Home / Budaya / Gerakan Budaya / Ngasorake Priyanggane Dhewe
Sinuhun Panembahan Agung Tedjowulan (kiri) dan KPHA H. Derajat Hadiningrat (kanan)

Ngasorake Priyanggane Dhewe

Wong Sing Menang Iku Wong Sing Bisa Ngasorake Priyanggane Dhewe (“orang yang menang dan mumpuni itu yang bisa mengalahkan nafsunya sendiri”)

Oleh: KPHA H. Derajat Hadiningrat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillãhirrahmãnirrahîm
Washshalãtu wassalãmu ‘alã Muhammadin wa ãlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inãyatil ‘ãmmati wal-hidãyatit tãmmah, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku yang dikasihi Allah, banyak pelajaran yang bisa kami petik dari perjalanan ruhani kami berziarah ke makam guru-guru kami dan pendahulu kami yaitu Sultan Agung, Eyang Panembahan Senopati dan Wong Agung Tanah Jawi lainnya yaitu Sinuhun Pakubuwono X, PB XI dan PB XII.

Perjalanan ziarah ke makam Para Mursyid pendahulu ini kami lakukan dalam rangka menghormati dan menjunjung tinggi perayaan Isra Mi’raj Mursyid Teragung kami Kangjeng Nabi Muhammad SAW.

Dalam perjalanan tersebut atas dhawuh dari Wong Agung saking Karaton Surakarta Hadiningrat Sinuhun Panembahan Agung Tedjowulan maka kami didampingi oleh adipati, sentono dalem dan para abdi dalem yang semuanya sangat hormat kepada para sesepuh dan guru-guru yang telah berpulang mendahului kami.

Kami sangat kagum bagaimana para Sentono dalem maupun abdi dalem yang mendampingi kami ziarah sangatlah menghormati Pasarean guru-guru kami dalam bertarekat seolah sang mursyid masih hidup.

Hal itu tentunya tidak ada salahnya karena Allah SWT berfirman dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 154 berbunyi:

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَٰكِنْ لَا تَشْعُرُونَ ۞

Wa lã taqûlû liman yuqtalu fî sabîlillãhi amwãtun, bal ahyã-un walãkin lã tasy’urûn

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati, karena (sebenarnya) mereka itu hidup tetapi engkau tidak menyadarinya.”

Saya beserta keluarga tentunya harus mengikuti Toto kromo dan adat istiadat yang telah dilakukan Karaton Jogjakarta maupun Karaton Surakarta dalam melakukan ritual penghormatan kepada sesepuh apalagi yang diziarahi adalah Mursyid kami sendiri.

Sebagaimana guru kami pernah mengatakan:

Wóng kang baút mawas dhiri iku wóng kang biså manjíng ajúr ajèr, ngêrti êmpan papan laras karo rèh swasånå sakupêngê tanpå ninggalakê subåsitå.

“Orang yang pandai membawa diri itu orang yang bisa menyatu, melebur, dan meleleh, memahami situasi dan kondisi, selaras dengan suasana di sekelilingnya tanpa meninggalkan sopan santun”.

Perilaku mursyid kami yang selalu mengedepankan kasih sayang kepada sesamanya adalah sebuah paugeran kehidupan, sebuah aturan yang wajib kami jalankan selaku muridnya.

Sebagaimana sesepuh kami mengatakan:

Ora ånå wóng kang ingaranan uríp, kêjabanê kang mikír sartå trêsnå marang wóng kang ringkíh lan nandhang påpå cintråkå. Biså mèlu ngrasakakê kasusahanê sartå lårå lapanê wóng liyå. Kanthi pangråså kang mangkono mau atêgês biså nggadhúh kêkuwatan kang tanpå watês, pêrlu kanggo mitulungi sapådhå-pådhå kang kahananê luwíh nrênyúhakê katimbang dhiri pribadinê. “Pakarti mono darbèk kita dhêwê, nanging wóhê pakarti mau dadi kagunganê Kang Gawê Urip”. Mangkono sabdanê sawijinê Pujånggå kalokå.

