Saturday , September 25 2021
Home / Agama / Kajian / Penciptaan Ruh Rasulullah SAW

Penciptaan Ruh Rasulullah SAW

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku dan para sahabatku sekalian, kembali kita buka kembali khazanah haqiqat Muhammadiyyah sebagai titik awal (puncak) pancaran Cahaya Ilahiyyah. Penting untuk kita ingat, sebagaimana tertulis dalam artikel sebelumnya, bahwa Allah SWT berfirman dalam hadits Qudsiy ketika ditanya oleh Nabi Adam tentang Cahaya yang dilihatnya. Allah SWT menjawab; “Ini adalah cahaya dari seorang Nabi keturunanmu. Namanya di surga adalah Ahmad, dan di bumi namanya Muhammad SAW. Jika bukan demi dirinya, tentu Aku tidak akan menciptakan dirimu, tidak pula langit, tidak pula bumi”.

Ketika Allah SWT mengeluarkan “keputusan Ilahiah” untuk mewujudkan makhluq, Ia pun menciptakan haqiqat Muhammadiyyah dari Cahaya-Nya. Kemudian Allah SWT menciptakan dari Haqiqat ini keseluruhan alam, baik alam atas maupun bawah. Lalu Allah SWT memberitahu Muhammad akan Kenabiannya. Sementara saat itu Adam masih belum berbentuk apa-apa kecuali berupa ruh dan badan. Kemudian darinya (Muhammad) terciptalah sumber-sumber ruh, yang membuat beliau lebih luhur dibandingkan seluruh makhluq ciptaan-Nya yang lain. Dia menjadikannya sebagai “ayah” (sumber) dari semua makhluq yang wujud.

Dalam Shahih Muslim, Nabi (SAW) bersabda bahwa Allah SWT telah menulis “taqdîr” seluruh makhluq lima puluh ribu tahun (dan tahun di sisi Allah adalah berbeda dari tahun manusia, peny.) sebelum Ia menciptakan langit dan bumi, ‘arsy-Nya yang berada di atas Air, dan di antara hal-hal yang telah tertulis dalam al-Dzikr, yang merupakan Umm al-Kitâb (induk Kitab), adalah bahwa Muhammad SAW adalah Penutup para Nabi.

Al-Irbadh ibn Sariya berkata, bahwa Nabi SAW bersabda, “Menurut Allah, aku sudah menjadi Penutup Para Nabi, ketika Adam masih dalam bentuk tanah liat.”

Maysara al-Dhabbi (ra) berkata, bahwa ia bertanya pada Nabi SAW; “Ya Rasulallah, kapankah anda menjadi seorang Nabi?” Beliau SAW menjawab; “Ketika Adam masih di antara ruh dan badannya”.

Suhail bin Salih Al-Hamadani berkata, “Aku bertanya pada Abu Ja’far Muhammad ibn ‘Ali RA, “Bagaimanakah Nabi Muhammad SAW bisa mendahului nabi-nabi lain sedangkan beliau akan diutus paling akhir?” Abu Ja’far RA menjawab; bahwa ketika Allah menciptakan anak-anak Adam (manusia) dan menyuruh mereka bersaksi tentang Diri-Nya (menjawab pertanyaan-Nya, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”), Muhammad SAW-lah yang pertama menjawab “Ya!”. Karena itu, beliau mendahului seluruh nabi-nabi, sekalipun beliau diutus paling akhir”.

Al-Syaikh Taqiyuddin Al-Subki mengomentari hadits ini dengan mengatakan bahwa karena Allah Ta’ala menciptakan arwah (jama’ dari ruh) sebelum tubuh fisik, perkataan Muhammad SAW “Aku adalah seorang Nabi,” ini mengacu pada ruh suci beliau, mengacu pada hakikat beliau. Dan akal pikiran kita tak mampu memahami hakikat-hakikat ini. Tak seorang pun memahaminya kecuali Dia yang menciptakannya, dan mereka yang telah Allah anugerahi dengan Nûr Ilâhiyah.

Jadi, Allah SWT telah mengkaruniakan kenabian pada ruh Nabi SAW jauh sebelum penciptaan Adam AS. Ia telah menciptakan ruh itu, lalu Ia limpahkan barâkah tak berhingga kepadanya dengan menuliskan nama Muhammad SAW pada ‘arsy Ilâhiyah. Kemudian Allah SWT memberitahu para Malaikat dan lainnya akan penghargaan-Nya bagi beliau SAW yang tinggi itu. Haqiqat Nabi Muhammad SAW telah wujud sejak saat itu, meski tubuh ragawinya baru diciptakan kemudian.

Al-Syi’bi meriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya, “Ya Rasulallah, kapankah anda menjadi seorang Nabi?” Beliau menjawab, “ketika Adam masih di antara roh dan badannya, ketika perjanjian dibuat atasku”. Karena itulah, beliau SAW adalah yang pertama diciptakan di antara para Nabi, dan yang terakhir diutus.

Diriwayatkan bahwa Nabi SAW adalah satu-satunya yang diciptakan keluar melalui sulbi Adam sebelum ruh Adam ditiupkan pada badannya, karena beliau SAW adalah sebab dari diciptakannya manusia. Beliau SAW adalah junjungan mereka, substansi mereka, ekstraksi mereka, dan mahkota dari kalung mereka.

