Home / Agama / Kajian / Nasihat Setan kepada Seorang Pendeta

Nasihat Setan kepada Seorang Pendeta

Oleh: Alhafiz Kurniawan*

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Imam Al-Ghazali di dalam Kitab Ihya Ulumiddin mengutip cerita Wahab bin Munabbih, salah seorang ulama di zaman Tabi‘in, perihal keutamaan menahan marah dan mengendalikan diri ketika marah.

Wahab bin Munabbih yang juga pakar sejarah itu menceritakan suatu zaman tersebut seorang rahib yang tidak lepas dari rumah ibadah. Ia sangat tekun beribadah kepada Allah di rumah ibadah tersebut. Pendeta tersebut merupakan pemuka agama yang sangat terkenal sebagai orang yang taat beragama di masyarakat.

Setan kemudian mendekatinya. Setan ingin menyesatkan dan menjerumuskan rahib tersebut dari jalan ibadahnya. Ia mencoba berbagai cara. Ia pun kemudian gagal. Setan tidak mampu menggelincirkan rahib tersebut karena ketaatannya yang luar biasa.

Setan kemudian menyerah. Ia mendatangi rahib tersebut dengan jalan yang sopan dan terang-terangan. Ia kemudian mengetuk pintu rumah ibadah rahib dan memanggilnya dari luar.

“Wahai rahib, tolong bukakan pintu,” kata setan.

Ketika itu tidak ada jawaban. Tetapi setan dengan maksud baik kembali mengetuk pintunya.

“Wahai rahib, tolong bukakan pintu, jika kupergi maka kau akan menyesal,” kata setan di luar.

Rahib pun tidak mempedulikan suara tamunya.

“Aku adalah Al-Masih,” kata setan.

“Kalau kau Al-Masih, apa yang harus kulakukan? Bukankah Al-Masih memerintahkan kami untuk tekun beribadah dan menjanjikan kami keselamatan di Hari Kiamat? Kalau kau mendatangi kami hari ini untuk mengajarkan selain itu, kami tidak akan menerimanya,” jawab rahib dari dalam.

“Aku adalah setan, aku datang untuk melayani pertanyaanmu. Bertanyalah. Apapun pertanyaanmu, akan kujawab,” kata setan dengan tulus.

“Tidak, aku tidak ada pertanyaan untukmu,” jawab rahib.

Wahab bin Munabbih mengatakan, setan itu pun kemudian berbalik badan untuk meninggalkan pekarangan rumah ibadah tersebut. Tetapi beberapa langkah setan meninggalkan pintu, ia mendengar suara pintu dan segera ia menghentikan langkahnya.

“Tunggu, coba kau dengar,” kata suara dari dalam rumah ibadah tersebut.

“Ya,” jawab setan dengan gembiranya.

“Kabari aku, akhlak apa dari anak Adam yang membantumu dalam menaklukkan mereka?”

“Ketika mereka menjadi keras karena marah. Ketika manusia menjadi keras seperti besi, maka kami justru mudah mempermainkan hati dan pikirannya seperti anak-anak mempermainkan bola,” jawab setan.

Suatu hari Dzulqarnain bercerita bahwa ia bertemu malaikat. Kepada malaikat itu, ia meminta diajarkan sebuah ilmu yang dapat menambah ilmu dan keyakinannya kepada Allah.

Malaikat itu berpesan, “Jangan marah. Setan paling mudah mengendalikan manusia ketika mereka marah. Tahan kemarahan dan bersikaplah dengan tenang. Jangan juga tergesa-gesa dalam bertindak atau mengambil putusan. Ketika tergesa, kau akan kehilangan bagianmu. Bersikaplah sebagai orang yang ringan dan lembut kepada kerabat maupun orang lain. Jangan kau bersikap arogan dan keras.”

Demikian cerita Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439-1440 H], juz III, halaman 171, yang dikutip dari Wahab bin Munabbih perihal keutamaan mengendalikan diri ketika marah.

Wallãhu A’lamu bish-Shawãb.

__________

* Redaktur Keislaman NU Online
* Source: NU Online

About admin

Check Also

Bashîrah; Alat Melihat Hakikat Allah Ta’ala

“Bila masih banyak kebingungan menghadapi berbagai masalah di dunia ini, apakah sebagai pertanda bahwa bashîrah ...