Home / Agama / Kajian / Nur Muhammad Dalam Kitab-Kitab Klasik (Bagian 1)

Nur Muhammad Dalam Kitab-Kitab Klasik (Bagian 1)

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillãhirrahmãnirrahîm
Washshalãtu wassalãmu ‘alã Muhammadin wa ãlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inãyatil ‘ãmmati wal-hidãyatit tãmmah, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku yang budiman, mengulas ulang tentang konsep Nur Muhammad tidak akan pernah usang. Mengingat masih banyaknya tuduhan-tuduhan tak berdasar tentangnya mengakibatkan kesalahan konstruksi berpikir yang sangat fundamental.

Dalam ilmu tasawuf, Nur Muhammad mempunyai pembahasan mendalam. Nur Muhammad disebut juga hakikat Muhammad.

Sering dihubungkan pula dengan beberapa istilah seperti al-qalam al-a’lã (pena tertinggi), al-‘aql al-awwal (akal utama), amr Allãh (urusan Allah), al-rûh, al-malak, al-rûh al-Ilãhi, dan al-rûh al-Quddûs.

Tentu saja, sebutan lainnya adalah insan kamil. Secara umum istilah-istilah itu berarti makhluk Allah yang paling tinggi, mulia, paling pertama dan utama. Seluruh makhluk berasal dan melalui dirinya. Itulah sebabnya Nur Muhammad pun disebut al-haq al-makhlûq bih atau al-syajarah al-baidhã’ karena seluruh makhluk memancar darinya.

Ia bagaikan pohon yang daripadanya muncul berbagai planet dengan segala kompleksitasnya masing-masing. Nur Muhammad tidak persis identik dengan pribadi Nabi Muhammad SAW. Nur Muhammad sesungguhnya bukanlah persona manusia yang lebih dikenal sebagai nabi dan rasul terakhir.

Namun tak bisa dipisahkan dengan Nabi Muhammad sebagai person, karena representasi Nur Muhammad dan atau insan kamil adalah pribadi Muhammad yang penuh pesona. Manusia sesungguhnya adalah representasi insan kamil. Oleh karena itu, dalam artikel terdahulu, manusia dikenal sebagai makhluk mikrokosmos.

Sebab, manusia merupakan miniatur alam makrokosmos. Posisi Muhammad sebagai nabi dan rasul dapat dikatakan sebagai miniatur makhluk mikrokosmos karena pada diri beliau merupakan tajalli Tuhan paling sempurna. Itu pula sebabnya, mengapa Nabi Muhammad mendapatkan berbagai macam keutamaan dibanding nabi-nabi sebelumnya.

Bahkan hadits-hadits Isra’ Mi’raj menyebutkan, Rasulullah pernah mengimami nabi yang pernah hidup sebelumnya. Melalui Nur Muhammad, Tuhan menciptakan segala sesuatu. Dari segi ini, Al-Jilli menganggapnya qadim dan Ibnu ‘Arabi menganggapnya qadim dalam kapasitasnya sebagai ilmu Tuhan dan baharu ketika ia berwujud makhluk.

Namun perlu diingat bahwa konsep keqadiman, menurut Ibnu Arabi, ada dua macam, yaitu qadim dari segi dzat dan qadim dari segi sesuatu itu masuk ke wilayah ilmu Tuhan. Nur Muhammad, menurut Ibnu Arabi, masuk kategori qadim jenis kedua, yaitu bagian dari ilmu Tuhan (qadîm al-hukmiy) bukan dalam qadîm al-dzãtiy.

Dengan demikian, Nur Muhammad dapat dianggap qadim dalam perspektif qadîm al-hukmiy, namun juga dapat dianggap sebagai baharu dalam perspektif qadîm al-dzãtiy. Dalam satu riwayat juga pernah diungkapkan bahwa Nabi Muhammad adalah sebagai nabi pertama dan terakhir.

Ia disebut sebagai nabi pertama dalam arti bapaknya para ruh (abu al-arwãh al-wãhidah), nabi terakhir karena memang ia sebagai khãtam an-nubuwwah wa al-mursalîn.

Sedangkan, Nabi Adam hanya dikenang sebagai bapak biologis (abu al-jasad). Jika dikatakan Muhammad SAW nabi pertama dan terakhir bagi Allah SWT, tidak ada masalah.

Nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang kelihatannya paradoks, seperti al-awwal wa al-ãkhir, al-dhãhir wa al-bãthin, al-jalãl wa al-jamãl, juga tidak ada masalah bagi-Nya, karena itu semua hanya di level puncak (al-a’yãn ats-tsãbitah) atau wujud potensial, tidak dalam wujud aktual (wujûd al-khãrij).

Dasar keberadaan Nur Muhammad dihubungkan dengan sejumlah ayat dan hadits. Di antaranya,

قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللّٰهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ ۞

“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Nur) dari Allah dan kitab yang menerangkan.” (QS. Al-Maidah [5]: 15).

Ayat lainnya,

قَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللّٰهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيرًا ۞

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu), bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

Ada pula hadits,

اَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَم يَوْمَ القِيَامَةِ

“Saya adalah penghulu keturunan Adam pada hari kiamat.”