‘Ali ibn Abi Thalib KWH dan Ibn ‘Abbas RA, keduanya meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda; “Allah tak pernah mengutus seorang nabi, dari Adam dan seterusnya, melainkan sang Nabi itu harus melakukan perjanjian dengan-Nya berkenaan dengan Muhammad SAW; “Seandainya Muhammad SAW diutus di masa hidup sang Nabi itu, maka ia harus beriman pada beliau SAW dan mendukung beliau SAW, dan Nabi itu pun harus mengambil janji yang serupa dari ummatnya”.

Diriwayatkan bahwa ketika Allah SWT menciptakan Nur Nabi kita, Muhammad SAW, Ia SWT memerintahkan padanya untuk memandang pada nur-nur dari Nabi-nabi lainnya. Cahaya beliau melingkupi cahaya mereka semua. Dan Allah SWT membuat mereka berbicara, dan mereka pun berkata; “Wahai Tuhan kami, siapakah yang meliputi diri kami dengan cahayanya?” Allah SWT menjawab; “Ini adalah cahaya dari Muhammad ibn ‘Abdullah, jika kalian beriman padanya akan Kujadikan kalian sebagai nabi-nabi”. Mereka menjawab; “Kami beriman padanya dan pada kenabiannya”. Allah berfirman; “Apakah Aku menjadi Saksimu?” Mereka menjawab; “Ya”. Allah berfirman; “Apakah kalian setuju dengan mengambil “perjanjian” ini sehingga mengikat dirimu?” Mereka menjawab; “Kami setuju”. Allah berfirman; “Maka saksikanlah (hai para Nabi), dan Aku menjadi Saksi (pula) bersamamu.” (QS 3: 81).

وَإِذْ أَخَذَ اللّٰهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ ۞

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. (QS. Ali ‘Imran [3]: 81).

Syaikh Taqiyyuddin al-Subki mengatakan, “Dalam ayat yang mulia ini, tampak jelas penghormatan kepada Nabi SAW dan pujian atas kemuliaannya. Ayat ini juga menunjukkan bahwa seandainya beliau diutus di zaman Nabi-nabi lain itu, maka risalah da’wah beliau pun harus diikuti oleh mereka. Karena itulah, kenabiannya dan risalahnya adalah universal dan umum bagi seluruh ciptaan dari masa Adam hingga hari Pembalasan, dan seluruh Nabi beserta ummat mereka adalah termasuk pula dalam ummat beliau SAW.

Jadi, sabda Sayyidina Muhammad SAW; “Aku telah diutus bagi seluruh ummat manusia,” bukan hanya ditujukan bagi orang-orang di zaman beliau hingga Hari Pembalasan, tapi juga meliputi mereka yang hidup sebelumnya. Hal ini menjelaskan lebih jauh perkataan beliau, “Aku adalah seorang Nabi ketika Adam masih di antara ruh dan badannya”. Berpijak dari hal ini, Muhammad SAW adalah Nabi dari para nabi, sebagaimana juga telah jelas saat malam Isra’ Mi’raj, dimana para Nabi melakukan shalat berjama’ah di belakang beliau (yang bertindak selaku Imam). Keunggulan beliau ini akan menjadi jelas nanti di Akhirat, saat seluruh Nabi akan berkumpul di bawah bendera beliau.

اللّٰهُمَّ صَلِّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوْقَاتِكَ نُوْرِ الْهُدَى، شَمْسِ الضُّحَى،  بَدْرِ الدُّجَى، سَيِّدِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ، عَدَدَ مَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُوْنَ، وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ ۞ وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللّٰهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَنْ سَادَتِنَا أَصْحَابِ سَيِّدِنَا رَسُوْلِ اللّٰهِ أَجْمَعِيْنَ ۞ وَحَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلِ، نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرِ ۞ وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ ۞

Allâhumma shalli afdhalash shalâti ‘alâ as’adi makhlûqâtika nûril hudâ, syamsidh dhuhâ, badrid dujâ, sayyidinâ wa maulânâ muhammadin wa ‘alâ âlihi wa shahbihi wa sallim, ‘adada ma’lûmâtika wa midâda kalimâtika kullamâ dzakaradz dzâkirûna wa ghaffala ‘an dzikrikal ghâfilûn. Wa sallim wa radhiyallâhu tabâraka wa ta’âlâ ‘an sâdâtinâ ash-hâbi sayyidinâ rasûlillâhi ajma’în. wa hasbunallâhu wa ni’mal wakîl, ni’mal mawlâ wa ni’man nashîr. Wa lâ haula wa lâ quwwata illâ billâhil ‘aliyyil ‘adzîm.

“Ya Allah, bershalawatlah dengan shalawat yang paling agung kepada makhluq yang paling mulia, Sang Cahaya hidayah, Sang Matahari di waktu dhuha, Sang Purnama di tengah kegelapan malam, Penghulu kami, Junjungan kami Muhammad dan juga kepada para sahabatnya, serta bersalamlah, sebanyak bilangan pengetahuan-Mu dan susunan kalimat-kalimat-Mu, pada setiap kali orang-orang yang mengingat-Mu ataupun orang-orang yang lalai akan mengingat-Mu. Dan bersalamlah niscaya Allah Ta’ala memberikan ridha dan keberkahan atas semua sahabat Penghulu kami Rasulullah SAW. Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik tempat bertawakkal, sebaik-baik Junjungan, dan sebaik-baik pertolongan. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan (daya dan kekuatan) Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung”.

 

About admin

Check Also

Kontestasi Ruh, Babi dan Kera dalam Jasad Basyariyah Manusia

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...