Monday , March 8 2021
Home / Relaksasi / Renungan / Nepotisme Nabi Nuh

Nepotisme Nabi Nuh

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيم
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Allahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad.

Sahabatku yang sangat aku kasihi, sebelum aku mulai mengisahkan Nabi Nuh, ijinkan aku mengingatkan kembali amanah wasiat Sunan Derajat untuk kita renungi bersama.

Sunan Derajat mewasiatkan :

1. Wenehono Teken Marang Wong Kang Wuto
(Berilah Tongkat Pada Orang Yang Buta)
2. Wenehono Pangan Marang Wong Kang Keluwen
(Berilah Makan Orang Yang Lapar)
3. Wenehono Payung Marang Wong Kang Kudanan
(Berilah Payung Pada Orang Yang Kehujanan).
4. Wenehono Sandang Marang Wong Kang Kawudan
(Berilah Pakaian Kepada Orang Yang Telanjang)

Pada suatu kejadian Nabi Nuh AS pernah mengajukan usul kepada Allah yang isinya Nepotisme agar anak dan istrinya diselamatkan Allah. Ternyata bukan pengabulan do’a yang Nabi Nuh dapatkan namun justru teguran Allah lah yang beliau dapatkan. Mau tahu ceritanya ? Yuk kita simak aja kisahnya.

Banjir bandang akan segera datang. Nabi Nuh telah diberitahu Allah SWT bahwa istri dan anaknya termasuk hamba Allah yang akan mendapatkan siksa atas segala kedurhakaan mereka. Mendengar hal itu, sebagaimana hati ayah-ayah yang lain, Nabi Nuh tidak ‘menerima’ keputusan Allah tersebut.

Nabi Nuh kemudian meminta kepada Allah agar Allah menyelamatkan putra kesayangannya, yang digambarkan dalam Al-Quran surat Hud ayat 43, lebih memilih menaiki gunung yang tinggi dan tidak mengikuti ayahnya untuk naik bahtera.

Dalam surat Hud ayat 45, Nabi Nuh meminta agar Allah menyelamatkan putranya, karena putranya tersebut bagian dari hidup Nabi Nuh.

رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.”

Menurut Quraish Shihab, doa Nabi Nuh ini tidak mendapatkan tanggapan yang diharapkan. Allah SWT menolak doa tersebut. Penolakan Allah atas doa Nabi Nuh ini dijelaskan dalam Surat Hud ayat 46:

قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ ۖ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۖ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.”

Sadar dengan penolakan Allah SWT atas doa tersebut, Nabi Nuh kemudian bertaubat dan meminta kepada Allah agar tidak dijadikan sebagai orang yang sok tahu. Doa Nabi Nuh ini termaktub dalam surat Hud ayat 47:

رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Rabbi inni a’udzubika an as’alaka ma laysa li bihi ilm. Wa in la taghfirli wa tarhamni akun minal khasirin.

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi”.

Doa Nabi Nuh yang terakhir ini pun diterima. Kesalahan Nabi Nuh untuk berbuat ‘nepotisme’ karena meminta anaknya diselamatkan akhirnya diampuni oleh Allah SWT melalui doa dan taubatnya.

About admin

Check Also

Ahli Maksiat Bertaubat di Penghujung Ajal

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا ...