bahwa rata-rata orang perlu waktu lima menit lebih lama untuk tidur, dan secara keseluruhan waktu tidurnya berkurang sekitar 20 menit pada waktu sekitar bulan purnama, dibandingkan dengan hari-hari lain. Padahal, mereka tidak terkena sinar bulan sedikit pun.

Pengukuran aktivitas otak mereka menunjukkan bahwa jumlah tidur nyenyak mereka turun 30%. Meski begitu, penelitian lanjutan gagal mereplikasi temuan.

Masalah utamanya adalah bahwa tidak ada penelitian yang memantau tidur pasien secara individu selama sebulan penuh, atau berbulan-bulan, kata Vladyslav Vyazovskiy, peneliti tidur Universitas Oxford.

“Satu-satunya cara untuk meneliti ini secara sistematis adalah dengan merekam individu yang sama dari waktu ke waktu dan terus menerus, melalui fase yang berbeda,” kata dia.

Inilah yang dilakukan Wehr dalam penelitiannya terhadap pasien bipolar. Pada beberapa kasus, Wehr melacak tanggal episode suasana hati mereka selama bertahun-tahun.

“Karena cara setiap orang menanggapi siklus bulan ini selalu berbeda. Bahkan jika Anda membuat rata-rata bersama semua data yang saya kumpulkan, saya tidak yakin Anda akan menemukan apa pun,” kata Wehr.

“Satu-satunya cara untuk menemukan sesuatu adalah dengan meneliti setiap orang secara individual dari waktu ke waktu, dan kemudian polanya muncul.”

Ketika melakukan ini, Wehr menemukan bahwa pasiennya masuk ke dalam salah satu dari dua kategori: perubahan suasana hati beberapa orang tampaknya mengikuti siklus 14,8 hari, yang lain siklus 13,7 hari.

Ada pula beberapa dari mereka yang kadang-kadang berpindah siklus.

Bulan mempengaruhi Bumi dalam beberapa cara. Yang pertama dan paling jelas adalah melalui penyediaan cahaya bulan, dengan bulan purnama setiap 29,5 hari, dan bulan baru mengikuti 14,8 hari setelah itu.

Lalu ada tarikan gravitasi Bulan, yang menciptakan gelombang laut yang naik dan turun setiap 12,4 jam.

Ketinggian pasang-surut itu juga mengikuti siklus sekitar dua minggu, yang disebut siklus 14,8 hari “springneap cycle”, yang didorong oleh tarikan gabungan Bulan dan Matahari, dan “siklus deklinasi” 13,7 hari, yang didorong posisi Bulan relatif terhadap ekuator Bumi.

Ini kira-kira adalah siklus dua minggu sesuai ketinggian pasang surut yang tampaknya selaras dengan pasien Wehr.

Bukannya mereka harus beralih ke depresi atau mania setiap 13,7 atau 14,8 hari, “hanya saja jika terjadi perubahan dari depresi menjadi mania, itu tidak terjadi pada waktu-waktu biasa, tapi cenderung terjadi selama fase tertentu siklus pasang-surut bulan,” kata Avery.

Setelah membaca tentang penelitian Wehr, Avery menghubunginya, dan mereka kemudian menganalisis kembali data sang insinyur dan menemukan bahwa ia juga menunjukkan pola 14,8 hari dalam siklus suasana hatinya.

Bukti lebih lanjut dalam pengaruh Bulan pada suasana hati pasien ini berasal dari penemuan bahwa setiap 206 hari, ritme yang teratur ini tampaknya terganggu oleh siklus lunar lain.

Inilah siklus yang menciptakan “supermoon”, ketika orbit bulan yang elips (atau oval) membuat bulan jadi sangat dekat dengan Bumi.

Anne Wirz-Justice, seorang kronobiolog di Rumah Sakit Psikiatri Universitas Basel, Swiss, menggambarkan data Wehr tentang hubungan antara siklus lunar dan manik-depresi sebagai “dapat dipercaya” tetapi “kompleks”.

“Orang tidak tahu apa mekanismenya,” tambahnya.

Secara teori, cahaya bulan purnama dapat mengganggu tidur orang, yang dapat memengaruhi suasana hati mereka.

Hal ini terutama berlaku untuk pasien bipolar, yang episode suasana hatinya sering dipicu oleh gangguan tidur atau ritme sirkadian kita.

Ini adalah sistem 24 jam dalam tubuh kita secara biologis dan perilaku kita, yang dapat terganggu karena kerja shift atau mengambil penerbangan jarak jauh. Bahkan ada bukti bahwa dipaksa tidak tidur dapat mengangkat pasien bipolar dari depresi.

Mendukung gagasan bahwa Bulan entah bagaimana dapat mempengaruhi tidur pasien, Wehr menemukan bahwa seiring berjalannya waktu, waktu mereka bangun makin lama, sementara waktu mereka beranjak tidur tetap sama.

Artinya, jumlah waktu tidur mereka menjadi makin lama, sampai tiba-tiba memendek. Masa terjadinya “fase lompatan” ini sering dikaitkan dengan timbulnya mania.

Meski begitu, Wehr menganggap cahaya bulan tidak mungkin jadi penyebabnya.

“Di dunia modern, ada begitu banyak polusi cahaya dan kita menghabiskan begitu banyak waktu di dalam ruangan yang terpapar cahaya buatan, sehingga sinyal perubahan tingkat cahaya bulan menjadi kabur,” kata dia.

Sebaliknya, ia menduga bahwa beberapa aspek lain dari pengaruh bulan-lah yang mengganggu tidur pasiennya. Konsekuensi terganggunya waktu tidur sangat menghentak suasana hati mereka. Kandidat yang paling mungkin adalah tarikan gravitasi Bulan.

Satu gagasan adalah bahwa gravitasi bulan memicu fluktuasi halus dalam medan magnet Bumi, yang mungkin membuat beberapa orang menjadi sensitif.

“Lautan adalah penghantar listrik karena terdiri atas air asin, dan mengalir seiring pasang surut yang memiliki medan magnet yang terkait,” kata Robert Wickes, pakar cuaca luar angkasa di University College London.

Namun, efeknya kecil, dan apakah efek Bulan pada medan magnet Bumi cukup kuat untuk memicu perubahan biologis? Tidak jelas.

Tentu saja, beberapa penelitian mengaitkan aktivitas matahari dengan peningkatan serangan jantung dan stroke, epilepsi, skizofrenia, dan bunuh diri.

Ketika kobaran api matahari atau ejeksi massa koronal menghantam medan magnet Bumi, ini menginduksi arus listrik tak terlihat yang cukup kuat untuk mematikan jaringan listrik.

Beberapa orang percaya bahwa ini mungkin juga mempengaruhi sel-sel yang sensitif secara elektrik di jantung dan otak.

“Masalahnya bukannya ini tidak mungkin terjadi, tapi penelitiannya sangat terbatas sehingga sulit mengatakan sesuatu yang pasti,” kata Wickes.

Sebab, tidak seperti burung, ikan, dan serangga, manusia tidak dianggap memiliki perasaan magnetis. Namun, penelitian yang diterbitkan awal tahun ini menantang asumsi itu.

Riset ini menemukan bahwa ketika seseorang terpapar pada perubahan medan magnet yang setara dengan yang kita alami ketika bergerak di sekitar lingkungan kita, ada penurunan kuat aktivitas gelombang alfa otak.

Gelombang alfa diproduksi ketika kita dalam keadaan sadar tetapi tidak melakukan kegiatan tertentu. Signifikansi dari perubahan-perubahan ini masih belum jelas.

Bisa saja ini produk sampingan yang tidak relevan dari evolusi, atau mungkin perubahan magnetik di lingkungan kita secara halus mengubah kimia otak kita dengan cara-cara yang tidak kita sadari.

Teori magnetik menarik bagi Wehr karena selama dekade terakhir, berbagai penelitian telah mengisyaratkan bahwa pada organisme tertentu seperti lalat buah, protein yang disebut cryptochrome juga dapat berfungsi sebagai sensor magnetik.

Cryptochrome adalah komponen kunci dari jam molekuler yang menggerakkan ritme “sirkadian” 24 jam dalam sel dan jaringan kita, termasuk otak.

Ketika cryptochrome berikatan dengan molekul penyerap cahaya yang disebut flavin, dia memberitahu jam sirkadian bahwa itu siang hari. Reaksinya juga yang menyebabkan kompleks molekul menjadi sensitif secara magnetis.

Bambos Kyriacou, ahli genetika perilaku di Universitas Leicester, Inggris, dan rekan-rekannya telah menunjukkan bahwa paparan medan elektromagnetik frekuensi rendah dapat mengatur ulang waktu jam sirkadian lalat buah, yang mengarah pada perubahan waktu tidur mereka.

Jika ini berlaku juga pada manusia, mungkin inilah penjelasan untuk perubahan mood tiba-tiba yang diamati pada pasien bipolar Wehr dan Avery.

