Home / Agama / Kajian / Nur Muhammad Dalam Kitab-Kitab Klasik (Bagian 2)

Nur Muhammad Dalam Kitab-Kitab Klasik (Bagian 2)

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillãhirrahmãnirrahîm
Washshalãtu wassalãmu ‘alã Muhammadin wa ãlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inãyatil ‘ãmmati wal-hidãyatit tãmmah, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Berikut Kitab-kitab klasik yang mengulas tentang Nur Muhammad SAW.

1. Dalam Kitab “al-Wafã bi Ahwãlil Musthafã Shallallãhu ‘Alaihi wa Sallam

Imam ‘Abdurrahman bin ‘Ali yang terkenal dengan nama Imam Ibnul Jawzi, seorang ulama besar bermadzhab Hanbali yang dilahirkan pada tahun 509/510 H di Baghdad. Beliau adalah pengarang dan da’i terkenal yang banyak menyadarkan umat serta banyak orang yang memeluk Islam melaluinya. Beliau adalah guru kepada Ibnu Qudamah al-Maqdisy yang masyhur itu.

Tersebutlah dalam karya beliau berjudul “al-Wafã bi Ahwãlil Musthafã Shallallãhu ‘Alaihi wa Sallam” akan kisah penciptaan Junjungan Nabi SAW, yakni penciptaan benih asal muasal jasad Baginda SAW. Kisahnya adalah sebagai berikut:

عن كعب الأحبار قال: لما أراد الله تعالى أن يخلق محمداً صلى الله عليه وسلم أمر جبريل عليه السلام أن يأتيه فأتاه بالقبضة البيضاء التي هي موضع قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم، فعجنت بماء التَّسْنيم، ثم غمست في أنهار الجنة، وطيف بها في السموات والأرض، فعرفت الملائكة محمداً وفَضْله قبل أن تعرف آدم، ثم كان نور محمد صلى الله عليه وسلم يُرى في غُرَّة جبهة آدم. وقيل له: يا آدم هذا سيد ولدك من الأنبياء والمرسلين . فلما حملت حواء بشيت انتقل عن آدم إلى حواء، وكانت تلد في كل بطن ولدين إلا شيتاً، فإنها ولدته وحده، كرامة لمحمد صلى الله عليه وسلم. ثم لم يزل ينتقل من طاهر إلى طاهر إلى أن ولد صلى الله عليه وسلم .

Daripada Ka’ab al-Ahbar: “Tatkala Allah Ta’ala berkehendak menciptakan Nabi Muhammad SAW, Dia memerintahkan Jibril AS untuk membawakan segenggam tanah putih yang merupakan tanah tempat Junjungan Nabi SAW dimakamkan nanti. Maka diadonkanlah tanah tersebut dengan air Tasnim (air syurga) lalu dicelupkan ke dalam sungai-sungai syurga. Setelah itu, ia dibawa berkeliling ke seluruh penjuru langit dan bumi. Para malaikat pun mengenali Junjungan Nabi SAW dan keutamaan baginda sebelum mereka mengenali Nabi Adam AS. Ketika Nur Junjungan Nabi SAW kelihatan di kening Nabi Adam AS, dikatakan kepadanya: “Wahai Adam, inilah Sayyid (Penghulu) keturunanmu daripada para Nabi dan Rasul. Tatkala Siti Hawa mengandung Nabi Syits, berpindahlah Nur Muhammad tersebut kepada Siti Hawa. Siti Hawa yang biasanya melahirkan anak kembar setiap kali hamil, tetapi pada hamilnya ini dia hanya melahirkan seorang anak saja, yaitu Nabi Syits dikarenakan kemuliaan Junjungan Nabi SAW. Maka Nur Muhammad senantiasa berpindah-pindah dari seorang yang suci kepada orang suci yang lain hingga baginda dilahirkan”.

2. Dalam Kitab “Anta tas’al wal-Islãmu yajib

Syaikh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi dalam “Anta tas’al wal-Islãmu yajib”, cetakan Darul Muslim, Qahirah, tahun 1982 / 1402, juz 1, Bab 41 telah ditanyakan tentang an-Nûr al-Muhammadiy dan permulaan penciptaan. Pertanyaannya lebih kurang sebagai berikut:

Telah disebutkan dalam hadits: “Bahwa Jabir bin ‘Abdullah RA telah bertanya kepada Junjungan Rasulullah SAW: “Apa yang pertama kali diciptakan Allah?” Lalu Junjungan SAW bersabda: ”Nur nabimu, wahai Jabir.” Bagaimana kedudukan hadits ini jika diperbandingkan dengan hadits bahwa awal makhluk itu adalah Adam dan dia berasal dari saripati tanah?