“Tiada orang disebut hidup, kecuali yang peduli serta belas kasih kepada sesama yang tak berdaya dan menderita. Dapat merasakan penderitaan serta kesengsaraan orang lain. Dengan dimilikinya rasa seperti itu, berarti mampu memelihara kekuatan yang tiada batasnya, diperlukan untuk menolong sesama yang keadaannya lebih mengenaskan ketimbang diri pribadinya. “Perbuatan adalah milik kita sendiri, namun buah dari perbuatan kita menjadi milik Tuhan”. Begitulah sabdanya salah satu Pujangga terkenal”.

Di akhir perjalanan ruhani menziarahi para sesepuh dan mursyid kami terdahulu kami diberi kesempatan bisa silaturahim ke Karaton Surakarta menjumpai Wong Agung Karaton Surakarta Hadiningrat yaitu Sinuhun Panembahan Agung Tedjowulan, hal ini tentunya karena dasar rasa cinta kami kepada ayahanda beliau Sinuhun Pakubuwono XII sebagai Raja Karaton Surakarta yang sangatlah berjasa bagi bangsa dan negara Indonesia pada saat akan memproklamirkan Indonesia bersama Sinuhun Hamengkubuwo IX sebagai Raja Jogjakarta Hadiningrat.

Karakteristik Sinuhun Panembahan Agung Tedjowulan nyaris tiada berbeda dengan ayahandanya yang selalu mengedepankan kepentingan negara ketimbang dirinya pribadi, beliau juga orang yang suka olah batin, rajin berpuasa, menghidupkan malam dengan cara berdzikir untuk membangun kepribadian yang Njawani yaitu hidup yang menjaga totokromo dan adab yang baik kepada sesama manusia.

Sejak menjalankan tugas sebagai Tentara Nasional Indonesia Sinuhun Tedjowulan mempunyai prinsip :

Ora ånå budi kang luwíh luhur saliyané nduwèni råså asíh marang nuså lan bangsané. Kadunungan råså rumangsa nduwèni sêsanggêman lan kuwajiban mranåtå têntrêmíng pråjå kanthi pawitan kapintêran kang dilandhêsi kawicaksananing pambudi. Tåndhå yêktiné yèn asíh, yaiku tansah samaptå tumandang sawayah-wayah yèn ånå parigawé kang wigati kanggo wargå sapådhå-pådhå, munggahé tansah samaptå lêladi kanggo kêslamêtaníng bêbrayan lan karaharjaníng nagårå.

“Tiada budipekerti yang lebih mulia selain mencintai nusa dan bangsanya sendiri. Karena tumbuhnya kesadaran akan kewajiban menata ketentraman negara dengan modal kepandaian yang didasari kebijaksanaan budipekerti. Pertanda kesungguhan cintanya yakni selalu siap siaga sewaktu-waktu bilamana ada tugas yang sangat penting untuk sesama warga, hingga selalu siap siaga menjaga keselamatan persaudaraan dan kesejahteraan negara”.

Akhîrul kalãm kututup dengan do’a:

Ya Allah ya Rab, Panjenengan limpahaken shalawat dumatheng kanjeng Nabi Muhammad SAW. Mugi kanthi barokah shalawat meniko panjenengan paring kebebasan dumatheng kulo sedhoyo saking bencana lan musibah ndunyo kelawan akhirat. Ya Allah ya Karim, panjenengan tetepaken wonten manah lan dhohir kulo mantep dumatheng agami Islam, panjenengan jagi Iman sa’lebete manah kulo sedhoyo ya Allah supadoso mboten enggal sirno saking sa’lebetipun manah.

 

About admin

Check Also

Mengabdi Pada Tuhan Dengan Cara yang Simpel

“Apapun peranmu, apapun jabatanmu, dan apapun rutinitas hidupmu, bila dilakukan dengan baik serta disempurnakan agar ...