Hadits riwayat Bukhari menjadi dasar lainnya, yaitu;

كُنْتُ نَبِيًا وَ آدَم بَيْنَ المَاءِ وَالطِيْنِ وَبَيْنَ الرُوْحِ وَالجَسَدِ

“Aku telah menjadi nabi, sementara Adam masih berada di antara air dan tanah berlumpur.”

Kemudian hadits yang diriwayatkan oleh Jabir RA,

عَن جَابِر رَضِى اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ بِأَبِيْ وَأُمِّيْ أَخْبِرْنِى عَنْ أوَّلِ شَيْءٍ خَلَقَهُ اللهُ تَعَالَى قَبْلَ الْأشْيَآء . قَالَ يَا جَابِر، إنَّ اللهَ تَعَالىَ خَلَقَ قَبْلَ الْأَشْيَآءِ نُوْرَ نَبِيِّكَ، مِنْ نُوْرِهِ فَجَعَلَ ذَالِكَ النُّوْرَ يَدُوْرُ بِالقُدْرَةِ حَيْثُ شَآء اللهُ وَلَمْ يَكُنْ فِى ذَالِكَ الْوَقْتِ قَلَمٌ وَلَا لَوْحٌ وَلَا عَرْشٌ وَلَا كُرْسِىٌّ وَلَا مَلَكٌ وَلَا رُوْحٌ وَلَا جَنَّةٌ وَلَا نَارٌ وَلَا سَمَآءٌ وَلَا أَرْضٌ وَلَا شَمْسٌ وَلَا قَمَرٌ وَلَا إِنْسٌ وَلَا جَنٌّ .  فَلَمَّا أَرَادَ اللهُ أَنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ قَسَمَ ذَالِكَ النُّوْرَ أرْبَعَةَ أَجْزَاءٍ فَخَلَقَ مِنَ الْجُزْءِ الْأَوَّلِ الْقَلَمَ وَمِنَ الثَّانِى اللَّوْحَ وَمِنَ الثَّالِثِ الْعَرْشَ ثُمَّ قَسَمَ الْجُزْءَ الْرَّابِعَ أَرْبَعَةَ أَجْزَاءٍ فَخَلَقَ مِنَ الْأوَّلِ حَمَلَةَ الْعَرْشِ وَمِنَ الثَّانِى الْكُرْسِىَّ وَمِنَ الثَّالِثِ بَاقِىَ الْمَلاَئِكَةِ ثُمَّ قَسَمَ الرَّابِعَ أرْبَعَةَ أَجْزَاءٍ فَخَلَقَ مِنَ الْأوَّلِ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ وَمِنَ الثَّانِى السَّمَوَاتِ، وَمِنَ الثَّالِثِ الْأَرْضَ ثُمَّ قَسَمَ الرَابِعَ أَجْزَاءٍ فَخَلَقَ مِنَ الْأوَّلِ الشَمْسَ وَالْقََمَرَ وَالنُّجُوْمَ وَمِنَ الثَّانِى الْبُرُوْجَ وَالْأفْلاَقَ وَمِنَ الثَّالِثِ الْعَقْلَ وَالْأبْصَارَ وَالْبَصَائِرَ وَنُوْرَ الْإِيْمَانِ

“Dari Jabir berkata: Demi ayah dan ibuku, Ya Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang suatu yang diciptakan Allah swt sebelum segalanya yang lain. Rasulullah menjawab: Wahai Jabir, sesungguhnya Allah telah menciptakan nur Nabimu dari nur-Nya sebelum sesuatu yang lain. Maka dijadikan nur itu berkeliling sesuai dengan yang dikehendaki Allah swt, dan tidaklah dijadikan pada saat itu qalam, lauh, arsy, kursy, malaikat, ruh, surga, neraka, langit, bumi, matahari, bulan, manusia, dan jin. Dan ketika Allah swt menghendaki untuk menciptakan makhluqnya, maka nur tersebut dibagi menjadi empat bagian. Dari bagian pertama diciptakan qalam, dari bagian kedua diciptakan lauh, dari bagian ketiga diciptakan arsy, dan dari bagian keempat, nur tersebut dibagi lagi menjadi empat bagian, dari bagian pertama diciptakan isi arsy, dari bagian yang kedua diciptakan kursy, dari bagian yang ketiga diciptakan malaikat, kemudian dari bagian keempat, nur tersebut dibagi menjadi empat bagian, dari bagian pertama diciptakan surga dan neraka, dari bagian kedua diciptakan langit, dari bagian ketiga diciptakan bumi, dan dari bagian keempat dibagi menjadi empat bagian, dari bagian pertama diciptakan matahari, bulan dan bintang, dari bagian kedua diciptakan planet dan benda-benda langit, dari bagian yang ketiga diciptakan akal dan penglihatan dan cahaya iman”.

Allãhumma shalli wa sallim ‘alã Nûril Anwãr.

Wallãhu A’lamu bish-Shawãb.

____________

Source: Dari berbagai sumber

About byHaqq (Admin)

Pena adalah senjata yang lebih halus dari atom. Kadangkala terhempas angin, terbuang seperti sampah. Kadangkala terkumpul ambisi, tergali seperti ideologi. Manfaat dan mudharat pena adalah maqamatmu...

Check Also

Nasihat Syaikh Abu al-Hasan Ali asy-Syadzili

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...