Diantara jawaban Syaikh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi:

Diantara kesempurnaan mutlak dan dari segi tabi`ienya, bahwa Allah mengawali penciptaan dengan menciptakan terlebih dahulu makhluk yang tinggi. Kemudian darinya diciptakanlah makhluk yang rendah. Tidaklah masuk akal, jika diciptakan bahan baku materi / material / unsur tanah (al-mãdah ath-thîniyyah) dahulu kemudian baru Dia mencipta darinya Muhammad. Karena sesungguhnya insan yang paling tinggi adalah para rasul, dan yang tertinggi dari mereka adalah Muhammad bin ‘Abdullah.

Oleh karena itu, tidak sah (jika dikatakan) bahwa diciptakan unsur materi dulu kemudian baru diciptakan darinya Muhammad. Jadi, tak dapat disangkal bahwa an-Nur al-Muhammadiy itulah yang wujud dahulu, dan dari an-Nur al-Muhammadiy itulah timbulnya segala sesuatu. Dan karena itulah, hadits Jabir itu benar…

Dari jawaban tersebut, jelaslah bahwa Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi termasuk ulama yang menerima kebenaran hadits Jabir RA. Sebenarnya, sandaran untuk konsep Nur Muhammad ini bukanlah hanya pada hadits Jabir ini saja, tetapi ada lagi hadits-hadits lain yang dijadikan sandaran. Silahkan ambil rujukan dari kitab-kitab karangan ulama kita.

Bahkan, jika ada yang menolak tsabitnya hadits Jabir, maka hal ini tidak berarti mereka juga menolak konsep Nur Muhammad. Karena itulah, sudah selayaknya kita menghormati perbedaan pendapat dengan lapang dada tanpa saling tuduh-menuduh. Karena jari yang kau tuding itu, mungkin mencucuk mata para ulama yang justru kita disuruh memuliakan mereka.

3. Dalam kitab “al-Fatãwã al-Hadîtsiyyah

Diantara kitab karangan al-Imam al-Faqih, Syaikhul Islam, pemuka ulama Syafi`i muta’akhir, Mufti Makkah, sandaran umat, Shãhibut Tuhfah, Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami al-Makki RHM yang membahas tentang Nur Muhammad, ada kitab berjudul “al-Fatãwã al-Hadîtsiyyah” Bab 206 menyebutkan:

(Dan telah ditanya) akan orang yang mudah-mudahan Allah memanfaatkan dengannya (yakni Syaikh Ibnu Hajar RHM) mengenai hadits “yang pertama kali diciptakan Allah adalah ruhku dan alam keseluruhannya dicipta dari nurku, dan setiap sesuatu kembali kepada asalnya”, siapakah perawinya?

(Maka dijawab) dengan perkataannya: “Aku tidak mengetahui siapa yang meriwayatkannya sedemikian. Namun ada hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdur Razzaq, yang menyebutkan bahwa Junjungan SAW bersabda; “bahwa Allah telah menciptakan Nur Muhammad dari nurNya sebelum segala sesuatu diciptakan”.

Imam besar ini dalam syarahnya kitab Syama’il juga menyatakan:

….Dan diriwayatkan dari ‘Abdur Razzaq dengan sanadnya bahwa Junjungan Nabi SAW bersabda: ”Sesungguhnya Allah telah menciptakan Nur Muhammad dari nurNya (yakni nur yang dimiliki Allah) sebelum segala sesuatu, lalu dijadikan nur tersebut berputar-putar dengan qudrahNya mengikut kehendak Allah dan belumlah ada pada waktu itu lauh dan tidak ada qalam… (dan seterusnya sampai akhir hadits)“. Maka diketahui bahwa awal segala sesuatu yang dijadikan secara ithlaq ialah an-Nûr al-Muhammadiy, kemudian air, kemudian ‘arsy, dan kemudian qalam.