“Ritme sirkadian pasien-pasien berubah cukup dramatis saat mereka menjalani siklus suasana hati mereka, dan juga dalam waktu dan durasi tidur mereka,” kata Wehr.

Namun, meskipun cryptochrome juga merupakan komponen penting jam sirkadian manusia, ia bekerja sedikit berbeda dari versi yang beroperasi di lalat buah.

“Sepertinya cryptochrome manusia dan mamalia lainnya tidak lagi mengikat flavin, dan tanpa flavin, kami tidak tahu bagaimana bahan kimia yang peka magnet bisa terpicu,” kata Alex Jones, seorang ahli fisika di National Physical Laboratory di Teddington, Inggris.

“Dari pertimbangan itu, saya pikir tidak mungkin bahwa cryptochrom [manusia] sensitif terhadap medan magnet, kecuali ada beberapa molekul lain di dalam manusia yang dapat mendeteksi medan magnet.”

Kemungkinan lain adalah bahwa pasien Wehr dan Avery merespons tarikan gravitasi Bulan dengan cara yang sama seperti samudera: melalui kekuatan pasang surut.

Argumen umum yang menentang hal ini adalah bahwa, meskipun manusia terbuat dari 75% air, jumlahnya jauh lebih kecil daripada lautan.

“Manusia terbuat dari air, tetapi tarikannya sangat lemah sehingga sulit untuk melihat bagaimana cara kerjanya dari sudut pandang fisik,” kata Kyriacou.

Meski begitu, ia setuju dengan riset pada Arabadopsis thaliana (gulma yang dianggap model organisme oleh ahli biologi yang mempelajari tanaman berbunga) yang menunjukkan bahwa pertumbuhan akar mereka mengikuti siklus 24,8 jam.

Ini adalah jumlah waktu yang dibutuhkan Bulan untuk menyelesaikan satu orbit mengelilingi Bumi.

“Ini adalah perubahan yang sangat kecil, yang hanya dapat dideteksi dengan perangkat yang sangat sensitif. Tapi sekarang ada lebih dari 200 publikasi untuk mendukung ini,” kata Joachim Fisahn, seorang ahli biofisika di Institut Max Planck untuk Fisiologi Tumbuhan di Potsdam, Jerman.

Fisahn telah memodelkan dinamika gugus molekul air di dalam sel tanaman tunggal dan menemukan bahwa variasi gravitasi harian yang disebabkan oleh orbit Bulan cukup untuk menyebabkan berkurang atau bertambahnya molekul air dari sel.

“Volume molekul air akan merespon perubahan gravitasi kecil, meskipun jika hanya dalam kisaran nano,” katanya.

“Sebagai konsekuensinya, akan ada pergerakan molekul air melalui saluran air. Artinya, air akan bergerak dari dalam sel ke arah luar atau sebaliknya, tergantung pada arah gaya gravitasi, dan ini dapat mempengaruhi seluruh organisme.”

Dia sekarang berencana untuk menguji ini dalam konteks pertumbuhan akar, dengan mempelajari tanaman yang saluran airnya bermutasi, untuk melihat apakah siklus pertumbuhannya berubah.

Jika sel-sel tanaman benar-benar peka terhadap kekuatan pasang surut seperti itu, maka Fisahn tidak melihat alasan mengapa sel manusia juga tidak bisa. Mengingat bahwa kehidupan diperkirakan dimulai di lautan, beberapa organisme darat mungkin masih mempertahankan “mesin” untuk memprediksi pasang surut, meskipun tidak ada kegunaan praktisnya.

Bahkan jika mekanismenya belum dapat diketahui, tidak ada ilmuwan yang kami hubungi untuk artikel ini yang membantah temuan dasar Wehr.

Bahwa perubahan suasana hati pasien bipolar Wehr punya ritme, dan bahwa ritme ini tampaknya berkorelasi dengan siklus gravitasi tertentu dari Bulan.

Wehr tetap membuka pikirannya soal mekanisme ini dan berharap orang lain akan melihatnya sebagai undangan untuk menyelidiki lebih lanjut.

“Saya belum menjawab bagaimana efek ini dimediasi, tetapi saya pikir hal-hal yang saya temukan menimbulkan pertanyaan itu,” kata dia.

_________________________________

Versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris bisa Anda baca di Is the moon impacting your mood and wellbeing di laman BBC Future.
_________________________________

Oleh: Linda Geddes
Source: BBCNews Indonesia

About admin

Check Also

Apa yang Anda Ketahui Tentang Vaksin?

Vaksinasi massal mulai bergulir di berbagai negara untuk mengendalikan pandemi Covid-19. Informasi dan anjuran terkait ...