Saturday , January 22 2022
Home / Relaksasi / Renungan / Pendosa yang Tawadhu’ dan Ahli Ibadah yang Ujub
Tabah. (Foto: IST)

Pendosa yang Tawadhu’ dan Ahli Ibadah yang Ujub

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku terkasih, dalam Kitab al-Hikam dikisahkan, terdapat seorang laki-laki dari kaum Bani Israil yang dijuluki Khali’, yakni orang yang gemar berbuat maksiat dan dosa besar.

Suatu ketika, ia bertemu dengan Abid (ahli ibadah) yang di atas kepalanya selalu terdapat payung mika menaunginya. Kemudian si Khali’ bergumam;

“aku adalah pendosa yang selalu berbuat maksiat, aku akan duduk bersanding dengannya, siapa tau dengan demikian aku mendapat rahmat Allah”.

Lalu si Khali’ duduk menyandingi Abid. Tak disangka, si Abid tidak nyaman berdekatan dengan Khali’ dan meninggalkannya dengan sikap penuh keangkuhan.

Lalu Allah mewahyukan kepada Nabi dari Bani Israil dengan firmannya: “Perintahkan kepada Abid’ dan Khali’ untuk sama-sama memperbanyak amal, Aku benar-benar telah mengampuni dosa Khali’ dan menghapus semua amal ibadah Abid”.

Kisah di atas mengingatkan kita, sebanyak apa pun ibadah kita, akan sia-sia, jika di dalam hati terdapat sejengkal kesombongan. Sedangkan rasa menyesal terhadap dosa yang sudah kita lakukan, bisa jadi akan mendatangkan rahmat Allah.

Tanpa disadari, banyak di antara kita sering pongah dengan keberhasilan sebuah ibadah. Acapkali di antara kita sering jumawa dengan perbuatan baik yang dilakukan. Padahal, kebaikan yang kita lakukan jika disertai kesombongan, tidak bernilai apa-apa.

Sahabat Ali bin Abi Thalib pernah berkata:

السَّيِّئَةُ تَسُوْئُكَ خَيْرٌ عِنْدَ اللّٰهِ مِنْ حَسَنَةٍ تُعْجِبُكَ

Assayyi’atu tasû’uka khairun ‘indallâhi min hasanatin tu’jibuka

“Perbuatan buruk yang menyebabkan kamu sedih dan hina, lebih baik di sisi Allah dari pada perbuatan baik yang menyebabkan kamu sombong”.

Dalam Surat al-A’raf ayat 12 Allah telah menggambarkan dengan baik, bagaimana kesombongan menjadikan Iblis terusir dari neraka. Ketika Allah memerintahkan Iblis untuk bersujud, Iblis membangkang, Allah tidak serta merta langsung melaknati iblis tapi Allah masih membuka ruang dialog.

Allah bertanya “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”.

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ ۞

Iblis diusir oleh Allah bukan karena enggan bersujud,  melainkan karena sombong. Jika saja Iblis menjawab dengan kerendahan jiwa, bisa jadi Allah masih membuka pintu maaf. Mungkin, jika Iblis menjawab “Ya Allah jika saya bersujud kepada Adam, maka aku takut akan menyekutukan-Mu”, mungkin bisa jadi Allah akan memaafkan.

Jawaban Iblis yang sombong itulah yang menyebabkan Allah melaknatinya. Kisah di atas memberikan gambaran, bahwa kesombongan adalah sifat yang sangat menjerumuskan. Mahkluk yang sudah di surga saja terusir karena kesombongannya, bagaimana jika kita sebagai mahkluk yang masih jauh dari surga.

Ibnu al-Qayyim mengatakan; “Kesusahan atau tangisan seorang pendosa lebih dicintai Allah daripada tasbihnya seorang yang sombong”. Tangisan dan penyesalan terhadap dosa, adalah sikap tawadhu’ yang bisa mendatangkan rahmat dan pengampunan.

Dalam Kitab al-Hikam, Ibnu ‘Athaillah mengatakan :

مَعْصِيَةٌ أُوْرِثْتَ ذَلًّا وَافْتِقَارًا خَيْرٌ مِنْ طَاعَةٍ أُوْرِثْتَ عِزًّا وَاسْتِكْبَارًا

“Maksiat yang melahirkan rasa hina lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan rasa bangga dan kesombongan”.

Seberapapun banyaknya amalan kita, jangan sampai berbuah kesombongan. Sebaliknya, seberapapun banyaknya dosa kita, tidak boleh kita berputus asa dari rahmat dan pengampunan Allah.

Dalam Kitab al-‘Usfuriyah, dijelaskan bahwasanya pada umat terdahulu ada seseorang yang bersungguh-sungguh dalam beribadah. Orang itu bersikeras dalam ibadah untuk dirinya sendiri, namun saat bersamaan dia memutus orang-orang dari rahmat Allah Ta’ala. Kemudian dia meninggal.

Di pengadilan akhirat dia bertanya kepada Tuhan; “Wahai Tuhan apa yang Engkau siapkan untukku dari-Mu?”

Allah menjawab; “Neraka”.

Lalu orang itu bertanya lagi; “Wahai Tuhan, lantas di mana ibadahku dan kesungguhanku?”

Allah menjawab; “Sesungguhnya engkau telah memutus orang-orang dari rahmat-Ku di dunia maka hari ini Aku memutusmu dari rahmat-Ku”.

Lafadzh redaksi hadits dari kisah di atas adalah:

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ، ثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ: ” أَنَّ رَجُلًا، كَانَ فِي الْأُمَمِ الْمَاضِيَةِ يَجْتَهِدُ فِي الْعِبَادَةِ، وَشَدَّدَ عَلَى نَفْسِهِ، وَيُقَنِّطُ النَّاسَ مِنْ رَحْمَةِ اللّٰهِ تَعَالَى، ثُمَّ مَاتَ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ مَا لِي عِنْدَكَ؟ قَالَ: النَّارُ، قَالَ: يَا رَبِّ وَأَيْنَ عِبَادَتِي وَاجْتِهَادِي؟ فَقِيلَ لَهُ: إِنَّكَ كُنْتَ تُقَنِّطُ النَّاسَ مِنْ رَحْمَتِي فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أُقَنِّطُكَ الْيَوْمَ رَحْمَتِي “

Saudaraku, marilah kita selalu berbuat taat, disertai dengan kerendahan jiwa. Sesungguhnya semua ibadah dan ketaatan yang kita lakukan adalah karena takdir Allah, bukan karena kekuatan kita atau kehebatan kita, maka tak sepantasnya kita berbangga.

Jika kita tetap rendah hati dengan segala keutamaan yang dimiliki, maka kedudukannya makin tinggi, baik di mata manusia maupun di sisi Allah. Tapi, bagi hamba yang sombong keutamaan tersebut menjadi kerendahan. Wallâhu A’lam bish-Shawâb.

Marilah kita berdoa dengan kesadaran bahwa kemampuan kita berdoa pun hanya semata dari Allah SWT.

اللّٰهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُوْ، فَلَا تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، لَآ إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang kuharapkan! Maka janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku meski sekejap mata, dan perbaikilah urusanku seluruhnya. (Sungguh) tidak ada tuhan selain Engkau”. (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban).

Dikutip dari Mading.Id

About admin

Check Also

Kisah Penciptaan Akal dan Nafsu

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...