Juga dalam Mukhtasar kitab mawlidnya, ‘an-Ni’matul Kubrã ‘alal ‘Ãlam bi Mawlidi Sayyidi Waladi Ãdam”, beliau menyatakan:

Ketahuilah, bahwa Allah Ta’ala telah memuliakan nabiNya SAW dengan terdahulu/paling awal nubuwwah baginda lagi azali. Dan yang demikian itu adalah karena apabila Allah Ta’ala berkehendak untuk mewujudkan makhluk, diwujudkanNya (yakni diciptakanNya) al-Haqîqatul Muhammadiyyah dari NurNya sebelum wujud segala sesuatu dari seluruh makhluk, kemudian diambil darinya sekalian alam.

4. Dalam Buku “Penutup Perdebatan Islam Alaf Kedua di Dunia Melayu”

Dalam buku karangan Tuan Guru Haji Wan Mohd. Shaghir tentang Nur Muhammad yang berjudul “Penutup Perdebatan Islam Alaf Kedua di Dunia Melayu” pada halaman 45-46 disebutkan:

….Beberapa orang ulama dunia Islam yang terkenal di antara mereka ada mencatat sanad yang di dalamnya terdapat nama Syeikh Ibnu Hajar al-’Asqalani. Sanad yang tersebut sampai kepada ‘Abdur Razzaq. Ada sanad ‘am mengenai beberapa bidang keilmuan, dan ada pula sanad khash tentang hadis, termasuk hadis Nur Muhammad. Di antara mereka yang mempunyai sanad kepada Syeikh Ibnu Hajar al-’Asqalani (wafat 852H/1448M) ialah: Syeikh Hasan al-Masyath, Sayyid ‘Ali al-Maliki, Syeikh Muhammad Mahfudzh bin ‘Abdullah at-Tarmasi (1285H/1868M – 1385H/1965M), Syeikh Muhammad Mukhtar bin ‘Atharid Bogor (1278H/1861M – 1374H/1954M), Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani (1272H/1856M – 1325H/1908M), Sayyid Bakri bin Muhammad Zainal ‘Abidin Syatha, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan…..dan lain-lain.

Setelah melalui beberapa nama bertemu pada Syeikh ‘Abdullah asy-Syarqawi (1150H/1737M – 1227H/1821M), ia terima dari Syeikh Muhammad bin Salim al-Hifnawi/Hifni (Syaikhul Azhar 1173H/1715M – 1181H/1767M), ia terima dari ‘Abdul ‘Aziz az-Ziyadi, ia terima dari Syeikh Muhammad al-Babili, ia terima dari Syeikh Najamuddin Muhammad al-’Aithi, ia terima dari Qadhi Zakaria al-Anshari, ia terima dari Syeikh Ibnu Hajar al-’Asqalani (773H/1371M – 852H/1448M), ia terima dari Syeikh Abil Faraj ‘Abdur Rahman al-Ghazzi, ia terima dari Abin Nun Yunus bin Ibrahim ad-Dabbus, ia terima dari Abi Hasan ‘Ali, ia terima dari Muhammad bin Nashir as-Salami, ia terima dari ‘Abdul Wahhab bin Muhammad bin Mandah, ia terima dari Abil Fadhal Muhammad al-Kaukabi, ia terima dari Abil Qasim ath-Thabrani, ia terima dari Ya’qub Ishaq bin Ibrahim al-Mirwazi al-Hanzhali, ia terima dari ‘Abdur Razzaq bin Hammam bin Nafi dengan sanad sehingga sampai kepada Jabir bin ‘Abdullah.

Dalam buku tersebut, selain menjawab tuduhan mereka yang menentang konsep Nur Muhammad, Tuan Guru turut menyebutkan beberapa nama ulama terkemuka yang membicarakan tentang Nur Muhammad dalam karangan-karangan mereka, di antaranya:

  1. Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jilani, Sulthanul Awliya`;
  2. Syeikh ‘Abdullah ‘Arif;
  3. Imam as-Sayuthi;
  4. Imam al-Qasthalani;
  5. Imam al-Zarqani;
  6. Sayyidisy Syaikh Ja’far al-Barzanji;
  7. Syaikh Yusuf an-Nabhani;
  8. Syaikh Nawawi al-Bantani;
  9. Syaikh Nuruddin ar-Raniri;
  10. Syaikh ‘Abdur Rauf al-Fansuri / Singkel;
  11. Syaikh ‘Abdus Shomad al-Falimbani;
  12. Syaikh Muhammad Nafis al-Banjari;
  13. Syaikh Daud al-Fathani;
  14. Tuan Guru Haji Ahmad bin Haji Yusuf bin ‘Abdul Halim Kelantan;
  15. ‘Allamah Abu ‘Abdullah asy-Syaikh Muhammad bin Ahmad ‘Ilisy;
  16. ‘Allamah Syaikh Muhammad Bashri al-Manzalawi;
  17. Sayyid Utsman bin ‘Abdullah BinYahya;
  18. Syaikh Muhammad bin Ismail Daudi al-Fathani;
  19. Syaikh Zainal ‘Abidin al-Fathani, Tuan Minal;
  20. Syaikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani;
  21. Syaikh Utsman bin Syihabuddin al-Funtiani;
  22. Syaikh ‘Abdul Hamid bin ‘Ali Kudus;

Sebagai penutup tulisannya, dalam buku “Penutup Perdebatan Islam Alaf Kedua di Dunia Melayu”, Tuan Guru menyebutkan:

Perlulah diperhatikan bahwa dari keterangan di atas terdapat tiga buah hadits dari tiga orang sahabat Nabi Muhammad SAW Mereka ialah: Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib KWWRA (wafat 40H/661M), ‘Abdullah bin ‘Abbas RA (wafat 68H/687M) dan Jabir bin ‘Abdullah RA (wafat 78H/697M).

Ada lagi beberapa hadits mengenai Nur Muhammad atau yang sama maksud dengannya, yang berasal dari sahabat yang lain, di antaranya, yang berasal dari: Salman al-Farsi RA, Abu Dzar al-Ghifari RA, dll, termasuk juga Abu Hurairah RA.

Oleh itu, teori para pengkritik hadits Nur Muhammad atau hadits yang sama maksud dengannya, dengan tuduhan melulu dan berbagai-bagai adalah teori yang bersifat khayal.

Di antara mereka ada yang mengkhayal bahawa hadits Nur Muhammad adalah doktrin Syi`ah, golongan ini mungkin lebih banyak mempelajari Mazhab Syi`ah atau hidup dilingkungan mazhab itu ketimbang belajar secara mendalam Islam cara tradisional.

Yang lain mengkhayal pula, bahawa hadits Nur Muhammad adalah doktrin berasal ajaran Greek ajaran Platonisme, sama dengan yang di atas golongan ini mungkin lebih banyak mempelajari ajaran Greek-Platonisme atau hidup dilingkungan itu ketimbang belajar secara mendalam Islam cara tradisional.

Yang lain mengkhayal pula hadits Nur Muhammad adalah doktrin berasal dari ajaran trinitas dalam Kristian.

Yang lain pula mengkhayal berasal dari ajaran al-Hallaj, yang lain pula mengkhayal berasal dari Abi Yazid al-Bisthami, dll.

Di antara mereka ada menganggap bahawa hadits Nur Muhammad atau hadis yang sama maksud dengannya, adalah hadits maudhu`(hadis palsu). Penilaian mereka juga tidak sepakat atau tidak sependapat kerana selain yang berpendapat hadits maudhu`, dari golongan mereka pula ada yang berpendapat hadits dhaif, dan lain-lain.

Sudah maklum bahawa pengertian atau takrif hadits maudhu` dengan hadits dhaif adalah tidak sama. Sesuatu penilaian yang bersifat teori maka bukanlah merupakan hujjah atau hukum qath`ie, apatah lagi jika masih terdapat pertentangan atau kontroversi antara yang satu dengan yang lainnya.

Oleh itu sekian banyak kitab yang dikarang oleh sekian ramai ulama Ahlis Sunnah wal Jama`ah yang membicarakan hadits Nur Muhammad atau hadits yang sama maksud dengannya, perlu mendapat pembelaan.

Allãhumma shalli wa sallim ‘alã Nûril Anwãr.

Wallãhu A’lamu bish-Shawãb.

____________

Source: Dari berbagai sumber

 

About byHaqq (Admin)

Pena adalah senjata yang lebih halus dari atom. Kadangkala terhempas angin, terbuang seperti sampah. Kadangkala terkumpul ambisi, tergali seperti ideologi. Manfaat dan mudharat pena adalah maqamatmu...

Check Also

Nasihat Syaikh Abu al-Hasan Ali asy-Syadzili

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...